Bintang terbangun dengan mata yang perih. Ini sudah hari keuda ia mengurung diri di apartemen. Harusnya ia sedang bersenang-senang karena ia akan segera wisuda. Tapi, sekarang semangatnya hilang begitu saja terbawa oleh Raka. Bintang bangkit dan mengambil air mineral. Ia duduk di kursi makan sambil meneguknya sampai habis. Tatapannya kosong, lalu perlahan air matanya mengalir, ia kembali terisak-isak. Rasanya perih sekali. Saat-saat seperti ini, Bintang semakin kacau, ia mengambil ponsel dan mengecek sejumlah kontak. Ia butuh teman saat ini, siapa saja,tapi jangan Bella, sudah terlalu banyak ia merepotkan wanita itu. Lalu, gerakan Bintang terhenti saat membaca nama Nanda. Ia menghubungi pria itu. Beberapa kali terdengar nada hubung, tapi tidak ada tanda-tanda kalau teleponnya akan diangka

