8. Mysterious Girl

2757 Kata
EMPRESS: 8. Mysterious Girl "Tinggalah disana untuk sementara waktu, beritahu keadaannya padaku melalui telepati yang sudah kita pelajari bersama," bisik Zaviest ditelinga Feiry. Setelah mendapatkan informasi tentang gadis yang selalu diintai olehnya, kekhawatiran menyelimuti pikiran dan hatinya. Seandainya ia bisa, saat ini juga ia akan pergi ke samping gadis itu dan menjaganya. Tapi untuk saat ini hal semacam itu sangat mustahil. Akan terasa janggal jika orang yang tidak kau kenal sama sekali tiba-tiba datang padamu hanya untuk menghiburmu kan? Feiry kembali mengepakkan sayapnya lalu terbang keangkasa. Sebenarnya dia bisa dengan cepat kembali ke negara tempat gadis itu berasal lalu menuju Sholaire hanya dalam hitungan jam. Akan tetapi energi yang dibutuhkan begitu besar, hal itu juga akan memengaruhi kesehatan Zaviest. Maka dari itu, Zaviest memiliki pemikiran untuk belajar telepati dengan Feiry. Jadi ia bisa mengetahui apa saja yang dilihat oleh burung berbulu peraknya itu tanpa harus menunggu burungnya kembali. Setelah Feiry tak terlihat lagi diudara, Zaviest beralih pada lukisan yang ada dihadapannya. Ia baru saja melukis gambar seorang gadis yang begitu terlihat cantik dengan mata yang seindah bunga lembayung itu. Selama ini Zaviest hanya bisa mengagumi gadis itu dari kejauhan seperti ini dan tak diketahui oleh siapapun. Bagi Zaviest, bisa melihatnya melalui lukisan ini membuat hati Zaviest bahagia, setidaknya selama ia tidak bertemu langsung, tetapi kenangan akan sosok yang begitu cantik dan mempesona itu tidak pudar dari ingatannya. "Mengapa Yang Mulia tidak membawa gadis itu kemari?" Suara Dranis mengusik kesenangan Zaviest. "Ck! Kau sudah menanyakan hal yang sama selama empat tahun ini." Kata Zaviest yang kesal, namun ia segera mengambil sebuah kuas lalu dicelupkannya pada cat untuk menyelesaikan lukisannya. "Lalu hamba harus bagaimana, melihat Yang Mulia hanya mencintai secara sepihak membuat hati hamba remuk." Kata Dranis dan begitu dramatis sembari memegangi dadanya. Zaviest tidak menanggapi ucapan Dranis, ia berkonsentrasi untuk menambahkan warna pada mata indah si gadis dalan lukisannya itu. "Lihatlah, mengapa dia harus menyiksa dirinya sendiri seperti ini." Gerutu Dranis yang prihatin dengan Rajanya. "Aku mendengarnya." Kata Zaviest mengejutkaan Dranis. "Yang Mulia memang harus mendengarnya, ini sudah berapa lama?" Dranis berpikir sejenak, "ah! Sudah empat tahun tapi tidak pernah bertindak." Sembari menghela nafasnya Zaviest meletakkan kuasnya, ia pandangi lukisannya yang sudah selesai dengan baik. Gadis di lukisannya begitu cantik seperti seorang dewi, bahkan menurut Dranis tidak ada gadis yang bisa menandingi kecantikan gadis pujaan hati Rajanya. "Dia sedang memeluk erat orang lain, lalu bagaimana aku bisa memeluknya?" Gumam Zaviest dengan gerakan tangannya seolah sedang membelai rambut gadis dalam lukisan itu. Dranis memandangi Zaviest yang begitu sendu menatap lukisan dihadapannya. Tatapan penuh cinta dan damba itu tidak dimiliki oleh siapapun, ia tahu bahwa Zaviest benar-benar terjerat oleh gadis yang ada didalam lukisan tersebut. Dranis sendiri tidak pernah tahu, bagaimana Zaviest bertemu dengan gadis itu, dan dimana keberadaan gadis itu. Dengan gerakan tiba-tiba Zaviest bangkit dari kursinya dan membuat Dranis terkejut. Zaviest kemudian beranjak pergi, "Yang Mulia hendak kemana?" Tanya Dranis sembari mengekor dibelakang Zaviest. "Aku akan berkeliling, ohya gantung lukisannya di kediamanku." Dengan langkah cepat Zaviest bergegas kembali kedalam ruangannya. Di bantu oleh beberapa pelayan ia mengganti jubah kerajaannya dengan pakaian santainya. Dia tampak seperti pria bangsawan biasa dengan rambut peraknya di kuncir kebelakang menunjukkan wajah tampannya dengan sempurna. "Yang Mulia akan keluar istana lagi?" Tanya Dranis dengan gelisah. "Tentu saja, aku bosan jika harus terkurung di istana yang membosankan ini!" Setelah selesai Zaviest segera meninggalkan kediamanya. Ia juga meninggalkan Dranis untuk menghadapi siapapun nanti yang mencarinya. Dengan menunggangi kuda putihnya Zaviest keluar dari istana. Ia pergi ke pusat Ibukota, sudah kebiasaan Zaviest keluar dari istana untuk memantau secara langsung rakyatnya atau sekedar meredakan rasa bosannya terhadap kehidupan istana yang sangat monoton. Meski kehidupannya nyaman, akan tetapi setiap harinya Zaviest harus menyelesaikan seluruh dokumen negara, belum lagi mendengarkan keluhan-keluhan menteri atau pejabatnya. Hanya dengan keluar istana ia bisa merasa menjadi lebih manusiawi. Berinteraksi dengan beberapa orang, melihat keragaman yang tidak terikat dengan peraturan istana membuatnya terhibur. "Kakak!" Zaviest yang sedang menuntun kudanya dan hendak mengikatnya itu mendengar suara yang cukup familiar. Bahkan dari cara memanggilnya pun sepertinya ia sangat mengenal pemilik suara ini. "Kakak!" Panggilnya lagi, Zaviest menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu melihat empat pria yang menawan dan menjadi pusat perhatian orang-orang sedang berjalan kearahnya. Seorang ditengah sedang melambaikan tangan padanya dengan senyuman lebar di wajahnya tampak jelas sekali. "Kenapa harus bertemu mereka disini," gerutu Zaviest, merutuki pertemuannya dengan keempat saudaranya yang lain. Biasanya ia keluar istana memang bersama salah satu dari adik-adiknya. Tidak menyangka hari ini mereka malah berkumpul di pasar ibukota. Selain itu, kehadiran empat saudaranya itu sudah cukup menyita perhatian orang-orang. Mereka tampak memukau dengan wajah mereka yang tampan dan pakaian mereka yang sangat mewah. 'Mereka sedang pamer atau apa? Kenapa menarik begitu banyak perhatian?' Batin Zaviest. "Kebetulan sekali kalian disini," Kata Zaviest, bibirnya tersenyum lebar tapi tidak dalam hatinya. Keempat pangeran tidak memberi salam kepada raja, karena mereka tahu jika raja sedang berada diluar istana atau sedang menyamar seperti saat ini akan sangat lebih baik jika mereka bisa terlihat seperti rakyat biasa atau bangsawan biasa. "Iya sangat kebetulan sekali, kenapa tidak memberitahu kami jika Anda akan pergi ke pasar kota?" Tanya Vein. Niat Zaviest hari ini untuk pergi ke pasar bukan hanya sekedar menghilangkan kebosanan. Ia ingin melihat bagaimana reaksi masyarakat tentang pengumuman yang baru saja ia buat beberapa hari lalu mengenai pemungutan pajak. Bisa dikatakan ia sangat bangga akan dirinya sendiri, terlebih lagi jika bisa mendapatkan pujian, kepalanya akan sangat membesar. "Ah, itu, kudengar ada kedai makanan baru yang ramai," Zaviest menggunakan kata-kata Dranis beberapa hari yang lalu untuk berbohong, "tapi aku tidak bisa menemukannya." Imbuhnya. "Ahh begitu, kami juga akan pergi kesana," Sahut Tarda. "Lebih baik kita pergi bersama!" Seru Moscha. "Tunggu!" Remeus menatap kearah kuda putih yang dibawa oleh Zaviest. Alisnya terangkat heran, "Apa kakak kemari membawanya?" Tanya Remeus untuk meyakinkan dirinya sendiri. Kemudian Zaviest pun menoleh kearah kuda putihnya, tidak ada yang salah dengan kuda miliknya itu. Kuda yang patuh, gagah dan berwibawa, yang terpenting kuda tersebut mampu membuat pesona penunggangnya menjadi berkali-kali lipat. "Ya tentu saja," balas Zaviest. Moscha menepuk dahinya. "Dia sangat suka perhatian, kan?" Gumamnya kepada Tarda yang tepat berada disampingnya. "Sangat!" "Kalian, aku bisa mendengarnya dengan jelas!" Dengus Zaviest sembari mengeluarkan anak panah tajam dari matanya. Moscha terkekeh sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan Tarda hanya acuh tak acuh. "Semakin lama kita disini, banyak yang memperhatikan. Lebih baik kita segera pergi saja!" Usul Vein kemudian. Kelima pria tampan itu kemudian beranjak dari tempat mereka. Kemana pun mereka berjalan tetap menjadi pusat perhatian. Ketampanan masing-masing dari mereka terpancar dengan jelas bagi siapa saja yang melihatnya. Hanya saja, diantara mereka hanya Zaviest yang sangat mencolok. Tidak ada dari saudara-saudaranya yang memiliki rambut perak seperti miliknya. Dengan rambut itu daya tariknya pun meningkat berkali-kali lipat. Hanya karena kesalahan yang pernah dilakukan oleh Zaviest dulu yang membuat rambutnya menjadi seperti itu. Semenjak ia bisa bicara, Zaviest sudah diharuskan untuk mendapatkan pendidikan kerajaan dan juga pendidikan sihir di akademi sihir. Sholaire memiliki akademi sihir yang sangat terkenal, kemampuan para penyihir dari akademi ini tidak kalah dengan kemampuan penyihir dari akademi terbaik di Luxorth. Hanya saja Akademi Sihir Sholaire memiliki sisi gelapnya, ada beberapa penyihir yang membelot. Mereka mempelajari sihir gelap sehingga sihir yang mereka lakukan bertentangan dengan hukum Lima Negara. Sihir gelap begitu kelam dan sangat kuat, mereka melakukan sihir untuk kepentingan pribadi dan kejahatan. Suatu hari, saat itu usia Zaviest hampir delapan tahun. Beberapa waktu sebelum raja terdahulu meninggal. Seseorang dari golongan penyihir gelap memberikan hasutan kepada Zaviest tentang hebatnya sihir hitam itu. Penyihir itu membohongi Zaviest bahwa sihir hitam bisa membuat segala keinginannya terkabul. Tentu saja anak kecil berumur delapan tahun pasti akan tergoda. Zaviest pun mempelajarinya secara diam-diam, hingga suatu hari saat ia mencoba teknik baru sebuah insiden terjadi, ia tidak sengaja menciptakan seekor makhluk yang mengerikan, makhluk yang belum pernah dilihat oleh siapapun sebelumnya. Bentuknya sangat besar, memiliki tiga kepala dengan taring-taring tajam tapi hanya memiliki satu mata yang besar di tengah-tengah kepalanya, tubuhnya mirip seperti raksasa, namun berlendir dan mengeluarkan aroma busuk, cakarnya sangat tajam sekali, siapapun yang terkena oleh cakar itu dipastikan akan terkoyak seketika. Monster itu pun menyerang seluruh akademi hingga rakyat di sekitarnya. Semua penyihir berusaha untuk menghentikan monster tersebut, dan beruntung mereka berhasil dan monster itu dapat ditaklukkan. Setelahnya, Zaviest pun ditahan oleh akademi sihir atas perintah ayahnya sendiri. Para penyihir sekaligus guru Zaviest saat itu melihat bahwa sihir gelap sudah menguasai jiwa anak itu. Rupanya Zaviest hanya dimanfaatkan oleh penyihir gelap. Satu-satunya cara harus membersihkan jiwa Zaviest dengan ritual sihir, yang mana sangat beresiko untuk nyawa Zaviest dan para guru itu tidak berani untuk melakukannya. Pada akhirnya, raja sendiri yang melakukan ritual pembersihan itu. Dengan menggunakan mantra sihir kuno ia menbersihkan jiwa Zaviest dari sihir gelap. Selama pembersihan itu, semua energi jiwa milik Zaviest ikut menghilang, perlahan-lahan rambutnya berubah menjadi putih keperakkan, tidak hanya itu ritual itu juga berimbas pada kesehatan raja yang sudah lemah. Akhirnya, Zaviest terbebas dari sihir itu dan ia dikurung beberapa waktu untuk memulihkan kembali energinya. Meski energinya sudah pulih sepenuhnya, tapi rambut Zaviest tetap berwarna putih keperakkan seperti saat ini. Makanan yang sudah dipesan oleh mereka berlima tidak kunjung datang sehingga membuat Tarda menjadi cemberut. Dia sudah sangat lapar sejak melangkahkan kaki keluar dari istana. Sementara Zaviest, ia terlalu sibuk mendengarkan gosip orang-orang tentang dirinya. Orang-orang sekitarnya membicarakan betapa baiknya raja mereka yang memberatkan pajak pada semua bangsawan. Akan tetapi ada pembicaraan yang membuat Zaviest menjadi kesal. Orang-orang itu mengatakan bahwa kemungkinan Zaviest mengalami masalah kejantanan karena sudah cukup usia tapi tidak mengambil selir atau mengangkat ratu. Melihat raut wajah Zaviest yang kesal, Moscha sangat terhibur. Kapan lagi dia melihat kakaknya itu terusik jika bukan hari ini. "Itu sebabnya kau harus segera menikah, kakak." Goda Moscha. "Benar sekali, apalagi rumor tentangmu dan Puteri Menteri Keuangan sudah tersebar luas." Imbuh Remeus setengah berbisik. "Sejak kapan kau peduli tentang rumor?" Tanya Vein sembari meneguk tehnya. "Atau kau bawa saja gadis yang kau cintai selama ini kemari?" Usul Tarda dan seketika Zaviest menatap tajam kearah Tarda. "Sebenarnya siapa gadis itu, mengapa kau tidak segera menikahinya saja kak?" Tanya Moscha. "Maaf menunggu lama," seorang pelayan datang sembari membawakan pesanan mereka berlima sembari menata makanan tersebut diatas meja. Tidak menunggu lama lagi, Tarda langsung saja melahap makanannya dengan sangat cepat seolah dia tidak pernah makan untuk beberapa waktu. Pangeran yang lain dan Zaviest menatapnya dengan heran. "Apa di Istana makanannya kurang?" Tanya Zaviest pada Tarda dan membuat adiknya tersedak. "Pelan-pelan, astaga!" ujar Remeus sembari menepuk-nepuk punggung Tarda. "Anda harus menyantap dan merasakan betapa nikmatnya makanan ini," Ujar Tarda lalu kembali melanjutkan santapan siangnya. Mereka mulai makan makanan yang telah disajikan itu. Tarda tidak berbohong, rasa masakan tersebut sangat lezat. Meski di Istana makanan yang tersedia juga lezat, namun sangat susah menemukan makanan selezat itu di pasar kota. "Yang Mulia Raja! Pangeran!" Sebuah suara menimbulkan kehebohan seketika, sedangkan Raja dan para pangeran seketika menghentikan kegiatan makan mereka lalu mencari sumber suara. Seorang gadis yang tidak lain adalah Yaesha menghampiri mereka dengan senyum merekah diwajahnya. "Gawat!" Gumam Moscha. Untuk sesaat para pangeran melirik Zaviest dari balik bulu mata mereka. Mengantisipasi kemungkinan reaksi yang akan dilakukan oleh Raja mereka itu. Karena Zaviest sangat tidak menyukai jika identitasnya terbongkar. Bahkan sampai saat ini, tidak ada satu pun rakyatnya yang mengetahui bagaimana rupanya. Dan hari ini semua itu dirusak oleh suara nyaring milik puteri Menteri Keuangan. Orang-orang yang ada di seluruh ruangan tersebut pun langsung bersujud untuk memberi hormat kepada Zaviest. Inilah hal yang tidak disukainya, sejak diangkat menjadi raja, Zaviest sangat benci seseorang yang bersujud dihadapannya. "Benar-benar gawat," sahut Tarda lirih dengan mulut penuh makanan. Seorang pria paruh baya dan pelayan yang melayani meja mereka sebelumnya menjadi tergopoh-gopoh mendekat pada Zaviest kemudian bersujud dihadapannya. "Maafkan hamba Yang Mulia, hamba tidak mengenali anda dan melayani anda dengan buruk." Kata pria paruh baya yang diduga Zaviest adalah pemilik restauran. "Ini bencana," timpal Remeus lirih. Zaviest meletakkan sendoknya, ia berdiri dari mejanya kemudian menghampiri pria pemilik kedai dan pelayan tersebut. Ia merengkuh lengan pria itu dan menuntunnya untuk berdiri. "Tidak perlu begini, sudah bangunlah, kalian semua bangunlah!" Pinta Zaviest. "Hamba tidak pantas, hamba patut dihukum karena tidak mengenali Yang Mulia." Tiba-tiba saja Zaviest tertawa dengan sangat keras dan membuat semua heran kecuali para pangeran. Mereka sudah terbiasa mendengarkan tawa Zaviest yang tampaknya begitu terhibur itu namun sebenarnya sangatlah sumbang dan penuh kengerian dibalik tawanya itu. "Jadi apakah aku juga harus menghukum orang-orang yang mengolokku juga?" Ucapannya begitu tenang, namun dengan itu saja orang-orang yang merasa telah menghina raja itu langsung bersujud dihadapan Zaviest. "Lihatlah! Aku hanya mengucapkan beberapa kata saja kalian sudah ketakutan," ujar Zaviest sembari membantu orang-orang yang bersujud dihadapannya satu persatu. "Itulah sebabnya aku lebih suka kalian tidak mengenaliku, dengan begitu kalian tidak perlu segan terhadapku." Ucapannya begitu lembut dan menenangkan. "Itu baru kakak yang kukenal." Gumam Moscha. "Dia sedang memarahi Nona Yaesha secara tidak langsung." Bisik Remeus. "Bukankah Kakak sangat mengerikan?" Imbuh Tarda. "Sudah-sudah, sebaiknya kalian kembali makan dengan tenang dan sepuasnya, makanan disini akan ditanggung olehku!" Ujar Zaviest. Semua orang bersorak dengan gembira dan meneriakkan nama Zaviest dengan kagum berkali-kali. Kemudian Zaviest pun kembali ke tempat duduknya. "Maafkan hamba, Yang Mulia." Ujar Yaesha dengan menundukkan kepalanya. "Hamba tidak mengetahui jika kalian sedang dalam penyamaran." "Tidak perlu membahasnya lagi, Apakah kau kemari untuk makan?" Tanya Zaviest. "Iya Yang Mulia," "Kebetulan sekali!" Seru Remeus, "Nona Yaesha duduk saja bersama kami, dan menikmati semua hidangan ini bersama!" Lanjutnya. Yaesha terlihat bingung apakah ia harus menerima tawaran Remeus atau pergi saja dari sana. Hari ini dia sungguh merasa sial karena sudah menyinggung raja dan para pangeran. "Pangeran Keempat benar, duduklah bersama kami." Ujar Zaviest, "tidak perlu takut." Katanya lagi dengan memberikan senyuman samar pada Yaesha. "Terimakasih, Yang Mulia." Dengan malu Yaesha pun kemudian duduk diantara para pangeran. Zaviest lanjut menyantap kembali hidangannya yang tadi sempat tertunda. Caranya menikmati makanan sungguh membuat Yaesha terpukau, ini pertama kali baginya melihat seseorang bisa begitu terlihat sangat tampan meski sedang makan. Cara memandang Yaesha ke Raja tak luput dari perhatian para pangeran kecuali Tarda yang sibuk makan. Mereka menyadari bahwa Yaesha telah jatuh cinta pada sosok Zaviest. Mereka merasa kasihan pada Yaesha karena Zaviest tidak pernah melihatnya dan hanya melihat gadis lain yang misterius sampai saat ini. "Hamba melihat pengumuman yang dibuat oleh Yang Mulia, sungguh bijaksana." Ujar Yaesha disela santapannya. "Rupanya Nona Yaesha juga memperdulikan masalah negara? Sangat menarik." Sahut Remeus, tapi melihat tatapan Yaesha padanya yang penuh tanda tanya itu Remeus menjadi tidak enak hati, "maksudku, tidak banyak wanita yang memperdulikan masalah kenegaraan, mereka berfikir semua itu hanya pekerjaan pejabat dan laki-laki saja." Imbuhnya. "Puteri dirumah kami diajarkan untuk perduli terhadap kegiatan kenegaraan, Ayah selalu mengatakan mungkin suatu hari nanti kami akan memasuki Istana, jadi harus mempelajari banyak hal." Jawabnya dengan tenang, anggun namun cerdas. "Sayang sekali sekarang kakak meniadakan pengangkatan seorang selir," Tarda mengatakannya tanpa sadar. Yaesha yang mendengarnya pun jadi terkejut, ia segera memandangi Zaviest yang masih tenang sembari menikmati makanannya. "Jadi Yang Mulia hanya akan mengangkat seorang Ratu?" Tanya Yaesha. "Hm," balas Zaviest sekadarnya. Tiba-tiba semuanya menjadi hening, tidak satu pun yang berani bergerak. Suasana menjadi sangat canggung sekali, apalahi tampaknya suasana hati Zaviest sudah berubah menjadi begitu buruk. "Ahh sebaiknya kita segera pergi dan berkeliling. Bagaimana?" Usul Moscha berusaha mencairkan suasana. "Kalian pergilah, aku juga harus pergi kesuatu tempat." Balas Zaviest. "Kemana Yang Mulia hendak pergi? Bolehkah hamba ikut?" Kata Yaesha dengan berani. Para pangeran saling berpandangan satu dengan yang lainnya, mereka memiliki satu pemikiran yang sama dan entah apa itu. "Mengapa Nona harus merepotkan diri untuk mengikutiku?" "Nona Yaesha sebaiknya pergi bersama dengan kami saja!" Remeus menyahut dengan cepat. Jika tidak bertindak cepat, mungkin Zaviest bisa menyakiti hati Yaesha hanya dengan mulut tajamnya. "Baiklah, aku pergi dulu." Setelah semua pangeran dan orang dalam restauran tersebut memberi salam Zaviest kemudian pergi dengan menggunakan kudanya. Ia memacu kudanya keluar dari ibukota, kemudian memasuki jalanan hutan. Setelah perjalanannya untuk beberapa saat, ia sampai pada puncak sebuah tebing. Zaviest berdiri disana, tubuh tingginya menjulang sehingga ia mampu dengan jelas melihat, di bagian belakangnya adalah Ibukota Sholaire yang tampak begitu jauh. Lalu dihadapannya terhampar hutan yang sangat lebat dan luas. Jauh dihadapannya terhampar hutan yang begitu luas. Hampir semua pemandangan didepan Zaviest adalah hutan. Ia kemudian duduk diatas sebuah batu sembari menikmati pemandangan didepannya. Jauh dibalik hamparan hutan itu adalah area perbatasan antara Luxorth dan Sholaire. Sembari melihat kearah hamparan hutan, Zaviest kembali mengingat masa lalu saat ia menemukan seorang gadis yang dicelakai oleh beberapa orang hingga hampir kehilangan nyawanya. Mungkin seandainya Zaviest tidak muncul tepat waktu, gadis itu sudah tewas. "Seharusnya aku membawamu kemari," Gumamnya sembari menatap langit yang begitu cerah siang ini. ::To be continued::
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN