Setelah berhasil keluar dari sebuah gua gelap yang ada kolam dan juga ular besar, Justin, Dior dan juga para prajurit kembali ke jalan tengah di mana mereka akan melewati kawat-kawat tajam itu. Beruntung saat bencana itu datang, Dior sudah mendapatkan air dari kolam itu sehingga mereka tidak perlu kembali lagi ke sana. Mereka tinggal kembali ke tempat pertama yang mereka datangi tadi, di mana ada kawat-kawat besi yang bisa melukai tubuh mereka jika mereka asal lewat saja tadi di sana. Mereka telah tiba di jalan tengah, kawat-kawat besi itu nampak runcing dan juga tajam. Lengah sedikit saja maka bisa melukai tubuh mereka jika terkena kawat itu.
"Lalu, setelah mendapatkan air ini apa yang harus dilakukan, Justin?" tanya Dior.
"Kau harus mencipratkan air itu di atas kawat-kawat itu," jawab Justin.
Dior mengangguk, dia langsung mengeluarkan air yang ia simpan di tempat lain. Kemudian membuka tutup botol itu dan mencipratkan air itu ke atas kawat-kawat tajam itu. Mereka mundur ketika ada sebuah cahaya yang tiba-tiba muncul di atas kawat itu saat air itu telah selesai dicipratkan.
"Apa itu, Justin?" tanya Dior saat melihat cahaya yang tak hilang-hilang itu.
"Kita akan melewati kawat-kawat itu dengan naik cahaya ini, kita tidak akan terkena tajamnya kawat," jelas Justin.
Justin membawa Billy di punggungnya, laki-laki tiu berjalan memasuki cahaya itu kemudian menoleh ke belakang. Di mana Dior dan para prajurit hanya diam saja.
"Kenapa kalian diam saja? Ayo ikuti aku!" ujar Justin.
Dior memerintahkan prajuritnya untuk mengikuti dirinya yang akhirnya menyusul Justin. Mereka semua berjalan di atas cahaya itu, sama sekali tidak merasa sakit meskipun ada kawat-kawat tajam di atas mereka. Sangat beruntung Justin memimpikan sebuah petunjuk semalam, jadi mereka tidak perlu adanya peta karena sudah ada peta hidup yang siap memberikan informasi yang diinginkan. Beberapa saat berjalan di cahaya itu, tiba-tiba saja cahaya yang mereka pijak itu sedikit-sedikit menghilang hingga kaki terasa sakit dan perih saat kawat itu mengenai kaki.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" tanya prajurit sambil menatap prajurit lainnya.
"Sepertinya efek dari air itu sudah habis, Dior apakah kau masih memiliki air itu lagi?" tanya Justin pada Dior.
"Aku tidak memilikinya lagi, tadi semua air sudah aku gunakan untuk menyiram kawat-kawat itu," jawab Justin.
"Sayang sekali! Aku lupa meminta kau membawa air dalam jumlah yang banyak. Sekarang kita harus segera berlari! Jangan sampai cahaya ini benar-benar hilang lalu kita akan terperangkap dan mati di dalam lautan kawat tajam!" teriak Justin.
Para prajurit menjadi panik, mereka semua langsung berlari mendahului Justin dan juga Dior. Justin dan Dior segera menyusul, mereka berlari sekencang mungkin saat perlahan-lahan cahaya di atas kawat belakang yang telah mereka lewati itu menghilang. Ini baru perjalanan pertama mereka, mereka tidak mungkin tewas begitu saja sebelum mendapatkan kekuatan yang mereka cari. Mereka harus bisa mendapatkan kekuatan itu dalam keadaan selamat, tidak boleh terluka karena setelah itu mereka harus bisa melawan Diavro dan para kacungnya itu.
"Ayo percepat lari kalian!" teriak Dior saat melihat cahaya yang menghilang semakin dekat dengan mereka.
Para prajurit melihat ke belakang dengan masih terus berlari, mereka mempercepat lari mereka hingga akhirnya mereka sampai di titik di mana tidak ada cahaya dan kawat tajam itu. Mereka merasa sangat lega sekali karena bisa terbebas dari celaka yang disebabkan oleh kawat-kawat tajam itu. Mereka semua berlari dengan kaki sendiri bukan karena tidak memiliki kekuatan dan sihir di dalam diri mereka, tetapi karena semua sihir itu sama sekali tidak mempan.
"Akhirnya, kita semua bisa terbebas dari kawat itu," ujar Dior.
Justin dan yang lainnya mengangguk, membenarkan perkataan Dior sekaligus merasa sangat beruntung karena berhasil terbebas dari bahaya itu. Namun, sepertinya kelegaan itu tidak berlangsung lama ketika tiba-tiba saja kawat-kawat yang sudah mereka lewati itu seakan memiliki kaki dan berjalan menghampiri mereka. Mata mereka membola melihat itu semua, seakan tidak percaya dan merasa sia-sia saja telah melewati kawat-kawat itu.
"Lari! Ayo lari!" teriak Dior membuat para prajurit dan juga Justin segera berlari menghindari kawat-kawat tajam yang tiba-tiba menjadi hidup dan memiliki kaki itu.
"Dior, kita harus melakukan sesuatu! Tidak mungkin kita terus berlari menghindari kejaran kawat-kawat itu karena lambat laun kita akan kalah!" ujar Justin.
"Ya, kau benar, Justin. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Dior.
Masih sambil berlari, Dior dan Justin saling pandang. Seakan tengah mengkode dari masing-masing diri mereka.
"Ada air di sana!" ujar Justin saat melihat ada kolam air yang ukurannya sangat kecil.
"Di mana?" tanya Dior.
"Di sebelah kiri!" jawab Justin hingga membuat Dior menoleh ke sebelah kiri.
"Kalian terus berlari, biar aku yang akan mengambil air itu," ucap Dior.
"Tapi—"
"Kau tak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja. Kau kawal para prajurit itu untuk terus berlari, aku akan mengambil air itu. Ingat perkataanku ini, Justin." Akhirnya Justin mengangguk.
"Baiklah, kau harus berhati-hati, Dior." Dior mengangguk hingga kemudian ia membalikkan tubuhnya menantang kawat-kawat berjalan itu.
Dior dengan keahliannya, langsung melompati kawat-kawat itu. Hingga kakinya dapat menapak ke dinding atas goa layaknya ia adalah kelelawar yang bisa menggantung. Justin dan para prajurit yang melihat itu pun terperangah, antara kaget dengan kehebatan Dior sekaligus merasa was-was takut terjadi sesuatu pada panglima mereka itu. Dior kembali melompat saat kawat-kawat itu tidak ada di bawahnya lagi karena sibuk mengejar Justin dan prajuritnya.
Dior yang sudah menapak pijakan bawah pun langsung berlari, menuju kiri di mana ada kolam air kecil seperti yang Justin katakan. Benar saja, ada sebuah kolam kecil di sana, tanpa menunggu waktu lama lagi, Dior segera mengeluarkan sebuah wadah bekas air tadi kemudian mewadahi air dari kolam kecil itu. Setelah dirasa cukup atas air yang telah ia ambil, Dior segera berlari menyusul Justin dan para prajuritnya yang masih diikuti oleh kawat-kawat tajam itu.
Dior berlari sekencang-kencangnya hingga akhirnya ia dapat menyusul mereka. Dior membuka tutup wadah air itu, mengambil sedikit air kemudian menuangkannya ke atas kawat-kawat itu. Tak lagi ada cahaya yang muncul seperti tadi, melainkan kawat-kawat tajam itu tiba-tiba saja berubah menjadi gumpalan tanah kemudian hancur. Justin dan para prajurit dapat menghentikan langkah mereka saat kawat-kawat itu sudah tidak ada lagi.
"Terima kasih banyak, Dior," ujar Justin merasa sangat lega sekali.
"Ini semua juga berkat bantuanmu, Justin. Lebih baik ayo kita lanjutkan perjalanan, berlama-lama di sini tidak baik karena kita tidak tahu bahaya apalagi yang menyerang." Semuanya pun kembali melanjutkan perjalanan meskipun masih merasa lelah karena berlari dari kejaran kawat-kawat tajam tadi.