Menyebalkan

1643 Kata
Djian POV Tepat pukul 5 sore, aku menyelesaikan semua pekerjaanku. Aku lalu siap-siap untuk berpamitan pulang pada Om Andaru. Pemilik rumah yang galak dan angkuh itu. Sebelum pergi mencarinya untuk berpamitan pulang, aku menyempatkan diri untuk duduk sejenak, sambil meluruskan kedua kakiku. Aku memijat pelan kaki serta bahuku. Rasanya seluruh tubuhku lelah dan pegal-pegal. Pria angkuh itu sungguh tidak berperasaan. Dia menulis banyak sekali deretan tugas yang harus aku kerjakan. Padahal rumah ini tidak kotor atau berantakan. Semua barang tertata rapi lantainya juga mengkilat bahkan bisa dipakai untuk bercermin. Pria angkuh itu pasti sengaja memberiku banyak pekerjaan, jenis majikan yang tidak mau rugi. Jika memiliki seorang pembantu tak ingin membayar sia-sia. Menyuruh pembantunya untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah seharian. Bisa istirahat hanya ketika makan siang selebihnya kerja. Jangan sampai terlihat duduk walau hanya sebentar. Uhhhh… aku kesal sekali jika memikirkan tingkah pria angkuh itu. Perlahan aku bangkit berdiri, saat rasa kakiku tidak terlalu pegal lagi seperti tadi. Aku berjalan ke arah belakang rumah, mencari keberadaan si Tuan angkuh. Aku menoleh ke kanan dan kiri, mengedarkan pandangan ke segala arah. Mataku berhenti mengedar ketika aku melihatnya sedang bermain dengan seekor kucing berwarna hitam putih. Aku sempat tidak percaya orang yang tidak berperasaan seperti dia bisa memiliki binatang kesayangan. Ahhh... aku tahu, si kucing pasti tidak sudi punya majikan galak seperti Om Andaru itu. Jika bisa memilih si kucing pasti lebih baik lepas dari rumah ini untuk mencari majikan yang lebih waras. "Om … " panggilku. Pria galak itu menoleh ke arahku. Tatapannya tajam. Kalau saja dia pria seperti pada umumnya pasti banyak wanita yang mendambakan dia. Tetapi dengan sifat buruk yang ia miliki pasti tidak ada wanita yang tahan hidup dengannya. "Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" "Memangnya siapa yang liatin kamu sih," gumamku pelan. Aku yakin dia tidak mendengar. "Ini sudah jam lima, aku mau pulang," ucapku berpamitan. "Apa pekerjaanmu sudah selesai semua?" "Om bisa periksa kalau tidak percaya, tiga kamar mandimu sudah aku cuci semua, gudangmu sudah aku rapikan. Kamar tamu juga," jelasku. "Hmmm … Bagus. Sekarang kamu boleh pulang. Oh ya besok jangan sampai telat datang. Pulang sekolah kamu harus langsung datang kemari. Makan siang di sini saja, agar tidak terlalu lama kamu buang waktu." Benar-benar majikan tidak punya hati. Apa dia pikir aku hanya perlu meletakkan tas di rumah Kakek lalu berlari ke rumahnya. "Kenapa masih berdiri di situ? Cepat pulang. Apa kamu ingin kerja lembur?!" Aku mendengkus kesal. Lalu segera memutar tubuhku dan melangkah meninggalkan halaman belakang rumah. "Tunggu Djian!" Aku menghentikan langkahku lalu berbalik ke arah Om Andaru. "Apa kamu sudah mengunci semua jendela?" "Semua beres Om, gak usah khawatir," jawabku. Pria angkuh itu lalu kembali bermain dengan kucing miliknya. Aku kembali melanjutkan langkahku menuju pintu keluar. Meninggalkan rumah besar ini, meninggalkan si Om Angkuh sendirian di dalam rumah gedong miliknya. Sebelum benar-benar pergi, aku sempatkan diri untuk menoleh ke belakang. Tiba-tiba saja hatiku merasa kasihan pada Pria angkuh itu. Dia hanya seorang diri di dalam rumah yang besar ini. Aku tahu rasanya, aku pernah merasakan. Ketika kedua orangtuaku meninggal dunia. Sebelum Paman dan Bibi menjemputku, aku seorang diri, rasanya begitu sepi. "Greek … " menggunakan kaki aku menarik jagang sepedaku. Kemudian aku kembali masuk ke dalam. Pergi ke halaman belakang mencari si pria angkuh. Saat aku mau melewati pintu belakang, tubuh kecilku menabrak tubuh tinggi Om Andaru. Aku sedikit terhuyung ke belakang. Om Andaru berdiri tinggi menjulang di depanku. Menatapku tajam. "Kamu masih di sini!" Aku mendesah, tidak bisakah dia bicara baik-baik padaku. Kenapa selalu menggunakan nada bicara menyebalkan. Aku melangkah ke dapur untuk mencari pulpen dan kertas. Sebelumnya aku melihat dua benda ini ada di atas kulkas. "Ini …. " Aku berikan satu kertas nota kecil warna biru. "Apa ini?" "Itu nomor ponselku, malam ini Om sendirian, kan. Kalau ada apa-apa hubungi aku." Entahlah mengapa aku melakukan ini semua. Dia itu pria tua, oh bukan menurut Kak Bihan pria dewasa. Seharusnya tidak masalah baginya berada dalam rumah sendirian. Pria angkuh itu masih menatap tajam ke arahku, sedikit banyak aku risih jika ditatap seperti itu olehnya. Tanpa aku duga bukanya mengatakan terimakasih, Om Andaru justru meremas kertas yang aku berikan padanya. "Hei …. Bocah," ucapnya dengan nada rendah. Ia maju selangkah ke arahku, sedikit menundukkan kepala agar bertemu mata denganku. "Kamu kira aku ini siapa? Kamu kira aku takut di rumah ini sendirian?" Ahhh aku menyesal sangat menyesal tahu begini aku tidak perlu repot-repot khawatir akan dia. Dasar tidak tahu terimakasih. Menyebalkan. "Ya sudah kalau tidak butuh!" ketusku. Aku segera pergi dari hadapan pria sombong dan angkuh ini menuju pintu keluar. "Semoga aja banyak cicak dalam kamarmu," omelku sambil berlalu pergi. Untunglah dia tidak mendengar. Kalau dia dengar pasti saat ini dia sudah meneriakiku. xxxx Akhirnya sore itu aku pulang ke rumah Kakek dengan hati kesal. Jika diingat-ingat setiap aku keluar dari rumah besar itu hatiku selalu tidak baik-baik saja. Penghuni rumah itu selalu saja membuat aku kesal setengah mati. Sepanjang jalan pulang aku tidak berhenti mengomel, meluapkan semua rasa kesalku. Hah …. Pria sombong dan angkuh, dia adalah orang pertama di desa ini yang aku berikan nomor ponselku. Seharusnya dia bersyukur aku khawatir akan dirinya. Namun, apa yang terjadi tadi. Seenaknya saja dia membuang nomor ponselku. Lihat saja kalau ada hantu yang menculiknya dia akan minta tolong sama siapa. Tunggu dulu, aku rasa tidak akan ada hantu yang datang menghampiri pria itu. Karena wajahnya itu lebih horor dari kuburan. Aku sandarkan sepeda miniku di halaman rumah Kakek. Lalu masuk ke dalam rumah setelah mencuci kaki dan tangan. "Kakek …. " panggilku. Aku ingin segera bertemu Kakek, aku ingin mengadu padanya. Tak lama Kak Bihan muncul dari pintu belakang. "Ehh … Djian sudah pulang? Gimana kerja hari ini?" tanya Kak Bihan, yang langsung membuatku menekuk wajah tanda aku tak suka dengan pertanyaan yang ia ajukan. "Wah lihat dari ekspresimu pasti seru nih," ujar Kak Bihan sambil senyum-senyum. "Kakek mana?" tanyaku balik, malas menjawab pertanyaan Kak Bihan. "Ada di belakang, mungkin lagi mandi," jawab Kak Bihan sambil duduk di sampingku. Rumah Kakek punya dua kamar mandi, satu ada di belakang rumah. Hanya Kakek yang biasa menggunakan kamar mandi itu. Sedangkan aku lebih sering memakai kamar mandi dalam rumah dekat dapur. "Kak Bihan sudah mandi?" tanyaku. Aku mencium aroma wangi sabun. "Masih tanya, gak lihat apa udah ganteng gini," jawab Kak Bihan dengan gaya sok ganteng. Aku memutar bola mata malas. Ganteng dari mana sih …. Ganteng itu penghuni rumah besar itu. Ahhhh sial! Untuk apa aku mengatakan pria angkuh itu ganteng. Sepertinya efek kelelahan membuat otakku tidak bekerja secara maksimal. Oh ya …. Kadang kala Kak Bihan ada di rumah Kakek hingga malam hari. Baginya rumah Kakek adalah rumah keduanya. Sebelum aku tinggal bersama Kakek, Kak Bihan sering menginap di rumah Kakek. "Gimana?" Kak Bihan kembali bertanya padaku. "Gimana apanya sih Kak?" "Gimana hari pertama kerja, berat gak?" "Beratlah Kak, rumah sebesar itu. Pria bernama Andaru itu menyebalkan sekali." Kak Bihan terkikik menahan tawa. "Kok Kak Bihan tertawa sih …. " "Hehehe kamu kelihatan gak suka banget sama dia. Jadi penasaran." Aku menghembuskan nafas dengan kasar. "Penasaran untuk apa? Aku kasih tahu ya Kak, kamu gak usah berurusan sama orang seperti dia. Bikin tensi naik, bikin mood jelek." "Jangan bicara seperti itu Djian," Kakek muncul dari arah belakang. "Kakek gak tahu sih … dia itu menyiksa cucumu ini secara batin," "Apapun alasannya kita gak boleh bicara tentang keburukan orang lain." ucap Kakek sambil duduk di sofa ruang tamu bergabung dengan kami berdua. Aku menghempaskan punggungku pada sandaran sofa. Kakek selalu membela orang itu. "Kamu sudah merusak barang mahal dia, dan untuk bertanggung jawab akan hal itu kamu harus bekerja untuknya. Jadi kamu harus melakukan tugas pekerjaanmu dengan baik." terang Kakek, memberiku wejangan lagi. "Aku tahu Kek, tapi sifat dia itu jelek sekali. Pertama, dia suka marah-marah gak jelas. Kedua, dia itu sombong dan angkuh. Ketiga, dia memberikan tugas pekerjaan yang tidak masuk akal." kataku memberi alasan pada Kakek kenapa aku sangat gak suka dengan pria bernama Andaru itu. "Pekerjaan gak masuk akal gimana Djian?" tanya Kak Bihan penasaran. "Kamu tahu kan Kak, badan dia itu tinggi besar. Dia juga sok galak gitu, tapi dia itu takut sama cicak." "Hahahah …. " gelak Kak Bihan. "Saat aku baru datang dia teriak-teriak, aku dipaksa masuk kamar mandinya. Ternyata di kamar mandi ada satu cicak, dan aku disuruh cari cicak itu sampai ketemu hidup atau mati. Jadi aku menghabiskan banyak waktu hanya buat cari seekor cicak yang sudah kabur entah kemana. Masuk akal gak sih?" Kak Bihan kembali tertawa. "Jadi ketemu gak cicaknya?" tanya Kak Bihan. "Ya untung saja ketemu kalau tidak aku pasti gak diizinkan pulang." jawabku. Kemudian aku lanjut bercerita pada Kakek dan Kak Bihan tentang si pria angkuh yang menolak nomor ponselku. Sepanjang aku berceloteh kak Bihan tidak berhenti tertawa. Baginya keluh kesahku itu lucu. Kakek hanya menggeleng kepala pelan, lalu kemudian bangkit berdiri dari sofa. "Jadi Kakek lebih baik kita telpon Paman dan Bibi, minta bantuan mereka saja ya … " Aku berdiri mengikuti kemana arah gerak tubuh Kakek. "Sudah Kakek bilang jadikan ini untuk belajar tanggung jawab. Selagi kita bisa mengatasi sendiri kenapa harus merepotkan orang lain." "Tapi Kek, aku tidak yakin tahan tiga bulan kerja sama orang itu. Orangnya menyebalkan sekali Kek." "Kamu harus belajar sabar Djian, kamu harus sabar menghadapi dia. Lakukan tugasmu dengan baik. Kakek akan bangga sekali jika cucu kakek ini bisa bertanggung jawab dengan masalahnya sendiri." Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Lagi pula apa yang Kakek katakan ada benarnya juga. Tidak mungkin aku menghubungi Paman dan Bibi hanya untuk minta uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Jadi sekarang ini mau tak mau aku memang harus bersabar, bekerja pada pria angkuh itu untuk bertanggung jawab atas kecerobohanku. Ahhhh... belum-belum aku sudah membayangkan apa yang akan terjadi untuk esok hari. Hal konyol apa lagi yang akan dia perintahkan padaku. Bersambung ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN