Menuju Dirimu

1116 Kata
Tertanggal 21 November 2027, aku menerima surat undangan reuni lintas generasi Patriakara dengan bubuhan tanda tangan Apta Priyatama sebagai ketua panitia pelaksanaan reuni. Ucapannya di tahun 2019 akhirnya terlaksana, impiannya membuat reuni lintas generasi. Selama ini Patriakara tak putus hubungan, baik alumni dengan anggota yang masih aktif atau bahkan dengan pembina-pembina yang sudah purna. Akan tetapi, hubungan itu berjalan melalui komunikasi media sosial dan jabat tangan virtual, Patriakara belum pernah sekalipun berkumpul secara besar-besaran. Hasilnya, Apta lah yang mewujudkan reuni ini pada akhirnya. Dia selalu memberikan keputusan yang luar biasa. Padahal angkatan yang lebih dulu saja terlalu sibuk dengan urusan pribadinya hingga tak sempat memikirkan acara reuni. Yang pasti setiap ada perlombaan beberapa alumi akan hadir mendampingi, siapa saja yang mampu. Sejak 2019, aku belum pernah menengok latihan atau perlombaan Patriakara lagi. Surat undangan itu mengatakan, reuni akan dilaksanakan pada 22 Desember 2027 di aula SMKN 2 Karanganyar. Sejujurnya yang membuatku antusias bukan perihal reuninya, tetapi pertanyaan-pertanyaanku untuk Apta. Mengapa ia menghilang, mengapa ia memblokirku, mengapa ia memutus komunikasi, dan semua hal yang ingin kutanyakan. Saat ini di Bandung, 21 Desember 2027, aku akan ingat bagaimana caraku menuju dirimu, melihat lagi senyummu yang nantinya akan sangat memukulku. Boleh aku rindu tawamu, tapi jangan memberiku lebih dari itu. Kata itu akan sangat menggambarkan jawabanku nantinya. Pagi ini Ibu Kos sudah berteriak di depan rumahnya yang mengarah ke gedung kosku. Beliau bilang, puluhan mobil ingin menemuiku. Tadinya kupikir itu bercanda, karena Ibu Kos selalu begitu. Tapi ternyata sedikit benar, ada 6 mobil terparkir di tepi jalan depan kos, maka sudah pasti sangat mengganggu pejalan kaki maupun pengendara sepeda. “Itu kalau mau pergi cepatlah sedikit, Neng. Bisa diprotes Ibu teh!” Aku tersenyum. “Iya, Bu. Maaf ya, Dara pamit dulu. Balik lagi insyaAllah satu Minggu lagi.” “Iya, hati-hati di jalan, tapi firasat Ibu lain, mungkin kamu tidak kembali.” Ibu Kos justru membuatku ngeri sendiri. Haruskah aku tidak kembali? Mengapa? Apa ada kejadian yang tidak aku inginkan? Boleh jadi jodoh tak datang tapi ajal itu pasti. Dan itu yang aku pikirkan saat ini. Ibu Kos ini bertahun-tahun menjadi Ibu Asuhku, jadi mungkin ikatan batinnya kuat padaku. “Ibu,” balasku berkaca-kaca. Ibu hanya tersenyum, dan aku terus memikirkan kalimat itu. “Eh, ayo, ganggu jalanan, gila gue pikir Ari doang yang jemput gue,” kataku melihat beberapa adik kelas dan teman seangkatan yang memang hidup di perantauan. “Mau kampanye, ha ha ha,” celetuk Fikri membuka kaca mobil Ari. “Baik,” jawabku lantas masuk ke dalam mobil. Perjalanan dimulai. “Mbak, siapa yang paling Mbak rindukan dari semua generasi Patriakara?” tanya Fikri di jok depan, bersebelahan dengan Ari, sang sopir dan pemilik mobil. “Em.” Memikirkan dulu. “Gue lah!” sambar Ari memecah pikiranku. “Nggak ada, bisa di-DM istri lo lagi!” Mengingat belum lama ini di-DM istrinya karena mengirim foto kenangan masa SMK. Memang tidak ada niat bagaimana-bagaimana, hanya tidak sengaja menemukan foto itu di laptop lamaku. Tapi, tidak pas menghubungi laki-laki yang sudah beristri. “Ya, dia secinta itu sama gue, nggak kaya elo, jomlo!” Memicingkan mata ke arah kaca mobil di tengah, maksudnya agar Ari melihat dari sana. “Mas Ari mah nggak tahu aja, ada yang cinta banget sama Mbak Dara sampai nyemplung senyemplung-nyemplungnya,” jelas Fikri. Aku dan Ari sama-sama menoleh ke arahnya. Oh tunggu, termasuk Lana, angkatan bawahku yang kini juga ada di dalam mobil yang sama, dia juga menoleh pada Fikri. “Aku?” sahut Lana. Fikri justru tertawa. “Terlalu percaya diri semua. Tapi yang pasti aku salut sama dia sih, Mbak. Cinta tuh nggak kita yang minta, menetap atau pergi, Tuhan yang tentukan.” Mengernyitkan dahiku. “Kamu ngomongin apa?” “Ngomongin cinta, nih orang pe'ak banget dah. Ya tapi biasa sih, orang itu kalau terlalu kejar dunia, hatinya bisa mati,” seru Ari sangat menohok. Memanyunkan bibirku. “Mau tak jadiin istri kedua apa, Mbak?” tawar Lana semakin menjadi. “Gila apa!” protesku. “Daripada nggak nikah nikah,” sambar Ari. “Mas, orang nikah ada waktunya, kaya ajal ada waktunya masing-masing.” Fikri jauh lebih tenang dan dewasa. “Tenang aja lah, Mbak. Bentar lagi cinta itu datang. Eh, kok kaya dukun, ha ha ha.” “Lah, bercanda ternyata,” gumamku sedikit kecewa. Seandainya iya, aku mungkin sangat bahagia, mungkin waktunya aku tak melepaskan kesempatan yang Allah Swt. berikan. Apalagi tekanan dari orang tua, tekanan dari Adik yang harus melangkahiku, ia telah menikah 1 tahun yang lalu, dan ia sedang hamil 5 bulan saat ini. Tadinya dia ingin menungguku, tapi kubilang, tak baik membiarkan laki-laki serius hanya untuk aku yang menghambat jalannya. Menikmati perjalanan panjang dengan pikiran, “Bagaimana cara menjawab pertanyaan Mama nanti. Kapan menikah? Atau sulutan api kalimat dari tetangga.” “Halo,” suara Fikri membangunkan fokus kami masing-masing. Ari fokus dengan jalanan, Lana fokus dengan ponselnya, dan aku fokus pada pikiranku yang terasa hampa. “Jadi kamu telat? Ya nggak apa-apa. Cuma ada yang rindu sama kamu,” kata Fikri lagi. “Dara Laksmi Sasmita, ha ha ha.” “Aku?” tanyaku bingung. Fikri hanya tertawa. Siapa yang berbicara dengannya melalui panggilan telepon? Mengapa harus namaku? “Siapa sih?” tanyaku lagi. “Cowok bukan, Fik?” tanya Ari. “Cowok,” jawabnya. “Maaf, siapapun itu, tolong nikahi Dara segera. Sebelum dia menua dalam impi dan kesepiannya,” pekik Ari di dalam mobil. “Iya, jangan biarkan dia menganggur terlalu lama!” Lana pun tak mau kalah. “Heh, gila kalian ya! Enggak, nggak tahu dia siapa juga!” “Ha ha ha, dia bilang iya kok, Mbak.” Fikri kian memperkeruh. Menepuk jidatku sendiri. “Kenal juga kagak. Dosa kalian ya merundung orang yang belum nikah!” Mereka semua hanya tertawa. Penasaran sebenarnya siapa yang ada di panggilan suara itu, tapi sepertinya tidak sepenting itu.  “Eh, siapa sih, ini gue seriusan, ya?” Ari masih melanjutkan. “Seriusan katanya.” “Orang gila kali, kenal aja enggak kok. Udah tidur siang aja dulu!” perintahku memejamkan mataku.  Hingga akhirnya malam tiba, menuju kota Solo, sebelum benar-benar tiba di Karanganyar. “Mbak, aku tanya sekali lagi, siapa yang paling Mbak Dara rindukan?” tanya Fikri ketika Ari dan Lana terlelap. Giliran Fikri yang memainkan setir mobilnya. “Entah,” jawabku tapi satu nama datang sebab ia menghilang tanpa ucapan. “Yakin?” “Em, Apta mungkin, tapi bukan karena rindu. Penasaran saja, banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan.” Fikri tersenyum. “Karena dia menghilang, memblokir, dan sama sekali tidak mengaktifkan medsosnya?” “Iya, menyebalkan sekali anak itu. Sudah nggak anggap aku ini kakaknya atau bagaimana?” “Dari dulu juga sudah bukan dianggap kakaknya, Mbak. Ha ha ha.” “Ishhh, kamvret juga kamu ya. Jadi gitu selama kita bareng-bareng di lapangan tuh aku nggak ada artinya.” “Ha ha ha.” “Eh, jangan bilang Apta juga kaya kamu, ya? Sudah mau nikah.” “Iya, mau nikah dia.” “Alhamdulillah, beruntung yang dapetin Apta. Eh, dia di pertambangan, kan?” Perusahaan pertambangan baru bara terbesar di Indonesia, dulu pernah menjadi impiannya, pernah ia sampaikan padaku tahun 2018. Setahuku mendengar kabar dari seseorang juga, dia bekerja di pertambangan setelah lulus sekolah. “Denger dari siapa?” “Dari siapa ya, lupa, beberapa bulan yang lalu. Alumni angkatan kalian kok.” Fikri hanya mengangkat kedua bahunya. “Kalau punya nomornya Apta, Mbak minta, Fik.” Menggeleng. “Nggak ada, Mbak. Kan besok, eh bukan, nanti kan bakalan ketemu sama Apta.” “Iya juga, aku akan tanyakan banyak hal. Pokoknya melebihi penyidik pas tanya sama tersangka kasus pembunuhan.” Fikri kembali tertawa. “Boleh dicoba sebelum jantung Mbak Dara copot.” “Ha ha ha.” Sekali lagi kukatakan,  jalan menuju dirimu yang menderu, jangan berikan aku lebih dari rindu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN