Mirah's Pov
Akhir – Akhir ini tubuhku mudah sekali lelah, aku rasa 9 bulan bersama Pey, memang melelahkan tidak hanya mental tetapi fisik. Ketika Pey sudah pergi menuju kantor, kepala ku pening sekali, karena itu aku hanya berdiam di kamar, membiarkan segala pakaian kotor Pey terbengkalai.
“Neng, ini teh Sukma, eneng gak papa?”
“Agak pusing teh” jelasku
“Mau teteh pijetin” tawar nya
“Mau donk” mohon ku.
“Teteh perhatiin eneng dah seminggu lebih begini, pucat sekali, gak pengen ke dokter aja?” tanya teh Sukma.
“Aku gak sakit teh, cuma lemes” aku membalas.
“Tapi kemarin eneng kan muntah-muntah, maag nya kali tambah parah ya?, atauu…..”
“Atau apa coba” balasku menggoda.
“Neng, yakin gak hamil?” balas nya sontak nya membuat ku kaget.
“Enggaak, lah teh” jawab ku ragu. “Teh aku dibuatin teh hangat donk, aku mau istirahat sebentar boleh ya?”
“Baik neng”, teteh pergi dulu ya.
Tiba-tiba ucapan teh Sukma menggangu ku, Akhir-akhir ini memang Pey memutuskan untuk tidak menggunakan pengaman. Setiap aku bertanya, dia hanya berseloroh pergi, mengabaikan ku. Besok aku ikut Bi Sukma membeli sejumlah keperluan termasuk test pack, pikirku.
_________________________________________________________________________________________________________
Sekembalinya berbelanja mingguan aku memenuhi tempat tidur ku dengan bebagai jenis merek test pack. Aku tau pengambilan test terbaik harusnya ketika pagi hari, tapi aku tidak mampu menahan diriku untuk segera melakukan test, toh aku membeli cukup banyak persediaan siang ini.
Aku sudah menunggu di dalam kamar mandi dengan urine yang telah aku tampung sebelumya, Ini adalah detik-detik paling lama melihat perubahan garis. Hingga akhirnya aku melihat 2 garis melekat, untuk kesekian kali nya tubuhku merasa seperti tersambar petir.
“Bagaimana?” Bi Asih tiba-tiba muncul bertanya tentang test pack yang aku beli begitu banyak siang ini.
Sambil menahan air mata, aku menunjukkan hasilnya. Bi Asih hanya memelukku. Untuk pasangan lain ini mungkin hal yang ditunggu-tunggu setelah pernikahan selama 9 bulan, bagiku ini seperti kutukan. Bukannya melihat aku dengan tatapan senang, sebaliknya Bi Asih menatap ku kasihan, sembari mengelus rambutku.
Pukul 9.40 malam, Pey baru saja tiba di rumah, dan saat ini dia sedang melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja nya. Sudah ku tekadkan untuk memberitahukannya malam ini, apapun reaksinya.
Aku mengetuk ruang kerja Pey, dan dia meminta ku untuk masuk.
“Ada apa” tanya nya datar, dengan tatapan masih melihat layar computer.
Aku perlahan mendekatinya, dan menyodorkan hasil test siang ini.
“Apa ini” tanya nya.
“Test pack, aku hamil” jawab ku singkat.
Tiba-tiba dari ekspresi datar, dia berubah seperti seseorang yang kesetanan “Wait, we just did it couple times without…… protection, how can it come as positive, ARE YOU SETTING THIS UP MOTHERFUCKER?!!”
Tangis ku yang aku tahan sejak siang ini pecah kembali, tidak ada lagi usaha untuk menahan rasa sedih dan sakit hati di depan Pey, bagaimana mungkin dia berpikir aku menjebaknya. Pey meremas kedua lengan ku dan mengguncang-guncang tubuhku sangat kuat.
“Dasar p*****r, apa kamu pikir kamu cukup pintar untuk menjebakku. Kamu pikir apa yang dilakukan ibu tirimu kepada ayahku, bisa kamu lakukan kepada ku”
“Akkku, tidak pernah berniat macam-macam, aku tidak pernah meminta pernikahan ini” jawab ku dengan nada bergetar.
“Bagaimana aku tahu kalau itu memang anakku, bukan laki-laki lain yang kau telp, ketika aku tidak dirumah” tanya nya dengan nada hampir berteriak.
“Aku tidak pernah bersama dengan laki-laki lain, dan kita bisa melakukan tes DNA untuk membuktikannya” jawabku
Pey, menarik dagu ku untuk mendekatkan pada wajah nya “Bagiku kamu hanya sebatas p*****r, aku menikahi mu, untuk memastikan tidak ada yang menyentuhmu ketika bersamaku, dan mengambil apa yang sudah menjadi hak ku sejak lahir yaitu bisnis keluarga ku. Kau tidak pernah menjadi istriku, you are not my lady, just a comforter w***e. Untuk itu seorang p*****r tidak boleh membawa anak ku. Anak-anak ku tidak boleh terlahir dari rahim seorang wanita seperi dirimu, paham!!, Cann dan Kusuma tidak akan pernah bisa bersama.”
Aku bersimpuh dan bersujud dibawah kaki Pey, “Pey tolong, tolong jangan lakukan ini kepada ku, aku mohon. Ceraikan saja aku, menikahlah dengan Bella, biarkan aku dan ayah pergi, biarkan kami pergi, maafkan kami” pintaku dengan suara bergetar.
“Aku membiarkan kamu pergi dengan anak itu? Dimana beberapa tahun mendatang, kau akan datang menuntutku, kamu pikir aku tidak paham kelicikan keluarga kalian. Kalian boleh pergi jika sudah menjadi mayat” balas nya, sembari pergi meninggalkan ruangan, dan membanting pintu begitu kencang. Meninggalkan ku mengemis tanpa harap di lantai ruang kerja nya.
_________________________________________________________________________________________________________
Dua minggu berjalan, semenjak kejadian di ruang kerja. Aku tetap melakukan tugas-tugasku. Tatapan Peyton semenjak kejadian itu penuh dengan kebencian dan amarah. Pagi ini seperti biasa aku memasuki kamar nya untuk meyiapkan pakaian kantor nya. Ketika aku mengambil pakaian dari lemari, Pey memanggilku dari atas tempat tidur.
“Mirah!” panggilnya, aku menghampirinya tanpa menjawab. “Gugurkan bayi itu, aku bisa menemukan dokter terbaik yang punya pengalaman untuk itu, kita bahkan bisa pergi keluar negri jika kamu tidak ingin melakukannya disini, aku bisa mengurus semuanya” pinta nya.
Aku hanya diam, dan menaruh jas dan lainnya disamping nya.
“Hei, jawab aku!” bentak Pey.
“Keluarkan aku dari sini sebagai mayat Pey, bukan kah itu yang kamu katakan?, aku tidak menginginkan apapun saat ini. Atau kau ingin aku memilih jalan seperti ibu mu?, aku tidak peduli lagi dengan semua keinginanmu” respons ku. tiba-tiba Pey beranjak dari tempat tidur nya. Dan memberi tamparan yang amat keras ke wajah ku, hingga aku jatuh ke lantai.
“Kamu tidak ingin melihat ku marah, Mirah, jangan pernah mencoba kesabaranku” timpal nya
Rasa sakit di pipiku, tidak bisa mengubur sedikit pun sakit hatiku. “jika kamu ingin membunuhku, bunuhlah, bukankah kau memiliki option yang cukup banyak untuk melakukan itu?” balas ku dengan suara pelan.
Sepertinya kata-kataku semakin membuatnya marah, dia menyeretku dan mengeluarkan diriku dari kamarnya.
Peyton's Pov
Hari ini bukan hari jumat, akan tetapi aku ingin sekali bertemu dengan Ibu. Perasaanku seperti roller coaster saat ini, banyak hal yang membuatku ragu. Tapi memiliki anak dari Mirah, jauh dari bayangan aku sebelumnya. Aku terlalu addict dengan segala gairah bersama nya, hingga aku menghilangkan apa yang paling penting dari kebersamaan kami, aku tidak pernah berpikir kehamilan padanya bisa begitu cepat, toh selama ini baik-baik saja, lalu kenapa sekarang. Bagaimana pun sumpah adalah sumpah, aku harus menepatinya, aku tidak mungkin membiarkan anak itu tumbuh pada tubuh Mirah. Keluarga kami tidak boleh dipersatukan dengan adanya anak.
*Dikantor
“Peyton, sebentar lagi kan anniversary kamu dan Mirah, apa tidak ingin dirayakan?” Tanya Tante Ana, ketika mengantarkan dokumen ke ruangan.
“Tidak ada yang perlu dirayakan dari pernikahan kami” jawabku. Tante Ana terdiam.
“Peyton, aku mengenal ayahmu sejak muda, begitupun Dirman, aku menemani mereka semenjak Zander hanya perusahaan di ruko kecil, hingga kini mampu memiliki gedung sendiri. Mereka berdua adalah orang baik, dan berteman baik Pey. Ayah mu menjadi versi terburuk dari dirinya semenjak mengenal seseorang. Aku hanya berharap versi terburuknya itu bukan yang kau miliki saat ini.” Terangnya.
“Kau bisa pergi sekarang, Tante Ana. Aku sarankan agar tante Ana hanya berbicara mengenai pekerjaan dengan ku, tidak lebih”.
Tante Ana pergi dengan senyum yang dipaksakan, aku tidak suka jika dia mulai menceritakan kisah persahabatannya dengan Ayahku dan Dirman.
Dua hari lagi ulang tahunku, Bella sudah memesankan tiket pesawat ke Singapore, dia mengatakan memiliki kejutan sempurna untuk ku. kami memutuskan tidak akan pergi jauh tahun ini, karena pekerjaan kami berdua sangat padat, jadi ulang tahun ku hanya akan kami habiskan di Singapore. Tentu saja itu adalah pilihan terbaik dibandingkan harus menghabiskan ulang tahun ku melihat p*****r itu di rumah.
_________________________________________________________________________________________________________
Dua hari bersama Bella yang tidak akan terlupakan, dia memasakkan aku steak dengan level kematangan sempurna, menariknya dia mengambil khusus kursus memasak hanya untuk bisa membuatkan steak pada ulang tahunku, di tutup dengan brownies kreasinya sendiri, aku tidak mengira kalau Bella melakukan ini semua untuk ku. Sebenarnya kami dapat dengan mudah untuk memilih restoran terbaik di Singapore, tetapi dia khusus menyisihkan waktunya untuk mengambil kursus masak hanya untuk ku itu benar-benar manis. Selain itu dia juga memberikan aku sebuah kado jam yang aku inginkan sejak dulu, ah seandainya dia menerima lamaran ku dulu.
_________________________________________________________________________________________________________
Sekembalinya ke Jakarta, aku memasuki rumah dan melihat wajahnya membukakan pintu untukku membuatku suntuk, aku langsung masuk ke kamar tanpa berkata apa-apa padanya atau pada siapapun dirumah itu. Setelah mandi dan membersihkan tubuhku, aku masuk ke ruang kerja hanya untuk menyibukkan diriku.
“Tok…tok…tok” seseorang mengetuk dari luar. “masuk” kataku.
“Halo Pey, aku membawakan kado untuk mu, selamat ulang tahun ya, maaf aku terlambat mengucapkan” Mirah datang dengan sebuah kotak kado berukuran sedang. Dia lalu menyodorkan nya kepada ku perlahan.
“Aku sangat berharap kamu menyukainya, aku membuatnya dari 4 bulan yang lalu” terangnya dengan suara pelan.
“Apa ini” tanya ku sembari membuka kotak tersebut.
“Sweater, dari benang Merino Wool, aku meminta bantuan bibi untuk memesankan benang tersebut dari Spanyol. Apa kamu mau mencobanya, melihat ukurannya apa pas atau tidak?” tanya nya cukup antusias.
“Nanti saja” aku menaruh baju tersebut di samping meja ku.
“Baiklah” jawabnya, aku bisa melihat rasa kecewa disana.
“Apa kau sudah mempertimbangkan permintaan ku” aku mengingatkan.
“Aku sudah memberikan jawaban juga untuk mu Pey” respons nya.
“Kalau begitu ingatkan aku akan jawabanmu” aku merasa tidak ada jawaban yang aku terima.
“Kau bisa membawa mayat ku dan anak ini keluar dari rumah ini dengan mudah kan?” balas nya.
“Bagaimana dengan mayat ayah mu yang di penjara?” timpalku
“Kamu sudah berjanji pada ku Pey, you promised me” jawabnya.
“Did I Mirah?, anggap saya kalau janjiku sudah expired, we need make another deal, how’s that?” tawarku.
“apa itu?”
“Gugurkan bayi itu, maka tidak ada yang bisa menggangu pasokan obat ayah mu. Aman setidaknya hingga dia keluar dari penjara” tawarku yang sebenarnya lebih pada ancaman.
“Kau tidak bisa bermain-main dengan keadaan kesehatan seseorang Pey” suara Mirah kali ini mengecil.
“Why not Mirah sayang, dia bukan siapa-siapa bagiku”
Mirah terdiam cukup lama, “Bagaimana?” tanya ku mempertegas sekali lagi.
“Baik, toh kita berdua sama-sama tidak menginginkan bayi ini tapi tolong beri aku waktu, aku akan memberitahukanmu jika aku sudah siap, hingga saat itu, tolong jangan bermain-main dengan pasokan obat ayah”
“Ok deals” balasku dengan senyum mengembang.