Pagi hari di Sholaire sebelum Zaviest pergi ke Luxorth
Tak seperti biasanya, Zaviest begitu bersemangat membuka kedua matanya untuk menyambut pagi harinya yang sangat membosankan. Kegiatan paginya selalu saja sama, dia bangun, membersihkan diri, mengenakan pakaian kerajaannya, menjalani persidangan pagi, berpura-pura lelah dengan persidangan lalu kembali ke tempat tinggalnya, dan bekerja sepanjang hari dari tempat itu.
Namun, pagi ini dia sangat bersemangat, wajahnya berbinar cerah, matanya bersinar dengan penuh kebahagiaan, ia bersiul-siul gembira hingga membuat pengikutnya, Dranis, menjadi keheranan. Bukan rahasia lagi, jika Zaviest memiliki suasana hati yang selalu berubah-ubah, tapi suasana hati yang sangat baik jarang sekali dilihat oleh Dranis selama menjadi pengikut Zaviest.
"Kau sudah meminta Tetua Penyihir datang kemari?" Tanya Zaviest yang sedang mengenakan pakaian kerajaannya. Dia terlihat begitu gagah dan tampan, rambut peraknya selalu menjadi daya tarik tersendiri baginya.
"Tetua Penyihir sudah menunggu anda di luar, Yang Mulia."
"Bagus sekali! Minta dia segera menemuiku!" Balasnya setelah mengencangkan sabuknya.
Sembari menunggu Tetua Penyihir di dalam ruang kerjanya, Zaviest memeriksa dokumen-dokumen kerajaan yang kemungkinan akan di bahas dalam persidangan rutin pagi ini. Dia cukup puas melihat semua dokumen itu karena tak ada masalah yang cukup serius.
"Yang Mulia, Tetua Penyihir ada di sini." Dranis memberitahu Zaviest, ia menegakkan kepalanya lalu melihat pria paruh baya dengan jenggot berwaena abu-abunya yang panjang berdiri di samping Dranis, memberikan hormat kepadanya.
Zaviest berdiri dari tempatnya, ia berjalan ke arah Tetua Penyihir itu, lalu meraih bahunya dan membantu berdiri. Zaviest tersenyum simpul pada sang Tetua Penyihir.
"Guru tidak perlu memberikan hormat padaku." Kata Zaviest, lalu ia menuntun Tetua Penyihir pada meja panjang yang ada di ruang kerjanya, "duduklah."
Mereka duduk berdampingan, Tetua Penyihir memandangi Zaviest dengan takjub. Anak yang dulu sangat nakal ketika menjadi muridnya, kini berubah menjadi pria dewasa yang gagah, tampan dan sangat bijaksana.
"Apa kiranya yang membuat Anda memanggil hamba rendahan seperti saya ini, Yang Mulia?" Pria itu bersuara serak dan dalam.
"Siapa yang hamba rendahan? Jangan sebut dirimu seperti itu. Kau adalah pahlawan kerajaan ini." Balas Zaviest. Tetua Penyihir merupakan satu dari penyelamat Sholaire ketika bencana yang di akibatkan oleh Zaviest terjadi.
"Yang Mulia sangat pandai menyanjung."
"Memang itu kenyataannya," balasnya, Zaviest menghela nafasnya, "jadi aku memiliki sebuah permintaan."
"Apa yang bisa saya berikan kepada Anda, Yang Mulia?"
"Seperti yang anda tahu, energi jiwaku begitu rapuh dan lemah setelah bencana tempo hari, saat ini aku harus sering menggunakan sihirku untuk membuka portal jarak jauh, bisakah anda memberiku sesuatu untuk menguatkan energiku?"
Tetua Penyihir itu membelalak lebar, tapi saat ia memandang Zaviest ia tahu bahwa Sang Raja sangat serius dengan permintaannya. Bukan hal yang mustahil, akan tetapi apa yang di minta oleh Zaviest itu memerlukan waktu.
"Saya membutuhkan waktu untuk membuat eliksir semacam itu, Yang Mulia." Ujar Tetua Penyihir.
"Tidak masalah, aku akan menunggunya."
"Dan, ada satu hal lagi. Hal itu tidaklah permanen."
"Aku tahu, tidak masalah." Balas Zaviest dengan sangat antusias.
"Sebenarnya Yang Mulia, untuk apa anda menggunakan portal jarak jauh?" Tanya Tetua Penyihir.
Zaviest tersenyum malu dengan wajah yang tersipu. Tanpa sadar ia menggerakkan tangan ke kepalanya dan menggaruknya dengan canggung.
"Untuk mengejar kekasihku." Jawabnya dengan jujur.
°°°°°
Pasar Luxorth di siang hari rupanya sangat ramai. Beragam pedagang menjajakan dagangan mereka. Banyak penduduk yang berlalu lalang untuk membeli banyak barang, mereka teelihat begitu sibuk pada siang hari menuju sore itu. Sungguh memanjakan mata Zaviest yang sudah lama tidak mengunjungi pasar di negaranya sendiri.
"Puteri, apa yang ingin anda cari?" Tanya Zaviest pada Vizena yang sedari tadi berjalan dan belum berhenti pada satu pun pedagang.
"Itu dia! Kemarilah." Vizena meraih lengan Zaviest dan menariknya untuk masuk ke dalam sebuah kedai yang menjual kain sutera terbaik di Ibukota Luxorth.
"Untuk apa?" Tanya Zaviest.
"Berpura-pura." Balas Vizena lirih.
Mereka sedang menjalankan rencana mereka. Diawali dengan siang ini, Zaviest menyelinap keluar dari kamar Vizena dan masuk ke dalam tempat tinggal Tuan Puteri itu dari pintu depan. Lalu mereka keluar bersama untuk pergi ke pasar.
Vizena menduga seseorang telah mengintainya. Itu sebabnya ia memberikan umpan dan langsung di makan mentah-mentah oleh orang yang mengintai dirinya itu.
"Warna apa yang kau suka, Tuan Dranis?" Tanya Vizena sembari melihat beberapa kain.
"Ungu." Jawab Zaviest spontan, "Seperti mata indah milik, Puteri." Wajah Vizena bersemu kemerahan, untung saja ia segera menyadarkan dirinya jika yang dikatakan oleh Zaviest itu untuk rencana mereka. Namun, Vizena tetap mencari kain terbaik dengan warna ungu seperti yang disebutkan oleh Zaviest.
"Puteri kemarilah." Pinta Zaviest yang telah berada di ruangan lainnya.
Vizena menyusul ke tempat Zaviest, rupanya itu merupakan tempat khusus bagi orang-orang yang ingin membuat pakaian dan diukur tubuhnya.
"Tolong ukur dia." Ujae Zaviest pada gadis penjaga toko.
"Untuk apa?!" Protes Vizena, hingga gadis yang hendak mengukurnya itu pun terdiam sejenak.
"Saya ingin menghadiahkan sebuah gaun yang indah untuk adik saya, tapi tidak tahu ukurannya." Kata Zaviest berbohong.
"Begitu, mengapa tidak kau belikan saja di Sholaire?" Tanya Vizena.
Gadis penjaga toko itu menatap Zaviest untuk sesaat. Akhirnya pertanyaan yang ada di benaknya pun terjawab, sejak Zaviest masuk ke dalam toko dia sudah sangat terpesona melihat ketampanan dan kegagahan Zaviest. Paras wajah yang belum pernah ia temui sebelumnya, bahkan iris matanya yang keemasan itu begitu menarik perhatian. Kini dia akhirnya tahu bahwa Zaviest berasal dari negara tetangga. Pantas saja wajahnya begitu berbeda dengan kebanyakan pria yang ada di Luxorth.
"Anda tahu, Sholaire penghasil batu permata terbaik tapi bukan kain sutera." Ujar Zaviest.
"Baiklah, demi adikmu aku bersedia."
Vizena mulai meregangkan tangannya, lalu menyadari bahwa Zaviest memandanginya yang akan diukur itu. Vizena melotot ke arah Zaviest.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Vizena.
Zaviest tersenyum lalu ia memalingkan pandangannya sambil tersenyum samar.
Pandangan Zaviest mengarah ke luar dari kedai tersebut, ia melihat begitu banyak orang-orang berlalu lalang dengan kesibukan mereka. Lalu tak sengaja ia melihat seseorang mengendap-endap sedang mengintai mereka.
Diam-diam ia menghela nafasnya, menghembuskan beban yang mengganjal dalam hatinya. Kata 'seandainya' telah menancap begitu kuat pada palung hatinya.
'Seandainya waktu bisa aku putar kembali......'
'Seandainya aku membawamu saat itu......'
'Seandainya sumpah pernikahan itu di ucapkan olehku......'
'Seandainya kau adalah milikku, maka kita akan berjalan dengan bebas seperti pasangan itu' Batin Zaviest bergejolak ketika ia menatap pasangan yang berjalan tanpa merasakan beban apapun, tak seperti dirinya dan Vizena, mereka bersama hanya untuk sebuah rencana saja.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Vizena yang sudah selesai diukur.
"Bukan apa-apa, jadi kemana kita setelah ini?" Zaviest balik bertanya. Dia menatap Vizena, untuk sesaat ia bisa melihat mata lembayung Vizena berbinar antusias, namun tak bertahan lama dan berganti lagi dengan tatapan yang menyimpan banyak emosi.
Grrrroooooowwll Grooowwlll
Vizena meringis ketika perutnya bersuara karena lapar. Zaviest terkekeh melihatnya.
"Sepertinya kedai itu memiliki makanan yang lezat." Zaviest menunjuk pada sebuah kedai yang ramai pengunjung.
"Seleramu cukup bagus rupanya." Decak Vizena, ia langsung meraih tangan Zaviest, menggandengnya lalu berjalan keluar dari penjual kain itu.
Tepat ketika mereka keluar dari kedai penjual kain, Zaviest menghentikan langkahnya, ia melepaskan tangan Vizena dari lengannya, lalu ia genggam telapak tangan Vizena dan kembali berjalan.
"Apa, apa yang kau lakukan?" Tanya Vizena yang merasa gugup. Dia
terkejut karena tingkah Zaviest yang mendadak seperti itu. Jika orang lain melihat, maka mereka akan tampak seperti pasangan kekasih.
"Bukankah akan sangat bagus jika mereka berpikir kita adalah pasangan kekasih?" Kata Zaviest.
"Mereka?" Tanya Vizena dengan penasaran.
"Pengintai itu." Bisik Zaviest. Kemudian ia berjalan lagi, kali ini mereka terlihat benar-benar seperti kekasih, sesekali mereka tertawa saat bertukar cerita.
Vizena memasang tudungnya untuk menutupi topeng yang digunakan saat masuk ke dalam kedai itu. Keduanya memilih tempat duduk yang cukup tertutup, di sudut ruangan kedai. Sehingga hampir tidak ada seorang pun yang menperhatikan mereka.
Mereka telah memesan makanan dan sedang menunggu makanan selesai dimasak dan dihantarkan. Sembari menunggu makanan itu, Zaviest menyapu seluruh ruangan dengan tatapannya, memastikan apakah ada orang yang mengikuti mereka atau tidak.
"Mengapa mereka mengirim pengintai untuk anda, Yang Mulia?" Tanya Zaviest dengan suara yang lirih.
"Mencari kebusukanku." Balas Vizena singkat. Ia menghela nafasnya lalu menyandarkan tubuh pada dinding yang ada di belakangnya, "Ergh, aku lapar sekali, mengapa aku bisa kelaparan seperti ini." Gerutunya sembari mengusap-usap perutnya.
"Sejak pagi anda sudah pergi ke tempat pelatihan, mungkin anda lupa."
"Benar sekali. Sejak pagi aku belum memakan sesuatu."
"Pesanan anda datang!" Seorang pelayan wanita datang dengan tangan memegang nampan.
Pelayan itu berpakaian cukup terbuka, nampaknya juga tertarik dengan ketampanan yang dipancarkan oleh wajah Zaviest. Matanya terus saja melirik ke arah Zaviest, ia bahkan bergerak dengan gemulai untuk menarik perhatian pemilik mata emas itu.
Sayangnya, Zaviest sama sekali tidak tertarik dengan pelayan itu. Dalam pandangannya hanya ada sosok menawan Vizena yang begitu gembira melihat hidangan lezat di depannya.
"Ini tampaknya sangat nikmat." Vizena tak membuang waktunya. Dia makan dengan lahapnya sementara Zaviest menatapnya terpana.
"Kau tidak makan, Tuan Dranis?" Tanya Vizena dengan mulut penuh makanan. Zaviest menggeleng pelan, ia mengambil kain lalu mengusap bibir dan pipi Vizena yang kotor.
"Apa selezat itu, Puteri?"
"Sangat!"
Zaviest menopang dagunya sembari memandangi Vizena menghabiskan makanannya.
"Kalau begitu habiskan, Puteri."
°°°°°
Sisi timur istana Luxorth tempat dimana kediaman Vizena berada terlihat begitu indah jika dilihat dari jendela tempat Eyster berdiri. Dia tidak berkedip memandangnya, seolah pandangan itu adalah anak panah dan istana Vizena adalah targetnya.
"Nona...." Sebuah suara mengusik Eyster.
"Berita apa yang kau bawa?" Eyster melirik melewati bahunya.
"Mereka semakin berani dan muncul di depan umum, tampaknya mereka memang memiliki hubungan khusus."
Senyuman sinis terukir di wajah Eyster, tidak sia-sia ia bersabar dengan mengintai Vizena. Pada awalnya dia hanya ingin mengetahui apakah pengikut Sang Puteri itu benar-benar mati atau tidak, dan bagaimana reaksi dari Vizena. Tapi yang dia dapatkan justru ikan yang sangat besar.
"Panggil pengirim surat kemari!" Perintah Eyster pada pelayannya itu.
Selagi menunggu pengirim surat itu tiba, Eyster beralih dari jendela kamarnya ke sebuah meja. Lalu mengambil pena dan kertas. Ada beberapa lembar yang dia tulis dengan semangat. Sampai pengirim surat yang dia panggil itu pun tiba.
Seorang pria dihantarkan oleh pelayan Eyster ke dalam kamarnya. Dia menunggu Eyster menyelesaikan tulisannya.
"Kau sudah datang rupanya, aku punya tugas penting untukmu." Kata Eyster. Dibantu oleh pelayannya, dia melipat semua kertas-kertas itu menjadi lebih kecil dan menggulung sebuah surat.
"Hantarkan ini ke tempat Tuan Gard." Eyster memberikan kertas yang digulung dengan rapi.
"Lalu yang ini," ia melihat ke arah kertas-kertas yang telah dilipat olehnya. "Sebarkan ini di tempat pelatihan milik Puteri Vizena."
"Baik Nona." Pria tersebut membawa semua kertas dan beranjak pergi dari sana.
"Ingat, jangan sampai ketahuan!" Ujar Eyster saat pria tersebut hampir keluar melewati ambang pintu. Pria mengangguk samar lalu pergi.
Senyuman licik terukir di wajah Eyster, kemenangan terlihat jelas di matanya. Dia tidak sabar menunggu hasil dari rencananya.
"Kau akan hancur. Sangat hancur!"