Jeritan Padmi

1128 Kata
Mendung semakin mengelayuti desa Bedono. Para petani terpaksa harus kembali ke rumah lebih cepat. Sri dan Pardi berlarian menyelamatkan padi yang baru saja dijemur beberapa jam. Janur segera membuatkan kopi untuk keduanya dan menjerang air panas. “Kamu sudah masak nasi lagi, Nur?” tanya Sri sambil mengusap peluhnya. “Sampun, Bulek,” jawab Janur sambil membalik tempe gorengnya. Dapur tersebut memang masih menggunakan pawon atau tungku tradisional untuk memasak dengan mengandalkan kayu kering sebagai bahan bakarnya. Umumnya masyarakat desa di beberapa daerah sekitar, masih jarang memakai kompor minyak tanah atau gas. Pardi tampak sedang mengunci pintu lumbung padi. “Kopi dulu, Lek Par!” seru Sri. Pardi mengiyakan dan segera mendekat ke dapur. “Asyem tenan! Malah udan (Asem banget! Malah hujan)!” keluh Pardi. Sri tersenyum dan menyodorkan camilan untuknya. Janur meletakkan gelas kopi untuk Sri dan Pardi. “Udah tiga hari hujan terus. Padahal harusnya ini kan masih musim panas, ya?” balas Sri penuh sesal. “Cuaca makin ‘ndak jelas!” timpal Pardi. “Nasinya baik-baik aja tho tadi pagi, Nur?” tanya Sri khawatir. Janur mengangguk cepat. “Semoga kejadian nasi belatung nggak terulang lagi, ya, Lek,” harap Janur sendu. “Kamu itu sepupu atau keponakannya Drajat tho, Nduk?” tanya Pardi. “Saya keponakannya, Lek,” jawab Janur sopan. Pardi manggut-manggut. “Harus tetep setia sama bu Padmi, lho? Keluarga ini adalah keluarga baik dan paling murah hati. Hanya saja, kok ditimpa kemalangan yang ‘ndak ada habisnya,” cetus Pardi prihatin. “Ujian dari Gusti Allah, tho? Siapa yang bisa mengira, jajal (coba)?” timpal Sri. Pardi menyeruput kopinya dan mulai melinting rokok. “Aku itu sejak kecil udah ikut mendiang Pak Cokro. Sampai sekarang, jadi punya rumah dan bisa sekolahin anak juga karena keluarga ini,” kenang Pardi setengah bersedih. Sri menghela napas berat. “Semoga saja, bu Trining cepat pulih dan bisa kembali waras seger buger,” harap Sri lirih. “Ya. Semoga mas Pram juga,” harap Pardi. Sri mengangguk dan memandang derai hujan dengan hati berduka. *** Trining berjalan dengan pelan ke luar kamar. Kakak iparnya, Padmi sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Trining melewatinya dan menuju dapur, mencari Sri atau Janur. “Sri … Pram sudah makan belum?” tanya Trining. Sri meletakkan pekerjaannya buru-buru. “Aduh, Bu Tri. Jangan bangun dulu!” serunya panik. Trining mengibaskan tangannya dan tersenyum. “Aku udah baik dan sehat. ‘Ndak usah khawatir,” sergahnya santai dan ringan. Trining duduk di amben bambu dan membantu Sri menyiangi sayuran. “Janur ke mana?” tanya Trining. “Sedang angkat jemuran. Mas Pram sudah makan tapi sedikit. Habis itu minta tidur lagi,” jawab Sri. Trining mengangguk dan menghela napas. “Aku kangen sama Dayu,” gumamnya. Sri berhenti memetik batang kangkung. “Telepon coba, Bu. Sapa tahu mbak Dayu juga kangen,” saran Sri. Trining tersenyum samar. “Aku ‘ndak mau membebani pikiran dia,” sahut Trining lesu. Sri menatap Trining dengan iba. “Sabar ya, Bu. Kita juga kangen sama mbak Dayu. Dia itu biar pendiam dan ‘ndak banyak omong, tapi jadi seru kalo ada mbak Dayu,” ucap Sri membenarkan tentang kerinduan mereka. Trining mengangguk dan tertawa kecil. Sementara itu, Padmi baru saja meletakkan telepon dan bergegas menuju kamar. Sekilas ia melihat ada bayangan berkelebat di dekat lemari. Walaupun baru pukul dua siang, tapi kondisi cuaca yang mendung, membuat suasana menjadi gelap. Tangannya meraik saklar lampu dan kamarnya menjadi terang. Tidak ada siapa-siapa. Dengan kesal, Padmi mematikan kembali dan beringsut naik ke pembaringan untuk istirahat siang. Setelah memasang kipas ke arah dinding, Padmi menarik selimut. Suhu siang itu memang sangat lembab dan dingin. Entah berapa lam Padmi memejamkan mata dan hampir mulai terlelap, ketika ia merasa ada yang menarik selimutnya. Tanpa sadar, Padmi tersenyum. Hanya si kembar, Binar dan Lunar, saja yang memiliki kebiasaan menarik selimutnya. “Jangan nakal ya, Mbak,” gumam Padmi setengah mengantuk. Selimutnya kembali ditarik oleh seseorang. “Binar, Lunar, ‘ndak boleh nakal!” ucap Padmi mulai kesal. Dalam rasa mengantuk yang luar biasa, benaknya mulai berpikir. Dua putri kembarnya memang sangat usil tapi menjadi hiburan tersendiri. Sejak tervonis menderita kelainan kulit dan tidak boleh terpapar sinar matahari langsung, Binar dan Lunar selalu tinggal di rumah dan harus hidup dalam kondisi gelap atau remang-remang. Sayangnya, kedua gadis malang tersebut harus menyerah pada takdir dan meninggal pada usia tiga belas tahun. Genta masih usia tujuh tahun kala itu. Sejenak, Padmi baru menyadari jika kedua putrinya telah pergi! Kerinduan dan rasa tidak terima seorang ibu yang merasa gagal melindungi anaknya, membuat Padmi terkadang melupakan fakta menyakitkan tersebut. Rasa kantuknya mendadak lenyap. Kini Padmi merasakan bulu kuduknya merinding parah. Untuk ketiga kali, selimutnya kembali ditarik dari ujung tempat tidur. Dengan tubuh gemetar, Padmi memberanikan diri mengangkat kepalanya sedikit. Dalam remang-remang cahaya dari luar, wanita itu melihat kedua arwah putrinya berdiri di ujung pembaringan dengan tubuh remaja mereka. Padmi memang tidak ketakutan, tetapi rasa sedih bercampur duka mendesak nuraninya. “Ke-kenapa, Nduk? Kenapa jiwamu tidak tenang?” ratap Padmi lirih dan setengah tersedu. Arwah si kembar hanya menatap Padmi dengan tatapan hampa, karena kedua rongga mata mereka tidak ada bola mata! “Pergilah, tenang dan beristirahatlah, Nak!” seru Padmi tergugu. Ia mencengkeram selimutnya kuat-kuat. Hatinya begitu miris melihat buah hatinya belum juga mendapat tempat yang tenang di Surga. Apa yang membuat mereka seperti itu? “Pergi … pergi ….!” Desis kedua arwah dengan suara antara ada dan tiada. Berdengung halus masuk ke gendang telinga Padmi. “Pergi kemana tho, Nduk?” tanya Padmi makin terisak. Mereka tidak menjawab dengan kalimat lain. Hanya dengungan ‘Pergi’ selalu mereka lantunkan. Padmi merasakan dadanya mulai sesak. Dengan sekuatnya, ia menjerit. “Tolong!!” raung Padmi. Air matanya mengalir dan seperti wanita yang lumpuh, ia tidak mampu menggerakkan tubuh sama sekali. Tidak lama, Sri dan Trining membuka pintu dengan paksa, tapi rupanya terkunci. Padmi semakin panik ketika arwah putrinya mulai mendekati. Rasa yang semula tidak takut, kini berganti kengerian! Entah apa maksud mendiang putri kembarnya, tapi kedua arwah tersebut sekarang menindih dadanya sambil berteriak sekuatnya. “Pergi … pergi!!” Jeritan Padmi terdengar dan orang-orang yang ada di luar pun panik seketika. Sri meminta Totok yang sedang mencuci mobil untuk mendobrak pintu. Dengan sekuat tenaga, pemuda itu menendang dan berusaha menjebol. Setelah usaha beberapa menit, pintu jati itu jatuh berdebum di lantai. Sri dan Trining menerobos masuk. Padmi dalam kondisi kejang, seperti tercekik, terbaring di atas tempat tidur. “Astagfirullah, Mbak Padmi!” pekik Trining kalut. “Bu! Ibu, kenapa?!” seru Sri tidak kalah panik. Tanpa membuang waktu, Totok membopong tubuh majikannya dan melarikan ke rumah sakit terdekat. Janur terhenyak dan bersandar di tembok. Semua keluarga mereka yang telah meninggal, meminta penghuni rumah untuk pergi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN