Tuk tuk
Tuk tuk
Tuk tuk
Jemari Kaisar Mouszac bermain diatas pegangan tempat duduknya. Kebiasaannya ketika sedang mempertimbangkan sesuatu yang cukup serius untuk diabaikan. Sedangkan di hadapannya, telah duduk Hakim Agung dan juga Perdana Menteri yang baru saja melaporkan perkembangan kasus p*********n terhadap para utusan.
Dari hasil penyelidikan Hakim Agung selama beberapa hari, ia menemukan bahwa dalang dibalik p*********n itu adalah, Puterinya sendiri, Eyster. Itu karena anak panah yang digunakan untuk memanah Puteri Kheiraz merupakan tiruan, setelah menelusuri siapa pembuatnya, Hakim Agung menemukan bahwa seseorang telah diminta oleh Eyster untuk membuat tiruan itu.
"Jelas sekali, Nona Eyster telah di peralat oleh Louth." Theriaz memecah keheningan diruang kerja pribadi raja yang mencekam itu.
"Louth! Louth! Louth! Kenapa dia berusaha melawanku!" Kaisar memukul pegangan kursinya dengan keras.
"Yang Mulia, tenangkan diri anda." Sahut Hakim Agung.
"Itu karena dia ingin Jovach menduduki tempat Putera Mahkota." Timpal Theriaz.
"Jovach tidak bisa memiliki tempat itu, selamanya tidak akan bisa." Gumam Kaisar Mouszac. Kemudian Kaisar menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya terpejam dengan kerutan yang begitu dalam di dahinya.
"Berikan aku kertas dan pena." Kata Kaisar lirih, "dan bawakan stempel kerajaan!" Pintanya lagi.
Sesaat kemudian seorang pelayan datang dan membawakan semua yang diminta oleh Kaisar. Dihadapan dua pejabat kepercayaannya, kaisar menggelar kertasnya dan mulai menulis.
Baik Perdana Menteri atau Hakim Agung tidak tahu menahu apa yang sedang ditulis oleh Kaisar dengan begitu seriusnya. Mereka hanya bisa menunggu sampai Kaisar selesai menulis. Rupanya kaisar menulis di dua kertas yang berbeda. Tampak ia cukup merasa tak nyaman ketika menulisnya. Meski sangat penasaran mereka hanya bisa menantikan Kaisar.
Tak lama kemudian, Kaisar selesai menulis dan diberi stempel pada masing-masing dokumen. Digulungnya kertas itu, kemudian ia mengikatnya dengan tali dan merekatkan cairan kental lilin berwarna kuning keemasan setelah menempelkan cincinnya, sebuah gambar tercetak diatas lapisan lilin itu.
"Apa ini, Yang Mulia?" Theriaz memandangi gulungan dokumen itu dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Tapi tentu saja ia tak bisa membukanya begitu saja jika sudah disegel seperti ini.
"Kalian akan tahu saat yang tepat untuk membukanya nanti, jadi simpan saja sampai waktunya telah tiba. Dan buka itu dihadapan semua orang." Tutur Kaisar. Ia kemudian memajukan tubuhnya, menyangga dagu dengan kedua tangannya.
"Mengenai Eyster," sebuah helaan kembali lolos dari pernafasan Kaisar. "Bagaimana pun juga dia adalah puteriku, aku tidak ingin martabat kerajaan ternodai hanya karena ulahnya. Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan, bukan begitu Hakim Agung?"
Meski agak terkejut dengan keputusan Kaisar, Hakim Agung hanya mengangguk dan mematuhinya tanpa meragukan keputusan Kaisar.
"Selain itu, simpan bukti-buktinya. Itu akan berguna suatu hari nanti." Imbuh Kaisar.
"Lalu bagaimana dengan rencana pengangkatan Puteri sebagai penerus tahta, Yang Mulia?" Tanya Theriaz.
"Aku sudah meminta sekertaris negara untuk mencari hukum dan preseden tentang Kaisar wanita," kata Kaisar. Sementara Perdana Menteri dan Hakim Agung mendengarkan.
"Secara hukum, tidak ada larangan. Hanya saja selama ini belum pernah ada penerus tahta seorang wanita." Ujar Kaisar lagi, ia menatap lurus seolah menerawang jauh.
"Masalahnya saat ini, Vizena telah bersuami."
"Itu bukan masalah yang besar, Yang Mulia." Balas Theriaz.
"Kekuasaan tak bisa dibagi, kecuali Kaisar menghendakinya." Sahut Hakim Agung.
"Benar sekali, menentukan pewaris adalah hak mutlak bagi Kaisar. Seorang pun tidak bisa mengganggu, bahkan pendeta Kuil Besar sekalipun." Ujar Theriaz.
"Yang terpenting saat ini, dukungan untuk Vizena." Kaisar masih tampak gusar.
"Anda tenang saja Yang Mulia, pendukung mendiang Putera Mahkota telah bersedia untuk mendukung Puteri Vizena."
Kaisar menyandarkan punggungnya, bebannya sedikit terangkat meski dia tahu jalan yang sedang dihadapinya bukan jalan yang mudah. Mengangkat seorang Puteri sebagai seorang pewaris belum pernah terjadi sebelumnya, apalagi seorang Puteri yang telah bersuami.
°°°°°
Malam ini terlihat cerah, karena udaranya yang sejuk dan bintang-bintang yang bertebaran dilangit memancarkan sinarnya gemerlapan. Pada teras istana, semua utusan kecuali Puteri Kheiraz karena telah kembali ke Narth setelah keadaannya membaik, berkumpul di atas teras.
Hari ini adalah sehari setelah diumumkannya hasil investigasi p*********n di perburuan tempo hari. Hakim Agung telah mengumumkan bahwa kumpulan bandit menggunakan momen ini untuk mengalihkan perhatian semua orang agar bisa merampok perkemahan, akan tetapi mereka melakukan kesalahan dan hampir semua bandit itu tewas, maka dengan ini kasus itu ditutup dengan rasa ketidak puasan dari berbagai pihak.
Kaisar mengadakan festival hari ini untuk menutup Pertemuan Lima Negara, sebagai penanda bahwa pertemuan ini telah berjalan dengan sukses.
Di pasar kota, semua orang membuka gerainya dari pagi hingga malam hari. Terutama malam hari banyak pedagang yang berdagang, anak-anak bersama orang tuanya pergi untuk bersenang-senang, muda-mudi memanfaatkan festival ini untuk bertemu dengan pasangan mereka, para orang tua keluar dari rumah dan menikmati makanan atau minuman di teras rumah mereka sembari melihat betapa ramainya kota hari ini.
"Hari ini sangat cerah sekali," kata Gard yang berdiri tepat disamping Vizena. Kepalanya mendongak keatas dan melihat kerlap-kerlip bintang di langit yang gelap.
Vizena hanya bergumam, tapi kepalanya pun memandang keatas. Langit yang gelap itu memang begiti cerah, ia tak menyembunyikan keindahannya sama sekali. Tanpa sadar Vizena menyentuh topeng emasnya dan teringat akan masa lalu.
Kejadian waktu terjadi saat malam juga begitu cerah, malam yang begitu indah sampai ia mengingat semua detail kejadiannya. Tangan Vizena tiba-tiba saja gemetar ketika bayangan mengerikan itu terlintas pada benak Vizena, ia segera menurunkan tangannya dan ia kepalkan disamping tubuhnya.
"Maafkan apa yang terjadi di aula istana tempo hari." Suara bariton Gard mengoyak lamunan Vizena. Ia terhenyak kemudian menoleh menatap Gard yang begitu tinggi itu.
"Untuk siapa?" Tanya Vizena, nada suaranya begitu datar tanpa emosi.
Gard menoleh kesamping, ia menunduk untuk memandang Vizena. Meski begitu ia tak bisa menatap mata Vizena, hanya menatap kearah telinganya.
"Untuk Siapa?" Vizena mengulang lagi kata-katanya itu. Ia menunggu jawaban Gard, karena pria itu terlihat bingung maka Vizena kemudian menyunggingkan seulas senyuman.
"Tidak perlu mengatakan kata maaf, bukankah kita ini suami isteri?" Vizena mengatakannya sembari memalingkan wajahnya dan memandang lurus pemandangan kota yang sangat terang karena semua penduduk kota memasang lampu-lampu hias di luar rumah dan jalanan.
"Sikapku memang sangat keterlaluan." Ujar Gard, apa yang terdengar oleh Vizena membuatnya cukup terkejut. Gard berbicara padanya dengan begitu santai, tidak menggunakan kalimat formal seperti biasanya.
Harusnya ia merasa senang, bukankah dengan begini jarak diantara mereka semakin rekat. Namun, Vizena merasa ada cubitan kecil di dalam hatinya.
"Tuan Gard, tetaplah ditempatmu seperti biasanya, tetaplah bersikap seperti biasanya, itu akan lebih mudah." Kata Vizena dengan lirih.
Tak percaya dengan pendengarannya Gard menoleh kearah Vizena. Ia ingin sekali mencari makna dari setiap ucapan Vizena. Namun, dirinya bahkan tak bisa menatap langsung pada mata Vizena, lalu bagaimana ia bisa mengerti setiap kata yang dilontarkan oleh Vizena.
"Setidaknya malam ini, bisakah aku bersikap seperti suamimu?" Katanya lalu memandang ke arah kota.
Tiba-tiba saja, sebuah tangan menggenggam tangan Vizena lalu menariknya secara tak terduga dan membawanya pergi dengan secepat kilat.
Karena menunggu jawaban dari Vizena yang tak kunjung didapatkannya, Gard pun menoleh kesamping tempat Vizena berada. Namun ia tak menemukan siapapun disana. Ia menoleh kekanan dan kekiri untuk mencari sosok Vizena, tapi ia tak melihatnya.
"Dia sangat membenciku," gumamnya sembari tersenyum tipis.
"Sudah sepantasnya dia membenciku."
°°°°°°
'Setidaknya malam ini, bisakah aku bersikap seperti suamimu?'
Mendengar hal itu telinga Zaviest terasa seperti akan tersayat, begitu sakit dan perih dan hatinya terbakar menjadi abu. Tanpa berpikir panjang, ia menjentikkan jarinya lalu semua hal yang ada disekitarnya berjalan dengan sangat lamban, seolah ia bisa menghentikan waktu. Dengan gerakan yang sangat cepat Zaviest berlari menembus kerumunan beberapa pejabat dan utusan, tangannya meraih tangan Vizena untuk digenggamnya. Sekali lagi ia menggerakkan tangannya diudara, dan membuat sebuah lingkaran portal berwarna kekuningan, Zaviest menarik tangan Vizena lalu melewati portal tersebut.
Angin begitu kencang terasa seperti sebuah pusaran mengelilingi tubuh Vizena, ia sampai menutup matanya karena takut bahwa angin yangbdia rasakan adalah sesuatu yang buruk. Akan tetapi itu tak berlangsung lama, setelah beberapa saat, ia merasa pusaran angin itu berhenti dan ia hanya merasakan sejuknya angin malam kota.
Kelopak mata Vizena perlahan terbuka menampilkan betapa indahnya mata lembayung milik Vizena itu. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, sesaat setelahnya ia tersentak ketika melihat sosok gagah Zaviest berdiri tepat didepannya yang menunduk dengan sedikit memiringkan tubuhnya sehingga wajah keduanya begitu dekat.
Senyuman lebar yang mirip dengan seringaian itu terpasang diwajah Zaviest sembari menatap Vizena.
"Kau!" Pekik Vizena, "seharusnya aku tidak terkejut." Gumam Vizena sembari mundur satu langkah untuk memberi jarak diantara mereka.
Ya, seharusnya dia tidak akan terkejit karena sepanjang ia berada di pusaran angin aneh itu ia bisa menghirup aroma sandalwood khas aroma Zaviest. Karena satu-satunya oranh yang beraroma seperti itu hanya Zaviest.
"Kenapa? Anda begitu senang melihatku?" Goda Zaviest dengan senyuman yang tidak lenyap dari wajahnya.
Vizena memalingkan wajahnya, meski setiap kali bertemu Zaviest selalu menatapnya dengan intens tapi ia sama sekali tidak terbiasa. Mungkin tak akan pernah terbiasa.
"Jangan bersikap bodoh," kata Vizena, dan Zaviest masih saja tersenyum. Dengan seksama ia mendengarkan Vizena, ini kali pertama seorang gadis menyebutnya dengan bodoh.
"Tidak Puteri, aku hanya menggunakan sedikit kekuatanku." Jelas Zaviest, kini ia menarik tubuhnya dan berdiri tegap dengan kedua tangannya berada dibelakang tubuhnya.
"Kita harus kembali, lagipula dimana in-" Vizena tak sempat menyelesaikan kalimatnya setelah ia benar-benar melihat keadaan di sekelilingnya.
Tepat dihadapannya banyak orang yang sedang berlalu lalang berpindah dari satu pedagang ke pedagang yang lain, terlihat ada beberapa pasangan muda-mudi yang berjalan sambil bergandengan tangan dan bersenda gurau sembari memakan gulali ditangannya atau makanan lain, sesaat kemudian segerombolan anak-anak berlari kearah Vizena, mereka bermain kejar-kejaran dan berlarian mengelilingi Vizena dan Zaviest untuk beberapa saat kemudian berlari pergi.
"Kita ada di pasar kota?" Tanya Vizena dengan tatapan mata takjub. Sudah lama sekali ia tidak merasakan pasar kota yang begitu ramai seperti ini.
Zaviest menganggukkan kepalanya, ia kemudian membungkuk sedikit untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan Vizena lalu berucap dengan berbisik, "tidak menyenangkan jika menikmati kembang api dari atas sana."
Secara spontan kepala Vizena mendongak keatas kearah Zaviest menunjuk. Dari tempatnya berdiri saat ini, sedikit terlihat bagian teras tempatnya tadi berdiri. Meski samar-samar ia bisa melihat disana beberapa orang yang sedang menanti puncak festival malam ini. Tak hanya itu, matanya juga menangkap sosok Gard, dan disampingnya berdiri sosok lain yang dari siluetnya Vizena tahu bahwa sosok itu kemungkinan besar adalah Eyster.
"Lebih baik kita nikmati saja pasar malam ini." Zaviest berdiri tegak. Dengan berani, ia meraih tangan Vizena dan berjalan melewati jalanan pasar kota yang tengah ramai itu.
Sembari berjalan mengekor pada Zaviest, Vizena memandangi tangan besar pria itu yang sedang menggenggam tangan kirinya yang penuh dengan bekas luka. Dalam benaknya ia bertanya-tanya, apakah pria ini tidak jijik saat menyentuh tangannya yang tidak sehalus tangan gadis lain?
Merasa tidak enak sendiri, Vizena menarik tangannya hingga keduanya berhenti berjalan. Bingung, Zaviest pun menoleh dengan alisnya yang terangkat menatap Vizena.
"Ada apa Puteri? Mengapa berhenti?"
"Ti-ti-tidak, maksudku," Vizena merasa gugup, bukan seperti dirinya sendiri.
"Apakah aku terlalu lancang?" Zaviest menerka-nerka setelah ia melihat ada kegelisahan dimata Vizena. Ia mengira mungkin Vizena tidak ingin orang-orang menyebarkan rumor buruk tentang mereka berdua.
"Bukan itu, maksudku, tanganku." Vizena berbicara dengan terpenggal-penggal. "Tanganku tidak baik untuk disentuh." Katanya lagi dengan wajah yang memerah menahan malu.
Zaviest semakin bingung, mengapa tangan seorang Puteri tidak pantas untuk disentuh. Sebuah pemikiran melintasi pikiran Zaviest.
"Karena anda sudah memiliki Jenderal Gard sebagai suami?" Tanya Zaviest, ia tampak kecewa dan berusaha sekuat mungkin menahan ekspresinya agar tetap datar.
Vizena menggeleng pelan, tapi ia menghela nafas lalu mengangkat tangan kirinya. Tampak terlihat, sepanjang punggung telapak tangannya sampai ke lengan terdapat lipatan kulit yang warnanya berbeda dengan kulit asli dan terlihat tidak beraturan. Itu adalah bekas lukanya, luka bakar yang hampir merenggut nyawanya.
"Apa kau tidak merasa jijik, menyentuh tanganku yang memiliki bentuk seperti ini?" Tanya Vizena dengan suara lirih.
Zaviest menghela nafasnya lega, dia sudah berpikir terlalu jauh tentang status Vizena. Rupanya gadis itu khawatir jika mungkin dirinya merasa tidak nyaman ketika menggenggam tangannya.
'Meski berusaha terlihat kuat, tapi dia begitu polos dan naif' Batin Zaviest.
Tangan Zaviest yang besar itu meraih tangan kiri Vizena, ia mengusap tangan itu dengan lembut kemudian mencium telapak tangannya yang bergelombang.
"Ini adalah tangan tercantik yang pernah aku genggam." Katanya pada Zaviest. Padahal, selama hidupnya satu-satunya tangan wanita yang pernah ia genggam hanya milik ibunya. Bisa dikatakan Vizena adalah gadis pertama yang ia pegang tangannya.
Jantung Vizena tiba-tiba berdebar dengan kencang, angin di sekitarnya terasa seolah berhembus pelan, waktu berjalan begitu lambat antara dirinya dan pria yang sedang memegang tangannya itu akan. Vizena tidak mengerti apa yang terjadi padanya, hanya saja tiap langkahnya saat mengikuti Zaviest terasa menyenangkan, rasanya ia juga tidak ingin melepaskannya karena kehangatan dari tangan Zaviest telah sampai pada hatinya.
"Puteri, apa anda ingin ini, lihatlah!" Mereka berhenti di depan seorang penjual mainan. Banyak jenis mainan dan patung-patung kecil yang dijual oleh pedagang itu. Kebetulan, Zaviest menunjukkan sebuah patung kecil berbentuk seorang wanita dengan memakai zirah putih dengan posisi memegang busur siap memanah.
"Ini mirip dengan anda," bisik Zaviest sembari mengerlingkan matanya.
"Aku punya banyak yang seperti ini." Kata Vizena pelan. Raut wajah Zaviest tampak kecewa.
"Jangan khawatir, saya punya banyak patung yang lain, silahkan dilihat." pedagang itu menyela, dan Zaviest kembali antusias untuk melihat bentuk patung yang lain. Tapi ia tidak menemukan satu pun yang bagus kecuali patung kecil yang tadi ia pilih.
"Tapi tidak ada yang sebagus ini." Katanya dengan kecewa.
"Apa kau benar-benar menginginkannya?" Tanya Vizena yang mulai merasa iba. Zaviest mengangguk dengan cepat seperti anak kecil.
"Aku belum memiliki yang seperti ini." Katanya.
"Baiklah, kami ambil yang ini." Vizena kemudian mengeluarkan kantong uangnya dan memberikan koin emas pada pedagang itu.
Mata Vizena melihat betapa Zaviest sangat menyukai patung kecil yang hampir mirip dengannya itu. Tampaknya seperti Zaviest tidak memiliki banyak mainan. Mungkin masa kecilnya tidak begitu baik, begitu pikir Vizena.
"Apa kau tidak pernah datang ke pasar malam?" Tanya Vizena pada Zaviest secara tiba-tiba.
"Pernah, tapi tidak pernah menikmati suasananya." Jawabnya jujur. Zaviest memang pernah ke pasar malam. Tiap festival sebelum memimpin ritual resmi, ia akan berkeliling pasar dengan menyamar untuk melihat keadaan pasarnya. Hanya saja, ia berkeliling sebagai seorang Raja.
"Benarkah? Mengapa?" Mereka berdua berjalan lagi, dan belum beberapa langkah mereka berjalan Zaviest tertarik pada permainan lempar anak panah yang sangat ramai dikunjungi orang-orang.
"Bagaimana kalau kita ikut permainan ini?" Tanya Zaviest.
"Silahkan, Tuan dan Nona, pemenang permainan ini akan mendapatkan hadiah yang special." Kata pria paruh baya pemilik permainan itu.
"Memangnya apa hadiahnya?" Tanya Zaviest yang tampaknya sangat antusias.
"Sebuah lampu putar, lampu ini biasanya diberikan seorang pria pada kekasihnya agar saat berpisah jauh mereka bisa memiliki mimpi yang sama!" Kata pria itu dengan sangat semangat.
"Aku ikut!" Seru Zaviest dengan antusias. Disampingnya, Vizena hanya menepuk dahi melihat betapa Zaviest sangat kekanakkan.
'Masa kecilnya pasti benar-benar tidak bahagia' Bisik hati Vizena.
"Jelaskan padaku bagaimana aturan mainnya!" Pinta Zaviest pada pria itu.
"Mudah saja, kalian memiliki tiga kali kesempatan. Pertama, si wanita harus melemparkan panahnya dan harus tepat mengenai sasaran, lalu kedua si pria yang melempar, jika berhasil maka harus melempar panah berdua, jika berhasil lagi maka kalian berhak atas lampu putar itu." Jelas pria itu dengan detail.
"Aku tidak mau main!" Bisik Vizena pada Dranis.
"Ayolah, Puteri! Coba saja!" Pinta Zaviest. "Saya tidak pernah memainkan ini sebelumnya." Zaviest telah memasang wajah memelasnya dan menarik rasa iba Vizena menyeruak hingga mau tidak mau Vizena menurutinya.
Sebuah anak panah kecil diambil oleh Vizena. Beberapa orang berdecak ketika ia mengambil dengan tangan kirinya. Ia sendiri tak yakin, karena tangannya gemetar.
"Anda pasti bisa, Puteri." Bisik Zaviest memberi dukungan pada Vizena.
Setelah mengambil nafas dalam-dalam lalu mengendalikan tangannya yang gemetar, Vizena menatap lurus pada targetnya, ia membidiknya dengan tepat lalu melempar anak panah itu. Ujung anak panah yang tumpul itu berhasil menancap kuat di tengah-tengah target.
"Hebat!" Decak Zaviest sambil bertepuk tangan, begitu juga dengan orang disekitar mereka, "baiklah, sekarang giliranku!"
Zaviest mengambil panahnya, ia dengan cepat melemparkan panahnya dan tepat menancap disamping milik Vizena.
"Tidak buruk." Ujar Vizena sembari bertepuk tangan pelan.
"Tentu saja, ini soal mudah." Zaviest menyombongkan diri, lalu ia menarik pinggang Vizena hingga posisi tubuh mereka kini berdempetan dengan Vizena berada didepannya.
"Jangan gugup, Puteri." Bisik Zaviest yang merasakan tubuh Vizena sangat kaku.
Vizena mendengus kesal, mustahil bagi Vizena untuk tidak merasa gugup. Dengan posisi seperti ini, ia bisa merasakan kehangatan tubuh Zaviest, tidak hanya itu aroma sandalwood yang menguar dari tubuh Zaviest pun menerpa hidungnya. Disisi lain, Vizena merasa sangat terlindungi dengan berada begitu dekat dengan Zaviest. Mungkin karena tubuh pria itu yang besar dan Vizena yang kecil. Akan tetapi, jika orang lain yang melihat mereka, keduanya tampak sangat serasi seperti potongan puzzle yang ditemukan.
"Saya sangat ingin memenangkan lampu itu untuk anda, Puteri." Bisik Zaviest. Darah berdesir dengan cepat dari jantung Vizena dan berakhir pada wajahnya hingga terasa begitu panas dan memerah.
"Lihat!! Kembang apinya sudah dimulai!!" Teriak orang yang ada disekitar mereka berdua.
Keduanya pun menoleh keatas untuk melihat kembang api yang sudah dinyalakan dengan posisi Zaviest berdiri tepat dibelakang Vizena seolah ia sedang mendekap gadis kecil itu. Keduanya pun terpana melihat betapa indahnya warna-warni kembang api yang meletup-letup menghiasi langit itu.
"Semoga anda memiliki mimpi yang sama dengan saya." Begitu gumaman yang keluar dari bibir merah Zaviest. Meskipun sangat lirih tapi mampu menerobos ke telinga Vizena.
Deg.
.
.
.
::To be continued::