Deer

1265 Kata
“Baby!” Teriakan seorang laki-laki dari kejauhan membuat Alice memutar tubuhnya. Dia mendapati James sedang melambaikan tangan kearahnya. Sebuah semangat yang jarang ia tunjukkan di pagi hari yang cerah. Alice membuang sisa ice cream yang ia makan dan segera menghampiri teman kakanya- atau mungkin bisa dibilang temannya sekarang. Lagi pula semenjak ia pindah ke Bali semua orang yang Jodie kenal dengan baik akan otomatis menjadi teman Alice.  James merupakan salah satunya, Alice suka sekali ketika berkumpul dengan orang-orang yang memiliki aura positif. Alice menoleh ke kanan dan kiri untuk selanjutnya menyebrang dan menemui James yang sedang membawa banyak barang belanjaan. “kau berangkat pagi sekali” ujar Alice sambil membantu mengangkat kantong belanjaan yang ia buka berisi daging dan sayuran. “kau mau pesta?” James mengangguk antusias “Ulang tahun Jared sayangku lusa. Jangan lupa datang dengan membawa kado, aku harap kau tidak lembur karena aku takut ice cream kesukaanmu akan lenyapsebelum jam lima sore” Alice tertawa, mereka berdua melangkah memasuki cafe yang berada di pinggir pantai itu. Nuansa mediteranian bercampur dengan Balinese arsitektur yang aesthetic membuat cafe bar tersebut sangat nyaman, mereka menyebutnya Deer dengan dekorasi kepala rusa tepat di meja pesanan. Apalagi dengan suasana pagi hari yang terbilang sangat sepi. Orang hanya akan mampir untuk sekedar membeli kopi dan pergi. Tempat tersebut menjadi lokasi Alice menghabiskan waktunya setiap hari. Setiap weekend dia akan membantu pasangan James dan Jared untuk mengantarkan pesanan atau memasak. James dan Jared merupakan pasangan terkeren yang pernah Alice temui. “Dimana Jared?” Alice bertanya penasaran “Aku yakin belum bangun. Semalam dia minum sampai tidak bisa mengerti satu patah kata pun yang ku ucapkan. Sebaiknya aku memberikan batasan, tapi... kau tahu Jared” “ah...kasihan Jared” Alice menganggukkan kepalanya sambil melihat sekeliling cafe yang terlihat sangat bersih. Dia mulai memikirkan kado apa yang akan ia berikan. “kau mau aku antar ke hotel? Aku tidak punya kesibukan sampai jam 9 nanti” Alice menggelengkan kepalanya. Dia tidak pernah ingin merepotkan siapapun apalagi dia juga selalu suka berjalan sambil menikmati angin pantai di pagi hari. Meskipun begitu, orang-orang disekitarnya sangatlah baik. Suara pintu berderit dan terlihat Jared keluar dengan menguap lebar. Wajahnya basah seperti habis mencuci muka. Melihat Alice matanya terbuka lebar. “Alice anakku! Kau mau sandwich?” teriaknya setengah malas. Dia mendekati James dan memberikan ciuman kecil pada pipinya. Alice menolak dengan senyuman dan melihat jam tangannya sejenak. “aku harus pergi, telfon aku jika kalian butuh bantuan untuk dekorasi” Ucap Alice sambil melambaikan tangan “hati-hati!” teriak Jared. *** “fyuuuh akhirnya selesai sudah. kau bisa pulang lebih awal, terima kasih sudah membantu Alice. Semua persiapan ini membuatku ingin gila” Alice tersenyum melihat Ms Nancy managernya. Summer Season merupakan hotel paling terkenal di Bali dengan kemewahan dan juga pelayanannya. Alice selalu terpukau dengan kinerja yang dilakukan oleh staff hotel untuk setiap acara. Posisinya sebagai asisten manager membuatnya dapat mengikuti banyak acara fancy yang dilakukan oleh klien maupun pihak hotel. Alice juga mendengar bahwa Summer Season akan bergabung dengan salah satu perusahaan besar di Amerika karena sebelumnya memiliki masalah internal yang susah untuk diselesaikan. Itu sebabnya selama seminggu penuh dia selalu lembur dan sibuk. Akan tetapi hari ini merupakan hari terakhir semua penderitaannya terangkat. Dia tidak sabar untuk segera menemui kakaknya. “kau bisa ikut after party setelah ini. Aku selalu mengijinkanmu” Ms Nancy berkata sambil mengedipkan matanya. Alice selalu mengagumi kinerja managernya yang menurutnya sangat keren. Tipe wanita karir sukses yang Alice sukai. Kerja bersamanya selama 2 tahun tidak pernah membuat Alice merasa kesulitan atau bosan. Dan lagi Ms Nancy selalu membuatnya mengikuti pesta dengan banyak makanan enak didalamnya. Alice melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 10 malam. “maaf Ms Nancy, kupikir aku harus menemui kakakku. Dia baru kembali ke Bali hari ini” Alice ingat kalau Jodie baru saja kembali dari kampung halaman suaminya di Swedia setelah satu bulan berlibur disana. Alice juga sangat merindukan keponakannya yang berumur 4 tahun, Brian. Akan tetapi itu hanya alasan saja, karena tidak mungkin dia menemui keponakannya malam-malam. Dia akan menemui Brian besok pagi. Alice ingin segera merebahkan diri dan merenggangkan semua ototnya yang kaku. “hm.. sayang sekali. baiklah kalau begitu kamu bisa langsung pulang, dan... jangan lupa untuk mengambil kerjaanmu untuk besok di lantai atas oke? Tim marketing menaruhnya di meja mu” “oke. Good bye Ms Nancy” Alice melihat managernya masuk ke aula dengan antusias. Senyum terukir di wajahnya membayangkan rencana minggu santai yang akan segera ia rasakan besok. Ia berjalan menuju lift tidak menghiraukan orang disekitarnya. Terlihat banyak sekali tamu VIP yang datang membawa koper dengan mobil-mobil mewah. Alice berjalan cepat menyusuri Hallway hingga seorang ibu-ibu paruh baya terlihat kesulitan membawa banyak tas. Alice memperlambat langkahnya mengamati, sebenarnya ia tidak pernah terlibat dalam ini, akan tetapi sepertinya semua staff sedang sibuk mengurusi pesta di aula. Alice pun memutuskan untuk mendekati ibu itu. “bisakah aku membantumu maam?” Senyuman cerah tercetak di pipi ibu itu seperti sangat bersyukur bertemu Alice. “sebenarnya aku ingin ke kamarku dan sedikit kesulitan dengan barang bawaanku. Jika kau tidak keberatan..” “oh tentu saja. Aku sangat senang bisa membantumu” Alice segera mengangkat dua tas yang di bawa oleh ibu itu menyisakan satu tas yang ia pegang. “terima kasih banyak. Wanita cantik sepertimu sangat membantuku” Alice hanya mengangguk kecil tersenyum. Mereka menuju lantai tempat ibu tersebut menginap, untuk selanjutnya mengambil dokumennya di kantor dan segera turun ke bawah menggunakan lift. Alice mengetahui bahwa ibu tersebut baru saja datang sendirian karena besok akan bertemu dengan anaknya. Alice tersenyum mengingat senyuman ibu tua itu. Dia berpikir jika mamanya masih hidup mungkin mereka berdua seumuran. Banyak sekali kata-kata yang ingin Alice sampaikan terutama fakta bahwa ia sangat menyayangi ibunya. Lamunan Alice buyar ketika ia mendengar suara lift yang sudah berada di Hallway. Ia segera keluar sampai ketika seseorang menabraknya dengan cukup keras hingga membuatnya terjatuh. Alice meringis kesakitan sambil memegangi bahunya. Tasnya terjatuh di lantai. “oh my god! Maafkan aku” Suara seorang laki-laki terdengar di telinga Alice. Dia menengadah dan mendapati seseorang berpakaian rapi dengan jas dan juga wajah serius. Alice berpikir mungkin dia salah satu dari tamu VIP. “tidak apa-apa, aku baik-baik saja” Alice tersenyum simpul sambil berdiri di bantu laki-laki di depannya. Dia sangat mudah membantu Alice bangun mungkin karena badan kecilnya. “aku minta maaf, karena aku sangat buru-buru” “ah tidak apa-apa sungguh” Lelaki di depannya memberikan tas Alice yang terjatuh. Wajahnya sangat khawatir membuat Alice tidak enak. “Anda salah satu tamu VIP di aula? Sebaiknya Anda bergegas sebelum acaranya berakhir” Lelaki tersebut tertegun dan terlihat sangat merasa bersalah. Dia segera membuka tasnya dan mengambil sebuah minuman berenergi dan menyerahkannya kepada Alice. “aku tidak tahu harus bagaimana tapi untunglah kau baik-baik saja. Dan sayangnya aku juga buru-buru jadi aku harap kau bisa menerima ini. Agak sedikit memalukan bagiku untuk tidak memastikan lebih lanjut keadaan Anda” Alice menerima botol minuman itu sambil merasa sedikit sungkan. Dia menggumam pelan kata ‘im okay’ meskipun ia yakin lelaki didepannya tidak akan peduli. Mereka berdua segera berpisah setalah Alice mengatakan terima kasih, laki-laki itu masuk ke dalam lift. Laki-laki yang sangat aneh! Pikirnya Ia melihat sejenak minuman itu dan melangkah keluar dari hotel dengan cepat. Sedangkan didalam lift seorang laki-laki memungut sebuah gantungan tas berwarna hitam yang berada di lantai lift. Pandangannya langsung fokus kepada tas yang di pegang Alice dan dia mendapati tali gantungan tersebut robek dan masih menggantung di tasnya. Ia ingin berteriak mengingatkan ketika pintu lift sudah tertutup rapat dan Alice berjalan pergi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN