49. Pria Lampu Merah

1003 Kata

Tiga tahun yang lalu. "Bu, aku berangkat, ya?!" pamit Aneska sembari mencium pipi sang ibu. "Loh? Anes, kamu gak sarapan dulu?" "Nanti aku sarapan di kantin rumah sakit aja, Bu. Takut kejebak macet," jawab Aneska. "Bawa bekal aja, ya?!" "Ih, apaan sih, Bu?! Kayak anak SD aja bawa bekal," protes Aneska. "Siapa bilang yang bawa bekal itu anak SD? Ayah kamu juga sering bawa bekal kalau kerja," sanggah Ratih. "Kalau ayah lain cerita, Bu. Udah ah. Aku jalan dulu," sahut Aneska lalu mendekati sang ayah. "Pamit, ya, Yah!" Mencium punggung tangan ayahnya. "Hati-hati, Sayang." "Oke. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam. Anes, bawa payung. Hujan!" "Gak usah, Bu," sahut Aneska. Ia berangkat menggunakan mobil, untuk apa bawa payung. Ibunya itu ada-ada saja. "Kamu ini. Anti banget bawa payung.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN