1. Penyesalan dan Tragedi

1778 Kata
Angkasa berwarna kelabu, tak lama kemudian suara guntur di sertai pecahan guci memenuhi mansion megah itu. Suara teriakan kesakitan terdengar jelas dari arah kamar itu. Sahutan guntur bebarengan dengan sautan dan geraman dari dua makhluk dengan gender berbeda itu. “ Berapa kali aku bilang David, aku gak pernah selingkuh dan anak ini anakmu” teriak perempuan dengan pakaian yang sudah tidak pantas lagi di sebut pakaian. Bahunya terkoyak karena tarikan kasar yang di berikan laki-laki yang berdiri di depanya. “Terus kenapa kamu bisa di hotel bersamanya, dan jangan lupakan foto-foto kalian, bagaiaman kamu akan membela dirimu sekarang?” laki-laki itu tetap bersikukuh dengan fakta yang ia lihat mengabaikan pembelaan dan tangisan dari wanitanya. “Aku juga tidak tau, tapi sumpah aku tidak pernah main belakang.” Wanita itu mencoba meraih kakinya, mencoba mendapatkan rasa simpati dan kepercayaannya. “Terus bagaiaman dengan kehamilanmu, kenapa kamu tidak terus terang dari awal jika sedang mengandung, dasar pelacur.” Kecam laki-laki itu dengan tajam seakan mengharapkan kekalahan dari sang wanita. Mendengar kata-kata tajam serta penghinaan itu membut sang wanita terdiam, fikiranya melayang mengingat bagaiaman hari-harinya setelah pernikahan. “Aku tau tidak pernah ada cinta dalam pernikahan kita, tapi aku tidak akan menodai sumpah pernikahan dengan hal-hal seperti itu.” Wanita itu berucap dengan lirih. Laki-laki itu terdiam menatap wanita yang bersimpuh di bawahnya. Wanita yang ia nikahi tiga tahun lalu karena wasiat orang tuanya, wanita pertama yang berhasil menyentuhnya kemudian menjatuhkannya sedalam-dalamnya. Mungkin wanita itu menganggap ia tidak mencintainya dan terpaksa menjalin hubungan itu, namun sungguh ia tidak pernah sekalipun menyesal menikah dengan perempuan itu. Cinta? Ia tidak tau apakah ia bisa dibilang mencintainya atau tidak, nyatanya ia nyaman dengan semua tingkah wanita angkuh itu. “Pergi.” satu kata yang mampu menghancurkan harapan wanita itu. Wanita itu menatap laki-laki di depanya dengan tidak percaya, setelah penghinaan sekarang pengusiran. Ia tahu laki-laki itu kecewa dengan semua peristiwa yang menimpanya di sini ia juga korban. Tidak bisakah ia percaya kepadanya? Apa arti pernikahan mereka selama ini? Bukankah pernikahan tanpa kepercayaan sama saja dengan kebohongan, hanya karena sebuah foto yang belum jelas kebenaranya dan pertemuan tidak terduganya dengan laki-laki asing itu mampu membuat pernikahan mereka hancur. Dengan kasar ia usap matanya, mengais sisa-sisa harga diri yang masih tersisa. “Aku harap kau tidak pernah menyesal dengan keputusanmu. ya anak ini bukan anakmu, tapi anak ini hanya anakku. Ku harap kau akan hidup diselimuti perasaan bersalah dan penyasalan yang mendalam, sehingga kau lebih memilih untuk mati.” Wanita itu bangkit meninggalkan laki-laki yang masih tidak percaya dengan kat-kata yang keluar dari bibirnya. ******* Angkasa semakin gelap, angin berhembus kencang, begitupula dengan guntur yang saling bersahutan. Bintang seakan takut akan murka sang angkasa, bulan berlindung di balik kelamnya warna, tak lama tetesan bening berjatuhan menutup tangisan wanita yang sedang berjalan gontai meninggalkan kenyamanan. Catrine lose, seorang wanita angkuh yang harus rela meninggalkan kenyamananya dan datang ke Indonesia hanya karena memenuhi wasiat ayahnya, menikah dengan David Baraqba, laki-laki berdarah Indonesia-Amerika, laki-laki yang sangat angkuh. Ia meninggalkan karirnya yang melejit karena rasa hormatnya terhadap ayahnya, namun semua hanyalah kesialan dan petaka untuk hidupnya. Drt drt drt “Sayang?” suara lembut itu mengalun indah di indra pendengaranya menyerap segala kekecewaan dalam hatinya. “Ma.” Catrine memanggilnya dengan lirih namun penuh makna. “Pulanglah nak, kami semua menyayangimu. Sudah cukup baktimu terhadap ayahmu.” Mendengar ucapan sang mama, Catrine segera mengambil keputusan. Akan ia buat David menyesal telah membuatnya seperti ini. Semua tangisan dan harga dirinya yang terinjak-injak akan ia ambil balik darinya. Ia yang selalu memandang siapapun rendah akan ia buat berlutut dan memohon ampun. “Jemput aku Ma.”setelah itu terdengar sambungan telfon yang putus. Di tengah derasnya hujan Catrine berdiri, menatap ribuan rintikan hujan yang mengguyur. Netra abunya memerah, sarat akan amarah, kekecewaan, dan dendam yang menghujam hingga membuat dadanya sesak. Perlahan tangan lentik itu mengelus perutnya yang sedikit menonjol, di sana ada kehidupan yang harus ia perjuangkan untuk mendapatkan keadilan. “Mari kita rayakan kematian Catrine Lose dan sambut kehidupan Caroline Alexandrof, mari kita hidup bersama dan tentukan kebahagian kita sendiri, buat mereka menyesal telah mempermainkan kehidupan kita. Mereka yang dengan kejamnya membuang kita tanpa memikirkan dan mempercayai kebenaran.” Catrine yang sekarang menjadi Carolin mengikrarkan sumpahnya. Bumi bergetar, Langit bergemuruh, angin berhembus kencang, menjadi saksi bisu betapa kecewanya wanita itu hingga membuat jiwanya mati dan menumbuhkan jiwa baru dengan tujuan hidup baru. Netra kelabunya semakin memerah petanda dalamnya duka yang ia rasa. “Menangislah, setelah ini akan ku buat mereka yang menangis.” ucap sesorang laki-laki yang mendekap tubuh ringkihnya. Seakan mendapat perlindungan, ia balas dekapan itu tak kalah erat. Ia tumpahkan semua lara dengan tangisan, bahkan tak jarang ia pukl d**a bidang itu sebagai pelampiasan, teriakan bahkan raungan ia keluarkan berharap mendapatkan sebuah ketenangan. “Ayo kita pergi.” Ajaknya. “Bawa aku pergi sejauh mungkin Max.” ucapnya dengan suara parau. ******* David menatap kamar yang dulu selalu hangat dengan tatapan kosong, helaan nafas kasar ia keluarkan ada sedikit penyesalan dalam hatinya. Ia berfikir siapa yang harus ia percaya, di depanya terpampang jelas foto istrinya dengan laki-laki lain dalam keadaan yang tidak pantas. Harga dirinya terasa terinjak, ia benci penghianatan. Penghianatan mengingatkan dirinya dengan wanita itu, wanita menjijikan yang telah melahirkanya. “Arghhhh.” Brak Prang Guci-guci mahal berserakan, menjadi pelampiasanya atas rasa kecewanya terhadap wanita itu, ia benci mengingat peristiwa itu bahkan sangat membencinya. Jika bisa ia akan membunuh wanita yang telah memberikan rasa teraumanya itu. Tapi semua itu terhenti mengingat pesan terakhir dari ayahnya. Tok Tok Tok Ketukan itu menyadarkan David dari fikiranya yang mulai berkelana, ia edarkan pandanganya ke segala penjuru kamarnya, berantakan. Ia abaikan keadaan itu dengan cepat ia pegang hendle pintu dan melihat siapa gerangan yang berani mengganggunya. “Maaf tuan, saya ingin menyampaikan kabar buruk untuk tuan,” ucap ria dengan jas berwarna hitamnya. David mengernyit mendengarkan penuturan asistenya, Andre Himawan. “Apa?” “terjadi kecelakaan pesawat dengan tujuan Indonesia Jerrman tuan.” jelas andre yang menimbulkan kernyitan di dahi David. “Semua penumang dinyatakan tewas dengan kondisi tubuh yang hancur terpotong tuan.” Andre menjelaskan dengan takut-takut. “Tidak usah berbelit-belit, apa hubunganya kecelakaan itu denganku?” David menggeram merasa jengan dengan pejelasan Andre yang terlihat takut dan sangat hati-hati. Dalam hati ia bertanya dia seorang pengusaha tambang bukan pengusaha penerbangan. “Maaf tuan, salah satu penumpang pesawat yang dinyatakan tewas dengan tubuh hancur lebur dan hanyut dalam lautan adalah nyonya Catrine.” Deg David menatap tajam Andre, merasa tidak percaya dengan penjelasan yang ia terima. Tidak mungkin Catrine meninggalkanya secepat itu, bahkan ia masih belum membalas dia dengan penghianatan yang Catrine lakukan. “Jangan bercanda, wanita itu tidak mungkin meninggalkan Indonesia, ia tidak punya apa-apa dan siapa-siapa.” Sangkalnya. David percaya dengan pemikiranya, setahunya Catrine hanyalah seorang waita miskin yang angkuh dari jerman. Catrine tinggal dengan ayahnya dan entah ibunya berada di mana. Yang pasti Catrine tidak akan sanggup meninggalkan Indonesia tanpa persiapan apapun, ia masih ingat dengan jelas Ctrine keluar dari kamarnya tanpa membawa benda apapun di tubuhnya, kecuali Handphone. David berharap setelah ia mengusir Catrine, ia akan mengemis meminta kembali dan di situlah ia kan membuat hidup Catrine lebih hancur lagi. Namun informasi ini sungguh tidak dapat ia terima. “Maaf tuan, ini buktinya.” Andre menyerahkan data-data korban pesawat itu, di sana terpampang jelas nama Catrine Baraqba. David merasa dadanya sesak, entah mengapa hatinya meraung seakan tidak terima dengan fakta yang ada. “Tuan, ini bukti foto-foto yang anda minta selidiki.” Andre menyerahkan berkas lagi. David memandang berkas dengan map berwarna kuning itu kosong. Dalam hati ia bertanya apakah ini yang ia inginkan, kematian Catrine karena penghianatan. Tapi mengapa ia merasa sangat sedih, tidak ada kelegaan dalam hatinya hanya kehampaan yang ia rasakan. “Bagaimana penyelidikan foto itu.” David bertanya tanpa membuka berkas yang ia pegang, etah mengapa ia ingin mendengarkan langsung dari asistenya. “Foto itu asli tuan.” Jelas Andre. David tersenyum sisnis, rasa hampa yang ia rasakan tadi karena kehilangan Catrine hilang sekejap. Bahkan giginya bergeletuk seakan menahan amarah terhadap seseirang yang sudah berbeda dunia dengannya. “Mari kita rayakan kematian wanita penghianat itu.” David berucap dengan riang menyembunyikan kegetirannya. Andre mengernyit mendengar penuturan atasanya, dalam hati ia bersumpah David akan menangis setelah ia mendengar penjelasanya selanjutnya. “Tuan_” “Apa?” tanya david dengan alis yang angkat sebelah. “Foto itu benar asli, tapi wanita di dalamnya bukanlah nyonya Catrine, ternyata wanita di dalam foto itu memakai topeng silikon yang menyerupai wajah nyonya.” Penjelasan itu seakan membuat dunia David hancur, apa maksud dari ucapan Andre? Apakah ia sedang dipermainkan seseorang, sehingga membuat ia terlihat sepeti orang bodoh. Ia rotasikan tatapanya pada netra hitam kelam itu seakan mencari kebenaran dalam ucapanya.Netra hijau zamrud dan hitam itu beradu mencoba menyelaminya, namun hanya tatapan jujur yang ia rasaka. Tanpa dapat ia cegah tubuhnya meluruh, ia menangis mersakan kehilangan sosok yang mampu membuat ia nyaman, bukan hanya itu ia juga kehilangan sosok anak yang sempat ia ragukan. “Katakan padaku semua ini bohong.” David menarik kerah Andre. Andre terdiam melihat wajah putus asa tuanya, sungguh ia mneyesali keputusan tuanya yang langsung percaya dengan foto itu dan mengusir nyonyanya dengan kejam. “Maaf tuan,” hanya itu yang mampu Andre ucapkan. “Andre aku berdosa,” raung David bersimpuh. “Tuan, anda harus tabah.” Andre mencoba menguatkan David. “Bagaimana bisa aku bisa tabah, jelaskan. Aku telah menyiksanya tanpa mengingat dia sedang mengandung, aku mengusirnya, meragukan anak dalam kandunganya dan sekarang aku kehilanganya tanpa sempat meminta maaf dan membahagiakanya. Jawab Andre bagaimana bisa aku hidup dalam rasa bersalah seumur hidup?” David menangis mengingat semua perlakuan buruknya, jika bisa ia putar waktu akan ia rengkuh tubuh wanita itu. “Tuan_” “Andre bawa aku menemuinya.” Mohon David. Andre menatap david dengan iba, sosok yang selalu mengangkat kepalanya kini sedang memohon, bersimpuh dengan air mata. “Tuan, jasad nyonya tidak di temukan.” jelas andre. David terdiam mendengarnya, tuhan sangat baik dalam menghukumnya. Dalam sekejap ia membenci wanita itu karena penghianatan. Kekerasan ia lakukan terhadapnya untuk melampiaskan rasa kecewanya. Namun, seakan takdir sedang mempermainkanya kebenaran terungkap di saat yang tidak tepat, membuat ulu hatinya merasakan sakit yang teramat. “Apakah aku harus ikut pergi bersamanya?” tanya David dengan tatapan kosongnya. “Tuan jangan gila.” sentak Andre berusaha menyadarkan atasanya. “Aku manusia menjijikan, karena kebodohanku aku kehilangan anak dan istriku.” ungkap David yang tak mampu menahan kesedihanya. Andre terdiam, ia faham bagaimana sedihnya kehilangan orang yang sangat ia sayangi, dia pernah merasakanya. Dengan cepat ia rengkuh tubuh tegap itu yang hampir limbung. Andre merasa iba melihat bagaiaman hancurnya atasan serta sahabatnya itu. “David, lo kuat.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN