Sekarang Tio dan Tia sudah berada di ruangan VIP sebuah restoran berlantai lima. Terlihat Tio menatap tajam ke arah Tia yang saat ini menundukkan kepala.
"Ma...maafkan saya tuan, tadi tuan yang tiba tiba berhenti dan sa-"
"Bukankah sudah kukatakan untuk tidak mengucapkan kata maaf itu lagi anak pembantu!" Sentak marah Tio dengan raut datarnya. "Berhenti membahas kejadian itu. Lagian itu salahmu sendiri," sambung Tio dingin dan masih menatap tajam ke arah Tia.
"Ma- maksudku baiklah tuan muda." ucap Tia dan gadis itu langsung bungkam, 'ciuman pertamaku diambil oleh tuan muda Tio. Lagian kenapa aku begitu senang, dan kau jantung. Berhentilah berdegup cepat seperti ini sialan,' gerutu Tia dalam hati.
Flashback on
"Turun anak pembantu," perintah Tio dari luar Limousine hitamnya dan tanpa menunggu, Pria itu langsung melangkah terlebih dahulu untuk masuk ke dalam restoran yang nampak ramai.
'Jantung tenang lah. Ini bukan kencan. Aku cuma menemani tuan muda makan malam,' batin Tia lalu bergerak keluar dari dalam mobil.
Tia menolehkan kepala ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Tio. Senyum gadis berkulit sawo matang itu terlukis saat melihat Tio tengah berdiri di depan pintu restoran.
Tia berjalan cepat menyusul tuan mudanya agar dia tak kena sembur karena berjalan lelet. Sementara itu, Tio berhenti tepat di depan pintu masuk restoran. Merasa belum diikuti oleh Tia, Tio berinisiatif berbalik untuk melihat dimana keberadaan anak pembantu itu.
Tio memutar tubuhnya dan tepat saat dia sudah berbalik. Tubuh bagian depannya di tabrak oleh tubuh mungil Tia hingga tubuh kecil itu terhuyung ke belakang, dan hampir terjatuh.
Melihat itu Tio dengan gerakan cepat langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Tia. Pandangan mata mereka kembali bertemu. Mata hitam Tia langsung terkunci oleh mata hitam kecoklatan milik Tio.
Jantung mereka berdua berdetak sangat cepat. Malahan lebih cepat dari terkena mesin kejut, 'kenapa dia terlihat manis sekali,' batin Tio berucap menganggumimu wajah ayu Tia.
Tia tersadar terlebih dahulu dan langsung bangkit karena, merasa posisi mereka ini sangat tidak benar. Tia bergerak cepat untuk kembali berdiri tegap dan...
Cup!
Bukan aman yang dia dapatkan, malah posisi mereka berdua saat ini, berhasil membuat pandangan semua orang melihat pada mereka.
Tia kembali terdiam karena sekarang bibirnya menempel tepat di bibir Tio. Tio juga seperti itu, Pria itu terdiam mematung, 'ciuman pertamaku,' batin mereka berdua secara bersamaan.
Flashback off
Tio menaikkan satu alisnya saat melihat Tia yang hanya menunduk dan tidak ingin mengeluarkan suara untuk mengobrol, "Anak pembantu...." Tio memanggil dengan nada santai tapi, gadis yang tak di panggil tak menyahut, "Anak pembantu sialan!" sentak Tio dan membuat Tia langsung mengangkat kepala kaget.
"A...ada apa tuan muda? A...apa anda membutuhkan sesuatu?"
"Kenapa kau diam? Dan, kenapa kau selalu menunduk? Apa ada sesuatu dibawah sana?"
"Ti...tidak ada tuan muda. Bukankah tadi, anda yang meminta saya diam. Kenapa sekarang anda marah saya diam seperti ini?" jawab Tia dan gadis itu juga memberikan pertanyaan dan membuat Tio gelagapan.
'ada apa denganmu Evantio Kenzo? Kenapa kau mengurusi anak pembantu itu,' batin Tio merutuki dirinya sendiri, "Lupakan, dan kenapa kau bertanya padaku? Apa hakmu memberikanku pertanyaan?"
Tia yang hendak menjawab terpaksa mengurungkan niatnya saat pintu ruang VIP dibuka oleh dua orang pelayan restoran.
Dengan tersenyum kedua pelayan itu mendekati meja yang sudah diduduki oleh Tio dan Tia, dengan salah satu pelayan mendorong sebuah troli yang dipenuhi makanan.
"Maaf mengganggu percakapan anda tuan dan nyonya Kenzo," ujar sopan pelayan tersebut dengan menunduk.
"maaf nona, anda salah paham..." Tia tersenyum manis ke pelayan tersebut dan senyum itu membuat jantung Tio berdegup kencang. "Saya hanyalah anak pembantu, dan bukan pasangan dari tuan muda Kenzo." Setelah berkata seperti itu, Tia langsung berdiri dan hendak melangkah.
Tapi, sebelum wanita itu mengambil langkah pertama. Suara tegas dan dingin Tio langsung membuat dia terdiam, "Duduk," perintah Tio dengan menatap tajam ke arah Tia.
"Tap-...."
"Tia duduk," perintah Tio dan tanpa sadar pria itu menyebutkan nama Tia.
Tia yang mendengar namanya disebut langsung duduk dengan degup jantung yang sudah tak karuan lagi, 'berdekatan dengan tuan muda Tio sangat mempengaruhi kondisi jantungku,' batin Tia yang sudah memerah.
'sialan, kenapa aku menyebut nama anak pembantu itu,' gerutu Tio dalam hati setelah menyadari kesalahannya.
Pria itu langsung berdeham untuk menormalkan degup jantungnya yang belum berdetak normal dari tadi, "Silahkan sajikan hidangannya," perintah Tio dan pelayan tersebut langsung mempersiapkan hidangan makan malam itu.
Tia tertegun melihat banyak sekali makanan yang tuan mudanya pesan, "Kalau begitu saya permisi dulu tuan dan nona," pamit dua pelayan itu dan langsung berjalan keluar dari ruangan VIP tersebut.
"Hentikan ekspresi menjijikanmu itu, dan makanlah." Tio bersiap memotong steak daging sapi berukuran besar itu namun, gerakannya terhenti karena suara teriakan Tia.
"Tunggu dulu tuan muda!" Tia berjalan mendekat ke arah kursi Tio, "kelihatannya ini sangat pedas." Dengan tak tahu malunya Tia mencolek daging sapi itu dengan jari telunjuknya lalu dia masukkan ke mulutnya.
"Apa yang kau lakukan anak pembantu. Kau sangat menjijikan," sembur Tio dan Tia langsung melangkah mundur menjauhi Tio yang sudah berdiri, "kenapa kau mengotori makananku dengan tangan kotormu itu?" Sarkas Tio bertanya membuat Tia gelagapan.
"Bu...bukan maksud saya seperti itu tuan muda. Saya hanya mengecek makanan anda, dan ternyata makanan itu terlalu pedas untuk anda yang tidak suka pedas." Tia berjalan cepat kembali mendekat ke meja. Gadis itu meraih sepiring steak itu lalu dia bawa ke kursinya.
"Tuan sebaiknya memakan yang ini. Mungkin pesanan kita tertukar tadi, dan ini makanan tuan yang sebenarnya." Tio kembali duduk dan tatapan matanya menatap fokus ke arah Tia yang menaruh satu steak daging sapi berukuran sama ke hadapan Tio.
"Ini ... Ini juga jus jeruk tanpa gula yang anda suka." Tia kembali membuat Tio terkejut tapi raut terkejutnya, mampu dia sembunyikan dengan wajah datarnya.
"Anak pembantu...." panggil Tio dan membuat Tia melihat padanya, "kenapa kau tahu apa yang aku suka dan tidaknya?"
Deg!
Pertanyaan itu langsung membuat Tia membeku, 'mati aku ... Apa yang harus aku katakan padanya,' batin Tia dengan masih menatap wajah tampan Tio.
"Kenapa kau selalu terdiam, jika aku bertanya padamu?" ujar Tio kembali dan itu mampu membuat Tia gelagapan.
"Anu tuan ... Ini anu...." Tia menggaruk tengkuknya yang tak gatal di ikuti raut cemas yang membuat dia terlihat sangat imut dan lucu.
Tio yang melihat itu hendak menyinggung senyum tapi, pemuda itu gengsi untuk melukis senyum karena Tia, "Katakan dengan jelas," perintahnya dan membuat Tia nyengir ke arahnya.
"Iya aku tau dari nona muda tuan. Siapa lagi kalau bukan dia yang memberi tahuku." Tia mencoba tenang namun nampak jelas raut gugup masih terlihat diwajahnya dan itu membuat Tio tak percaya sepenuhnya.
"Jadi princessku yang memberitahumu."
"Iya tuan muda, jadi mari kita makan sebelum dingin," ajak Tia dan pembicaraan mereka terhenti.
***
Sekarang Tio dan Tia sudah berada di dalam mobil, "Anak pembantu ... apa kau menyimpan Nomer Ica?" Tanya Tio tanpa melirik Tia yang saat ini duduk dengan membuang pandangan kearah luar.
Tia yang sudah tau kalau dirinya di panggil langsung menoleh, "Tentu saja tuan muda, saya menyimpan Nomer nona muda." jawab sopan Tia dengan menyinggung senyum.
"Sebutkan," Perintah Tio yang sudah siap dengan benda pipih di tangannya, dan membuat Tia berekspresi bingung seolah tidak mengerti apa yang dimaksud, "Apa kau tuli? Sebutkan nomer ponsel Ica," ulang Tio dengan melirik ke arah Tia.
"Ma...maafkan saya tuan muda. Ponsel saya mati, dan belum sempat saya isi ulang daya baterainya," Jawab sopan Tia, dan membuat Tio membulatkan mata tak percaya akan gadis di sampingnya ini.
"Kau memang tidak pernah berguna anak pembantu sialan," marah Tio dengan mengumpat, dan membuat Tia memejamkan mata.
"Maafkan saya tuan muda." Pria itu tak mendengarkan permintaan maaf dari Tia, dan memilih langsung menyandarkan punggungnya untuk menenangkan diri.
'kenapa dia selalu berteriak marah kepadaku. aku tidak pernah membuat dia terganggu atau risih sedikitpun, lalu kenapa dia marah padaku," gerutu Tia dalam hati dengan telunjuk tangan di takutkan.
Lama mobil Limousine hitam tersebut melaju membelah kota. Mobil tersebut berbelok masuk ke sebuah gerbang besar, dimana di belakang gerbang besar tersebut, terdapat rumah besar kediaman keluarga Pradipta dengan 5 lantai dan halaman yang luas.
"Sudah 12 tahun aku tidak menginjak kaki disini..." cicit Tio yang sudah membuka mata dan melihat sekitaran halaman luas. mobil masih melaju untuk mendekat ke pintu utama, "Tidak ada yang berubah sama sekali." sambung Tio dan melukis senyum.
"Tentu saja tidak ada yang akan berubah tuan mud-"
"Aku tidak meminta pendapat mu anak pembantu sialan," Teriak sinis Tio dan membuat Tia menunduk tanpa mengeluarkan suara.
Mobil pun berheti di pekarangan rumah besar tersebut. "Turun ... katakan pada Ica aku akan datang besok pagi menemuinya,"perintah Tio dan bergerak menoleh kepada Tia yang masih menunduk, "Apa kau mendengarku anak pembantu sialan?" tanya Tio dengan sedikit berteriak membuat gadis malang itu terlojak kaget.
"I...iya tuan muda. Kalau begitu, saya permisi dan terimakasih atas makan malamnya." Tia langsung membuka pintu, turun dari mobil, dan menaiki anak tangga dengan berlari cepat.
"Kenapa dia terlihat ketakutan seperti itu? Apa aku terlalu keras padanya?" gumam Tio sambil menggelengkan kepalanya dengan tersenyum saat melihat tingkah Tia.
Derttt...derttt...derttt
Dering ponsel membuat tatapan mata Tio teralihkan. Pria itu menatap fokus ke arah hendphonnya, "Jalankan mobilnya." perintah Tio dan langsung kembali menatap handphonenya.
Tio mengangkat Panggilan tersebut, dan langsung menempelkannya di telinga. Terdengar suara pria yang menyambut Tio dari dalam telpon.
"Apa anda sudah membuktikannya sendiri tuan muda?" tanya seorang pria itu dengan nada formal.
"Cih ... aku masih tidak percaya tentang apa yang telah kau laporkan padaku," ucap Tio sinis. "Memang benar apa yang engkau katakan itu tapi, aku masih belum yakin sebelum aku mendengar sendiri dari dia," lanjut Tio dan langsung memutus sambungan telponnya sepihak.
mobil Limousine pun melaju meninggalkan area rumah besar tersebut dengan. Tio yang selalu tersenyum setiap mengingat wajah malu Tia. "Dasar anak pembantu sialan." gumam Tio dengan tersenyum manis.
T.B.C
Jangan lupa tap love, komen, bantu share yah bay bertemu di next part...