13. Walnuts & Plums

2879 Kata
Langit begitu gelap karena hujan yang baru saja mengguyur bumi Luxorth menyisakan mendung yang menyembunyikan cahaya bintang-bintang yang biasanya gemerlapan. Dibawah langit mendung itu, Vizena begitu susah payah membuka kacang kenari dengan giginya. Setiap kali sebuah kacang kenari berhasil dia buka, senyumnya langsung merekah penuh kebahagiaan. Ia pun dengan lahap memakan biji kacang kenari yang sudah dipanggang itu. Satu buah kacang kenari terasa sulit sekali dia buka dengan giginya meski Vizena sudah berusaha sekuat tenaga sampai suara Ariah mengejutkannya dan membuat Vizena menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah. "Ssshh," Vizena mendesis kesakitan, sementara Ariah menjadi panik setelah melihat darah mengalir keluar dari bibir Vizena. "Tuan Puteri maafkan hamba-" "Sudah, sudah, ada apa sebenarnya?" Tanya Vizena sembari berusaha mengusap bibirnya yang berdarah itu. "Tuan Gard, meminta untuk bertemu." Jawab Ariah, ia tampak tak enak hati saat mengatakannya. "Biarkan dia masuk, aku kan Isterinya dia tidak perlu ijin untuk masuk ke kamarku." Ujar Vizena lagi. Ariah segera pergi untuk menyampaikan pesan Gard. Tak berapa lama kemudian, pria bertubuh tinggi dan gagah itu memasuki kamar Vizena. Ia masih berpakaian lengkap, dipinggangnya juga masih tersampir pedang panjang. Sekali lihat Vizena tahu bahwa Gard tidak berniat untuk tinggal di kamarnya. Lagipula mereka tidak pernah tidur bersama, untuk apa mengharapkan sesuatu yang sama sekali tidak akan terwujud. "Mengapa berdiri saja disana, kemarilah dan kupas ini untukku!" Ujar Vizena sembari melambaikan tangannya. Sebagaimana Vizena memintanya, Gard kemudian berjalan mendekat ke tempat dimana Vizena sedang duduk. Suasananya begitu canggung, sudah beberapa lama mereka tidak bertemu secara pribadi seperti ini. Terakhir kali, Vizena menemui Gard untuk mengantarkan makanan tapi pada akhirnya dia malah mendengar pelayan menggosipkan dia, setelah itu ia berhenti untuk menemui pria itu dan lebih mementingkan pekerjaannya untuk mengurus pesta penyambutan. "Tolong kupas ini untukku, aku kesulitan mengupasnya!" Vizena berucap dengan manja dan acuh tak acuh, sembari menyodorkan sebuah kacang kenari pada Gard. Mengambil kacang dari tangan Vizena, tidak luput pula dari pandangan Gard ada semburat darah di sudut bibir Vizena. Gard menjulurkan tangannya, bukan untuk mengambil kacang kenari melainkan menyentuh bibir Vizena yang terluka. Dengan ibu jari ia mengusap lembut sudut bibir Vizena yang berdarah itu. "Seorang Puteri tidak seharusnya mengabaikan diri sendiri," ujar Gard pelan. Tubuh Vizena membeku ketika kulit ibu jari Gard nenyentuh bibirnya, ia menahan nafasnya entah karena apa. Mungkin saja karena ini adalah pertama kalinya Gard menyentuh dirinya sejak mereka menikah? Atau karena Vizena terlalu senang dengan kehadiran Gard yang tiba-tiba muncul tanpa di undang? Vizena hanya bisa membayangkan betapa senang hidupnya jika Gard bersedia menemuinya setiap hari dan bersikap lembut padanya setiap saat. Ia merasa bahwa pernikahan mereka semakin lama hanya sebagai sebuah simbol belaka. Perasaannya pada Gard pun semakin tidak tentu arahnya, ia menyukai Gard, menghormati pria yang begitu banyak berkontribusi untuk kerajaan, dan sangat bersyukur bahwa Gard lah yang menolongnya dari maut. Akan tetapi sikap Gard yang selalu dingin, dan acuh tak acuh membuat Vizena bertanya-tanya, jika Gard tidak mencintainya mengapa menerima pernikahan ini begitu saja. Padahal dengan posisinya saat itu, Gard bisa saja menolak keputusan Kaisar. "Yang Mulia?" Suara Gard yang lembut membelai telinga Vizena. Hal seperti itulah yang diinginkan oleh Vizena, sikap lembut dan penuh kasih dari suaminya sendiri. "Ya, ya, ada apa?" Gard menyorongkan setumpuk kecil isi kacang kenari pada Vizena. Dengan cepat ia mengambil kacang tersebut, melahapnya satu persatu, mengunyahnya dengan gigih, sembari menunggu dengan cemas apa yang diinginkan oleh Gard yang tiba-tiba datang padanya. "Aku dengar ada pesta penyambutan untuk para utusan yang datang?" Tanya Gard, kerongkongan Vizena terhenti saat akan menelan. Tapi ia berusaha menutupi rasa kagetnya, tidak boleh ia kelihatan terusik dengan pertanyaan Gard. "Ya memang, mengapa menanyakannya?" "Anda menyiapkan semuanya, Yang Mulia?" Tanya Gard lagi, Vizena menghela nafasnya sangat pelan. Dia sangat mengerti bahwa banyak orang yang memandang lemah dirinya karena apa yang menimpanya. Bertahun-tahun ia di cap sebagai Tuan Puteri yang Manja, kemudian ia dilabeli sebagai Tuan Puteri yang tidak sempurna karena kecelakaan yang menimpanya. "Perintah Ayahanda, jadi bagaimana pun aku harus melakukannya." Vizena menjawab setenang mungkin. "Anda bisa meminta bantuan Nona Eyster. Tidak perlu melakukannya seorang diri, Yang Mulia." Dengan susah payah Vizena menelan kacang kenari yang tersangkut di kerongkongannya. Ternyata Gard kemari untuk meminta dirinya membagi tugas pada Eyster kakaknya. Untuk apa? Gard pasti juga memandang dirinya sebagai gadis yang lemah, tidak percaya dan sangat tidak kompeten sehingga harus meminta bantuan orang lain. Tapi, Vizena tak bisa menunjukkan terang-terangan bahwa dia menolak usul yang diberikan Gard. Hanya saja dia ingin tahu, mengapa Gard membantu Eyster? Mengapa dirinya juga harus terganggu jika Eyster tidak memiliki andil dalam perjamuan ini? "Tentu, aku nanti akan memintanya untuk membantuku! Terimakasih, seandainya saja tidak diingatkan, aku akan kerepotan sekali." Kata Vizena dengan senyum lebar diwajahnya. Sebuah senyum samar tampak diwajah Gard, ia mengambil lagi buah kenari yang tersisa kemudian mengupasnya dalam diam. Setelah selesai ia memberikan semua kacang pada Vizena. "Saya membawa sesuatu untuk anda," Tiba-tiba saja Gard bersuara memecah keheningan diantara mereka. Vizena pun tersedak mendengarnya. Benar-benar sebuah kejutan yang tidak terduga, bahwa Gard memberikan sesuatu untuk dirinya. "Saya tidak tahu, apakah ini akan cocok dengan Anda atau tidak," aneh sekali tapi Vizena merasa bahwa wajah Gard memerah, apakah dia merasa malu dengan hadiahnya? "Sudah dibawa tentu harus diberikan, mana?" Vizena menengadahkan telapak tangannya bersiap menerima hadiah tersebut. Ragu-ragu Gard mengeluarkan sesuatu dari balik meja. Rupanya ketika datang, ia membawa sebuah bingkisan hanya saja Vizena terlalu acuh sehingga dia tidak melihatnya. Merasa tidak yakin dengan hadiahnya, Gard menarik kembali tangannya. Sayangnya, Vizena lebih cepat menyambar bingkisan itu. Gard mendesah pelan, ada sedikit rasa penyesalan karena memberikan hadiah itu. Ia menyesal karena tidak mempersiapkan hadiah yang lebih baik. Sebenarnya dia sendiri tidak berencana untuk memberikan apapun pada Vizena, tapi ketika siang ia pergi ke luar Istana, berjalan-jalan dengan beberapa bawahannya untuk mencari makanan ia melihat ada kain tertiup angin yang melambai-lambai. Kain itu dari sutera berwarna ungu muda, melihat warnanya Gard teringat pada Vizena. Gadis itu memiliki sepasang mata yang indah berwarna lembayung, setiap pandangan gadis itu selalu memancarkan kebahagiaan, sehingga siapapun yang melihat Vizena akan merasa nyaman. Tak pernah sekali saja Gard melihat tatapan Vizena penuh keburukan ataupun amarah, hanya pernah ia melihat mata itu dipenuhi kesedihan yang mendalam. Yaitu, hari pertama setelah malam pengantin mereka berlalu. "Warnanya indah sekali," ucapan Vizena menarik Gard dari lamunannya. Pemuda gagah itu lalu menatap Vizena, sungguh seperti bayangannya Vizena akan tersenyum, dengan mata indahnya itu. "Anda menyukainya, Yang Mulia?" "Ya! Tentu saja! Aku akan membuat gaun yang indah dari kain ini." Balas Vizena sembari membentangkan kain tersebut. Seulas senyuman menghiasi wajah Gard, sesuatu yang sangat langka didapatkan oleh Vizena. Ada apa dengannya hari ini? Batin Vizena penuh dengan pertanyaan. Memang sangat janggal sekali perbuatan Gard hari ini. Seperti bukan dirinya saja. "Sudah larut, saya tidak akan mengganggu Yang Mulia lagi," Gard beranjak hendak berdiri. "Mau kemana?" "Kembali ke Paviliun Militer, saat ini penjagaan istana diperketat karena delegasi yang datang," jelas Gard, "Oh, baiklah. Aku mengerti." Setelah itu Gard berjalan keluar dari kamar Vizena, meninggalkan Vizena yang termangu melihat kain dihadapannya. Entah mengapa ia tidak merasa bahagia dengan pemberian Gard, tapi dia bersyukur Gard melakukannya. "Yang Mulia, Apa anda akan membuat gaun ke pesta dengan kain ini?" Ariah membuyarkan lamunan Vizena. "Tidak, simpan saja." Katanya dengan datar kemudian ia mengambil lagi kacang kenari yang sudah dikupas oleh Gard dan memakannya dengan pelan. ???? Suara kepakan sayap mengejutkan Zaviest yang sudah begitu dalam dan hanyut dalam lamunannya yang tak berpalung itu. Ketika ia telah sepenuhnya kembali pada kenyataan, Feiry sudah berdiri dibahunya, kepalanya yang berbulu digesekkan pada wajah Zaviest hingga membuatnya kegelian. "Kau rindu padaku ya?" Ujar Zaviest sembari mengusap-usap kepala burung sihir itu. Feiry mematukkan paruhnya ke tangan Zaviest, "kau lapar?" Tanya Zaviest. "Bagaimana mungkin burung sihir sepertimu merasa lapar," ejek Zaviest, padahal dia tahu bahwa makanan itu dibutuhkan oleh Feiry untuk menambah energinya ketika memata-matai. Telapak tangan Zaviest terbuka, ia memainkan jemarinya lalu terdapat percikkan berwarna kehijauan, tak lama kemudian satu mangkuk biji-bijian pun muncul ditelapak tangannya. Zaviest pun dengan sabar menyuapi burung miliknya itu. Berkali-kali ia memuji Feiry, mengatakan bahwa Feiry adalah burung yang pintar dan tidak pernah mengeluh. Disisi lain, Moscha yang melihat interaksi antara Zaviest dan Fiery pun mencibir dengan suara yang sangat pelan, "bagaimana burung itu bisa mengeluh, dia terbuat dari sihirnya." Meski pun samar, Zaviest bisa mendengar gumaman adiknya. Tapi ia hanya tersenyum, bagi Zaviest burung miliknya itu bukanlah hewan magis, tapi hewan nyata yang juga memiliko batas kemampuan. Sebagaimana Zaviest akan kelelahan jika terlalu banyak menggunakan sihirnya, pasti begitu juga dengan Feiry. Setelah menghabiskan satu mangkuk kecil biji-bijian, Fiery menyundulkan kepalanya yang berbulu pada wajah Zaviest. Dengan lembut Zaviest mengusap kepala Fiery, tepat setelahnya ia menerima sekelebat bayangan dari yang telah diperoleh Fiery. Dalam bayangan itu ia melihat Vizena yang bersusah payah membuka kacang kenari, lalu dikejutkan oleh pelayannya dan datanglah seorang pria yang sudah sangat familiar bagi Zaviest. Secara utuh ia melihat semua Interaksi antara pria itu dan Vizena. Sesekali tangan Zaviest terkepal ketika melihat pria itu mengusap bibir Vizena yang berdarah. "Mengintipnya lagi?" Suara Moscha memecah konsentrasi Zaviest sehingga semua informasi dari Fiery pun lenyap. Mata Zaviest nyalang menatap adiknya, ia siap kapan saja untuk mencekik leher Moscha yang berani-beraninya mengganggu dia yang sedang 'mengintip' kegiatan sang Tuan Puteri. Setelah merasa bahwa keamanannya tidak akan terjaga jika terus bersama Zaviest, perlahan Moscha mulai melangkah mundur, "sebaiknya aku pergi dulu," katanya lalu secepat kilat ia berbalik dan berlari sekencang yang dia mampu. Zaviest menghela nafasnya, ia menjetikkan jarinya sehingga Feiry menghilang setelah kepulan asap berwarna kehijauan muncul di udara. "Kau sudah banyak bekerja keras, sekarang waktunya beristirahat." Zaviest bergumam. "Sepertinya aku harus keluar." Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih nyaman ia bergegas keluar dari ruangannya. Malam ini Zaviest pergi ke pasar, ia ingin menikmati pasar di Luxorth. Sudah beberapa hari di Luxorth ia sama sekali belum pernah keluar dari istana. Biasanya dia sangat antusias sekali untuk keluar dan mencari si Tuan Puteri, hanya saja malam ini suasana hatinya sedang tidak baik. Keramaian mungkin akan membantunya. Keberadaan pasar dengan gerbang utama istana Luxorth tidak begitu jauh. Sayangnya, pasar ini tidak terlalu ramai, banyak kedai yang sudah tutup. Mungkin karena baru saja di guyur oleh hujan. Zaviest terus berjalan, ia mencari kedai minum mungkin bisa disinggahinya. Zaviest menoleh kekanan, lalu kekiri barangkali ia melewatkan sesuatu. Setelah berjalan beberapa langkah, ia melihat sebuah kedai dengan lampu yang menyala. Dengan sedikit mempercepat langkahnya Zaviest pergi ke kedai tersebut. Terlihat beberapa orang pun masuk kedalam kedai itu. Bruukk. Saat ia hendak menginjakkan kaki ke dalam kedai, seseorang menabraknya hingga orang itu terjatuh. Orang itu tampaknya juga ingin masuk kedalam kedai, ia mengenakan tudung berwarna merah darah yang membuat Zaviest sulit untuk melihat wajahnya. "Ah maafkan aku," Zaviest mengulurkan tangannya untuk membantu orang tersebut. Orang itu mendongak sehingga tudung yang dia kenakan terjatuh dibahunya dan menunjukkan wajahnya. Mata emas Zaviest terbelalak cukup lebar, ia tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya setelah melihat sosok yang menabraknya itu. "Puteri?!" Tanpa sadar ia memekik. "Sssshhh!" Vizena lekas berdiri ia kemudian secara spontan menutup bibir Zaviest dengan telapak tangannya yang mungil, "jangan keras-keras! Semua orang bisa mengenaliku!" Bisiknya pada Zaviest. Sementara Zaviest malah tertegun, ia terlena karena wajahnya dan Vizena begitu dekat. Ia bisa melihat dengan dekat mata lembayung milik Vizena yang sangat indah itu. Zaviest telah tersihir oleh keindahan lembayung di mata Vizena. "Tuan! Tuan Dranis!" Vizena telah memanggil Zaviest berkali-kali, akan tetapi pria yang ada dihadapannya itu seolah berubah menjadi patung, bahkan berkedip pun tidak. "Tuan?" Vizena menyadari bahwa dia baru saja membekap mulut Zaviest, ia segera menurunkan tangannya, lalu sebagai gantinya ia menepuk bahu Zaviest hingga pria itu terkesiap. "Ah, ya, bagaimana bisa anda ada disini?" Tanya Zaviest dengan berbisik. Vizena melihat ke sekeliling mereka sembsari menutup tudung kepalanya, memastikan tidak ada orang yang diam-diam mengawasinya. Setelah merasa aman, ia kemudian baru menjawab pertanyaan Zaviest dengan santai, "aku bosan di istana, Tuan Dranis, bagaimana kau bisa keluar malam-malam begini?" "Sepertinya kita berjodoh," jawab Zaviest sengaja untuk menggoda Vizena, ia bahkan memasang senyum jahil diwajahnya, "kita memiliki pemikiran yang serupa." Lanjutnya. Vizena memutar matanya sedikit kesal dengan Zaviest yang bermain-main dengan perkataannya, tapi ia cukup terhibur karenanya. Hanya saja, ia merasa aneh karena tempat yang akan mereka kunjungi adalah pusat hiburan di Luxorth. "Bagaimana kau tahu tempat ini, Tuan Dranis?" Zaviest mengangkat bahunya, ia sama sekali tidak tahu tempat seperti apa yang akan dia datangi, "aku hanya mencari tempat untuk minum, berjalan sepanjang pasar membuatku haus. Dan tidak ada kedai lain." Kepala Vizena manggut-manggut, lalu ia meraih tangan Zaviest dan menariknya untuk masuk kedalam kedai tersebut. Zaviest cukup terkejut dengan tindakan Vizena, ia terus saja memandangi tangannya yang ditarik oleh Sang Puteri. Sementara ia tak menyadari ada beberapa wanita penghibur yang mencoba untuk menggodanya, tapi dia bergeming sembari memerhatikan tangan Vizena. Tak berapa lama kemudian keduanya sampai pada sebuah bilik dengan seorang penghibur wanita yang sangat cantik mengantarkan mereka. "Apa tuan membutuhkan sesuatu yang lain?" Tanya wanita itu dengan suara yang dibuat-buat. "Bawakan kami minuman yang paling lezat dari kedai ini." Jawab Vizena dengan suara yang dibesarkan sehingga mirip dengan suara pria. Wanita penghibur itu tersenyum dengan manis, kemudian pergi meninggalkan dia dan Zaviest. "Tuan, dari ruangan ini kita bisa melihat dengan jelas pertunjukkan yang akan segera dimulai." Ujar Vizena sembari duduk diseberang Zaviest. Pria itu masih tidak bisa kembali pada kesadarannya. Ia masih menatap Vizena dengan tatapan kagum. "Tuan Dranis, apa kau mendengarku?" Vizena menarik tangannya yang belum ia lepas setelah menarik Zaviest. Seketika itu Zaviest terkesiap, ia mengerjapkan matanya lalu mengamati seisi ruangan. "Tempat apa ini, Puteri?" Tanya Zaviest, tatapan matanya berhenti untuk menatap Vizena. "Ini tempat hiburan." jawab Vizena sembari membuka kembali tudungnya. Kini terlihat jelas topeng yang ia kenakan menghiasi separuh wajahnya. Zaviest tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Vizena yang tampak menawan dimatanya. "Ini sudah kesekian kali kita bertemu, masih heran dengan wajahku yang cacat?" Pertanyaan Vizena begitu menohok hati Zaviest. Senyuman Zaviest merekah, ia kemudian menopang dagunya dengan sebelah tangannya sembari menatap Vizena. Wajah Sang Puteri memerah karena tatapan Zaviest begitu intens. "Aku heran, mengapa Puteri terlihat begitu menawan." Katanya dengan suara yang pelan tapi cukup jelas didengar oleh Vizena, sehingga wajahnya yang sudah memerah semakin merah seperti kepiting rebus. Tok tok. Pintu diketuk dua kali sebelum akhirnya dibuka. Seorang wanita yang sangat cantik dengan pakaiannya yang sangat minim, menampilkan beberapa bagian tubuhnya itu masuk kedalam sembari membawa dua botol minuman. Wanita itu menempatkan botol tersebut dimeja, ia tak menyia-nyiakan kesempatannya untuk menggoda Zaviest. "Apa tuan membutuhkan sesuatu yang lain?" Wanita itu berkata manja dengan sengaja ia menundukkan tubuhnya sehingga belahan dadanya tampak jelas untuk dilihat oleh Zaviest. "Tidak." Zaviest menjawab dengan dingin dan tegas, ia bahkan memalingkan kepalanya untuk melihat kearah luar bilik. "Temanku ini sedang tidak baik-baik saja, jadi tinggalkan kami dulu. Jika aku butuh sesuatu akan kupanggil." Vizena menyahut dengan suara yang besar, mendengarnya Zaviest melirik sekilas dan seulas senyum tergambar di wajah Zaviest. Wanita itu tampak kecewa, namun ia mematuhi ucapan Vizena dan pergi meninggalkan keduanya. "Bagaimana anda tahu tempat seperti ini, Puteri?" Tanya Zaviest. "Aku suka bermain-main, kebetulan disini juga menyenangkan." Jawab Vizena, ia menuangkan isi botol ke dalam sebuah gelas untuk dirinya sendiri dan untuk Zaviest. "Ini, cobalah! Ini adalah fermentasi buah prem, sangat lezat. Di Sholaire pasti tidak ada." Alis Zaviest terangkat, buah itu sangat langka di Sholaire. Jangankan untuk fermentasi, untuk dimakan secara langsung saja sangat susah untuk didapatkan. Dipasar pun buah ini sangat mahal, jika ada yang bisa membeli hanya kalangan bangsawan saja. "Mengapa diam saja, Tuan?" Vizena membuyarkan lamunan Zaviest. "Tidak, bukan apa-apa. Di negeri kami buah ini sangatlah langka." Jawabnya jujur, ia kemudian mengambil gelas yang berisi minuman itu. Diendusnya aroma minuman fermentasi itu, sangat harum bisa membuat siapa saja yang menghirupnya akan segera ingin meminumnya. "Sangat wangi," katanya, ia kemudian menyesapnya perlahan. Ketika cairannya menyentuh ujung lidah Zaviest, terasa sedikit asam, akan tetapi saat cairan itu mengalir ke tenggorokannya baru terasa manisnya, "perpaduan rasa yang cukup unik." "Tentu saja! Aku tidak akan membohongimu, Tuan." Vizena sendiri kemudian menyesap minuman di gelas miliknya. Ia terlihat begitu menikmati tiap tetes dari minuman itu. "Apakah tidak masalah jika Puteri minum malam ini? Besok kan pesta pembukaan?" Zaviest mengingatkan hari penting itu, dan seketika raut wajah Vizena berubah. Ia menatap Zaviest dengan kesal, dahinya berlipat membentuk kerutan yang cukup dalam. Anehnya, tak lama kemudian ia tertawa sembari mengibaskan tangannya. Disisi lain, Zaviest tahu tawa itu tidak menunjukkan rasa suka sama sekali. Hingga ia tak ikut tertawa, ia hanya menatap Vizena. "Tidak masalah! Kakakku yang sangat cantik dan pintar itu pasti sekarang sudah mengurusnya." Katanya. "Adakah gadis yang lebih cantik di Luxorth daripada anda, Puteri?" Pertanyaan Zaviest membuat Vizena tertegun, berusaha dengan sangat keras ia menelan minuman yang tersangkut di tenggorokannya. "Kakakku, dia lebih cantik dariku." Jawab Vizena lirih, ia meletakkan gelasnya dan menuang kembali minumannya. "Saya tidak percaya," Zaviest menenggak lagi minumannya. "Dia tidak cacat, wajahnya sempurna, tubuhnya juga, dibanding denganku dia jauh lebih cantik, itu sebabnya rumor itu beredar dengan cepat." Zaviest terdiam, ia memerhatikan Vizena yang larut dalam perasaan sedihnya yang mungkin sudah terpendam sekian lama. Ia tidak bisa melihat gadis dihadapannya itu bersedih, dan ia tidak akan membiarkan kesedihan menyapu bersih sinar cerah di wajah Vizena. "Bagaimana kalau kita mengerjainya?" Pikiran usil Zaviest yang lama terkubur karena ia harus berperan menjadi raja kini mencuat kembali dalam benaknya. Apapun itu, ia ingin sekali menghibur Vizena. "Mengerjainya?" Zaviest mengangguk, dan mereka saling bertukar senyum kejahilan di wajah mereka. ::To Be Continued::
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN