5. Feel Like Flying

1885 Kata
Suasana kantor masih aman tentram penuh kedamaian. Hari ketiga tanpa kehadiran Bos pembawa teror. Aku tersenyum sendiri. Bisa dipastikan hari ini dia pasti belum bisa masuk kerja. Setelah kepikiran mau meninggalkannya yang hampir sekarat, akhirnya aku melunakkan sedikit egoku dengan meminta bantuan Sapri mengantarnya ke dokter praktek. Bukan sakit yang parah-parah amat sih. Cuma demam gara-gara kecapean. Itu aja. Tapi gayanya sudah mirip orang yang sakit keras. Dengan melihat kondisinya yang agak memprihatinkan, sepertinya hari ini dia juga belum bisa masuk kerja. Semoga aja sampai seminggu ke depan akan tetap begitu. "Ehem...selamat pagi semuanya." Sesosok manusia dengan wangi parfum yang begitu menggoda tiba-tiba melewati kubikelku. Suaranya terdengar serak-serak menggoda. Aku segera menoleh mencari sumber suara. Astaga! Orang yang ada di pikiranku ternyata sekarang jadi nyata! "Pagi Pak Revano, sudah baikan?" Marsha berdiri dari duduknya sambil berjalan mendekatinya. "Meeting lima menit lagi! Jangan lupa persiapkan diri kalian." Dia berjalan dengan mantap menuju ruangannya dan meninggalkan Marsha yang hanya bisa gigit jari karena dicuekin. Buruk! Ini benar-benar buruk! Aku bahkan belum memiliki nama calon nasabah satupun! Semoga Pak Revano ingat jasa baikku karena mengantarnya ke dokter dan tidak mempermasalahkan kenapa aku tidak bisa memberikan nama calon nasabah untuknya. Rasanya lima menit belum saja berlalu, tiba-tiba saja semua tim marketing telah berkumpul di ruangannya. Dan wajah Pak Revano yang terlihat jauh lebih sehat dari terakhir kali bertemu malah membuat aku grogi. Dia seperti singa yang siap menerkam mangsanya. "Sebelumnya maaf karena dua hari ini saya nggak bisa masuk kerja dan memantau pekerjaan kalian." Dia membuka meeting-nya. "Ada kabar penting yang harus saya sampaikan pada kalian hari ini," lanjutnya. Semoga berita pengunduran dirinya. "Kabar yang sangat membuat saya bangga pada kalian. Yes, we got A for this month." Dia tersenyum lebar saat mengucapkannya dan entah kenapa semua yang ada si ruangan ini refleks bertepuk tangan dengan kerasnya, terkecuali aku yang hanya bisa bengong. "Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa buat saya yang baru satu bulan di cabang ini. Semua target terpenuhi, dan ini hasil kerja keras kalian." "Untuk merayakan keberhasilan kalian, bagaimana kalau saya mengundang kalian ke rumah saya malam ini? Kebetulan besok juga libur," katanya. Apa maksud dari perkataannya? "Mungkin sedikit barbeque party." Matanya melirik ke arahku sekilas dan kemudian segera berpaling. Tiba-tiba sekujur tubuhku merinding. "Boleh banget, Pak!" seru Alex dengan semangat. Yang lain juga ikut menimpali dengan semangat. Bahkan Mbak Lana yang setahuku sedang memusuhinya mendadak berseru dengan nyaring. "Tapi saya nggak tahu rumah Bapak," ujar Marsha. "Tanya aja sama Sapri. Atau nanti saya share di grup Wattsapp alamat lengkapnya," sahutnya. Marsha tersenyum lebar mendengarnya seperti sudah mendapatkan tangkapan besar. "Nanti bakal saya bicarakan dengan team operation juga. Oke sudah jelas semuanya ya. Jam tujuh malam di rumah saya." Dia menutup meeting. Puji syukur aku panjatkan, dia sama sekali lupa dengan nama-nama calon nasabahnya. Semoga besok juga begitu. "Rea, jangan keluar dulu. Ada hal yang mau saya bicarakan." Aku menghentikan langkah saat semua teman-temanku telah meninggalkan ruangan. "Ada apa, Pak?" Aku membalikkan badan dan tetap pada posisiku. Apa dia mau memberikan penghargaan karena aku telah menolongnya kemarin? Seingatku dia belum mengucapkan terimakasih padaku. "Gimana dengan Pak Andre?" tanyanya. Aku bengong beberapa saat. "Ohh...sudah Pak! Kemarin sudah transfer dananya dari bank lain," sahutku. Dia tersenyum dengan raut wajah aneh. Apaan sih wajah seperti itu, mirip om-om genit yang minta diperhatiin. "Bagus. Ayo temanin saya ketemu dengan Pak Andre," katanya kemudian. What?! "Buat apa, Pak?" tanyaku bingung. Ngapain dia ngajak aku ketemuan dengan nasabah yang sudah berhasil kuprospek. Mau bantu apa lagi sih. "Buat menjalin hubungan baik dengan nasabah, Rea. Bukan berarti setelah kamu berhasil mengambil hati nasabah, bakal kamu tinggalin begitu aja," sahutnya. Nggak nyambung banget jawabannya. "Tapi, Pak...." "Sapri sudah nunggu di bawah. Ayo." Tanpa menunggu persetujuan, dia segera beranjak dan meninggalkanku. Lagi-lagi dia mengganggu acara sarapan pagiku! *** "Saya baru tahu kalau Pak Andre itu masih keluarga jauh kamu," katanya saat di mobil. Benar-benar menyebalkan Bos yang satu ini. Semua hal pribadipun dibicarakan dengan nasabah. Apa pentingnya juga buat dia. "Iya, keluarga jauh Ibu saya. Saya juga baru tahu setelah beberapa kali ngobrol," sahutku jengah. "Pantasan dia mau pindah ke kita ya," timpalnya. "Nggak gara-gara itu juga sih, Pak. Saya sudah prospek dari awal tahun dan dia belum juga berminat," sahutku kesal. Jadi maksudnya aku nggak ada usaha apa-apa gara-gara nasabahnya masih ada hubungan keluarga? "Ngomong-ngomong saya lapar. Ayo kita makan dulu," ujarnya seperti mengalihkan pembicaraan. Aku diam tidak menanggapi ucapannya. "Bapak aja, kebetulan saya bawa bekal dari rumah," tolakku. Ini Bos nggak ada kerjaan selain ngajak aku makan? "Ohh...saya kira kamu disini ngekost. Rumahmu dimana?" Pertanyaannya semakin terdengar menyebalkan. Aku menarik napas panjang, menandakan kalau aku tidak tertarik dengan pertanyaannya. Bukan artinya jika aku tahu alamat rumahnya, dia juga harus tahu alamatku. "Saya tahu, Pak!" Tiba-tiba terdengar suara nyaring Sapri dari balik kemudi. Aku mendesis. "Nggak harus sekarang juga ke rumah saya, Pak. Mau ngapain juga," kataku kesal. Pak Revano terkekeh dengan sangat menyebalkan. "Sekarang sih nggak, lain kali mungkin. Ya, kan, Sapri?" Lagaknya dengan Sapri seperti teman satu kompleks aja. "Ya sudah kalau gitu. Kamu ikut saya ke rumah sebentar, beres-beres buat acara nanti malam. Kamu sama Sapri, cukuplah buat bantu-bantu saya," ujarnya tanpa perasaan bersalah. "Bekalnya kamu makan di rumah saya saja," lanjutnya. Sepertinya bubuk cabe lumayan buat naburin mulutnya yang selalu buat emosi. *** Jam telah menunjukkan pukul enam sore saat Sapri memarkirkan mobil di halaman kantor. Suasana kantor tampak sepi, sepertinya semua karyawan sudah pulang. Tubuhku terasa lengket karena keringat. Tahu apa penyebabnya? Apa lagi kalau bukan gara-gara diperdayakan membereskan rumah Pak Revano. Aku menghela napas kesal sambil membuka pintu mobil. Bos bego! Apa dia pikir aku ini semacam asisten rumah tangganya? "Absen dulu sana, kamu pulang sama saya aja," katanya sebelum aku turun dari mobil. "Saya pulang pakai busway atau metromini aja, Pak. Rumah kita nggak searah," tolakku. Aku sudah lumayan kesal menghadapi si Bos untuk hari ini dan mau mengistirahatkan mataku sejenak dari sosoknya. "Memangnya siapa yang mau jemput kamu buat acara nanti?" tanyanya. Aku berpikir sejenak. Mungkin Alex mau menjemputku? "Sama Alex, Pak," sahutku. "Alex sudah saya suruh jemput Marsha. Kebetulan rumah mereka searah," ujarnya. "Maksudnya nanti Bapak mau jemput saya?" tanyaku bingung. "Nggaklah. Memangnya saya kurang kerjaan. Maksudnya sekarang saya antar kamu pulang sekalian nungguin kamu beres-beres. Setelah itu kita bareng ke rumah saya," tawarnya. Aku memutar bola mataku sambil memikirkan tawaran Pak Revano. "Kalau kamu kelamaan mikir, mending pulangnya bareng Sapri aja." Dia turun dari mobil dan menuju mesin finger print. Maksudnya apa menyuruhku pulang dengan Sapri? Rumah Sapri, kan, di belakang kantor ini. "Ya sudah, saya ikut Bapak aja pulangnya," kataku setelah mengejar langkahnya. Dia menoleh ke arahku sejenak sambil berguman. Kalau nggak mikir ada acara di rumahnya, aku pasti nggak bakalan mau pulang bersamanya. Mending pulang dengan santai sambil menikmati jalan yang macet. "Rumahmu dimana?" tanyanya setelah keheningan selama beberapa menit. Aku menoleh, maunya sih sok jual mahal kayak cewek-cewek lain yang diajak kenalan dan ditayain rumahnya dimana. Tapi kalau yang ngajak kenalan macam bos yang satu ini sih, nggak ada faedahnya kalau mau sok jual mahal. "Mampang, Pak," sahutku singkat. "Duh, jam segini pasti macet tuh." Kerutan di keningnya bertambah saat dia mengucapkannya. "Makanya saya nggak mau diantar pulang, Pak," kataku tidak enak. "Kamu bisa telepon orang rumahmu aja?" Dia menoleh ke arahku sekilas. "Buat apa, Pak?" "Kasih tahu kalau kamu telat pulang. Kita langsung aja ke rumah saya," ujarnya. "Nggak mau, Pak! Masa saya gini-gini aja, nggak mandi, nggak ganti baju," tolakku. Seketika terdengar tawa mengejek memenuhi mobil. "Cuma saya aja yang tahu." Masih tersisa senyum mengejek di bibirnya. Aku tersenyum masam. "Antar saya pulang dulu, Pak," pintaku memelas. "Saya sih nggak masalah kalau kita telat. Tapi kasihan sama yang lain kalau nunggu kelamaan." Dia sama sekali tidak memberikan solusi apapun "Kamu bisa mandi di rumah saya." Katanya memberikan pilihan. Mandi di rumahnya?! Ogah! "Nggak ada pilihan lain ya, Pak?" tanyaku dengan suara pelan. "Enggak ada," jawabnya singkat dan seketika itu juga dia memutar balik mobilnya. Ohhhh tidak! Masa aku nggak ganti celana dalam! Ini benar-benar nggak adil. Di saat teman-temanku yang lain datang dengan wajah segar dan wangi, aku harus meratapi keadaanku yang sudah mirip gembel ini. Alex menatapku dari ujung kaki hingga kepala. Aku sampai harus menjewer telinganya agar dia menghentikan tindakan bodohnya itu. "Lo punya baju kaya gini selusin ya?" tanyanya dengan wajah lugu. Aku melengos. "Berisik! Sana bantu yang lain di belakang," usirku. Alex kemudian memutari rumah Pak Revano dan menuju halaman belakang yang sudah disulap menjadi tempat barbeque party. Sedangkan aku masih leyeh-leyeh di sofa ruang tamu sambil memainkan ponsel. Ini sudah cukup adil, seharian aku sudah bekerja keras membereskan rumah ini. Beberapa teman-teman kantorku mulai berdatangan. Pak Revano sepertinya telah berada di halaman belakang rumahnya setelah tadi gagal memaksaku untuk mandi. Mendingan nggak usah mandi sekalian daripada numpang mandi di rumah bos. Bosan dengan aktivitasku yang membuatku begitu mengantuk, aku menyusul ke halaman belakang. Hampir semua sudah berkumpul di sana. Sepertinya hanya aku saja yang belum menyusul. Semuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mbak Lana melumeri daging dengan bumbu buatannya, Marsha sedang berada di sebelah Pak Revano membantunya mengipasi daging yang sedang dibakar. Mbak Via sedang membuat minuman dingin. Nina, Alex, dan yang lainnya terlihat sibuk. Saat ini aku merasa seperti bos yang sedang mengawasi anak buahnya bekerja. Sungguh terasa menyenangkan. Aku menghampiri Alex yang terlihat tidak seberapa sibuk dibanding yang lain. Kerjaannya hanya mengupas jagung dari kulitnya. "Santai banget," katanya dengan wajah sinis. "Enak aja! Dari pagi tuh gue yang paling sibuk. Tahu nggak kenapa rumput di halaman ini bisa rapi, itu gara-gara gue," sahutku tidak terima. "Jadi wajar dong kalau sekarang gue santai-santai sambil nunggu makanan jadi." Aku terkikik sambil mengambil botol minuman dingin di sebelahku. Sepertinya minuman Alex, tapi belum sempat diminumnya karena masih tersegel rapi. "Enak. Minuman apaan nih, Lex?" tanyaku sambil menjilat sisa minuman di bibirku. Aku meneguknya sekali lagi. Kontan wajah Alex langsung pias. Dia merebut minumannya dan menyembunyikan di balik bajunya. "Minuman apaan sih?!" tanyaku penasaran sambil menyeka mulutku. "Ssstttt....!" Alex memberi kode dengan jari telunjuknya. "Sudah lo jauh-jauh sana." "Sial! Lo bawa minuman beralkohol ya?" tanyaku berang karena melihat sikap Alex yang aneh. "Sssttt....buat senang-senang aja. Nggak gue bagi-bagi buat yang lain kok," katanya membela diri. "Awas ya lo, gue laporin ke Pak Revano!" Ancamku sambil beranjak. "Please, jangan ya Re. Tar gue traktir lo makan siang selama seminggu deh," tawarnya. Aku tersenyum licik dan memberikan kode setuju. Mendadak kepalaku terasa panas dan mataku mulai berat. Alex sialan! Pasti gara-gara minumannya tadi. Padahal tadi aku hanya minum beberapa teguk. Aku berjalan menjauhi halaman belakang dan menuju ruang tamu, tempat yang bisa kugunakan untuk berbaring sejenak. Aku harus tidur untuk menghilangkan pusing di kepalaku. Bukan hanya kepalaku yang terasa panas, tapi seluruh tubuh. "Kamu kenapa?" Seseorang tiba-tiba menghalangi jalanku. Aku membuka mata dengan susah payah. Sosoknya terlihat samar dan seperti mau menyentuh lenganku. "Mau tidur, ngantuk...." Mataku terasa semakin berat dan kepalaku bertambah pusing. "Ya sudah, kamu tidur di kamar aja." Sosok itu merangkul tubuhku dan menuntunku berjalan. Aku membalas rangkulannya dengan memeluk tubuhnya erat. Semakin lama semakin berat, semakin mengantuk. Dan rasanya tubuhku melayang ditemani aroma mint yang begitu menenangkan.(*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN