38. Resign

1405 Kata

Aku menatapnya dan selang beberapa detik kemudian dia balas menatapku, yang akhirnya segera kusudahi karena terlihat seperti orang yang kurang kerjaan. "Aku nggak mau turun," kataku setengah berbisik. Revano menatapku lagi tanpa membalas perkataanku. "Ini hari terakhir kamu bekerja, masa nggak mau pamitan," cetusnya. Aku menarik napas panjang. Setumpuk undangan yang berada di tanganku tidak sebanding dengan keberanianku untuk menyerahkannya kepada teman-teman kantorku. "Mas aja...," rengekku kemudian. "Loh kantorku kan sudah nggak di sini lagi. Ayo buruan turun. Nanti kita sama-sama telat," katanya. "Tapi...." Aku menahan ucapanku. "Atau jangan-jangan kamu masih pengen bareng aku ya?" Dia tersenyum menggoda. Kontan aku mencubit pergelangan tangannya. "Jangan khawatir, besok aku jug

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN