Ayo Kita Bercerai

1298 Kata
Dorman tercekat.Yang tadinya menggebu-gebu, kini Dorman terdiam mendengar perkataan Nariah. Dunia terasa berhenti saat mendengar Nariah minta cerai."Apa?"Hanya itu yang keluar dari mulut Dorman. "Aku ...memang bersalah sejak awal pernikahan kita. Taoi aku punya alasan. Dan aku hanya minta Abang untuk percaya sama Aku. Sampai saatnya aku bisa menceritakan semuanya,"Nariah terisak. "Nariah hanya minta Abang percaya sama Aku.Tapi nyatanya, Abang enggak pernah percaya sama Aku, dan malah menuduh yang tidak-tidak." "Nariah...bukan seper..." "Cukup Bang, Aku sudah tahu apa yang akan abang katakan." Nariah terdiam cukup lama. Air matanya terus mengalir tanpa suara. Hatinya seperti diremas. Namun perlahan… ia menarik napas, mencoba menguatkan dirinya yang sudah rapuh. “Kalau itu yang terbaik menurut abang…” ucapnya lirih, suaranya bergetar hebat. Dorman terdiam. Tidak menyangka jawaban itu akan keluar. “Aku… terima,” lanjut Nariah pelan. Pasrah. Tanpa perlawanan.Tanpa amarah.Justru itu yang membuat suasana terasa jauh lebih menyakitkan. Nariah berdiri perlahan. Langkahnya lemah… tapi tetap tegak. Ia masuk ke kamar tanpa menoleh lagi. Dorman hanya diam di tempat. Tidak menghentikan. Tidak juga mengikuti. Seolah masih terjebak dalam pikirannya sendiri. Di dalam kamar… Nariah membuka lemari. Tangannya gemetar saat mengambil beberapa pakaian. Tidak banyak. Hanya seperlunya. Bayinya ia siapkan dengan hati-hati. Sesekali ia menatap wajah kecil itu… dan air matanya kembali jatuh. “Maaf ya, Nak…” bisiknya lirih. Lalu pandangannya jatuh pada kantong belanja.Pakaian yang tadi ia beli. Untuk Dorman. Perlahan, ia mengambilnya. Menatapnya beberapa detik. Ada senyum tipis… yang terasa pahit. Dengan langkah pelan, Nariah keluar dari kamar Dorman masih di sana. duduk. Diam seperti patung. Tanpa kata, Nariah meletakkan kantong itu di atas meja. “Ini… buat Abang,” ucapnya pelan. Hanya itu tidak ada penjelasan lain. Tidak ada tangisan yang ia tunjukkan lagi. Seolah semua sudah habis. Kemudian, Ia berbalik. menggendong bayinya erat, dan melangkah menuju pintu. Langkah demi langkah, tanpa suara. Tanpa pamit pintu terbuka. Lalu tertutup kembali klik, suara itu terdengar kecil namun cukup untuk membuat Dorman tersadar. Ia menoleh cepat ke arah pintu kosong. “Nariah…?” panggilnya refleks. Tidak ada jawaban hanya keheningan yang menjawab. Dan saat itu, Dorman baru benar-benar sadar. bahwa sesuatu yang berharga dalam hidupnya baru saja pergi. Malam itu terasa begitu panjang bagi Nariah. Dengan bayinya dalam gendongan dan hati yang masih bergetar, ia melangkah tanpa arah pasti. Lampu-lampu kota menyala terang, namun tidak mampu menghangatkan perasaannya yang dingin. Ia berhenti di pinggir jalan. Menarik napas dalam. Berusaha berpikir jernih. “Aku harus punya tempat…” bisiknya pelan. Tangannya merogoh tas. Ponsel. Dengan jari gemetar, ia mulai mencari tempat tinggal. Kos. Kontrakan. Apa saja… yang penting aman untuk dirinya dan bayinya. Beberapa tempat terasa tidak layak. Terlalu sempit. Terlalu sepi. Atau terlalu mahal. Hingga akhirnya… Matanya berhenti pada satu iklan. Apartemen sederhana di pusat kota. Harga sewa bulanan yang masih masuk akal. "Alhamdulillah, setidaknya kita bisa istirahat ya nak."Sambil berkaca-kaca Nariah mencium bayinya. "Kamu adalah alasan ibu tetap kuat. Kamu tidak bersalah." Apartemen itu tidak mewah. Tapi cukup layak. Dan yang paling penting, aman, tanpa berpikir panjang, Nariah langsung menghubungi nomor yang tertera, suara di seberang menjawab, singkat. Jelas. "Halo, dengan Valeria Apartemen, bisa dibantu?" Nariah dengan cepat."Say mau sewa apartemen, untuk...1 bulan." "Baik, atas nama siapa?" "Nariah." "Baik, kalau begitu silahkan transfer uang sewa dan siapkan tanda pengenal, kirim via chat Wa. Kunci bisa diambil langsung di lobi. Terimakasih. " "Baik."Nariah langsung menutup ponsel dan menuju lobi apartemen. "Atas nama Nariah."Nariah menunjukkan tanda pengenal. "Silahkan." Sang pegawai pengelola Apartemen mempersilahkan. "Terimakasih." Dan malam itu juga, unit masih tersedia. Nariah langsung memesan ojek online. Perjalanan terasa sunyi. Ia hanya memeluk bayinya lebih erat. Sesekali menatap wajah kecil itu yang tertidur lelap. Seolah hanya bayinya yang menjadi alasan ia tetap kuat. Setibanya di apartemen… Bangunannya sederhana.tidak besar. Namun cukup terawat. Nariah bertemu dengan penjaga yang sudah menunggunya. Prosesnya cepat. Tanpa banyak tanya.Tanpa banyak syarat. Saat diminta pembayaran… Nariah terdiam sejenak. Lalu membuka aplikasi bank di ponselnya. Tabungan deposito. Satu-satunya pegangan yang selama ini ia jaga. Perlahan ia mencairkan sebagian. Ada rasa perih… Karena itu adalah simpanan masa depannya.Namun malam ini, Ia tidak punya pilihan lain. “Yang penting kami punya tempat…” gumamnya lirih. Setelah pembayaran selesai… Kunci diserahkan, unit kecil itu kini menjadi tempatnya. Nariah membuka pintu. Ruangan itu sederhana. Ada kasur kecil. Lemari dan jendela yang menghadap lampu kota. Ia masuk perlahan menutup pintu di belakangnya. Dan saat itu air matanya kembali jatuh. Namun kali ini berbeda. Bukan hanya karena sakit hati. Tapi juga karena Ia sadar, Mulai malam ini Ia benar-benar sendiri. Hanya dengan bayinya di tempat baru. Dengan kehidupan baru yang harus ia perjuangkan sendiri. Dorman berdiri terpaku di ruang tamu. Tatapannya masih tertuju pada pintu yang sudah lama tertutup. Sunyi, terlalu sunyi. Tangannya perlahan meraih ponsel. Jari-jarinya ragu sejenak… sebelum akhirnya menekan nama Nariah. Memanggil… Tidak ada jawaban. Dorman menghela napas panjang. Mencoba lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tetap sama. Tidak diangkat.Rahangnya mengeras. “Apa susahnya sih angkat…” gumamnya pelan, namun nada suaranya terdengar kesal. Padahal.yang sebenarnya ia rasakan adalah cemas. Ia beranjak cepat. Mengambil kunci mobil, keluar malam itu juga. Ia menyusuri jalanan. Tempat-tempat yang mungkin didatangi Nariah. Rumah sakit, Minimarket,bahkan jalanan yang biasa mereka lewati. Namun tidak ada. Seolah Nariah benar-benar menghilang. Dorman menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Menatap kosong ke depan. Tangannya mencengkeram setir kuat. Bayangan Nariah yang pergi dengan bayi mereka terus terlintas. Dadanya terasa sesak. “Harusnya gue tahan dia…” bisiknya lirih. Penyesalan mulai merayap. Namun egonya masih berdiri tegak. Menghalangi semuanya Ia kembali menatap ponselnya. Nama Nariah masih di sana.Tinggal ditekan. Tinggal berkata “Aku khawatir.” “Pulang ya.” “Maaf.” Namun…Jarinya berhenti. Tidak jadi menekan."Aaargh."Dorman menggeram. Rahangnya kembali mengeras. “Dia juga salah…” gumamnya, seolah membenarkan dirinya sendiri. Padahal jauh di dalam hati, Ia tahu. Ia terlalu keras terlalu cepat menghakimi. Dan sekarang, wanita yang selalu menunggunya di rumah. Sudah tidak ada lagi Dorman menyandarkan kepalanya ke kursi. Menutup mata sejenak. Lelah bingung. Dan untuk pertama kalinya Ia merasakan kehilangan yang nyata. Namun sayangnya rasa itu masih kalah oleh gengsi. Yang membuatnya tetap diam. Dorman akhirnya pulang, langkahnya berat saat memasuki rumah yang kini terasa asing. Sepi, tidak ada suara, tidak ada Nariah, tidak ada tangisan bayi mereka. Hanya keheningan, yang menyesakkan. Ia berjalan pelan menuju kamar. Tangannya mendorong pintu. Dan di sanalah, matanya tertuju pada satu benda. Foto pernikahan mereka terpajang rapi di meja. Dorman mendekat mengambilnya perlahan. Dalam foto itu, Nariah tersenyum lembut. Tulus, Sementara dirinya berdiri di samping, terlihat kaku namun tetap bangga. Dorman menatap lama. Sangat lama. Pikirannya mulai berputar. Dari awal, Nariah memang menyimpan sesuatu. Tentang Rendi. Tentang masa lalunya. Tentang kejadian malam itu. “Kenapa kamu gak cerita dari awal…” gumamnya lirih. Nada suaranya tidak lagi marah. Lebih ke arah kecewa. Namun bukan hanya pada Nariah. Juga pada dirinya sendiri. Bayangan wajah Nariah saat menangis tadi kembali terlintas. Tatapan terluka itu, tidak terlihat seperti orang yang bersalah.Tapi lebih seperti… Seseorang yang tidak dipercaya. Dorman mengusap wajahnya kasar. “Gue malah nuduh yang enggak-enggak…” bisiknya.Dadanya terasa makin berat. Ia duduk di tepi ranjang, masih memegang foto itu. “Kalau dia cerita… mungkin gue gak bakal seburuk ini…” lanjutnya. Namun di saat yang sama. Sebuah kesadaran perlahan muncul. “Atau… gue yang gak pernah kasih dia ruang buat cerita?” Kalimat itu membuatnya terdiam lama. Ia mengingat kembali sikapnya selama ini. Terlalu sibuk bekerja. Terlalu sering mengabaikan. Dan saat masalah datang, Ia langsung menghakimi. Tanpa benar-benar mendengar. Dorman menatap foto itu sekali lagi. Jari-jarinya menyentuh wajah Nariah di sana. Hatinya terasa nyeri. “Sebenernya apa yang kamu sembunyiin, Nariah…” bisiknya pelan. Namun kini, pertanyaan itu tidak lagi dipenuhi emosi. Melainkan penyesalan. Karena jawaban yang ia inginkan, Sudah tidak ada di hadapannya.Dan untuk pertama kalinya, Dorman sadar. Bahwa kehilangan bukan hanya tentang ditinggalkan. Tapi juga tentang kesempatan. Yang tidak ia gunakan saat masih ada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN