Hari kedua bekerja, Shine merasa semuanya akan berjalan lancar. Setidaknya, pagi ini dia sudah duduk cantik di balik meja kerjanya menikmati segelas s**u coklat hangat yang membuat mood-nya kembali tenang dan damai sambil membaca ulang job description yang sempat dibacanya semalam untuk menghilangkan bayangan lelaki setan itu tapi malah berakhir ketiduran di sofa depan TV.
Sekarang dia menunggu bosnya muncul dan teringat lagi dengan kekacauan yang terjadi tadi pagi di rumah sebelum berangkat kerja. Iseng, dia menarik selembar kertas HVS dan pensilnya lalu bertopang dagu asyik mencoret-coret lembaran putih itu.
"Itu setan tahu dari mana coba rumahku?!" Gumamnya sembari membuat sketch lelaki bernama Zafier itu. Shine yang kesal membuat gambarnya nampak seperti perwujudan setengah dewa setengah binatang. Bulu-bulu halus yang dipanjangkan seperti semak belukar di sekitar rahang, dua tanduk di dahinya lengkap dengan sayap hitam di punggung juga mata yang merah menyala. Bukan karena haus darah tapi haus desahan wanita. "Menyebalkan!!!"
Lelaki itu selalu saja membuatnya naik darah ketika bertemu. Sangat percaya diri sekali kalau Shine akan menurunkan sedikit harga dirinya dan bersedia ikut hanya karena dia terlihat sempurna dengan mobil kulkas dua pintunya itu.
Hah, memangnya siapa kamu, bastard? I don't care, anymore.
Sama sekali tidak peduli sekalipun dia turun dari langit bak dewa dengan sinar ultraviolet menyilaukan yang membutakan pandangan kalau kelakuannya terhadap wanita tetap saja b******k. Bagi Shine, seseorang dianggap lelaki yang pantas diperhitungkan menjadi kekasih itu harus punya attitude dan catatan bersih dari segala jenis tindakan playboy. Wanita itu harusnya dihargai bukannya dijerat dan dinikmati lalu ditinggalkan begitu saja. Shine sangat benci dengan lelaki jenis seperti itu. Sangat -nya perlu digarisbawahi.
Cepat-cepat diselipkannya lembaran itu ditumpukan mapnya dan berdiri di samping mejanya saat dilihatnya Pak Williem melewati pintu masuk dengan setelan kemeja yang rapi tapi terlihat santai dan menawan. Mencoba menerka-nerka, apa yang membuatnya mendapatkan predikat duda.
"Selamat pagi," sapanya setelah sampai di hadapan Shine.
"Pagi Pak."
"Kerja bagus, Shine," ucap beliau disertai seulas senyuman macho menggetarkan yang bagi Shine menggelitik lehernya. Geli-geli gimana itu. Shine tentu saja tersenyum membalas pujian itu. "Saya sudah terima semua laporannya. Masih ada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki dan itu untuk bahan evaluasimu nanti supaya dilaporan berikutnya lebih bagus. Saat ini saya maklum karena ini pekerjaanmu yang pertama. Jam berapa kamu selesai tadi malam?"
"Sekitar jam sembilanan Pak," jawab Shine mantap.
Williem mengangguk. "Apa sudah kamu letakkan di meja Bu Freya?"
"Sudah Pak. Seperti yang Bapak perintahkan."
"Good. Saya terkesan. Kamu bisa menyelesaikannya dengan baik dan cepat. Kalau begitu satu jam lagi ikut saya ke ruang rapat dan bawa semua laporan yang kamu kerjakan."
"Baik pak."
Williem mengangguk, memberikan senyuman singkat dan melewati Shine menuju ke ruangannya dan Shine mengikuti dengan tatapan mata sampai Pak Williem kembali berbalik di ambang pintu, mengamati penampilannya dari atas sampai bawah seakan menilai.
"Selama rapat, saya tidak mau kamu mengambil kesempatan untuk tebar pesona dan acuhkan saja kalau ada yang menganggumu. Jadi, nanti jaga sikapmu baik-baik, Shine. Saya harap kamu bisa bekerja lama di sini."
Shine mengerutkan alis mendengarnya tidak mengerti saat bosnya itu berbalik dan menutup pintunya tidak memberi Shine kesempatan untuk bertanya lebih jauh maksud perkataannya.
"Peringatan macam apa itu?" Shine garuk-garuk kepala. "Memangnya tebar pesona ke siapa?" Shine bingung lalu menggelengkan kepalanya. "Ah, nggak tahu lah."
"Good job, dude."
Shine berbalik saat mendengar sapaan itu dan tersenyum ke Rian, salah satu staff Marketing officer yang mendekatinya.
"Thanks."
"Namamu Shine, kalau aku tidak salah. Benar tidak?"
"Yess, that's right."
Shine duduk lagi di tempatnya sementara Rian berdiri di depan mejanya. "Semoga betah bekerja dengan si boss. Hmm, dia kadang bisa jinak seperti merpati tapi yah kadang bisa mengigit juga seperti Elang. Aku sarankan, kalau mood-nya sedang jelek, lebih baik kamu iyakan saja semua permintaannya, mengangguk paham dan jangan membantah. Itu akan membuat hidupmu saat itu aman." Setelah mengatakannya, Rian tersenyum lebar hingga menampakkan sederet giginya.
"Terimakasih banyak sarannya tapi apa memang semenakutkan itu?"
"Yeah, sometimes." Rian memajukan kepalanya dan berbisik seraya melirik ke ruangan bos. "Mood-nya mirip seperti perempuan yang lagi PMS tapi bedanya yang ini tidak bisa diprediksi."
Shine terkekeh pelan mendengarnya saat dua wanita seruangannya yang baru saja kembali dari pantry berhenti di samping mejanya.
"Apa kalian sedang bergosip tentang Pak CEO?" Tanya Reina seraya memainkan ujung rambutnya yang bergelombang.
"Ah, itu sudah pasti. Aku yakin Shine juga terpesona dengan lelaki bak jelmaan Dewa cinta itu," Sahut Merry di sampingnya.
"Aku bahkan tidak pernah bertemu dengan Pak CEO itu."
"Aku bosan mendengarnya," desah Rian, memutar bola matanya dan berbalik pergi.
"Jangan iri begitu, Rian," ejek Reina seraya bergeser mengisi tempat Rian tadi bersama Merry.
"Kamu belum ketemu sama Pak Gaster?" tanya Merry seraya menunduk ke arahnya membuat Shine harus memundurkan kepalanya.
"Memangnya kenapa aku harus ketemu sama bos besar? Aku khan tidak ada urusannya dengan dia."
"Ihh, setidaknya kamu harus tahu kalau perusahaan ini milik seorang titisan Dewa Yunani yang menggetarkan iman dan membangkitkan hasrat terpendam setiap wanita normal yang melihatnya," koar Merry seraya menegakkan punggung dan menempelkan kedua tepalak tangannya di wajah seakan sedang membayangkan lelaki itu bugil di dalam kepalanya. Mupeng banget tatapannya.
"Dan dia adalah wujud nyata pangeran masa kini yang begitu sangat diidam-idamkan--" sahut Reina dengan tangan terentang seakan sedang membaca puisi penuh penghayatan. "Oh, andai saja, akulah pelabuhan terakhirnya. Maka aku akan bahagia dunia akhirat punya suami hot seperti dia."
Shine memandangi keduanya dengan kerutan alis tidak mengerti. "Apa dia setampan itu?"
"SANGAT TAMPAN!!" Teriak keduanya bersamaan membuat Shine termundur kaget ke belakang. Merry merapikan anak rambutnya dan menambahkan. "Aku berharap selalu bisa berada satu ruangan dengannya karena itu bisa membuat tubuhku terasa panas menggelayar hanya dengan memandangi pahatan wajah dengan bulu-bulu halusnya juga tubuhnya yang--" Merry mengerjapkan matanya. "Ah, aku jadi h***y. Sial! Belum disentuh saja rasanya sudah basah."
Reina tertawa terbahak-bahak sementara Shine mengigiti ujung pensilnya karena gemas melihat ekspresi Merry.
"Ah, aku sekarang mengerti," ucap Shine. "Dari cara kalian mendeskripsikannya, aku simpulkan kalau lelaki itu benar-benar jelmaan dewa dan karena hal itu lah Pak Williem memperingatkanku untuk tidak tebar pesona atau tergoda selama rapat nanti."
"Ah, si Pak Duren kalah pamor makanya begitu," bisik Merry. "Takut kalau semua populasi wanita yang berada di sekitarnya tidak tertarik padanya."
"Hmm, Pak williem menurutku sangat menarik."
"Ck, coba saja nanti kamu bandingkan dengan Pak CEO. Kamu pasti akan langsung berpaling dari Pak Duren. Berani taruhan deh," tantang Reina.
"Oh ya--" Shine menopangkan dagu di tangan. "Yakin banget?"
"Yakinlah karena memang siapa sih yang bisa nolak pesonanya. Lelaki aja bisa jadi belok kok kalau sudah lihat penampakannya." Shine memutar bola matanya. Sangat berlebihan.
"Pasti dia seorang playboy kan? Setiap lelaki tampan pasti bermental playboy." Kecuali Arsen, tentunya.
"Shine sayang--" Reina menggerakkan jari telunjuknya di depan hidung Shine seakan tidak terima. "Seorang lelaki itu wajar kalau punya banyak kekasih apalagi yang tampan dan tegangannya setinggi level Pak CEO hingga membuat tubuh ini rasanya bergetar nikmat bahkan hanya memandang dari jauh, bayangkan saja apa yang akan terjadi kalau tangan besar dan mantap itu menjamah tubuhmu--" Shine bergidik ngeri dan seketika memiliki keinginan untuk menghajar siapapun lelaki itu bukannya pasrah disengat-sengat manjah bikin basah seperti Merry dan juga Reina atau mungkin semua wanita di dalam gedung megah ini. "Dia itu hanya belum menemukan belahan jiwanya. Aku yakin, seburuk apapun reputasinya, nanti saat dia sudah menemukan jodohnya maka dia pasti akan bertekuk lutut juga." Reina nampak sangat yakin yang diangguki oleh Merry.
"Kalian berdua sudah pernah digeret ke tempat tidurnya dan disengat manjah sama Pak CEO?" Tanya Shine.
"Yeah--" ucap Merry seraya mengerucutkan bibirnya. Shine terbelalak. "In my dream." Shine cengok sesaat lalu terbahak-bahak.
"Menyebalkan memang," desah Reina. "Tapi ya aku berani bertaruh kalau kamu pasti juga akan terpesona. Taruhannya Ayam geprek level 50 deh!!"
Merry mendelik, Shine ternganga.
"Seriusan nih nantang?!" Ucap Shine.
Reina menaikkan alisnya berlagak songong. "Tentu saja iya."
"Deal!" Shine berdiri seraya mengulurkan tangan yang langsung disambut Reina dengan percaya dirinya.
"Kalian mau saya pecat!" Suara bariton itu menginterupsi membuat ketiganya reflek menoleh dan Shine melepas jabat tangannya disertai cengiran saat mendapati Pak Williem mendekat dengan tatapan tajam. Reina dan Merry nyengir.
"Ampun Pak Kepala suku," kekeh Reina. "Jangah hancurkan hayalan kami!"
"Ck. Bubar sekarang juga!!!" Ucap beliau. Reina juga Merry langsung berbalik kembali ke meja masing-masing.
Lalu tatapan Williem kembali ke Shine. "Jangan dengarkan mereka." Shine mengangguk cepat. Ngapain mikirin obrolan yang sangat tidak berfaedah seperti tadi walaupun Shine sedikit banyak mendapat gambaran tentang CEO perusahaannya. "Rapat dimajukan lebih awal. Bawa Ipadmu dan laporanmu."
"Siap Pak."
Shine langsung bergegas mengambil beberapa map di atas meja dan iPad lalu berjalan mengikuti bosnya menuju ke lantai delapan. Saat di dalam lift, Shine berdoa semoga semuanya berjalan lancar karena ini rapat pertamanya.
Shine berusaha untuk melupakan bayangan setan itu.
*** Zafier keluar dari lift yang membawanya turun ke ruangan rapat besar, tempat di mana meeting bulanan perusahaannya akan dilangsungkan. Di belakangnya Freya mengikuti dengan langkah anggun dengan tangan yang membawa berkas dan iPad-nya.
"Semuanya sudah datang?"
"Sudah. Walaupun sempat kelabakan karena jadwal meeting dimajukan lebih cepat. Memangnya ada apa sih? Kau toh tidak memiliki pertemuan penting setelah ini."
Zafier tersenyum, semakin melangkah dengan mantap menuju pintu di ujung ruangan dan merasakan darahnya terpompa naik dengan luapan gairah yang tidak bisa ditahannya.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang bersemangat."
Freya tentu saja heran mendengar jawaban Zaf tapi tidak sempat bertanya karena mereka sudah berdiri di depan pintu yang tertutup itu.
Zaf menarik napas dan menghembuskannya, berusaha menahan getaran jantungnya yang berdetak lebih cepat. Dia sudah tidak sabar melihat ekspresi wajahnya. Setelah membuatnya mandi dua kali tadi pagi, jangan harap kalau dia bisa lepas begitu saja dari godaannya.
Freya membuka pintunya, Zaf masuk dengan ketenangan seorang pemimpin dan semua yang ada di dalam berdiri untuk menyambutnya.
"Good Morning," sapanya ke seluruh staff intinya.
Zaf berjalan ke tempat duduknya seraya mengedarkan pandangan dan menangkap sosok wanita berambut coklat dengan mata hitam yang terbelalak kaget melihatnya seperti melihat makhluk jadi-jadian.
Shine merasa kalau Tuhan sedang menguji kesabarannya saat ini. Setan itu ternyata pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Holly s**t!!!
Zaf menatapnya tanpa jeda, menikmati kekagetan Shine dan mengedip singkat membuat Shine langsung menutup wajahnya dengan map di tangannya di belakang Pak Williem yang sangat menyadari di mana tatapan bosnya.
"Kalau begitu mulai saja meetingnya dan aku akan menikmati setiap detiknya," ucap Zaf seraya duduk di kursinya dengan tampang sombong.
Shine menundukkan kepala, mengheningkan cipta sejenak lalu fokus dengan Ipad-nya. Kali ini dia akan menggunakan indra pendengarannya saja dan menutup indra penglihatannya. Dia takut tidak akan tahan.
Zaf duduk santai mendengarkan, mengangguk dan memberikan tanggapannya selama meeting. Tatapannya banyak difokuskan ke Shine yang memilih menulis memo di Ipadnya sambil menunduk dan menghalangi pandangan Zaf dengan rambutnya.
Saat Pak Bobby, selaku penanggung jawab di proyek memberikan laporannya, Zaf berdiri. Sudah hal biasa bagi mereka melihat Zafier yang tidak tahan duduk berlama-lama di kursinya seperti dia yang tidak sanggup berlama-lama tanpa wanita dan terlihat asik sendiri berputar-putar di ruangan tapi tetap mendengarkan.
Shine tidak berani mengangkat pandangan jadi tidak menyadari ada tangan yang nangkring di sandaran kursinya dijadikan tumpuan.
"BAGUS!!!"
"EH SETAN!!!" Pekik Shine reflek karena teriakan Zaf tepat berada di sampingnya dan merasakan tabokan tangan laki-laki itu di pundaknya. Bukan belaian tapi benar-benar tabokan. Shine menutup mulutnya ketika melihat semua yang hadir menatapnya dan melayangkan tatapan membunuh untuk Zaf di sampingnya.
"Apa?!" Balas Zaf santai.
"Kamu--" Shine berdiri seraya menunjuk wajah Zaf dengan emosi tinggi.
"Ekhhm, Shine--" Shine mengerjapkan mata mendengar teguran Pak Williem dan menurunkan tangannya sambil cengar-cengir.
"Maaf Pak," angguknya seraya duduk lagi.
Zaf berusaha menahan senyumannya dan kembali menatap karyawannya. "Terus tingkatkan kualitas mutu produk dan jangan kecewakan pelanggan karena bisnis bukan hanya tentang untung tapi juga kepuasan."
Zaf iseng memutar kursi Shine sampai dia berputar beberapa kali di tempatnya dengan ekspresi kaget.
"Oh ya ampun," Shine tobat. Melayangkan tatapan kebencian ke Zaf yang duduk lagi di kursinya nampak tidak peduli dan menemukan tatapan curiga Bu Freya di sampingnya.
Meeting kembali dilanjutkan, Shine berusaha menahan sabar supaya tidak mencakar wajah lelaki setan itu dengan kukunya dan kembali menunduk sampai suara maskulin itu memanggilnya.
"Kau yang dari tadi nunduk aja kerjaannya--" ucap Zaf. Shine balik menatapnya dengan kerjapan mata. "Buatkan kopi hitam," Perintahnya. Shine ternganga. Seingatnya dia melamar pekerjaan jadi asissten Manager tapi kenapa malah berubah jadi OB. "Cepetan!!!"
"Pak Zaf--"
"Dia asisten barumu, Williem?" Sela Zaf.
"Iya Pak. Dia--"
"Ya ya saya tahu. Suruh asistenmu itu untuk membuatkan kopi hitam. Gulanya tiga sendok. Tiba-tiba saja meeting ini membuatku haus." Padahal sebotol air mineral ada di atas meja.
Shine langsung berdiri seperti robot. "Baiklah Pak Japier."
Shine mengabaikan Zaf yang mendelik, Alvi hampir tersedak mendengarnya, Williem memincingkan matanya, Freya diam mengamati.
"Sialan memang tuh orang," gerutunya saat membuat kopi hitam. Menghela napas panjang dan kembali ke ruangan. Shine mengetuk pelan, masuk ke dalam dan berjalan mendekati tempat di mana Zaf berada dengan secarik kertas HVS di tangannya.
Astaga, jangan katakan kalau kertas itu--
Shine meletakkan kopi di depan Zaf yang tersenyum smirk menatapnya. Mampus!!
"Aku tidak tahu kalau kau memujaku sampai seperti ini hingga membuat sketsa yang sangat ekspresif. Saya yakin kau membuatnya dengan sepenuh hati," ucap Zaf santai seraya membalik kertas itu dan membuat Pak Williem mendelik. Shine melongo maksimal. "Saya merasa tersanjung."
"Pak, aslinya saya menggambar iblis di situ," balas Shine. Alvi berusaha menahan tawanya dan memandang kagum seorang Shine dari tempat duduknya.
Satu hal yang Shine tahu pasti kalau semua peserta rapat sedang memandanginya dan entah bagaimana tanggapan bosnya tentang hal ini. Shine tidak akan tahan. Misinya ke depan adalah minta dipecat secepatnya supaya dia terbebas dari iblis yang tersenyum penuh kemenangan di depannya.
"Hati-hati Shine, iblis bisa sangat menyesatkan--" Zaf berdiri di depannya seraya melipat kertas itu lalu memasukkannya ke saku celananya tanpa mengalihkan tatapannya. "Dan menggoda di saat yang bersamaan."
Bodo amat!! Shine menahan keinginan untuk menendang apa yang ada di antara kedua kaki laki-laki itu sekarang juga.
Shine berbalik dan menunduk sopan ke Pak Williem, "Pak, setelah ini pecat saja saya. Permisi!!" Lalu tanpa menunggu Williem pulih dari kagetnya, Shine bergegas keluar ruangan dengan senyuman miring saat diliriknya Zaf mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya lalu -- BURSSTT!!!!
Freya kaget dan berdiri mengambil tissu, Zaf meletakkan cangkirnya dengan terburu-buru dan mengelap bibirnya dengan tangan.
"SHINE AURORA!!!" Pekik Zaf murka ke arah pintu.
Sialan, dia minum kopi berasa minum air laut. Asinnya parah.
Oknum pelakunya terbahak-bahak di dalam lift yang membawanya turun. Bahagia.
***