Ruang tengah diterangi cahaya redup dari televisi. Suara film mengalun pelan, menciptakan suasana yang hangat… namun juga canggung.
Dorman duduk bersandar di sofa, matanya menatap layar, meski pikirannya entah ke mana.
Tak lama,langkah pelan terdengar.
Nariah datang menghampiri Dorman yang tengah duduk di sofa.
Dengan tenang, ia duduk di samping Dorman. Jarak mereka begitu dekat, hingga aroma lembut dari tubuh Nariah kembali mengusik indera pria itu."Belum tidur bang."
Dorman sedikit menegang.
Namun ia tetap berpura-pura fokus pada televisi."Euhh belum."
“Adegannya bagus ya, Bang…” ucap Nariah pelan, mencoba membuka suasana.
“Iya…” jawab Dorman singkat.
Gengsi masih jelas terasa.
Namun di balik itu, jantungnya berdegup tidak karuan. Darahnya terasa mengalir lebih cepat dari biasanya. Setiap gerakan kecil Nariah di sampingnya justru membuatnya semakin sadar akan keberadaan wanita itu.
Nariah tidak menyerah, dia sudah jatuh hati pada Dorman sejak pertama kali dipertemukan.
Ia tetap duduk di sana, meski Dorman seolah tak menghiraukannya, sesekali melirik Dorman dengan senyum tipis, mencoba mencairkan jarak yang selama ini ada di antara mereka.
Hingga di layar televisi, muncul adegan romantis. Suasana mendadak terasa berbeda."Glek."Dorman menelan salivanya.
Hening… namun penuh ketegangan.
Tanpa sadar, napas Dorman berubah lebih berat.
Matanya masih ke layar, tapi pikirannya justru teralihkan.
Perlahan, ia menoleh. Nariah ada di sampingnya.
Begitu dekat.
Wajahnya, bibirnya matanya.
Semuanya terasa begitu nyata.
Jantung Dorman berdegup semakin kencang. Dan tanpa benar-benar ia rencanakan.
Tangannya terangkat. Ia menangkup wajah Nariah dengan lembut.
Nariah terkejut. Matanya membesar, napasnya tertahan.
“Bang…” bisiknya lirih.
Namun Dorman tidak mundur.
Tatapannya dalam… penuh sesuatu yang selama ini ia tahan.
Perlahan, ia mendekat.
Dan untuk pertama kalinya, Ia mencium istrinya sendiri. Ciuman Dorman berawal lembut, namun lama kelamaan ciuman itu berubah ganas. Nariah yang amatir nampak berusaha mengikuti permainan lidah Dorman.
Seolah dua hati yang lama terpisah, akhirnya saling menemukan.
Saat Dorman menjauh, napas keduanya sama-sama tak beraturan."Hah hahh. hahh."Sekian detik bibir mereka tertaut, begitu erat. Saling mengungkapkan perasaan mereka. Tanpa kata.
"Maaf, Aku...khilaf."Dorman dengan tatapan meredup.
"Kenapa minta maaf bang, Aku milik Abang,"lirih Nariah.Suaranya sedikit tertahan.
Sunyi kembali menyelimuti ruangan.
Namun kali ini, bukan sunyi yang dingin.
Melainkan awal dari sesuatu yang perlahan mulai berubah di antara mereka.
Nariah duduk diam beberapa detik, jantungnya masih berdebar kencang. Perlahan, ia memberanikan diri mendekat… lalu menyandarkan kepalanya di bahu Dorman.
Tubuh Dorman sedikit menegang.
Namun kali ini… ia tidak menolak.
Bahkan tanpa sadar, ia membiarkan Nariah tetap di sana.
Keheningan yang tercipta terasa berbeda, lebih lembut, lebih dekat.
Napas keduanya perlahan mulai teratur, namun getaran di d**a Dorman belum juga mereda. Ia bisa merasakan hangat tubuh Nariah, aroma rambutnya, dan ketenangan yang selama ini tak pernah ia sadari.
Untuk sesaat…
Semuanya terasa, benar.
Hingga suara dari arah pintu terdengar."Tok… tok… tok…"
Nariah menatap ke arah pintu dengan kaget. Sementara Dorman mengernyit, jelas merasa terganggu.
“Siapa malam-malam begini…” gumamnya.
Ketukan itu kembali terdengar. Kali ini sedikit lebih keras.
Tok! Tok! Tok!
Nariah berdiri perlahan.
“Aku lihat dulu ya, Bang.” ucapnya pelan.
Dorman hanya mengangguk, meski raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan karena suasana tadi terputus begitu saja.
Nariah berjalan menuju pintu.
Tangannya sedikit gemetar saat meraih gagang pintu. Entah kenapa, firasatnya tidak enak.
Perlahan… pintu dibuka.
Dan benar saja.
Nariah langsung terdiam.
Di hadapannya berdiri Selvi.
Wanita itu tersenyum tipis, seolah sudah yakin akan menemukan sesuatu di rumah ini.
“Malam, Mbak…” sapanya santai.
Jantung Nariah kembali berdegup tak karuan.
Di dalam, Dorman yang mendengar suara itu langsung menoleh tajam.
Wajahnya berubah.
Kaget… sekaligus tidak nyaman.
“Ada Mas Dorman?” tanya Selvi tanpa basa-basi.
Nariah menatapnya beberapa detik.
Lalu dengan perlahan… ia mengangguk kecil.
“Ada…” jawabnya pelan.
Suasana hangat yang tadi sempat tercipta.
Kini seketika berubah tegang.
"Selvi? Mau apa kamu kesini?"Dorman dengan mata terbelalak keget.
"Aku ... ya nemuin Mas Dorman lah, siapa lagi."Selvi dengan senyum dan mata berbinar. Sementara Nariah meremas tangannya.
Selvi melangkah masuk sedikit, seolah tak merasa bersalah.
“Aku kan tadi bilang mau datang lagi, Mas…” jawabnya santai, senyum tipis terukir di bibirnya.
Dorman menghela napas kasar. Tatapannya tajam, jauh berbeda dari sikapnya saat di tempat karaoke.
Sementara itu, Nariah memilih diam.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan masuk ke dalam kamar. Tangannya sedikit gemetar, namun ia berusaha tetap tenang.
Di dalam, bayinya masih tertidur pulas.
Nariah duduk di tepi ranjang, menatap wajah kecil itu.
Suara dari luar samar terdengar… namun ia tidak ingin ikut campur.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena ia sedang menjaga hatinya sendiri.
Di ruang tengah, suasana mulai memanas.
“Selvi, ini rumah gue. Bukan tempat buat hal kayak gini,” kata Dorman tegas, suaranya rendah namun penuh tekanan.
Selvi mengangkat alis.
“Loh, kok galak banget? Kemarin aja santai…” balasnya ringan.
“Itu kemarin. Sekarang beda,” potong Dorman cepat.
Selvi melangkah lebih dekat.
“Aku cuma mau ketemu kamu, Mas. Ada yang mau aku omongin…”
Namun Dorman mundur satu langkah, menjaga jarak.
“Gak ada yang perlu diomongin. Dan gak ada alasan kamu ke sini,” ucapnya dingin.
Selvi terdiam sejenak.
Untuk pertama kalinya, ia melihat keseriusan di wajah Dorman.
“Mas… aku.”
“Keluar.”
Satu kata.
Tegas.
Tak memberi ruang untuk bantahan.
Selvi menatapnya, sedikit tidak percaya.
“Kamu serius ngusir aku?” tanyanya, nada suaranya berubah.
Dorman tidak ragu.
“Iya. Keluar sekarang.”
Suasana menjadi hening.
Beberapa detik berlalu…
Akhirnya Selvi mendengus pelan, lalu tersenyum sinis.
“Iya deh… santai aja. Gak usah segitunya,” katanya sambil berbalik.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia sempat melirik ke arah kamar dimana Nariah berada. "Lihat saja mas, aku akan mendapatkan kamu."Dalam hati Selvi. Dia pun bergegas menuju pintu dan membantingnya.
Seolah menyadari sesuatu.
Atau mungkin… merencanakan sesuatu.
Pintu akhirnya tertutup. Dorman berdiri diam di tempatnya.
Napasnya berat.
Tangannya mengepal.
Entah kenapa… kedatangan Selvi malam ini terasa seperti awal dari masalah yang lebih besar.
"Gagal dech, malam ini."
Di dalam kamar, Nariah memejamkan mata. Ia mendengar semuanya. Dan meski Dorman telah memilih untuk mengusir wanita itu. Ada luka yang tetap tertinggal.
Namun kali ini, Ia tidak menangis.
"Sudah tidur?"Tanya Dorman pelan.
"Belum bang,"lirih Nariah sambil menunduk.
Dorman berdiri di ambang pintu beberapa detik. Ada perasaan yang sulit ia jelaskan.
Rasa bersalah, penyesalan,
dan sesuatu yang semakin kuat tumbuh di dalam dadanya.
Langkahnya mendekat perlahan.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap wajah Nariah dari jarak yang begitu dekat. Rambut hitam itu sedikit menutupi pipinya. Bibirnya yang tadi berwarna merah kini tampak lebih lembut.
Tanpa sadar, Tangan Dorman terangkat.
Dengan hati-hati, ia menyibakkan rambut yang menutupi wajah Nariah. Lalu jemarinya menyentuh pipi wanita itu dengan lembut.
Hangat. Nyata.
“Nariah…” bisiknya pelan.
Sentuhan itu membuat Nariah sedikit bergerak.
Alisnya berkerut halus, lalu perlahan matanya terbuka.
Pandangan mereka bertemu.
Untuk sesaat… tidak ada kata.
Hanya tatapan.
“Iya bang…” suara Nariah masih lirih, setengah sadar.
Dorman menatapnya dalam.
Ada sesuatu di matanya yang berbeda malam ini, tidak lagi dingin… tidak lagi acuh.
Melainkan penuh perasaan yang selama ini tersembunyi.
“Maaf…” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.
Nariah terdiam. Jantungnya kembali berdegup pelan, namun kali ini bukan karena cemas, melainkan karena sesuatu yang mulai ia rasakan kembali.
Dorman masih mengelus pipinya dengan lembut.
Seolah takut… jika ia berhenti, semua ini akan hilang. Di antara keheningan malam itu.
Ada jarak yang mulai runtuh perlahan.
Dan untuk pertama kalinya. Mereka benar-benar saling melihat, bukan hanya sebagai kewajiban.
Tapi sebagai dua hati yang mulai menemukan jalan pulang. Malam itu mereka berbaring diatas ranjang yang sama. Namun masih dengan suasana canggung. Tak ada malam intim dan kehangatan layaknya suami istri. Mereka terlelap dalam mimpi masing-masing.