Part 2

1578 Kata
Waktu paling pas untuk pergi dari rumah ketika tengah malam telah tiba. Abhi sudah siap dengan tas ransel berisi beberapa pasang bajunya, juga selembar tiket kereta yang akan membawanya ke Surabaya pagi – pagi sekali. Dia mengendap melewati balkon kamarnya dan turun menggunakan sepreinya yang sudah ia ikat kuat di pembatas balkon. Tidak sampai semenit, ia pun sudah berada di bawah dan mulai mengendap – endap melewati jalan pintas belakang rumah. Di depan komplek perumahan tempatnya tinggal, ada ojek online yang sudah ia pesan sebelum kabur dari rumah. Abhi memutuskan langsung menuju ke Stasiun Pasar Senin yang membutuhkan jarak tempuh tiga puluh menit dari komplek perumahannya. Sesampainya di stasiun, jam masih menunjukkan pukul dua pagi. Masih ada dua jam lagi kereta yang akan ditumpanginya membawa ke Surabaya. Abhi hanya perlu bersabar untuk bisa menemui ibu dan adiknya yang sudah sangat ia rindukan. ** "Kenapa anak itu belum turun – turun?" Ujar Bara merasa geram kala tidak mendapati Abhi berada di meja makan. "Bik, tolong panggilkan Abhi." Asih yang tengah menata makanan di meja mengangguk. Dia segera menuju ke lantai atas di mana kamar tuan mudanya berada. Satu kali, dua kali sampai ketiga kali dia mengetuk pintu tidak ada sahutan. Biasanya satu kali ketukan saja, tuan mudanya sudah menyahut. Asih pun menjadi was – was dan segera membuka pintu itu. Benar saja. Ranjang Abhi kosong seperti tidak di tempati semalaman. Asih masih beranggapan mungkin Abhi tengah berada di kamar mandi. Namun, kamar mandi yang ada di kamar itu terbuka. Setelah di cek, Abhi tidak ada di sana. Mulai paniklah Asih, matanya menjelajah dan menemukan pintu balkon terbuka. Asih terkejut bukan main mendapati seprei yang biasanya di gunakan Abhi terikat di pembatas balkon. Wanita paruh baya itu panik bukan main. Dia tidak menyangka tuan mudanya melakukan hal nekat seperti ini. Dia pun turun dan menghampiri Bara juga istrinya; Reta. "M—aaf Pak, Den Abhi tidak ada di kamar." "Hah kok bisa Bik?" Sahut Reta terlebih dulu. "Sepertinya kabur, Bu. Ada seprei yang di ikat di pembatas balkon kamar Aden," Bara menahan napas dengan tangan terkepal. Matanya terpejam karena dia berusaha menahan amarah yang coba ia tahan. "Minta Pak Nyoto siap - siap, Bi." "I—iya Pak." Asih mengangguk patuh. Dia segera mencari Nyoto yang ternyata sedang memanasi mobil. "Buruan beres - beres. Den Abhi kabur, Bapak lagi marah - marah." "Ya ampun! Piye to Den Abhi kui?" Ujar Nyoto dengan logat jawanya. "Bisa – bisa perang dunia ke tiga ini, Bik." "Sudah. Jangan gosip sekarang, nanti aja." "Iyo wis iyo wis." Nyoto segera bersiap - siap, tidak sampai lima menit Bara dan Reta keluar. Bara sudah akan memasuki mobil ketika Reta menahan lengannya. "Aku ikut ya?" "Biar aku aja. Aku hanya perlu menyeret Abhi untuk pulang." Ketika Bara sudah memutuskan, Reta tidak bisa memaksa. Bara pun segera mengecup puncak kepala istrinya dan masuk ke mobil. "Ke mana Pak?" Tanya Nyoto takut – takut ketika melihat raut marah di wajah tuannya. "Bandara." ** Anna memarkirkan motornya di depan rumah setelah mengantarkan Risma ke terminal. Hari ini Risma berencana mengunjungi saudaranya yang berada di Semarang selama beberapa hari dan meninggalkan Anna berdua dengan Hana di rumah. Hana masih sekolah di jam segini dan mungkin akan pulang sekitar jam dua nanti. Masih lama, mungkin sekitar lima jam lagi. Anna memutuskan memasak untuk makan siang mereka berdua dulu sebelum menjahit pesanan orang yang ternyata sudah sangat menumpuk. Bergerak cepat, Anna mengeluarkan bahan – bahan yang ia butuhkan dari dalam kulkas. Dia akan memasak sup dengan isian sayuran juga sosis dan bakso sebagai pelengkap. Butuh tiga puluh menit untuk dia menyelesaikan masakannya. Dia pun segera mencuci tangan dan melangkah menuju ruang tengah yang merangkap menjadi satu dengan ruang tamu dan tempat kerjanya. Langkahnya seketika tertahan ketika mendapati tubuh tegap mantan suaminya berdiri di depan rumah. Anna segera keluar dan untuk beberapa saat mereka saling berpandangan. "Ada perlu apa Mas kemari?" "Di mana Abhi?" Anna mulai bingung dengan pertanyaan Bara. "Abhi? Aku nggak tahu Mas." "Bohong! Kamu sembunyikan Abhi kan?" Tuding Bara. Anna seketika merasa tertohok. "Menyembunyikan bagaimana? Akses buat ketemu Abhi aja nggak Mas kasih!" "Halah!" Tubuh Anna terhuyung ketika Bara menabrak bahunya dan pria itu masuk ke rumah. Anna segera mengikuti di belakang mantan suaminya itu, "Abhi nggak ada!" Ujarnya ketika Bara memeriksa satu persatu setiap sudut yang ada di rumahnya. "Kamu seharusnya menjaga dia! Kenapa harus menudingku menyembunyikannya! Kamu lucu sekali Mas!" Rahang Bara mengetat. Matanya menyorot tajam pada Anna yang seolah menantangnya."Ya, karena aku tidak mau anakku bertemu w************n sepertimu!" Hati Anna mencelos seketika. "Abhi juga anakku kalau kamu lupa," Terang Anna dengan nada lelah. "Wajar dia ingin menemuiku karena aku ibunya." Bara berdecak lidah dan menatap malas pada wanita yang pernah dipersuntingnya. "Kamu masih beranggapan sebagai ibunya setelah menjual tubuhmu untuk di cicipi p****************g? Kamu masih punya urat malu tidak, Anna?" "Aku tidak pernah menjual tubuhku! Sudah berapa kali aku bilang!" "Hahaha. Lalu, anak yang ada bersamamu sekarang ini anak siapa kalau bukan anak dari hasil melacurmu dulu?" Satu tamparan mendarat di pipi Bara. "Kamu akan menyesal sudah mengatakan itu!" Desis Anna penuh penekanan. Air matanya mengalir dengan deras tanpa bisa ia bendung lagi. "Tolong, sekarang keluar dari rumah ini!" "Tidak sebelum aku bertemu Abhi!" "SUDAH AKU BILANG ABHI NGGAK ADA DI SINI!" Dalam hitungan detik, Bara meraih rahang Anna dan mencengkeramnya. "Mulut murahanmu memang perlu di sekolahkan. Kamu membuatku marah dan panas dalam waktu bersamaan! Sembari menunggu Abhi datang, melacur denganku tidak ada salahnya. Aku akan memberimu uang yang pantas dengan harga tubuhmu yang dulu pernah kamu obral." "N—nggak!" Anna mengelak ketika Bara mendekapnya. Pria itu menariknya dan membawanya ke salah satu kamar yang ada di rumah itu. "Jangan! A—atau aku akan berteriak!" Ujar Anna ketakutan. Namun sebelum ia berteriak, Bara telah membungkam bibirnya dengan dasi yang tadi lelaki itu gunakan.Dia menghempaskan tubuh Anna di atas ranjang dan Bara merangkak di atasnya untuk menindih tubuhnya. Air mata Anna tidak bisa terbendung. Dia ketakutan, terlebih ketika bibir Bara mencecapi kulit lehernya, kedua tangannya terkunci di atas kepala. Dia tidak bisa bergerak karena ruang geraknya terbatas. Satu tangan Bara yang lain menyentuh dadanya dari balik kemeja yang dia gunakan. Meremasnya kuat secara bergantian. Anna menggigit bibirnya kala Bara melepas kancing kemejanya dengan tidak sabar. Detik berikutnya, bra yang Anna gunakan di tarik ke atas dan kepala Bara menunduk untuk mengecup puncak payudaranya dan memainkannya. Satu desahan lolos tanpa bisa Anna cegah, membuat bibir Bara melengkung membentuk seringai. "Menikmatinya An?" Anna memalingkan wajah masih dengan lelehan air matanya. Selanjutnya, inti dari permainan itu di mulai. Bara menyingkap rok yang Anna gunakan dan dengan begitu cepat Bara melepas underwear Anna sebelum melesatkan pusat tubuhnya pada liang senggama mantan istrinya. Bara memainkan Anna dengan begitu apik. Hingga membuat tubuh Anna terasa remuk redam. Begitu juga hatinya. Tidak puas sekali, Bara melakukannya berkali – kali sampai lelaki itu puas dan Anna sudah lemas tak berdaya hingga jatuh tersungkur di lantai. Dengan santai, Bara mengancingkan celananya dan menatap cemooh ke padanya. "Tubuhmu rasanya masih sama." Bara menyentuh kedua bahunya dan membantunya berdiri. Lelaki itu membantunya memasang kancing baju yang Bara lepas secara asal dan menyerahkan underwear yang tadi lelaki itu lempar sembarangan. "Cepat pakai," Perintahnya. Meskipun masih bergetar, Anna menurutinya. Setelah di rasa penampilannya jauh lebih baik. Bara mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan menyerahkannya di atas telapak tangan Anna. "Untuk yang baru saja terjadi." Anna mendesis penuh kemarahan dan mengembalikan uang itu di tangan Bara. "Aku tidak butuh. Hargaku tidak semahal itu, karena sejak awal aku mengobral murah tubuhku. Anggap saja aku memberimu bonus. Jadi, silahkan keluar dari rumahku sekarang juga dan kalau memang Abhi mau datang kemari, tunggu saja dia di warung depan rumah." Bara tidak mengatakan apa pun lagi. Dia meninggalkan Anna yang jatuh terduduk dan menangis meraung – raung karena sekali lagi, dia merasa tubuhnya tidak ada harganya lagi. ** Mengikuti saran Anna, Bara menunggu Abhi di depan warung tempat tinggal Anna setelah menuntaskan hasratnya pada wanita itu. Wanita yang pernah di persuntingnya delapan belas tahun yang lalu dan wanita itulah yang telah berani mengkhianatinya dengan tidur bersama orang lain dengan bayaran segepok uang untuk membantu perekonomian keluarga kecil mereka yang memburuk kala itu. Mengingat luka masa lalu itu membuat Bara tersenyum penuh kagetiran. Andai saja Anna tidak mengkhianatinya, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Mereka akan menjadi keluarga yang hangat dan penuh cinta, serta memiliki anak yang banyak seperti impian mereka dulu ketika masih bersama. Semua angannya sirna, ketika ada seorang remaja berseragam putih – biru terlihat turun dari boncengan teman perempuannya. Ada senyum terpatri di wajah remaja itu ketika perlahan temannya mengayuh sepeda menjauh. Untuk beberapa detik kemudian, remaja itu menatap Bara yang duduk di warung depan rumah. Senyumnya memudar berganti tatapan matanya yang menajam, sebelum ia memalingkan wajah dan berbalik masuk ke dalam rumah. "Ma—Hana lihat ada orang itu.." Anna yang baru keluar dari kamar mandi, dengan rambutnya yang basah, menatap putrinya yang baru saja pulang, "Oh iya, lagi nunggu Mas kamu." "Mas mau ke sini?" "Mama nggak tahu, Kak. Tapi Papa bilang Mas kamu nggak ada di rumah." "Orang itu nggak sakiti Mama kan?" Pandangan Hana menelisik, dia mendekati Anna dan melihat mata sembab Mamanya dari jarak yang lebih dekat. "Iya, Mama habis menangis. Apa yang di lakukan orang itu ke Mama? Bilang sama Hana." "Nggak ada, Kak. Papa nggak ngapa – ngapain Mama. Cuma ngobrol sebentar aja," "Bohong." "Kakak—" "Nggak ada orang yang ngobrol sebentar sampai matanya sembab! Terserah Mama! Hana mau main aja di rumah Kiran!" **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN