Diantar Mantan ?

1149 Kata
Langkah Nariah terasa cepat… nyaris berlari. Jalanan yang tadi sunyi perlahan ia tinggalkan. Ia memilih arah yang lebih terang, berharap menemukan keramaian. Bayinya masih dalam pelukan, wajah kecil itu terbangun dan mulai merengek pelan, mungkin merasakan detak jantung ibunya yang tidak tenang. “Sebentar ya, Nak… kita cari tempat aman dulu…” bisiknya lirih, berusaha menenangkan. Nafasnya masih tidak beraturan. Sesekali ia menoleh ke belakang. Takut. Kalau pria itu mengejarnya. Kalau mobil itu muncul lagi dari kegelapan. Tangannya menggenggam tas lebih erat, sementara langkahnya tidak berhenti. Akhirnya, dari kejauhan terlihat cahaya lebih terang. Beberapa warung kecil. Orang-orang duduk, berbincang. Motor lalu lalang.Nariah langsung mengarah ke sana. Begitu sampai, ia sedikit melambat. Bahunya turun perlahan, seolah beban besar di dadanya mulai berkurang. Ia berdiri di dekat salah satu warung, mencoba mengatur napas. Keringat dingin masih membasahi pelipisnya. Seorang ibu-ibu yang sedang duduk sempat melirik. “Mbak, nggak apa-apa?” tanyanya. Nariah mencoba tersenyum tipis. “Iya… nggak apa-apa, Bu…” jawabnya pelan, meski suaranya masih bergetar. Ia tidak ingin menarik perhatian lebih. Tidak ingin menceritakan apa yang baru saja terjadi. Yang penting sekarang… Ia selamat. Anaknya selamat. Nariah lalu duduk sebentar di bangku kayu pinggir warung, mengayun pelan bayinya yang mulai tenang kembali. Matanya sempat menerawang. Kejadian tadi masih jelas di pikirannya. Menakutkan. Namun juga… Menyadarkannya. Bahwa dunia di luar sana tidak selalu aman. Dan ia… harus lebih kuat. Setelah beberapa menit, Nariah kembali berdiri. Langit sudah benar-benar gelap. Ia menarik napas dalam, lalu melangkah lagi. Menuju rumah. Menuju tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman baginya. Meski di dalam hatinya… Masih ada perasaan yang belum terselesaikan. Tentang Dorman. Tentang dirinya. Namun satu hal yang pasti— Malam ini, ia berhasil melewati sesuatu yang jauh lebih menakutkan… seorang diri. Lampu halte menyala redup. Nariah duduk di bangku besi yang dingin, memeluk bayinya erat-erat. Di sampingnya, kantong belanja terlihat menumpuk sederhana. Tak ada yang tahu… Baru saja ia melewati kejadian yang hampir merenggut harga dirinya. Air matanya jatuh tanpa suara. Satu… dua… lalu semakin deras. Ia menunduk, berusaha tidak menarik perhatian orang lain di halte itu. Namun bahunya sesekali bergetar. “Ya Allah… lindungi kami…” bisiknya lirih. Bayinya kembali terlelap di pelukan, seolah menjadi satu-satunya kekuatan yang membuatnya tetap bertahan. Angin malam berhembus pelan. Suasana terasa sepi meski ada beberapa orang yang menunggu bus. Namun di tengah kesendiriannya… Sebuah motor berhenti di depan halte. Seorang pria menurunkan kaca helmnya, lalu memperhatikan Nariah beberapa detik. “Kamu… Nariah?” tanyanya ragu. Nariah mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sembab. Ia mencoba fokus menatap pria itu. Dan seketika… Ia mengenalinya. “Mas… Rendi?” suaranya pelan, hampir tidak terdengar. Pria itu mengangguk. Ternyata benar, ia adalah tetangga satu kampung mereka dulu. “Ya Allah, kamu kenapa? Kok sendirian malam-malam begini… sama bayi lagi?” tanya Rendi, nadanya penuh khawatir. Nariah menunduk lagi. Ia tidak langsung menjawab. Ada banyak hal yang ingin ia ceritakan… tapi lidahnya terasa kelu. “Ayo… kamu mau ke mana? Pulang? Aku antar saja,” lanjut Rendi dengan tulus. Nariah terdiam sejenak. Ia melirik ke jalan. Bus yang ditunggu belum juga datang. Sementara tubuhnya masih lelah. Hatinya masih kacau. Dan ia tidak ingin berlama-lama di tempat terbuka seperti ini. Akhirnya… Ia mengangguk pelan. “Iya… Mas… ke arah rumah…” jawabnya lirih. Rendi segera turun dari motor, membantu memegang kantong belanja. “Hati-hati… kamu bawa bayi,” ucapnya. Dengan perlahan, Nariah naik ke motor, tetap memeluk bayinya erat-erat. "Iiya Mas."Nariah nampak hati-hati. Motor itu pun melaju meninggalkan halte. Membawa Nariah pulang… Dengan perasaan yang masih berantakan. Namun setidaknya… Malam ini, ia tidak lagi sendirian di jalan. Flash back. 2 tahun lalu Nariah berangkat ke luar negeri, di sana dia menjadi pelayan restoran. Dan bertemu Rendi. Di sana. Hingga mereka pun saling jatuh cinta. Kebetulan mereka satu kampung. Saling kenal 6 bulan akhirnya mereka menikah sirri di sana. Dengan wali nikah menikahkan secara virtual. Namun pernikahan tak berlangsung lama. Setelah mereka menikah 2 bulan. Tiba-tiba Nariah menerima kabar bahwa Rendi ternyata Rendi sudah beristri. Dan saat itu anaknya sedang sakit parah hingga membutuhkan biaya. Orang tua Rendi mengetahui pernikahan siri Nariah dan Rendi. Sehingga marah besar. Akhirnya Nariah mengalah dan meminta cerai dengan Rendi. Namun ternyata, setelah bercerai. Nariah sudah terlanjur mengandung benih hasil pernikahannya dengan Rendi. Nariah memilih untuk merahasiakan semuanya dari Rendi. Dia sadar bahwa dia juga salah karena menikah dengan suami yang sudah beristri. Hingga Nariah tak memperpanjang masa kerjanya. Dan pulang ke Indonesia. Hingga akhirnya menikah dengan Dorman Flashback off ****** Rendi nampak menatap nanar "Riah, itu...anak kamu?"Tanya Rendi sambil mengernyitkan keningnya. "Bbukan mas,"jawab Nariah menggeleng pelan.Dia tak mau jika Rendi mengetahui itu anaknya dan mulai memperkeruh semuanya. "Oh, keponakan kamu ya."Rendi dengan senyum sekilas. Tak ada jawaban dari Nariah, dia hanya menatap kosong dan hampir berkaca-kaca. Bagaimana pun, mereka pernah menikah. Dan kini dia melahirkan anak dari Rendi. "Sudah mas disini saja."Nariah menghentikan motor Rendi. "Kamu, tinggal di sini?"Tanya Rendi. "Iya Mas, terimakasih banyak ya, atas tumpangannya. Salam sama keluarga."Nariah berjalan dengan langkah cepat menuju pagar rumahnya. Di depan pintu pagar..Dorman berdiri. Diam, namun tatapannya tajam. Sorot matanya langsung tertuju pada Nariah… lalu berpindah pada pria yang mengantarnya. Rendi. Rahang Dorman mengeras. Tangannya mengepal tanpa sadar. Rasa lega karena Nariah pulang… seketika tertutup oleh sesuatu yang lain. Cemburu. Marah dan curiga. “Dari mana?” suara Dorman terdengar datar… tapi penuh tekanan. Nariah terdiam. Belum sempat menjawab, Rendi lebih dulu bicara dengan sopan. “Maaf, Mas… saya cuma bantu nganter. Tadi ketemu Nariah di halte, dia sendirian bawa bayi…” Namun Dorman tidak langsung merespon. Matanya masih menatap tajam ke arah Rendi. Seolah tidak percaya begitu saja. Nariah menunduk. Hatinya masih lelah. Nariah menunduk hatinya masih lelah. Air matanya bahkan belum benar-benar kering. “Terima kasih, Mas…” ucap Nariah pelan pada Rendi, suaranya masih serak. Rendi mengangguk. “Iya… hati-hati ya. Kalau butuh apa-apa, bilang aja,” katanya tulus, lalu kembali menyalakan motor dan pergi. Suasana langsung berubah hening. Hanya tersisa Nariah dan Dorman. Dan udara yang terasa berat. Dorman melangkah mendekat. “Hebat ya…” ucapnya pelan, tapi jelas terdengar sinis. Nariah mengangkat wajahnya sedikit, bingung. “Maksudnya?” Dorman tersenyum tipis… tapi tidak ada kehangatan di sana. “Pergi nggak bilang-bilang… pulang diantar laki-laki lain.” Kalimat itu seperti menampar. Nariah terdiam..Dadanya terasa sesak. Bukan karena bersalah. Tapi karena lelah. Karena apa yang ia alami hari ini… jauh lebih berat dari tuduhan itu. “Mas…” suaranya lirih. Namun Dorman memotong. “Aku tunggu dari tadi. Kamu ke mana?” Nada suaranya mulai meninggi. Emosi yang sejak tadi ia tahan… akhirnya keluar. Nariah menggenggam lebih erat bayinya. Matanya mulai berkaca-kaca lagi. Namun kali ini… Bukan karena takut. Melainkan karena kecewa. Ia menatap Dorman. “Mas… aku hampir…” suaranya terhenti. Ia tidak sanggup melanjutkan. Air mata kembali jatuh. Namun Dorman masih berdiri dengan emosi yang belum reda. Belum tahu. Belum mengerti. Bahwa wanita di hadapannya. Baru saja berjuang mati-matian untuk pulang. Dalam keadaan selamat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN