Chapter 13: Tidak Cocok

1281 Kata
-Kaira- Syukurnya setelah kejadian dia sakit waktu itu, tidak ada lagi kejadian lain yang membuat Kaira tidak betah di kantor. Dia bisa menjalani hari-hari pertamanya di kantor dengan baik dan normal saja. Hanya satu-satunya hal yang menjadi pembuat dia kesal adalah Rayi. Pria itu tetap saja menjengkelkan. Sudah sebulan menjelang, Rayi dan Kaira masih saja tidak rukun. Kaira hanya menyapa sopan ketika tanpa sengaja berpapasan dengan Rayi, yang biasanya diabaikan pria itu. Tapi hari ini, sebulan setelah Kaira mulai bekerja, sepertinya Kaira terpaksa harus berinteraksi dengan pria itu lagi. Ini karena Tara si rekan kerja tidak masuk dan terpaksa dia yang mengambil jadwal CEO ke meja Rayi. "Kak Tara, serius banget ini Kakak nggak bisa masuk?" Kaira memastikan pada Tara saat perempuan itu menelponnya pagi ini. "Beneran, Kai. Aku tepar banget ini, flu berat nggak bisa bangkit. Jadi aku izin sakit, udah bilang HRD juga. Kamu handle yang biasa aku handle ya?" "Eh, oke Kak." "Termasuk pagi ini ke tempat Pak Rayi ya Kaira, jangan lupa." Nah, ini nih. Pekerjaan yang paling membuatnya tak nyaman. "Apa nggak ada kerjaan lain yang lebih enak gitu Kak?" Kai si pengecut sekaligus pembenci Rayi nomor satu di kantor berusaha mengelak. "Saya langsung bicara sama Pak Adya saja, gitu? Tanya jadwalnya hari ini." "Hus, nggak sopan," sela Tara. "Kamu pikir Pak Adya itu senggang, kamu bisa seenaknya bicara sama beliau? Kamu kalau mau bicara sama CEO, harus bikin janji lewat sekretarisnya dulu, dan itu ya Pak Rayi." Kaira mingkem. Tentu saja dia tahu itu, tapi kan inginnya dia ya tidak harus bicara dengan Rayi yang entah kenapa selalu jutek padanya. "Atau saya bicara lewat Pak Askar aja Kak?" "Pak Askar dan Pak Rayi, kamu harus bicara sama mereka dua-duanya, tanyain jadwal Pak Feri dan Pak Adya, oke?" Kaira menyerah, nasib menjadi bawahan ya memang seperti ini. Harus mau mengerjakan sesuatu yang tidak disuka. 'Pak Adya yang CEO aja perasaan lebih baik dari dia ya, kok bisa dia galak banget,’ batin Kaira misuh-misuh saat sudah ada di depan ruangan CEO. Ia melihat kedua pria itu di dalam sedang bicara. Pak Adya si CEO, usia 40 tahun lebih tapi tetap awet muda, tidak terlihat jauh usianya dengan Rayi yang mungkin baru berusia sebaya Kaira. 'Nah, muka dia awet tua sih.' Kaira mencela Rayi dalam hati, melempar senyum sopan penuh kepalsuan saat pria itu berjalan tertatih ke luar. "Selamat pagi, Pak Rayi," sapa Kaira santun ketika mereka bertemu pandang. Rayi mengernyit dahi melihatnya. "Ke mana Tara?" "Mbak Tara sakit, Pak. Hari ini tidak masuk, saya yang menggantikan ke sini." "Oh, begitu. Tapi kamu nggak ada rencana mau tumpahkan kopi lagi kan? Saya lagi gak mood ngulang kerjaan saya hari ini." Kaira mengatup bibir. Benar kan, baru juga datang dia sudah dijudesi. Lagipula kenapa juga kejadian bulan lalu masih saja diungkit? Ia jadi sebal, meski tak bisa terang-terangan menunjukkan. "Saya tidak bawa kopi, Pak. Tidak usah khawatir." Kaira pintar sekali berakting tidak sakit hati walau dalam hati kesal luar biasa. "Hm." Pria itu memperhatikannya sekilas sebelum mengangguk. "Ya sudah, kita bicara sebentar." Rayi menggestur, mengajak Kaira ke mejanya. Pria itu duduk di kursi depan mejanya. “Ini, jadwal Pak Adya hari ini. Ada yang saya tandai, orang-orang yang baru pertama kali ke sini. Nanti tolong kamu antar ke atas ya, ke ruangan meeting atau ke ruangan Pak Bos, semua sudah saya infokan di sini." "Baik Pak." Kaira memperhatikan jadwal sekilas, ada nama Ibra Tarendra dari Tarendra Group di sana, yang harus ditemani ke atas. 'Nama Tarendra ini kok familiar ya? Apa donatur panti?' Kaira bertanya-tanya dalam hati. "Kok malah bengong kamu?" Sentakan Rayi membuat dia tersadar. "Sana ke meja Askar, dia mau kasih tahu jadwal Pak Feri."
 "Eh, baik Pak." Kaira menghampiri Askar yang duduk di depan meja seberang meja Rayi. Pria itu berbanding terbalik dengan temannya, ramah menyapanya. Terlalu ramah, bahkan. "Wah, tumben ini Kaira yang datang ke atas. Mau tanya jadwal ya?" sapa Askar penuh senyum. "Iya Pak." "Jangan panggil Pak dong, aku nggak tua-tua banget lho. Panggil lain aja gimana?"
 "Ng, panggil apa ya Pak?" "Terserah, bisa Abang, bisa Mas, bisa Yayang ...." Askar terkekeh geli, sementara Kaira meringis canggung, ikut tertawa hanya demi sopan meski tak nyaman. "Panggil Pak aja, Pak."
 "Mas aja ya?" Pria itu mengedip satu mata, membuat Kaira risih. "Ngapain sih lo Kar? Kelilipan?" Suara Rayi dari meja seberang membuat mereka tersentak. Kaira melirik Rayi yang menekuk wajah. "Cepetan lo kalau mau kasih briefing dia, inget bentar lagi bos-bos pada mau meeting." "Iya, Yi. Iya. Buset, galak bener tu orang." Askar berdecak, langsung mengambilkan selembar kertas dari mesin printer di mejanya. "Ini untuk Pak Feri," katanya sembari menjelaskan sedikit soal tamu-tamu hari ini. "Kalau ada pertanyaan, tanya aja ya." Askar mengulurkan kertas itu, yang diterima Kaira dengan tangan kanan. Cepat, Pria itu menangkap tangannya lalu kini mengelus punggung tangan kanan Kaira, semakin membuatnya canggung. "Lembut juga ya tangan kamu?" puji pria itu masih senyam-senyum. "Eh ...." "Kok dia masih di sini sih?" Suara Rayi lagi. Askar sontak melepaskan pegangan tangan Kaira, membuat Kaira sedikit lega. Ia menoleh pada Rayi yang merengut. "Kalau sudah dapat jadwalnya, kamu turun. Ngapain mejeng di situ?" tanyanya jutek. 'Siapa juga yang mejeng!' Kaira mengomel, memilih mengangguk pada Rayi juga Askar lalu terbirit turun ke bawah. "Hah, untung udah selesai." Kaira menghela nafas lega begitu sudah kembali ke balik meja resepsionis. "Semoga besok Kak Tara masuk jadi aku nggak harus ke atas lagi." Begitu harap Kaira. Beberapa jam berselang, Kaira menerima banyak tamu sesuai jadwal. Sampai seorang pria muda berpakaian ala eksekutif masuk ke kantor PayDo. Kaira tersenyum santun. "Selamat datang, sudah buat janji sebelumnya, Pak?"
 "Sudah." Pria muda itu membalas senyum. "Saya Ibra Tarendra, ada janji dengan Pak Adya." "Ah, Pak Ibra. Silakan Pak, Pak Adya sudah di ruangan. Mari saya antar." "Terima kasih, Mbak ...." "Kaira, Pak." Kaira menunjuk name tag yang tergantung di lehernya. Ibra membaca name tag itu sekilas. "Kaira Sasmaya?" "Iya, Pak." "Hm ...." Lelaki itu terdiam, namun Kaira tidak terlalu memusingkan. Menggestur sopan agar Ibra mengikutinya ke atas, yang dilakukan si tamu. "Mbak Kaira asli Batam?" Pertanyaan Ibra yang tiba-tiba membuat Kaira terkaget. Namun dia mengangguk. "Iya Pak." "Besar dan lahir di sini?" "Eh? Benar." "Oh, begitu." Pria itu terlihat kecewa. Mereka sudah sampai di dekat ruangan Adya, dengan Rayi berdiri di depan pintu. Area itu sepi, Askar tidak ada di mejanya. "Silakan Pak Ibra, Bapak sudah menunggu." Sopan sekali lelaki itu, sungguh beda dengan saat bicara dengan Kaira. "Baik. Nanti kita ngobrol lagi ya, Mbak Kaira." Pak Ibra tersenyum pada Kaira yang dibalas anggukan Kaira. "Baik, Pak." Begitu Ibra masuk dan pintu ditutup, Rayi mendelik padanya. "Ngobrol apaan kamu barusan sama dia?"
 tanya lelaki itu. "Beliau cuma tanya saya asli mana, Pak." "Hm, masa iya?" Rayi menyelidik lagi. "Kamu jangan dekat-dekat begitu sama Pak Ibra. Dia sudah punya istri, tahu?" "Siapa juga yang dekat-dekat Pak?" Kaira balas mendelik. "Ya kamu. Tadi pagi saya perhatikan, kamu dekat-dekat Askar, sekarang sama Pak Ibra. Saya tahu kamu janda sedang cari calon suami, tapi jangan asal mendekati orang dong." Tidak mungkin Kaira tidak tersinggung mendengar itu. Bisa-bisanya lelaki itu asal menuduh? Apa karena statusnya yang janda? "Siapa yang cari calon suami ya? Bapak tolong jangan asal bicara. Saya bukan janda gatal." "Apa iya?" Rayi masih mendelik. Kaira mendecih. "Terserahlah, Bapak mau berpendapat apa soal saya. Yang jelas sekarang saya tahu kenapa Bapak diputuskan tunangan Bapak." Wajah Rayi berubah dingin. "Kenapa memang menurut kamu?" "Karena Bapak ngeselin!" Kaira menyemprot, sebelum berbalik badan dan kabur dari sana. Dia menepuk mulutnya sendiri yang kelepasan bicara begitu, berulang kali. Sementara Rayi berseru di belakangnya. "Maksud kamu apa sih??" 'Bodo amat!' Kaira membatin kesal, meski diam-diam panik. 'Haduh mulutku ini, kenapa sih nggak bisa tahan emosi. Mudah-mudahan dia nggak dendam.'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN