Genta melewati ruang jenazah yang bersebelahan dengan ruang operasi. Dirinya baru saja selesai melaksanakan operasi melelahkan selama lima jam. Dengan gontai ia melangkah menuju kantornya. Namun begitu melewati ruang jenazah yang tertutup rapat tersebut, wajahnya mengkerut. Ada bau busuk mirip dengan bangkai yang tercium.
“Suster! Mayat siapa yang belum diambil sampe berbau begini?” tanya Genta pada ketiga suster yang keluar dari ruang operasi.
“Tidak tahu, Dok. Coba nanti kami tanyakan,” sahut salah satu dari mereka.
Memang kejadian mayat yang terbengkalai di rumah sakit sudah biasa. Terutama mayat dari korban tabrak lari yang tidak jelas. Biasanya, pihak rumah sakit akan mengawetkan dan memberi formalin. Tapi kadang petugas jenazah suka sekali melalaikan tugas mereka. Alasannya kadang tidak manusiawi dan terkesan klise, hemat pengeluaran.
Genta masuk ruang kantor dokter dan mengeluh pada rekan kerjanya, tentang bau yang berasal dari ruang jenazah. Dari pihak pengelolaan rumah sakit, Deni, menyangkal hal tersebut.
“Mana mungkin bau, Dok. Di sana hanya ada dua jenazah yang sudah kami beri formalin dan bersih kok,” tugasnya.
“Berarti kalian harus membersihkan tempat itu,” tangkis Genta masih kesal. Tidak ada satu pun yang mempercayai ceritanya.
“Aku baru dari sana lho, Dok,” timpal dokter Lina, yang khusus memeriksa jenazah sebelum dijemput keluarganya. “Tidak ada bau yang menyengat,” sambung rekannya tersebut.
Genta mengibaskan tangan dan meminta melupakan kejadian tersebut.
***
Padmi mengendus bau busuk yang entah dari mana asalnya.
“Janur!”
“Ya, Bu.” Gadis itu segera menyahut dan mendatangi Padmi.
“Ini dari tadi kok bau kayak bangkai busuk? Kamu coba minta Totok periksa loteng!” perintahnya dengan raut jijik bercampur ekspresi mual.
“Sudah, Bu. Tadi bulek Trining juga mengeluh hal yang sama,” jawab Janur polos. Padmi tercekat.
“Sudah lupakan. Kamu lanjutkan kerjaanmu,” tukasnya.
Janur menghela napas prihatin dan melenggang ke dapur kembali.
“Kenapa, Nur?” tanya Sri.
“Ibu bilang bau bangkai. Bulek Trining juga dari pagi tadi sudah ngomong. Tapi waktu mas Totok periksa, di loteng, di kamar-kamar, ndak ada bangkai tikus,” jawab Janur.
Sri meletakkan bakul berisi sayuran yang baru selesai ia potong-potong.
“Banyak banget peristiwa aneh di rumah ini. Pantesan, mbak Eti keluar kerja,” gumam Janur setengah bergumam. Sri menoleh dan menghentikan kegiatannya mencuci sayuran.
“Kamu sendiri? Tidak takut?” tanya Sri, setengah menyelidik. Janur mengedikkan bahunya acuh.
“Buat apa takut? Lha wong saya sering liat makhluk gaib, Bulek,” sahutnya santai dan terkesan ringan. Sri yang mengetahui Janur baru beberapa bulan ini, tampak terkejut.
“Kamu bisa melihat mereka?!” tanya Sri kaget. Janur mengangguk.
“Termasuk mendiang pakdhe Cokro dan mbak Binar sama mbak Lunar,” jawabnya. Sri hampir melupakan keran air yang terus mengucur. Setelah mematikan keran tersebut, Sri mendekati Janur buru-buru.
“Kamu ini sepupu Drajat yang baru balik dari Bandung itu, kan?” tanya Sri. Janur tersenyum hangat.
“Leres (betul), Bulek. Saya ini juga yang diminta sama mas Drajat buat jagain keluarga ini,” sahut Janur. Sri duduk di sebelah Janur dengan wajah ragu.
“Jadi kamu juga harusnya tahu, kalo aku juga masih terhitung keponakannya mbah Darmo biar pun masih agak jauh?” tanya Sri kemudian.
Janur berpaling pada Sri dengan tatapan mata yang cukup tajam.
“Tahu. Saya sudah tahu semuanya, Bulek. Saya juga cucu dari mbah Darmo, cucu dari adik mbah yang bungsu tepatnya. Hanya, saya ini diberi pesan sama Mbah Guru untuk tidak mengungkapkan pada siapa saja, kecuali Sampeyan,” ucap Janur penuh teka teki.
“Mbah Guru? Maksudmu, pakdheku, Mbah Darmo?” tanya Sri terbata-bata. Janur mengangguk.
Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu tampak biasa dan tidak ada yang istimewa. Rambutnya yang panjang sepinggang selalu terkepang rapi. Tidak pernah berdandan dan selalu tampil sederhana.
Namun kali ini Sri baru menyadari, jika postur tubuh Janur memang terlihat tinggi dan tegap. Mungkin di balik kaos itu, tersimpan otot yang terlatih. Karena setahu Sri, pakdhenya memiliki ilmu kanuragan yang dibalut dalam gerakan silat.
“Apa kamu yang selalu pakdhe ceritakan itu?”
Kali ini, Sri tidak lagi bertanya hal yang masih menjadi dugaannya. Ia langsung mengetahui siapa gadis di depannya tersebut. Janur dengan senyum tenang, mengangguk.
“Sejak kapan kamu menjadi murid pakdhe, Nur?”
“Semenjak saya umur lima tahun, Bulek. Saya ini kan pernah dianggap pembawa s**l. Hanya mas Drajat yang mau ngurus dan kemudian nitipin saya ke Mbah Guru. Orang tua dan keluarga saya sendiri udah buang saya,” jawab Janur dengan sendu.
Sri menutup mulutnya dengan terperangah.
“Pantes, aku nggak pernah liat kamu …,” desis Sri dengan kaget.
Jika benar Janur adalah murid yang pakdhenya pernah ceritakan, ia tidak perlu lagi merasa khawatir. Keluarga ini akan aman dan bisa terlindung dari sasaran tumbal Sayekti.
“Kalo memang kamu adalah cucu dari mbah Jinah, adik bungsu pakdhe Darmo, berarti kita masih saudara. Tapi aku sendiri juga nggak pernah denger tentang kamu, Nduk.”
“Nggak apa-apa. Saya sudah biasa.” Janur tersenyum tulus dan tampak tidak terbebani dengan kondisinya. “Saya terbuang dari kecil.”
Sri tersenyum lembut dan menepuk tangan Janur pelan.
“Sekarang nggak lagi, tho? Aku ini berarti masih terhitung bulekmu.”
Janur membalas senyum dengan hangat.
“Menurut kamu, bau apa yang mereka cium dari pagi?” tanya Sri ingin tahu.
Akhirnya gadis itu merasa tidak perlu lagi pura-pura menutupi semuanya lagi di hadapan Sri.
“Nanti saja, saya beritahu sekalian sama mereka,” tukas Janur. Sri tidak bisa memaksa. Janur kemudian meninggalkan Sri yang masih tertegun.
***
Genta baru selesai bersantap dengan keluarganya. Rasa gerah membuatnya memutuskan untuk duduk di teras dan mengajak ibunya.
“Duh,” keluh Genta tiba-tiba menutup hidungnya kembali.
“Kenapa, Le?” tanya Padmi.
“Aku dari pagi kok nyium bau busuk, Bu,” balas anaknya dengan resah. Padmi menoleh pada Janur yang mengantarkan kopi untuk mereka.
“Kamu yakin Totok tadi sudah memeriksa semua loteng, Nur?” tanya Padmi kembali.
“Sampun, Bu. Semua sudah diperiksa. Bahkan sampe ke lumbung,” jawab Janur santun.
“Kenapa bisa bau begini, ya?” timpal Genta.
“Karena ini bukan bau bangkai, Mas,” sahut Janur. Padmi mengerutkan alisnya.
“Lha terus bau apa?” tanya majikannya penasaran. Sri muncul membawa camilan untuk mereka.
“Bau calon mayat,” jawab Janur pelan.
“Apa?!” seru Genta tidak yakin akan pendengarannya. Janur mengangkat mukanya.
“Bau calon mayat, Mas,” tegas Janur lagi.
“Mayat siapa, Nur?” tanya Padmi terpana.
“Bukan mayat, Bu. Tapi calon mayat. Biasa disebut sebagai …,”
“Gondo mayit …,” desis Padmi menyambung kalimat Janur.
“Si-siapa yang akan mati, Nur? Kamu tahu dari mana?” tuntut Genta tidak menelan begitu saja informasi dari pembantunya.
Janur menunduk dengan resah. Ini hal yang tidak mungkin ia ungkapkan pada mereka. Dirinya bisa dianggap sebagai pembawa s**l. Kehidupannya dulu yang pernah sengsara, akan terulang kembali.
“Saya ndak tahu,” sahut gadis itu lirih.
“Kamu jangan sembarangan ngomong ya, Nur!” cetus Padmi.
“Janur tidak bohong, Bu. Dia ini murid sekaligus cucu mbah Darmo!” tukas Sri buru-buru membela posisi Janur.
“Murid dan cucu mbah Darmo?” desis Padmi heran. Janur masih menunduk dan tidak menjawab.
“Kalian semua makin tidak jelas dan ngomong ngalor ngidul! Apa yang terjadi sebenarnya?!” seru Genta tidak sabar.
Sri menceritakan sekelumit informasi tentang siapa Janur sebenarnya. Baik Genta maupun Padmi kini terhenyak.
“Drajat nggak pernah cerita masalah ini,” ujar Genta gusar.
“Besok kamu bisa menanyakan langsung pada dia. Tapi buat ibu, cerita Sri sudah lebih dari cukup.” Kalimat Padmi terdengar sangat yakin dan tidak ada keraguan.
“Kamu bantu jaga keluarga ini ya, Nur? Terutama Genta dan Pram. Trining dan aku bisa menjaga diri sendiri,” pesan Padmi terdengar melembutkan suaranya. Janur mengiyakan dengan pelan.
Sepeninggal kedua pembantu mereka, Padmi dan Genta masih duduk di teras. Bahasa tubuh Genta tidak lagi tenang.
“Siapa yang akan menjadi tumbal berikutnya, Bu?” tanya Genta dengan suara gemetar.
Padmi menggelengkan kepala dengan lemah. Batinnya saat ini tercabik. Antara penyesalan dan ingin memberontak untuk mengatakan yang sesungguhnya.