Suara helaan napas berat keluar dari bibir Tasha dengan sorot mata nanar kala menatap sang ayah yang juga memandangnya dengan sorot mata bersalah. "Nak." "Kenapa hiks kenapa Ayah baru cerita sekarang. Ayah tau Tasha ... Tasha bahkan selalu di hantui dengan rasa bersalah sejak kepergian ibu. Ya Tuhan ... kenapa ibu--" suara tersendat Tasha membuat pria paruh baya yang ada di depannya seketika berdiri dari duduknya mendekati sang putri. Tangan pria paruh baya itu pun terangkat memeluk sang putri erat. "Maaf, Nak. Maafkan, Ayah." lirih beliau. Air mata Tasha terus mengalir membasahi pipinya. Hingga suara ketukan dari luar dan bunyi derit pintu di buka membuat ayah dan anak itu seketika melepas pelukan mereka, sedangkan di ambang pintu Shinta berdiri dengan sorot mata kebingungan.

