14. JATD

1035 Kata
Mereka telah tiba di suatu tempat yang menjadi mimpi Justin semalam. Justin terkejut ketika melihat gua di hadapan mereka yang nampak sangat persis dengan apa yang ada di dalam mimpinya. Ia semula pun nampak ragu kalau ada tempat seperti itu, apalagi itu adalah mimpinya yang bisa saja menjadi bunga tidur baginya. Tak menyangka kalau ketahuan itu hilang saat melihat tempat menyeramkan ini, mereka sama sekali tidak tahu ada bahaya apa yang tengah mengancam saat ini. Dari luar, gua iti nampak sangat menyeramkan, dari luar pun terlihat kalau di dalam gua begitu gelap. Semakin menyeramkan saat di depan gua itu ada sarang laba-laba yang sangat besar sekali. "Ayo kita masuk semuanya!" titah Dior pada para prajurit. Dior nampak tak gentar, wajahnya setenang biasanya karena ia sudah sangat sering menghadapi tempat-tempat seperti ini. Menjadi seorang panglima sekaligus orang kepercayaan raja membuat Dior harus menjadi orang yang berani. Ia tidak bisa bergantung pada siapapun itu karena ia yang dituntut serba bisa dalam melakukan hal apapun itu. "Baik, Panglima." Para prajurit itu masuk lebih dulu meninggalkan Justin, Dior dan Billy yang masih terdiam di depan pintu masuk gua. "Justin apa yang tengah kau pikirkan?" tanya Dior saat tatapan Justin terus menjelajah. "Ah tidak ada." Justin menggelengkan kepalanya. "Ayo masuk, Justin! Semua prajurit sudah masuk lebih dulu ke dalam gua." Dior mengajak Justin masuk, ia segera berjalan memasuki gua untuk menyusul para prajurit yang sudah lebih dulu masuk. "Billy, ayo kita ikut masuk." Justin mengajak Billy masuk bersamanya. "Gelap sekali di sini," gumam Justin saat ia telah tiba di dalam gua. Tiba-tiba saja mata Billy mengeluarkan cahaya seperti senter hingga membuat Justin terperangah, tak percaya kalau Billy bisa mengeluarkan cahaya seperti itu. "Terima kasih, Billy." Justin tersenyum ke arah teman boneka beruangnya yang sangat pengertian itu. Justin dan Billy segera menyusul Dior dan para prajurit yang sudah agak jauh dari mereka. Justin berlari cukup kencang bersama dengan Billy yang menjadi senternya. Hingga akhirnya ia dan Billy bisa sampai juga di belakang para prajurit dan Dior. "Ada apa?" tanya Justin saat para prajurit dan Dior menghentikan langkah dan sepertinya sedang kebingungan. "Justin, dalam mimpimu kau lewat mana," ujar Dior sambil menatap Justin. Justin baru sadar kalau ternyata ada tiga jalan gua, tentunya hal itu akan membuat Dior dan para prajurit kebingungan. "Sebentar." Justin memejamkan matanya, mengingat-ingat kembali mimpi yang semalam menghampirinya. Hingga ketika ia ingatan, ia membuka kedua matanya kembali. Dior nampak menunggu Justin yang akan membuka suaranya. "Jadi?" tanya Dior. "Kita ke jalan tengah, di dalam mimpiku aku lewat sana!" Justin menunjuk jalan tengah membuat Dior mengangguk dan mengajak semuanya untuk ikut berjalan ke jalan tengah. "Apa yang ada di dalam mimpimu saat melewati tempat ini, Justin?" tanya Dior. Justin kembali memejamkan matanya, nampak mengingat-ingat lagi mimpi semalam yang berhasil mengganggu tidurnya. "Waktu itu aku melewati jalan tengah ini kemudian ada semacam kawat besi sepanjang jalan di depan, setelah aku berhasil melewatinya, ada lagi sebuah bangunan tua yang anehnya bisa berada di dalam gua kemudian aku memasuki bangunan tua itu dan ada seekor laba-laba raksasa kelaparan." Justin mengatakan semua yang ada di alam mimpinya itu dengan jujur. "Itu berarti sebentar lagi kita akan melewati ...." Dior tidak dapat melanjutkan kata-katanya ketika di depan dan sudah ada bahaya yang mengancam. Memang bukan sebuah benda hidup, melainkan benda mati. Namun, jelas saja itu sangat berbahaya jika dilewati. Kawat-kawat itu seakan memenuhi jalan sehingga membuat mereka kesulitan untuk lewat. Sama sekali tidak ada celah jalan kosong yang bisa mereka lewati, ditambah kawat besi itu terlihat begitu tajam sekali. Mungkin, jika kawat besi biasa maka mereka tidak akan merasa khawatir, mereka bisa melewati itu dengan sangat mudah. "Bagaimana cara kita melewatinya?" tanya Dior saat melihat kawat-kawat itu tak hanya diam seperti benda mati kebanyakan. Kawat-kawat itu seakan bermetamorfosa menjadi sebuah kawat hidup, kawat hidup yang akan siap menerkam. Kawat-kawat itu nampak bergerak ke atas dan bawah, seakan sama sekali tidak memberi izin pada mereka untuk melewati jalan yang menjadi kekuasaannya itu. "Mereka sangat suka sekali dengan air," ujar Justin tiba-tiba. "Air?" tanya Dior. "Iya, kita harus memberinya air agar dia bisa memberi kita izin melewati mereka," jawab Justin. "Mengapa tak kau katakan sejak tadi, Justin?" Justin hanya menyengir. "Kau tadi tidak bertanya jadi aku tak menjelaskan." Dior menggelengkan kepalanya. Dengan sihirnya, Dior mulai mengeluarkan air dari tongkatnya itu kemudian mengarahkannya pada kawat-kawat itu. Namun, kawat-kawat itu nampak sama seperti biasa, tidak menghindar atau memberi mereka jalan. "Apa yang kau katakan tadi benar, Justin? Tapi mengapa kawat itu sama sekali tidak menyingkir?" tanya Dior. "Eum, sepertinya dia ingin air yang diambil dari tempat ini, bukan dari sihir atau yang lainnya," jelas Justin. "Air? Di mana ada air di gua besar seperti ini? Ah aku tahu, kau belum memberitahu aku tentang hal ini. Jadi, di mana kita bisa mendapatkan apa yang diinginkan oleh kawat-kawat itu?" "Kalau ingin mengambil air bukan di sini tempatnya, kita harus lewat jalan kiri. Ikuti aku!" Justin berlari kembali ke tiga jalan tadi diikuti oleh Dior dan para prajurit. Mereka akhirnya berjalan di jalan sebelah kiri, keadaan nampak sama yaitu gelap dan sepi. Beruntung dengan senter matanya, Billy dapat menerangi tempat-tempat gelap ini. Ternyata tak mudah hanya untuk mendapatkan air saja karena ternyata ada bahaya lain yang tengah menanti mereka, bahaya yang kali ini merupakan benda hidup berbisa. Sekumpulan ular-ular kecil berwarna putih menjulurkan lidahnya dengan suaranya yang khas, seakan siap membelit dan memangsa mereka semua bersama-sama. Beberapa prajurit sedikit mundur saat melihat banyaknya ulah putih berukuran kecil itu. "Nyatanya tetap ada bahaya yang tengah mengancam kita," ujar Dior. "Para prajurit, jangan takut. Bantu aku menyingkirkan ular-ular ini agar kita bisa lewat!" Para prajurit yang semula mundur pun akhirnya maju, mereka membantu Dior mengusir ular-ular j*****m yang menghalangi jalan mereka. Beberapa ular sempat melilit kaki mereka, rasanya seperti diikat oleh sebuah karet dengan sangat kencang. Terasa ngilu dan sakit, tetapi dengan cepat mereka berhasil melepaskan diri. "Ayo lari, sebelum ular-ular itu semakin bertambah banyak!" Dior, Justin, Billy dan para prajurit langsung berlari menghindar ular-ular itu. Mereka merasa sangat lega saat ular itu tak mengejar mereka, mata mereka memandang di depan sana di mana ada sebuah kolam yang sangat besar sekali. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, mereka langsung berlari menuju kolam itu. Tanpa sadar kalau ada satu bahaya lagi yang tengah menunggu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN