Hari ini langit Luxorth begitu cerah, burung-burung berkicau dengan gembira, udaranya sangat jernih sehingga ketika menghirupnya pun membuat pernafasan menjadi lega. Bertepatan dengan hari ini adalah inti dari Perundingan Lima Negara. Istana begitu disibukkan dengan persiapan pertemuan ini.
Pertemuan ke lima Delegasi Negara itu diadakan hari ini. Di meja riasnya Vizena sedang memandangi pantulan dirinya di cermin. Dari beberapa pakaian yang diperlihatkan oleh beberapa dayang padanya ia memilih gaun berwarna merah cerah, dengan renda di bagian d**a, tapi tidak terlalu mencolok. Seperti biasanya, Ariah membantu menyisir rambut Vizena yang panjang dan begitu lembut itu. Ariah menyiapkan hiasan rambuymt dan hendak membuat sanggul rambut, tapi Vizena menahannya.
"Biarkan tergerai Ariah, tapi berikan beberapa hiasan." Kata Vizena.
Vizena juga harus menghadiri pertemuan itu, begitulah yang diminta oleh Ayahnya. Setelah keputusan ayahnya akan mengangkatnya sebagai pengganti Leoxard, ia di haruskan mengikuti pertemuan-pertemuan kenegaraan. Meski secara resmi belum ada pengumuman tentang ini, tapi ia telah berjanji untuk membantu ayahnya dalam hal ini. Sudah cukup ayahnya tertekan dan menderita setelah kehilangan Leoxard, jadi Vizena hanya ingin meringankan beban ayahnya.
Selama beberapa hari ia juga telah mempelajari tentang siapa saja yang menjadi utusan delegasi dari masing-masing negara. Vizena cukup pintar untuk menghafal semua nama dan prestasi apa saja yang diraih oleh para utusan itu. Ada satu negara yang harus menjadi perhatiannya, Narth. Tentu saja! Dari Lima Negara hanya Narth yang sangat agresif. Rupanya tak hanya menyerang Luxorth dan mengincar jalur sutera untuk dikuasai sendiri, tapi juga menyerang Arkteir untuk menguasai Jalur Sutera Laut. Keberadaan Narth yang sangat agresif ini membuat sisa negara dari Lima Negara lainnya cukup was-was.
Vizena mengingat kembali, siapa utusan yang dikirim oleh Narth. Itu adalah Puteri Kheiraz, informasinya Puteri itu berusia jauh lebih tua daripada Vizena, selalu ikut andil dalam urusan politik di Narth membantu Raja Narth saat ini, Karrazam. Selain itu, Kheiraz memiliki penilaian yang baik dan cermat, ia juga cukup licik karena bisa menawarkan apapun demi mendapatkan hasil yang dia inginkan.
Selesai mempersiapkan diri, dan memastikan bahwa penampilannya sudah sempurna, Vizena bangkit lalu beranjak keluar dari kamarnya.
"Puteri,"
Vizena terperanjat, seketika ia menoleh dan melihat Zaviest di luar kamarnya dan bersandar pada salah satu tiang sembari menoleh kearahnya. Pria itu tersenyum ke arah Vizena, lalu mendekati Sang Puteri.
"Tuan Dranis! Bagaimana kau ada disini?" Tanya Vizena.
"Bagaimana perasaan anda? Sudah membaik, Puteri?" Zaviest sepenuhnya mengabaikan pertanyaan Vizena.
Setelah pesta pembukaan tempo hari, Zaviest tidak melihat Vizena sama sekali. Meski ia menunggu di tempat Vizena biasanya lewat atau sekedar beristirahat, sama sekali tidak ada hasilnya. Sejak itu, Zaviest ingin sekali pergi ke kediaman Vizena, akan tetapi ia ragu karena mungkin bisa jadi itu merusak reputasi sang puteri.
Lalu kesempatan itu pun datang, ketika semua orang begitu sibuk mempersiapkan pertemuan hari ini maka tidak akan ada yang memperhatikannya jika ia pergi ke tempat Vizena. Ia pun memutuskan untuk pergi dan menunggu Vizena tepat di depan kamarnya.
"Aku," wajah Vizena tiba-tiba terasa panas sekali. Ia teringat, saat terakhir kali bertemu dengan Zaviest, ia berakhir dalam dekapan sang pengawal dari negara asing itu.
"Yang Mulia, anda baik-baik saja?" Tanya Zaviest. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan tangan besarnya pada kening Vizena, lalu ke keningnya sendiri. Zaviest mengerutkan keningnya, dan membuat mimik sedang berpikir, "tidak panas." Gumamnya.
"Hihi," Ariah terkikik di samping Vizena ketika melihat betapa menggemaskannya Zaviest. Sementara wajah Vizena semakin memerah.
"Ssst diamlah, Ariah!" Pinta Vizena.
"Puteri, wajah anda semakin merah. Anda sakit?"
Vizena hanya menggeleng perlahan. Batinnya geram pada tingkah Zaviest. Apa pria dihadapannya itu tidak sadar jika wajahnya memerah itu karena ulah dia!?
"Aneh sekali," guman Zaviest yang tampak bingung, "tapi anda terlihat lebih cantik jika begini." Kata Zaviest.
Vizena hanya tersipu, ia kemudian ingat bagaimana bisa Zaviest masuk ke tempat tinggalnya.
"Anda belum menjawab pertanyaanku, Tuan Dranis."
Zaviest menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kali ini wajahnya yang memerah dan ia tersipu. Namun di saat yang sama, malah terlihat menggemaskan.
'Apa pertanyaanku sangat sulit, sampai dia tidak bisa menjawabnya?' batin Vizena.
"Itu karena saya khawatir dengan Anda, Puteri." Jawab Zaviest dengan spontan.
Tidak hanya Vizena, tapi Ariah pun terkejut dibuatnya. Pria dihadapan mereka sangat terus terang.
"Mengapa mengkhawatirkanku?" Tanya Vizena, "aku baik-baik saja, beberapa hari ini ada banyak hal yang harus ku urus." Kata Vizena, namun ia sendiri tak mengerti mengapa harus menjelaskan itu kepada Zaviest.
Kepala Zaviest manggut-manggut, kemudian ia melihat Vizena sesaat. Begitu pagi, Vizena tampak akan pergi ke suatu tempat.
"Anda akan pergi kemana, Yang Mulia?" Tanya Zaviest.
"Menghadiri pertemuan, Oiya Tuan Dranis, kau tidak menemani Pangeran Moscha?"
Alis Zaviest sedikit terangkat. Sedikit tidak menyangka bahwa Vizena mengingat detail seperti ini. Selain itu, ia juga tidak menyangka Vizena akan dilibatkan dalam urusan politik besar yang menyangkut kesejahteraan Lima Negara.
"Dia bahkan belum bersiap." Balas Zaviest. Kenyataanya, saat Zaviest keluar, Moscha sama sekali belum bangun. Masih begitu menikmati mimpinya.
"Pertemuannya akan diadakan sebentar lagi, bagaimana bisa Pangeran belum bersiap?" Tanya Vizena.
Vizena mulai berjalan, dan Zaviest berada disampingnya. Ia mengikuti Vizena bahkan setelah keluar dari tempat tinggal puteri. Tak berapa lama kemudian, seseorang berlari ke arah mereka bertiga.
Saat melihat orang yang berlarian tersebut sampai orang itu lebib dekat lagi, mata Ariah melebar. Ia mengenali pemuda tampan yang tampaknya sedang terburu-buru itu. Dia adalah pangeran yang tidak sengaja menabraknya tempo hari.
"Untunglah, untung saja!" Nafas Moscha terengah-engah, ia merasa lega ketika menemukan Zaviest. Ketika ia terbangun, dan Zaviest telah menghilang dari tempat tinggal mereka, ia sangat panik. Dia tidak begitu mengerti dengan urusan politik luar negeri, apalagi pertemuan sebesar ini. Selain itu, jika dia khawatir mungkin dirinya akan malah membawa petaka untuk Sholaire.
"Yang Mulia, bagaimana anda bisa berlarian seperti ini?" Tanya Zaviest sembari memberi isyarat pada Moscha bahwa ada Vizena disampingnya. Karena sepertinya Moscha mengabaikan keberadaan Vizena.
"Yang Mulia?" Vizena bertanya.
"Saya memberikan hormat kepada Tuan Puteri Vizena,"
"Ini Pangeran Kelima dari Kerajaan sholaire, Pangeran Moscha." Kata Zaviest mengenalkan Moscha.
"Bagaimana kau tahu bahwa aku adalah Vizena?" Tanya Vizena yang cukup bingung. Dia belum pernah bertemu dengan Moscha sebelum ini secara pribadi.
Moscha tersenyum dengan lebar, dan menambah pesonanya sebagai seorang pangeran.
"Tentu saja, hanya Yang Mulia saja yang memiliki kecantikan luar biasa ini." Katanya.
"Apa semua pria di Sholaire sangat pandai bicara?" Tanya Vizena.
"Raja kami adalah panutan yang sangat bagus dalam hal ini, jadi sangat wajar." Balas Moscha dengan melirik kearah Zaviest. Ia sangat menikmati sekali ketika melihat wajah geram kakaknya itu.
"Ah benarkah? Rumor yang kudengar tidak seperti itu, sangat kontradiktif dengan yang anda katakan oleh Pangeran."
Hampir saja Moscha meledak dalam tawa, tapi ia akhirnya bisa menahannya dan hanya tersenyum sebagai gantinya. Rumor seperti itu memang tersebar ke seluruh daratan Lima Negara bahkan negara diluar itu. Raja Sholaire terkenal dengan kebengisannya di medan perang, ia tak kenal ampun pada lawannya. Selain itu, seolah memiliki kepribadian lain, Raja Sholaire menjadi pribadi yang kaku, dingin dan jarang bicara ketika telah memasuki medan perang.
"Yang Mulia, bukankah anda harus segera bersiap?" Tanya Zaviest pada Moscha dan berusaha untuk mengalihkan topik yang membicarakan dirinya.
"Ah benar sekali," Moscha tidak ingin Zaviest mengutuknya jika ia berlama-lama menggosipkan sang kakak di depannya, "Yang Mulia Puteri, bolehkah aku pinjam pengawalku sebentar saja?" Tanya Moscha.
Vizena tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan itu. Ia hanya tersenyum canggung menatap dua orang tampan dihadapannya ini.
"Kalau bergitu, saya undur diri dulu!" Ujar Moscha lagi, "senang bisa bertemu dengan Yang Mulia," imbuhnya, kemudian ia menekuk pinggangnya ke samping untuk mengintip Ariah dari bahu Vizena, "senang bertemu lagi denganmu, kau gadis kecil!" Kata Moscha dengan senyum lebar sembari melambaikan tangan ke arah Ariah. Wajah Ariah memerah, ia terkejut karena Moscha mengenalinya.
"Sampai jumpa, Puteri." Ucap Zaviest lirih, ia merasa sangat berat hati untuk berpisah jalan dengan Vizena. Namun ada hal lebih penting lainnya yang harus dia urus dengan Moscha.
Vizena melihat punggung kedua orang itu menjauh darinya. Kemudian ia dan Ariah kembali meneruskan perjalanan mereka yang sempat tertunda.
"Jadi....." Vizena tiba-tiba bersuara, "kau bertemu dengan pangeran tampan itu?" Tanya Vizena pada Ariah yang wajahnya masih begitu merah.
"Itu, itu," Ariah tergagap, "tidak sengaja Yang Mulia, hamba menabraknya."
"Oh begitu, dia tampan ya Ariah?" Vizena sengaja menggoda Ariah, meski berstatus sebagai dayangnya, Ariah adalah seorang bangsawan. Tidak masalah jika dia menyukai seorang pangeran.
"Tampan sekali," Kata Ariah malu-malu. Mendengarnya Vizena pun tersenyum.
"Tuan Dranis, juga tampan, Yang Mulia."
"A...a...apa?" Kini giliran Vizena yang tergagap. Mengapa ini malah terbalik dan dirinya yang diserang, "tidak sopan, Ariah! Aku adalah wanita bersuami!" Ujarnya.
Ariah tidak menjawab, hanya menyimpan kekesalannya dalam hati.
***
"Apa ini?" Tanya Moscha, ia mendapatkan sebuah gulungan perkamen dari Zaviest setelah ia diseret oleh Zaviest untuk kembali ke tempat tinggal mereka.
"Ini adalah dokumen tentang penyalahgunaan wewenang oleh Narth di beberapa titik jalur sutera." Jelas Zaviest pada Moscha. Alis Pangeran itu langsung bertaut.
"Lalu apa gunanya untukku?" Tanya Moscha dengan polosnya. Zaviest geram dibuatnya, ia menggertakkan giginya dan menatap Moscha dengan tajam. Sekarang ia menyesal karena telah terlalu memanjakan Moscha selama ini.
"Ingin aku pukul?" Ancam Zaviest.
"Hehe," Moscha menyeringai seperti anak kecil.
"Pelajari itu, itu akan berguna saat pertemuan nanti." Kata Zaviest lagi.
Tiba-tiba saja keringat dingin membanjiri tubuh Moscha. Pertemuan terbesar yang pernah ia datangi hanya persidangan pagi di Aula Istana Sholaire. Dia tidak begitu tertarik dengan urusan politik, apalagi jika masalahnya sebesar ini. Kali ini ia sungguh menyesal, mengapa harus menggantikan Vein pergi? Jika saja Vein yang datang, maka masalah ini akan berbeda hasilnya.
"Siapa yang menyuruhmu merengek pada Vein, sekarang kau terima akibatnya." Ujar Zaviest lagi.
"Tapi pertemuan itu sebentar lagi." Moscha mengeluh dengan suara lirih. Dengan berat hati ia membuka gulungan perkamen tersebut.
"Pelajari sambil berjalan kesana. Tenanglah, aku juga ada disana." Ujar Zaviest. Tidak akan mungkin dia akan membiarkan Moscha sendirian. Ia hanya butuh kehadiran Moscha di ruang pertemuan itu.
Meski wajahnya cemberut, Moscha tetap melakukan perintah kakaknya. Tidak ada pilihan yang lainnya. Ia pun mempelajarinya sepanjang jalan dan beberapa kali keningnya berkerut ketika ia membaca isi dokumen tersebut.
"Jaga sikapmu." Bisik Zaviest saat mereka memasuki ruang pertemuan.
Keduanya rupanya datang paling akhir, Dewan Pengawas Lima Negara dan para utusan sudah duduk di meja panjang yang berads diruangan tersebut. Moscha dan Zaviest segera memberi hormat kemudian Moscha duduk di tempat yang telah disediakan, sementara Zaviest berdiri di belakangnya.
Zaviest memperhatikan seluruh peserta pertemuan. Duduk di paling ujung seorang pria paruh baya dengan jenggot berwarna putih yang panjang. Meski banyak sekali warna putih yang menghiasi rambutnya, ia terlihat lebih muda. Dia adalah perwakilan dari Pengawas Lima Negara, Tuan Verde.
Kaisar Mouszac dan Puteri Vizena duduk tenang di samping kanan Tuan Verde. Sementara di sisi kiri telah duduk perwakilan dari Arkteir, seorang pemuda berkulit gelap dengan rambut pirang titanium yang sangat kontras dengan warna kulitnya, jika Zaviest tak salah tebak pemuda itu adalah Ksatria Antoine, penasehat umum Arkteir. Di samping Antoine, begitu anggun sosok Kheiraz telah duduk. Kemudian di susul oleh perwakilan dari Sholaire, di seberang mereka adalah perwakilan dari Thymur, Kusala Khan seorang pria dewasa dengan rambut panjang yang dibiarkan, ia cukup tampan dengan itu.
"Salam hormat kepada seluruh perwakilan, Hari ini kita akan membahas tentang peraturan mengenai jalur sutera darat dan laut." Tuan Verde. Terlihat beberapa orang menjadi sedikit tegang, tapi berbeda dengan Vizena. Ia tampak begitu santai dengan membolak-balikkan dokumen yang ada dihadapannya.
Melihat Vizena begitu santai, mengingatkan Zaviest pada dirinya sendiri. Dia selalu menghadiri pertemuan dengan semangat yang rendah. Ia tersenyum samar melihat betapa bosannya wajah Vizena itu.
"Sudah di tetapkan dalam maklumat Pengawas Lima Negara, tentang biaya, komoditas dan perangkat pejabat, akan tetapi rupanya hal ini menimbulkan dampak yang menyebabkan perang berkelanjutan antara Narth dan Luxorth." Tutur Tuan Verde lagi. Ia kemudian membalikkan halaman dokumen yang ada di depannya.
"Berdasarkan hal ini, kedua belah pihak harus memberikan sebuah alasan yang jelas."
"Boleh aku bicara?" Suara Kheiraz membelah kesunyian di dalan ruang pertemuan. Ia menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi dengan tangan yang menyilang.
"Silahkan Putri Kheiraz."
Kheiraz menyapu ruangan itu dengan menatap satu persatu semua utusan yang sedang duduk disana. Ia menilai semua orang, mana orang yang harus dia waspadai atau bukan. Terlihat jelas, Kheiraz sangat waspada oada Kaisar Mouszac dan utusan dari Arkteir. Dua negara itu telah menjadi sasaran keserakahan Narth.
"Kami menuntut keadilan kepada Pengawa Lima Negara." Perkataannya nengejutkan semua pihak. Negara yang menimbulkan peperangan malah mengajukan dan menuntut keadilan untuk dirinya sendiri.
"Apa yang Tuan Puteri maksud?" Tanya Tuan Verde.
"Narth telah ditindas oleh beberapa negara, contohnya Luxorth dan Arkteir." Katanya tanpa rasa takut akaj menyinggung dua negara besar itu.
Antoine yang geram tiba-tiba berdiri. Matanya membelalak lebar kearah Kheiraz, "keadilan? Kalian yang serakah!"
Semua orang memaklumi sikap Antoine. Ia masih muda, tekadang ego dirinya masih menguasainya meski dia seorang penasehat. Di negaranya ia terkenal sangat setia, tidak akan membiarkan siapapun menghina Arkteir.
Sebuah tawa menggema diseluruh ruangan. Semua orang menoleh pada Kheiraz yang tubuhnya bergetar karena tawa. Sungguh, tawa itu sangat mengerikan jika didengarkan dengan seksama.
"Tuan Puteri, mohon jaga sikap anda." Tuan Verde mengingatkan.
"Oh, maaf-maaf!" Kata Kheiraz, ia mengatur tawanya, kemudian menatap tajam ke arah Antoine, "Apa di Arkteir tidak memiliki pria berbakat lainnya hingga mereka harus mengirim remaja labil seperti dia?"
"Tidak penting apakah dia seorang remaja atau bukan, berada disini sudah membuktikan kapasitasnya sebagai kepercayaan kerajaannya, Tuan Puteri Kheiraz yang terhormat, anda sedang tidak ingin menyebabkan peperangan yang lain, bukan?" Kusala yang hampir terpengaruh emosinya itu berusaha menjawab dengan sehalus mungkin.
"Pangeran Kusala memang bijaksana." Balas Kheiraz.
"Ada baiknya jika kita kembali membicarakan persoalan yang sebenarnnya, benarkan Tuan Verde?" Kaisar Mouszac bersuara, ia cukup tenang.
"Yang Mulia Kaisar benar, Baiklah, Puteri Kheiraz, adakah bukti yang menguatkan pernyataanmu?"
Kheiraz menegakkan tubuhnya, wajahnya kini terlihat serius seolah ia sedang berpikir.
"Bukti?"
"Ya, sebuah pernyataan harus disertakan dengan bukti."
Kheiraz berbalik, ia memanggil pengawalnya yang membawa sebuah bingkisan dengan kain beludru berwarna biru dan berumbai emas. Diserahkan bingkisan itu pada Kheiraz.
"Ini buktinya," Kheiraz melemparkan bingkisan itu ke tengah meja panjang membuat semua orang terkejut, begitu juga dengan Vizena yang kemudian berhenti memainkan dokumen yang ia pegang.
Semua orang menatap bingkisan di atas meja dengan penuh tanda tanya. Apa isi bingkisan tersebut? Seolah mengerti dengan keraguan semua orang, Kheiraz berdiri.
"Di dalam itu," Kheiraz menunjuk ke arah bingkisannya, "adalah dokumen yang berisi bukti-bukti bahwa Narth ditindas!" Suara Kheiraz meninggi, "pertama, bea yang sangat tinggi di terapkan oleh pihak Luxorth, kedua bandit-bandit dari Arkteir yang sering merampok dagangan dari Narth! Ini sangat merugikan kami!"
Semua orang tercengang mendengarnya termasuk Tuan Verde. Belum pernah terjadi aduan semacam ini sebelumnya. Ia segera mengambil bingkisan tersebut. Jika memang terjadi hal semacam ini, harus segera di selidiki.
"Benarkah itu adalah perbuatan Luxorth?" Vizena dengan suara lembutnya berpendapat. Ia sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap Kheiraz yang berdiri diseberangnya. Munculnya suara Vizena membuat Zaviest menaruh perhatiannya.
"Petugas kami tidak pernah dan tidak akan berani menaikkan bea dagangan tanpa ada persetujuan dari Kaisar, Luxorth memiliki bukti itu juga. Kalian semua tahu, bahwa hukum di Luxorth sangatlah ketat, tidak seorang pun secara terang-terangan berani melawan!" Tutur Vizena lagi tanpa mengedipkan matanya.
"Bukti yang kuserahkan sudah sangat kuat untuk menunjukkan bahwa Luxorth bermain kotor dalan hal ini." Kheiraz membantah.
"Oh ya?" Vizena sengaja memainkan nada suaranya untuk memprovokasi Kheiraz. "Lalu mengapa hanya Narth saja yang mengeluh? Sholaire bahkan bergeming," Kata Vizena sembari menatap kearah Pangeran Moscha yang sejak pembukaan pertemuan masih diam memperhatikan.
"Itu karena Sholaire adalah negara kaya! Mereka tidak keberatan."
"Cukup masuk akal." Balas Vizena dengan cepat, "tapi apakah benar begitu?" Kali ini Vizena berdiri, ia tampak sangat anggun meski tatapan matanya bagaikan Elang yang sedang mengincar mangsanya.
Di tempatnya berdiri, Zaviest tertegun melihat keanggunan Vizena. Beberapa hari yang lalu ia masih melihat Vizena yang kekanakkan, tapi hari ini sisi lain Vizena terlihat bahwa dia adalah wanita cerdas, yang berwawasan dan begitu anggun saat melemparkan kata-katanya yang pedas.
"Aku akan bertanya kepada semua perwakilan, apakah kalian harus membayar lebih untuk bea dagang di jalur sutera?" Vizena memandangi tiap perwakilan satu per satu. Mereka hanya menggeleng pelan.
"Bea yang ditetapkan oleh Luxorth merupakan harga sejak lima puluh tahun yang lalu ketika kakekku memimpin, sejak saat itu sampai hari ini telah berganti kaisar, belum pernah bea itu dinaikkan." Lanjut Vizena.
"Jika ada laporan palsu seperti itu, seperti itu seharusnya pihak Narth menyelidiki, bukan membuat barisan pasukan yang mengancam perbatasan antara tiga negara!"
Sebuah tendangan dilayangkan oleh Zaviest pada kaki Moscha yang sejak awal diam saja padahal dia membawa dokumen penting terkait hal ini.
"Argh!" Teriak Moscha ketika Zaviest menendang kakinya dari belakang sehingga menarik perhatian semua orang padanya. Ia kemudian berdiri, dan tersenyum canggung, "Ah, apa yang dikatakan oleh Puteri Vizena sebenarnya sangat masuk akal, sebelum bertindak dengan melakukan tindakan yang sangat besar dampaknya, kita harus menyelidiki dahulu-"
"Aku sudah menyelidiknya!" Kheiraz memotong ucapan Moscha dengan suara kencang.
"Baiklah, kita anggap Narth sudah menyelidikinya. Lantas mengapa mengajukan perang tanpa memberikan alasan?!"
Zaviest terkesan dengan Moscha, diam-diam dia punya bakat untuk berdiplomasi.
"Tuan Verde, bukankah dalam peraturan Lima Negara, tidak diperkenankan menyerang tanpa alasan?" Tanya Moscha, dan Tuan Verde mengangguk-anggukkan kepala.
"Selain itu, Narth menggunakan penyihir hitam untuk pasukannya! Menyebabkan kematian penerus tahta Luxorth." Imbuh Moscha. "Tuan Verde, bukankah Narth sudah melanggar aturan Lima Negara?"
"Pangeran Moscha! Jaga ucapanmu!" Hardik Kheiraz yang terbakar oleh amarahnya sendiri.
"Cukup!" Suara Kusala memecah perdebatan, "sebagaimana yang dikatakan oleh Tuan Verde, sebuah tuduhan harus berdasarkan bukti. Pangeran, apa anda memiliki bukti?"
"Pangeran Kusala, tentu saja aku memiliki semua buktinya." Moscha mengeluarkan perkamen yang diberikan oleh Zaviest sebelum menghadiri pertemuan, "dokumen itu berisi semua penyelidikan di perbatasan tiga negara dan penyalah gunaan penyihir hitam dalam peperangan, Tuan Verde bisa mempelajarinya."
Tuan Verde menghela nafasnya. Pertemuan ini jauh diluar dugaannya. Banyak hal yang harus dipelajari oleh Pengawas Lima Negara untuk memberikan keputusan yanh adil.
"Semua bukti yang terkumpul akan dijadikan alat bantu penyelidikan. Pengawas Lima Negara akan melakukan investigasi terkait hal ini." Katanya dengan suara yang berwibawa, "sementara itu, untuk menghindari pertikaian lebih lanjut, maka sementara Luxorth dan Narth tidak bisa berinteraksi melalui apapun sampai keputusan dibuat oleh Pengawas Lima Negara."
"Bagaimana dengan bandit-bandit itu?!" Tuntut Kheiraz.
"Pengawas Lima Negara akan mengirimkan pasukan patroli laut ke jalur sutera dan menyelidiki semuanya."
Keputusan yang dibuat oleh Tuan Verde cukup melegakan bagi negara yang lain. Tapi Kheiraz tidak, ia memiliki rencana busuk pada awalnya dan ingin menjatuhkan kekuasaan Luxorth atas jalur sutera, tapi rencananya malah digagalkan oleh Puteri bungsu Kaisar Mouszac dan Pangeran Moscha.
.
.
.
::To Be Continued::