Rigel tahu kalau Sita tidak akan setuju begitu saja pada lamaran gilanya ini. Terbukti hingga menit kelima belas setelah Rigel menyampaikan lamarannya itu, Sita masih diam seribu bahasa setelah menjawab dengan kata “hah?” lamaran tersebut. Dia sudah mempersiapkan diri untuk ini. Dan sekarang Rigel sedang meluncurkan senjatanya untuk meyakinkan Sita. “Sorry, kalau permintaan gue terdengar agak gila. Tapi nggak ada salahnya untuk lo pikirin dampak ke depannya buat gue dan elo juga,” jelas Rigel, memulai aksinya. “Buat saya?” tanya Sita menunjuk dirinya sendiri. “Lo tadi ikut dengar omongan Mami dan gue, kan? Gue pikir lo adalah solusi terbaik untuk masalah gue kali ini.” “Apa yang mau Mas Rigel harapkan dari saya?” “Bantu gue, please.” Rigel beranjak dari tempat duduknya. Sita ikut

