1. Bimantara

1140 Kata
Bimantara Hanif Pangestu. Putra pertama Husein Hanif. Pria dengan pesona yang sulit digapai. Kuliah semester enam jurusan managemen bisnis. Bukan keinginannya kuliah di situ. Namun, ini amanah kakeknya untuk meneruskan perusahaan Ferdian Group. Mau tidak mau ia harus mau. Kasihan Daddy-nya bila dia menolak. Daddynya adalah dokter spesialis. Tidak mungkin mau mengurus perusahaan. Sedangkan adiknya? Kevin Hanif pangestu lebih suka di bidang olahraga dan seni. Lagian dia tidak yakin, adiknya yang slegean itu bisa mengambil alih tanggungjawab yang besar. Liana Valery putri dewangga. Gadis kelas dua belas SMA garuda. Gadis cantik yang tomboy, kapten basket dan sering sakit gigi. Dia bersahabat dengan Bima dan Kevin walau umur mereka terpaut empat tahun. Gadis yang biasa dipanggil Liana itu memiliki sifat dasar yang cuek, acuh dan tidak peduli sekitar. Entah ngidam apa dulu mamanya mengandung dia. Kini Liana tengah bermain basket sendiri di lapangan sekolahnya. Karena sifat acuhnya, ia tidak mempunyai teman. Kakak kembarnya, Lion juga tidak pernah menemaninya. Lion selalu asyik dengan buku-buku tebalnya. Huft, Liana sangat bosan dengan kehidupannya. Liana benci Lion. Kakaknya selalu tidak pernah menganggap ada. Kalau ia sakit, baru kakaknya akan peduli. Liana heran, sebenarnya Lion itu benar saudaranya apa bukan. Kalau bukan Kenapa wajahnya sangat mirip. Liana mendribel bola dengan keras. Meluapkan emosinya pada Lion. Lion b*****t, Lion edan Lion jahat. Semua u*****n Liana utarakan dengan seiringnya dia mendrible bola. "Woy, Liana. Mau pulang atau terus di situ?" teriak Kevin dari luar pagar sekolah. Memang lapangan basket berada di pinggir dekat pagar. "Masih mau di sini!" jawab Liana yang juga berteriak. "Lo lupa ada janji dengan Bima? Gue gak tanggung kalau dia marah lagi." Liana ingat, dia punya janji nemenin Bima latian musik. Yang ditakuti Liana, adalah kemarahan Bima. Bima kalau sudah marah sulit diredakan. Buru-buru Liana mencangklong tasnya. Tanpa aba-aba dia menghampiri Kevin yang duduk di motor sportnya, " Minggir, gue aja yang nyetir," ucap Liana menarik kerah baju Kevin. "Gak gak. Gue aja. Lo kalau nyetir ugal-ugalan," tolak Kevin. Terakhir kali dia dibonceng Liana. Ia harus berakhir menabrak pekarangan domba. Hal itu memicu kemarahan Lion. Lion menghajarnya tanpa ampun. Mengira ialah yang mencelakai adiknya. Walau ia bisa membalas namun ia tak mau. Lion masih remaja seperti Liana. Dan sebenarnya kekuatan Kevin lebih besar. Hanya saja takut Lion mati kalau dia ikut menghajar Lion. "Gue aja. Kalau gak mau gue bonceng yaudah. Naik taksi sono!" kesal Liana. Kevin melotot. Heh, ini motornya. Kenapa Liana yang seenaknya. Dengan terpaksa, Kevin mengalah. Liana membawa motor dengan ugal-ugalan. Persis dengan dugaan Kevin. Di tempat lain. Bima memukul drum nya dengan kuat. Ia kesal. Janjinya Liana akan menemaninya, tapi sudah lewat dua jam tak kunjung datang. Semangatnya hanya Liana. Dan saat ini emosinya pun disebabkan oleh Liana. "Bim, bisa rusak itu stik. Kalau mukulnya kayak mukul maling!" celetuk Ava. Vokalis di grub band nya. The Angel's nama band mereka. Ava menghela napasnya. Empat tahun mengenal Bima, membuat gadis berparas cantik itu sudah terbiasa dengan sikap dingin teman satu kampusnya itu. Diam-diam, Ava sangat menyukai Bima. Baginya, Bima sangat misterius dan sulit untuk ditebak. Selama mengenal Bima pun, Ava tak pernah melihat Bima mengandeng satu perempuan pun. Yang Ava tau, Bima hanya terbuka dengan gadis kecil yang katanya sahabat Bima dan Kevin. Tak berapa lama, pintu ruangan terbuka. Muncul Liana dan Kevin dengan wajah berantakan. Rambut Liana sangat hawut-hawutan. Karena dia berkendara tidak memakai helm. Kevin sudah meminjamkan helmnya pada Liana, tapi gadis itu tidak mau dengan alasan bau kecut. Bima turun dari kursinya. Melangkah mendekati Liana. Melihat tatapan tajam Bima, Liana hanya cengar-cengir tidak jelas. Tanpa kata, Bima merapikan anak rambut Liana. Mengusap keringat Liana dengan tangannya. Liana cemberut melihat kebisuan Bima. Memang selalu begitu. Kalau marah, Bima selalu diam. Beda dengan Kevin yang mencak mencak tidak jelas. "Aku haus," rengek Liana. Bima meraih botol minumnya yang ada di meja. Meyodorkannya pada Liana. Sebelum sempat Liana meminum, Bima sudah menggeret Liana untuk duduk. Liana cengengesan. Ia lupa kalau Bima tak suka dia minum dengan berdiri. Semua kegiatan mereka disaksikan oleh Ava, Kevin dan teman teman lainnya. Bukan hal baru bagi mereka kalau Bima selalu berlebihan dengan Liana. Namun hal itu yang memicu Ava makin tidak suka dengan Liana. Sedangkan Kevin, ia langsung mengambil gitarnya. Memetik gitar itu dengan kasar hingga membuat Bima dan Liana menoleh. Sudah cukup sok pedulinya. Batin Kevin. Selama menunggu Bima latihan. Liana menjelajah sosial medianya. Ia sungguh bosan dan akan benar benar bosan kalau Bima tidak cepat menyelesaikan latiannya. Tiba-tiba, panggilan masuk datang dari Lion. Kakak Liana. Tanpa berfikir lama, Liana langsung mengangkat panggilannya. Ia selalu senang saat Lion menelfonya. "Halo Lion!" sapa Liana dengan ceria. "Panggil kakak. Aku kakakmu!" tekan Lion dengan geram. Liana lupa lagi, kalau Lion tidak suka dipanggil dengan nama walau mereka hanya beda lima menit. "Maaf kak. Ada apa kok tumben telfon?" "Cepat keluar. Aku menjemputmu. Mama dan papa menyuruhmu untuk cepat pulang!" ucap Lion dengan tegas. Ia selalu tau dimanapun adiknya berada. Karena kalung yang dipakai adiknya sebenarnya ada alat pelacak lokasi yang dia pasang. Kasih sayang seorang kakak yang amat besar. "Tapi, kak." "Cepat Liana!" sentak Lion yang membuat Liana kaget. "Iya kak aku ke sana sekarang." ucap Liana cepat. Soal Bima yang marah dia pikirkan nanti. Daripada Lion makin tidak menyukainya. Sudah bersyukur sekali Lion mau menjemputnya. Kejadian yang sangat langka. Bima menggeram marah saat membaca pesan Liana yang mengatakan sudah pulang dengan Lion. Lion selalu mengusiknya. Kakak Liana itu sudah terang-terangan menjauhkannya dari Liana. Bima bukan orang bodoh yang tak tau maksud Lion. Lion cemburu pada Bima dan Kevin. Karena, Liana yang merupakan adik kandungnya malah lebih akrab dengan orang lain. Bukan salah Liana. Salahkan Lion yang jadi orang tidak pernah asyik. Liana turun dari mobil kakaknya. Dalam perjalanan tadi sama sekali tidak ada yang membuka suara. "Kak Lion!" panggil Liana pelan. "Hem," "Kak Lion kenapa kayak gak suka sih sama Liana? Liana ada salah sama kakak?" tanya Liana pelan. Lion tersenyum tipis. Ia mengusap puncak kepala adiknya. "Adik kecilku yang manis," ucap Lion terkekeh. Liana mendelik. Itu bukan jawaban atas pertanyaanya. "Pikirkan saja apa yang telah kamu lakukan." ucap Lion kemudian berlalu pergi memasuki rumah. Liana mengumpat, selalu seperi ini. Liana sudah sering mengajak Lion berbicara. Tapi pria itu selalu mengacuhkannya. Ini terjadi sudah dua tahun belakangan. "Lion, Liana cepat turun. Makanan sudah siap!" teriak Akbir dari bawah. Lion dan Liana segera beranjak dadi kamar masing-masing. Waktunya makan dan mereka sangat senang. Lion dan Liana menunggu mamanya menyiapkan makanan. Mereka duduk anteng di meja makan."Pah kenapa tadi aku disuruh pulang cepet?" tanya Liana pada Akbir, papanya. Akbir mengangkat sebelah alisnya. Sedangkan Lion memalingkan wajahnya. Akbir tersenyum. Lion selalu menjadikannya alasan untuk menjemput Liana. Akbir tau, Lion cemburu dengan kedekatan Liana dan Bima. Bukan cemburu karena mencintai adiknya sendiri. Tapi, cemburu dengan waktu Liana yang lebih banyak dengan Bima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN