“Aku belum sempat mengenal kamu dengan baik, Nur. Tapi terima kasih atas semua bantuan dan keikhlasanmu membantu keluargaku.” Genta mencoba menciptakan pembicaraan yang bisa mendekatkan dirinya dengan Janur. Selama perjalanan menuju ke padepokan Darmo, tidak banyak obrolan yang terlontar. Janur tampak sibuk berpikir dan menelaah semuanya, sementara Genta tidak memahami satu pun dari semua ini. Perjalanan untuk mencari satu persatu pihak yang bisa membantu dirinya terlihat tidak ada arti juga membingungkan. “Aku bantu karena hutang budiku sama pak Cokro, Mas. Beliau yang membiayai kuliah juga hidupku selama ini.” Jawaban itu begitu menohok Genta. Gadis muda yang jauh terpaut dengan dirinya tersebut tampak kurang bersahabat sejak memihak pada Dayu. “Lagi pula, aku juga punya janji juga h

