Mata Zaviest berkilat dan menatap tajam kearah Moscha yang sedang duduk diatas kuda hitamnya. Kepala Zaviest menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Vein tapi tidak ia temukan sosok dingin yang telah menjadi adiknya selama dua puluh tujuh tahun itu.
"Kenapa kau yang disini?" Tanya Zaviest dengan suara beratnya. Moscha meringis sembari menggaruk kepala bagian belakangnya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Dalam hatinya juga sangat was-was jika Zaviest mungkin akan marah besar.
"Aku yang akan pergi dengan anda Yang Mulia," ucap Moscha dengan sangat hati-hati.
"Apa kau merengek pada Vein?" Tanya Zaviest penuh selidik, ia menyipitkan matanya lada Moscha. Sang Raja sangat mengenal adiknya satu ini, ia pasti berbuat sesuatu dan membujuk Vein agar bersedia menuruti semua kemauannya. Moscha yang dituduh hanya bisa meringis sembari mengangguk pasrah, "Ibu Suri mengetahuinya?" Tanya Zaviest lagi.
"Tidak," jawab Moscha dengan lemas, "jika Ibunda mengetahuinya, aku akan digantung." Katanya dengan raut wajah ketakutan karena membayangkan Ibunya akan marah dengan apa yang telah ia perbuat. Bukankah sangat ironis sekali jika itu terjadi? Buru-buru Moscha menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran buruknya.
"Jika Ibunda menggantungmu, itu adalah hal yang paling beruntung untukmu." Mendengar kakaknya Moscha langsung bergidik dibuatnya. Ia berpikir, sungguh mengerikan jika sampai ia mati digantung oleh Ibunya hanya karena menyusup untuk mengikuti kakaknya.
"Tapi, ada apa dengan rambut perak kakak?" Tanya Moscha sembari memerhatikan rambut Zaviest dengan gaya baru. Rambutnya tak lagi panjang, tapi sangat pendek dan warnanya diubah menjadi hitam.
"Oh ini," Zaviest memegang rambutnya dan tak bisa menutupi cengiran di wajah tampannya, "aku meminta paman untuk membuatkan sebuah ramuan untuk mengubah penampilan, sepertinya berhasil." Kata Zaviest.
"Hanya di bagian rambut saja, yang lainnya, Anda tetaplah kakakku sang Raja!"
"Paling tidak mereka tidak akan mengenaliku, baiklah ayo kita berangkat sekarang!"
Itu semua karena Raja Sholaire dikenal dengan rambutnya yang berwarna perak. Ketika pergi berperang ia dijuluki sebagai Serigala Perak, menyerang tiada henti dan ketika telah menemukan mangsanya ia tak akan pernah mundur sebelum mangsanya kalah.
Mereka kemudian memacu kuda mereka dengan kecepatan yang tinggi.
Perjalanan menuju Luxorth dari Sholaire membutuhkan waktu satu bulan perjalanan darat jika menggunakan kereta, karena laju kereta tidak bisa secepat kuda. Itu sebabnya Zaviest memilih untuk menggunakan kuda dan tanpa pengawalan untuk mempercepat perjalanan mereka. Dengan menggunakan kuda tanpa rombongan, mereka bisa melewati jalan pintas sehingga perjalanan pun bisa menjadi lebih cepat.
Butuh waktu dua minggu bagi Zaviest dan Moscha hingga mereka sampai di Ibukota Luxorth. Ketika memasuki gerbang kota, mereka mendapatkan pemeriksaan. Untung saja, Zaviest yang dibantu oleh Dranis sudah menyiapkan identitas palsunya. Sehingga bisa mengelabui para penjaga.
"Kota ini luar biasa sekali," Decak Moscha saat pertama kali ia memasuki Luxorth.
Ibukota Luxorth, merupakan kota yang sangat bersih. Bangunan-bangunannya megah dan indah seolah-olah seluruh kota adalah istana kerajaan. Warga kotanya pun begitu cantik dan rupawan dengan pakaian mereka yang berkilau karena berasal dari sutera terbaik di Lima Negara.
"Mereka sangat sejahtera sekali," gumam Moscha.
"Tidak heran, mereka menguasai dua jalur sutera." Balas Zaviest.
Mereka meneruskan perjalanan hingga sampai dipasar kota. Pasar itu lebih padat dibandingkan pinggiran kota. Semua orang berdagang di pinggir jalan membuka gerai-gerainya. Banyak pula kedai-kedai yang ramai di kunjungi, anak-anak berlarian dengan bebas. Orang dewasa bertransaksi saling tawar menawar.
"Pasar disini hampir mirip dengan milik kita, sangat ramai."
"Ini menandakan perekonomian yang stabil." Balas Zaviest sembari bergumam. Meski tampak bergeming berbeda sekali dengan Moscha yang terus menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat semua hal di pasar, diam-diam Zaviest juga mencari sesuatu. Ia selalu mendapatkan informasi dari Feiry bahwa gadis itu biasanya suka bermain di Pasar.
"Kak, itu gerbang istananya!!" Pekik Moscha ketika mereka telah sampai di ujung pasar. Terdapat sebuah gerbang yang menjulang tinggi dengan dinding-dinding yang mengelilingi seluruh bangunan istana.
Keduanya pun segera memacu kuda mereka agar segera masuk ke Istana. Penjaga gerbang istana menghentikan mereka dan meminta keduanya mengeluarkan surat resmi dan identitas mereka.
"Kami dari Sholaire, utusan Raja Zaviest, Dia adalah Pangeran Kelima dan saya Pengawalnya." Kata Zaviest pada penjaga gerbang tersebut sembari mengeluarkan kartu identitasnya.
Penjaga itu memeriksa surat utusan mereka kemudian menatap Zaviest dan Moscha secara bergantian. Ia tampak ragu-ragu karena hanya dari Sholaire yang tidak menggunakan kereta, selain itu keduanya tampak lusuh, namun setelah melihat tanda kerajaan Sholaire di akhir surat dan emblem yang melekat di pakaian Moscha, penjaga itu akhirnya membukakan pintu gerbang istana Luxorth dan mengantarkan 'utusan' dari Sholaire ke Istana Tamu.
Lagi-lagi Moscha terkagum dengan pemandangan yang dia lihat. Istana Luxorth sangat indah, semua dindingnya bercatkan putih dengan aksen emas dan kubah-kubah besar berwarna biru, pilar-pilarnya begitu besar dan kokoh menopang setiap bangunan yang ada di Istana. Taman-tamannya begitu indah di hiasi berbagai macam bunga yang tampaknya bunga itu tidak pernah layu meski musim berganti.
"Indah sekali," gumam Moscha.
Disisi lain, mata Zaviest tidak henti untuk menelisik ke seluruh sudut bangunan dan lorong-lorong. Ia masih mencari gadis tersebut, ia berharap keajaiban akan datang padanya dan ia bisa melihat gadis itu di Istana ini.
Benar saja, keberuntungan berpihak pada Zaviest karena langkahnya terhenti setelah tatapan matanya bertumpu pada sosok bergaun hitam dengan jubahnya yang panjang menyapu lantai sedang berjalan di seberang lorong dengan diikuti oleh beberapa pengawal dan pelayan. Melihatnya, waktu seakan dirasa Zaviest berhenti meski jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Tatapan matanya mengikuti kemana saja langkah gadis itu berjalan.
"Siapa dia?" Tanya Moscha pada penjaga yang mengantarkannya.
"Dia adalah Tuan Puteri Vizena, Puteri Kerajaan Luxorth." Jawab Penjaga tersebut. Moscha pun mengamati kakaknya yang tertegun melihat Vizena dari kejauhan. Moscha juga merasakan bahwa gadis itu memiliki daya tarik yang tinggi. Saat itu juga ia menyadari, gadis itu lah yang membuat Zaviest melakukan banyak kegilaan hingga membubarkan Harem.
'Mungkinkah dia gadis yang ada dilukisan kakak?' Gumam batin Moscha.
"Akan tetapi Tuan Puteri sudah menikah," Kata-kata penjaga seolah-olah memberitahukan kepada dua pemuda dari negara asing untuk 'jangan-bermimpi-mendekatinya', itu seperti palu besar yang menghantam kepala Moscha dengan sangat keras.
"Apa?!" Tanya Moscha dengan suara yang meninggi. Ia kemudian menatap kakaknya yang masih terpaku ditemptnya berdiri. "Dia sudah gila," gumamnya.Ia menatap kakaknya, kemudian menatap Sang Puteri secara bergantian.
'Celaka!' Ia membatin lagi
"Mari saya antarkan ke Istana Tamu," Ujar penjaga lagi. Moscha mendekati Zaviest kemudian menepuk pundaknya. Membuag Zaviest tersentak sedikit, ia lalh menoleh kearah Moscha dengan alis yang terangkat.
"Kita harus segera pergi," ujar Moscha saat Zaviest menoleh padanya dengan tatapan penuh tanda tanya. Mereka kemudian diantarkan ke istana tamu.
"Jika anda membutuhkan sesuatu, pelayan siap membantu anda." Ujar penjaga tersebut kemudian pergi.
Saat penjaga sudah pergi, Moscha langsung menghampiri kakaknya yang hendak bersiap untuk membersihkan diri. Ia menatap lekat-lekat wajah Zaviest, terlihat sekali bahwa kakaknya itu sedang bahagia. Dia tidak tega merusak kebahagiaan itu, tapi Moscha juga tidak bisa membiarkan Zaviest berada dalam kebahagiaan semunya. Mencintai seseorang yang telah memiliki kekasih itu merupakan kejahatan.
"Apakah dia adalah gadis itu?" Tanya Moscha pada Zaviest dengan serius. Meski ia sudah tahu apa jawabannya, tetap saja Moscha harus memastikan bahwa dugaannya tidak salah.
"Itu dia," balas Zaviest dengan senyum samarnya.
"Penjaga itu mengatakan bahwa dia sudah menikah, kakak apa kau sudah gila?"
Zaviest tidak menjawab pertanyaan Moscha. Ia hanya tersenyum, kemudian berbalik dan berjalan kearah kamar mandi dan bersenandung. Sedangkan Moscha hanya bisa menepuk dahinya. Dia tidak menyangka bahwa kakaknya sungguh sudah menjadi pria gila hanya karena seorang gadis. Seorang gadis!!!
'Dan gadis sudah bersuami'
?????
Dalam ruangannya ditemani dengan cahaya lampu minyak yang temaram berkali-kali Vizena meregangkan tangannya. Sudah beberapa jam ia membaca dokumen tentang tamu undangan pertemuan Lima Negara. Rencananya, akan ada tiga kegiatan utama dan dua kegiatan sederhana.
Tiga kegiatan utama meliputi pesta penyambutan para delegasi, kemudian perundingan, lalu pesta kembang api sebagai penanda keberhasilan ditutupnya perundingan tersebut. Di sela kegiatan itu, akan diadakan jamuan makan sebanyak dua kali.
Karena akan diadakan beberapa pesta maka Vizena begitu disibukkan untuk menentukan daftar tamu dalan pesta tersebut. Ini pertama kali Vizena mengerjakan semua itu sendiri saja. Biasanya pekerjaan seperti ini akan diserahkan ayahnya pada kakaknya Eyster.
"Yang Mulia, sudah larut malam sebaiknya anda segera beristirahat." Ujar Ariah mengingatkan sembari mengganti minyak lampu. Vizena meletakkan perkamen dokumen itu dimeja, ia kemudian berdiri dan meregangkan tubuhnya yang terasa pegal karena duduk terlalu lama.
"Aku ingin berjalan-jalan, sudah lama tidak menikmati cahaya bulan dari taman Istana." Kata Vizena sembari beranjak keluar. Ariah buru-buru menyelesaikan tugasnya kemudian mengikuti Vizena, tapi Vizena mengatakan ia sedang tidak ingin ditemani.
"Tapi ini sudah larut malam, Yang Mulia." Ujar Ariah, "bagaimana jika terjadi sesuatu?" Mendengar hal itu Vizena terkikik geli, di dalam istana adalah tempat ter-aman baginya, tidak ada yang bisa menyakitinya disini.
"Siapa yang akan menyakitiku, tenanglah, aku hanya sebentar saja." Ucap Vizena kemudian ia benar-benar pergi.
Langkah Vizena berjalan melalui lorong teras istananya. Saat malam hari, bangunan Istana tampak begitu indah karena memantulkan cahaya dari rembulan yang begitu terang. Seolah-olah istana itu sendiri yang memancarkan cahaya.
Ketika sampai di taman istana Vizena menghentikan kakinya. Ia mendongak dan menatap bulan yang sedang purnama dan memancarkan cahaya dengan sempurna itu.
"Bagaimana keadaan kakak sekarang? Apa dia baik-baik saja?" Gumamnya, ia teringat pada Leoxard. Vizena kemudian menghela nafasnya sembari meremas telapak tangannya. "Cepatlah pulang, Ayah dan Kakek mengkhawatirkanmu." Ujarnya lagi dengan suara yang lirih.
Saat benak Vizena mengingat-ingat tentang kakaknya dan hatinya begitu merindukan sang kakak, tiba-tiba ia tak sengaja mendengar suara seseorang yang sangat familiar. Penasaran ia pun mendekat pada sebuah batu dan berusaha melihat siapa pemilik suara tersebut.
Mata lembayung Vizena melebar saat ia melihar Gard sedang duduk di serambi teras yang terletak di pinggir taman tak jauh dari tempat Vizena bersembunyi. Yang membuat Vizena terkejut bukan karena Gard, tapi karena orang yang berada di depan Gard.
"Tidak perlu diambil hati, Mungkin Kaisar hanya ingin membuatnya sibuk supaya tidak memikirkan kakaknya." Samar-samar Vizena mendengarnya.
"Jangan naif! Kaisar mengetahui rencana ayahmu!" Balas Eyster berapi-api. "Dia akan menghancurkan semua rencana kita," Jantung Vizena seakan terhenti saat mendengarnya. Ia tidak ingin mempercayai pendengarannya, tetapi itulah kenyataannya. Tanpa sadar Vizena melangkah mundur dan ia menjatuhkan patung batu yang terletak disampingnya hingga menimbulkan suara berisik.
"Siapa disana?!" Suara Gard begitu berat. Sedangkan Vizena tak ingin ketahuan jika dirinya tak sengaja menguping dan mendengar semua yang mereka bicarakan. Ia menjadi bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jika ia berlari, maka Gard akan dengan mudah menangkapnya.
Ditengah kebingungannya tiba-tiba sebuah tangan besar membekap bibirnya dan tubuhnya ditarik dengan sangat cepat. Selanjutnya Vizena hanya bisa melihat kegelapan, dan mendengar suara langkah kaki Gard dan Eyster yang mencarinya.
"Jangan bergerak," bisik seseorang yang berdiri dibelakangnya, dengan bibir Vizena yang masih dibekap. Saat itu, Vizena bisa merasakan hembusan nafas hangat dari orang tersebut, dan aroma sandalwood yang lembut memanjakan indera penciuman Vizena.
"Mungkin seekor binatang, sudahlah aku akan mengantarmu kembali ke kamar." Ujar Gard, kemudian mereka pun pergi.
Setelah memastikan bahwa kedua orang itu pergi. Orang yang membekap Vizena melepaskannya, seketika Vizena beranjak untuk memberi jarak diantara mereka. Ia pun kemudian berbalik untuk melihat siapa gerangan yang berani membekap bibirnya.
"Siapa kau!" Tanya Vizena yang gemetar.
"Apakah pantas membentak pada orang yang telah menyelamatkanmu?" Pria itu bersuara berat, namun begitu lembut terdengar. Setelah mengatakan hal tersebut, dia langsung pergi dengan sangat cepat.
"Hey! Jangan pergi!!" Vizena berusaha mengejarnya namun pria itu seolah menghilang ditelan bumi, "siapa dia sebenarnya," gumam Vizena. Tanpa sadar ia menggerayangi kembali bibirnya, ia masih bisa merasakan kehangatan dan aroma dari telapak tangan pria itu diwajahnya.
Dengan perasaan yang bercampur menjadi satu karena telah mendengar apa yang dibicarakan oleh Eyster dan Gard, ia kembali ke kamarnya. Banyak hal yang berkecamuk di dalan kepala Vizena.
Apakah mereka mengetahui semua rencana Tuan Louth?
Mengapa Gard berada di pihaknya?
Mengapa pandangan dan sikap Gard pada Eyster tidak biasa?
Sebenarnya apa yang mereka rencanakan?
Apakah rumor tentang mereka itu benar?
Semua pikiran-pikiran negatif itu membuat perasaan Vizena tidak nyaman sehingga ia merasakan desakan aneh diperutnya yang membuatnya mual dan seolah-olah perutnya begitu penuh sehingga ketika disentuh pun terasa sakit.
"Tuan Puteri!" Ariah berlari menyongsong Vizena ketika ia sampai di ambang pintu kamarnya, "mengapa anda tampak pucat begini?" Ariah segera membopong Vizena dan berjalan perlahan ke ranjang.
"Sepertinya pencernaanku bermasalah." Ujar Vizena dengan suara lirih.
"Hamba akan panggilkan dokter istana." Ariah beranjak pergi, namun Vizena menahannya.
"Tidak perlu, aku hanya membutuhkan istirahat." Katanya sembari membalikkan badan dan memegangi perutnya yang terasa sesak seolah akan meledak itu.
"Baiklah kalau begitu, hamba akan membuatkan minuman hangat untuk Anda." Ujar Ariah lalu beranjak pergi dari kamar Vizena.
Dalam keheningan ruangan kamarnya yang temaram itu, Vizena masih menerka-nerka tentang Gard dan Eyster, namun pikirannya tiba-tiba terganggu oleh bayangan pria yang membekap mulutnya dan beraroma sandalwood tadi. Vizena merasa bahwa pria itu tidak asing, begitu juga aromanya. Hanya saja, sandalwood tidak berasal dari Luxorth, dan tidak ada sama sekali wewangian lokal dengan aroma semacam itu. Jika seseorang menginginkan wewangian seperti itu, dia harus membelinya dari kerajaan lain. Kecuali jika pria itu bukan berasal dari Luxorth, bisa saja! Saat ini sedang banyak tamu yang berasal dari negara lain.
"Kenapa aku memikirkan pria itu! Aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya karena gelap." Gerutu Vizena dengan kesal. Lagi, ia mencoba untuk memejamkan matanya akan tetapi perutnya terasa tidak nyaman.
"Perut ini! Kenapa kau tidak bisa bekerja sama!" dengusnya dengan kesal.
?????
Nafas Zaviest terengah-engah dan ia mencengkram dadanya dengan erat sembari bersandar di pintu ruangannya. Dari pinggir jendela, Moscha menatap kakaknya itu dengan alis yang terangkat.
"Apa yang terjadi?" Tanya Moscha.
"Aku bertemu dengannya!" Kata Zaviest dengan senyum yang begitu lebar dan nafas yang masih terengah. Moscha semakin bingung, jika begitu senangnya bertemu sang puteri mengapa kakaknya tampak seolah dikejar oleh sesuatu yang mengerikan? Moscha menggelengkan kepalanya perlahan, Zaviest tidak akan takut dengan makhluk mengerikan apapun. Lantas apa yang terjadi sebenarnya.
"Katakan padaku, mengapa kakak kembali seperti ini? Seolah baru saja di kejar harimau gunung!"
"Saat berada di dekatnya, jantungku serasa akan meledak!" Kata Zaviest dengan sangat antusias. Moscha bisa melihatnya, bahwa Zaviest sudah tergila-gila pada Tuan Puteri yang sudah menikah itu. Ia pun kemudian mendekati kakaknya itu dan menepuk pundak Zaviest pelan untuk menyalurkan kekuatan dan dukungannya.
"Lihatlah anda, sungguh kasihan sekali," ujar Moscha, "aku turut bersedih untukmu, kak." Katanya lagi, namun bukannya terimakasih, Moscha mendapatkan sebuah pukulan di kepalanya dari Zaviest.
::To Be Continued::