Kehamilan Dayu

1146 Kata
Dayu dan Padmi duduk di depan kamar tempat Trining dirawat. Dengan wajah tertekan dan sayu, Padmi meremas ujung kebayanya. Rasa sesal karena terlalu lama pergi, mendera wanita yang menginjak usia enam puluh tersebut. Genta keluar kamar dan menutup kembali. "Mereka baru selesai memasang semua alat. Luka jahitan di tubuh Bulek terlalu banyak, jadi aku meminta untuk melapisi tempat tidur dengan alas penyerap cairan. Biar Bulek nyaman," terang Genta. Pria tampan itu juga tidak kalah pucat. Kemelut yang menimpa keluarga mereka makin berat dan sulit diselesaikan. Mereka seperti tersudut. "Eti minta keluar kerja, jadi Sri sekarang kerja sendiri. Tidak akan ada yang betah dengan kita kalo begini terus," balas ibunya. "Aku sudah bicara dengan Drajat. Sepupunya mau kerja ditempat kita, Bu," hibur Genta. Padmi tidak mampu terhibur. Gelayut duka masih membayang di wajah. "Ibu, pulang sama mas Totok, ya? Biar Dayu yang jaga Bulek," tawar menantunya lembut. Padmi termenung sesaat, kemudian mengiyakan. Sepeninggal Padmi, Genta duduk di samping istrinya. "Untung masih ada Sri," ucap Genta penuh syukur. Dayu merasakan bibirnya kering. Tidak ada keuntungan yang ia rasakan saat ini. Trining terluka parah dengan tubuh tercabik. Total ada tiga puluh sayatan dan Trining harus berada selama enam jam di atas meja operasi, untuk menjahit semua lukanya. Entah kapan luka itu akan sembuh, yang pasti trauma akan terus tertinggal. "Tinggal menunggu waktu giliran, Mas," balas Dayu kecut. Genta terperangah. "Kamu jangan ngomong gitu dong, Yu!" "Kenapa nggak boleh? Kita ini, mereka perlakukan seperti hewan ternak yang siap dipotong!" tandas Dayu getir. "Aku kurang usaha apa? Polisi yang menyanggupi untuk membantu kita berakhir menjadi almarhum! Aku nggak akan melibatkan orang lain lagi!" "Minta sama Ibu dan keluargamu, untuk berhenti menyembunyikan teka teki ini! Cari Mbah Darmo hingga ke ujung bumi jika perlu!" tegas Dayu berapi-api. Emosinya berada di puncak. Selama ini ia hanya diam dan patuh. Namun, haruskah ia akan terus bungkam? Dirinya sudah sangat memahami dan menerima semuanya tanpa bantahan. Dayu juga tidak pernah menuntut. Tapi jika keselamatan mulai terancam, haruskah ia hanya pasrah? "Aku terikat pekerjaan, Yu. Kamu tahu betapa berartinya ini untuk masa depan kita?" ujar Genta mencoba menjelaskan. Dayu bangkit berdiri. "Jadi menurut Kamu, pekerjaan lebih penting dari nyawa keluargamu?!" Pekikan Dayu terdengar melengking dan nyaring. Suara itu bergema di lorong panjang rumah sakit. Untunglah saat ini sudah tengah malam. Hanya para perawat jaga yang mendengar. Tapi mereka tidak peduli, karena cukup memahami situasi yang sedang mereka hadapi. "Dayu! Kamu kenapa?!" tanya Genta heran. Dayu memejamkan mata dan bahunya terkulai. Tubuhnya tampak gontai dan ia duduk di kursi kembali. "Cari mbah Darmo, Mas. Atau semua menjadi terlambat." Genta menyandarkan tubuh di tembok. Hatinya menjadi risau dan kegelisahan meliputi pikiran sehatnya. *** Seminggu berlalu. Trining sudah mulai pulih dan bisa duduk serta makan sendiri. Dayu mendampingi buleknya setiap saat. "Semua badanku gatal," keluh Trining. Dayu mengoleskan salep dari dokter untuk mengurangi peradangan dan mempercepat jaringan sel tumbuh kembali. "Artinya mau sembuh itu," hibur Dayu sabar. Seluruh luka ada di d**a dan perut Trining. Saat Dayu mengoleskan salep pada luka, jahitan itu tampak mengerikan. "Bulek mirip monster yang di hollywood," guraunya. "Frankestein, maksudnya?" tebak Dayu. Trining menganguk. Senyum geli terukir pada bibir Dayu. Ternyata buleknya paham juga mengenai monster Hollywood tersebut. Begitu selesai, Dayu membereskan semua dan memasukkan dalam dompet obatnya. "Kamu kenapa, Nduk?" tanya Trining saat Dayu menutup mulutnya dengan ekspresi mual. Wanita itu tidak menjawab, tapi berlari menuju kamar mandi. Terdengar suara orang muntah berkali-kali. "Kamu pasti masuk angin," duga Trining. Dayu meminum botol mineral buru-buru. "Ya, mungkin. Minum obat nanti juga sembuh," tukas Dayu. Trining tersenyum samar. "Bulek. Mau sholat sekarang?" tanya Dayu. Trining mengangguk dan mereka melaksanakan ibadah bersama. Dayu menghamparkan sajadah di lantai, sementara Trining di tempat tidur. Alunan doa mengalun dan membuat hati keduanya damai. *** Minggu kedua, Trining sudah mulai kembali melakukan aktivitas seperti biasa sendiri. Semua luka jahitan sudah dibuka dan perlahan-lahan menuju sesi pemulihan. Padmi tidak pernah absen, mengunjungi adik iparnya tersebut. Pencarian Genta dan Padmi tentang keberadaan mbah Darmo tidak berhasil. Sementara itu, Trining menyampaikan ketakutannya untuk kembali ke rumah joglo. Peristiwa yang terjadi padanya di lumbung padi, meninggalkan trauma mendalam. Setiap malam dirinya harus bergelut dengan mimpi buruk. Tragedi dia terbantai dalam gudang tanpa bisa melawan, meninggalkan kengerian yang mengendap. "Makhluk itu terus meraih tubuhku dan menancapkan kukunya ke dalam daging, kemudian menggoyakku," papar Trining saat menceritakan kembali. Wanita itu menggigil ketakutan. Setahu dia, setan tidak mampu menyentuh manusia. Tapi kenapa Trining bisa terluka? Bahkan hampir terbunuh. "Aku tidak pernah bisa melupakan perihnya sayatan itu. Belum lagi, wajah sosok menjijikkan yang terus menatapku dengan bengis," ratap Trining. Dayu merapatkan jaketnya dengan wajah syok. Buleknya sedang duduk bersama psikiater, sementara Dayu menemani di ujung ruangan. Mereka terus menggali cerita sejelas mungkin. "Apakah Bu Trining sudah bisa menggambarkan dengan jelas wajah penyerang tempo hari?" tanya psikiater itu sembari mengangsurkan kertas gambar polos di meja. "Aku sudah memberikan gambarannya." Trining menolak dengan suara dingin. "Ya. Tapi deskripsi itu bukan wajah manusia, Bu. Mungkin penyerang Ibu bertopeng, tapi ada tidak ciri-ciri di bagian tubuhnya yang ibu ingat?" "Semua sudah kujelaskan!" bentak Trining mulai kesal. "Bu, maaf kalau sedikit mendesak terus menerus. Tapi demi kasus ini bisa polisi selesaikan, tolong beri gambaran yang sedetail mungkin. Sejauh ini, gambaran sosok itu bukan manusia, apalagi tangannya yang memiliki cakar." "Kau pikir yang menyerangku manusia?!" pekik Trining. Dayu menelan ludah. Tidak ada yang mempercayai mereka. Sepertinya semua harus mereka hadapi sendiri. 'Ya Allah, Ya Rabbi' keluh Dayu dalam hati. "Saya tidak bisa membantu, jika Bu Trining tidak bisa membedakan antara kenyataan dan halusinasi." Psikiater tersebut masih gigih dengan permintaannya. "Cukup. Bulek saya tidak perlu menjawab apa-apa lagi." Dayu bangkit serta menarik kursi roda tersebut dengan pandangan jengkel. "Ibu Dayu, tunggu. Sesi terapi ini belum selesai!" "Terapi apa ini?! Sia-sia jika tidak ada kepercayaan dari kalian! Bulek saya tidak gila dan semua penjabarannya bukan halusinasi!" bentak Dayu mulai hilang kesabaran. Psikiater wanita yang bernama Arum itu menghela napas dengan serba salah. "Terima kasih dan selamat siang!" Dayu mendorong kursi roda Trining dan bersiap meninggalkan ruangan. Arum tampak kecewa. Dia tahu betul yang keluarga mereka sedang hadapi. Sigit adalah pamannya yang berteman baik dengan Pram. Tapi tuntutan pekerjaan memaksanya, untuk terus menggali kemungkinan yang bisa diterima dengan nalar. "Dayu, tolong dengarkan aku!" Arum melupakan tata krama panggilan pada kliennya, serta mengejar Dayu yang sudah keluar ruangannya. Wanita cantik itu menahan amarah yang menggelegak dalam dirinya. Semua perasaannya terintimidasi dan kini menimbulkan mual yang tak tertahankan. Saat lima langkah menjauh, Dayu merasakan kepalanya berputar dan isi lambungnya terhambur. Trining berteriak penuh khawatir. Dayu bersimpuh dengan napas tersengal. Arum mendekat dan menuntun Dayu untuk duduk. "Sepertinya kau harus mengurangi emosi. Sebagai calon ibu, itu penting," ujar Arum lembut. Baik Trining maupun Dayu terhenyak. Arum melemparkan senyum hangat. "Selamat atas kehamilanmu," bisik Arum dengan yakin. Dayu tertegun. Matanya berkaca-kaca dan tangisan Trining yang gembira mendahului isakannya. Dayu memegang perut lalu menyandarkan tubuhnya ke tembok. Air mata bahagia bergulir tak terbendung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN