Tiga Kemelut Amandaru

1687 Kata

Jetro menghela napas kembali dan tampak cemas. Beberapa kali pria itu menengok Dayu dan Janur yang tidur di kamar bayi. Alina terlihat dalam pelukan Dayu yang tertidur menyamping. Janur masih waspada dan duduk di lantai dengan sikap meditasi. Malam merangkak ke dini hari, Jetro masih belum juga sanggup memejamkan mata. Selain karena tragedi yang baru saja mereka lalui, kondisi ibunya yang mendadak pikun menjadi pemikiran Jetro saat ini. Inilah hidup. Penuh dengan tumpukan masalah yang tidak kunjung berhenti. Siapa pun mungkin sedang menghadai masalah masing-masing, akan tetapi, bagi Jetro ini tidak pernah ia duga akan terjadi dalam hidup mereka. Sebagai manusia yang mengandalkan nalar dan logika, hal-hal yang berbau kutukan dan sihir serta santet adalah jauh dari jangkauannya selama in

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN