Chapter 15 : Dukungan Alia

610 Kata
Suara sorakan demi sorakan telah menggema di sudut penonton saat akan menonton perlombaan renang tingkat Nasional yang digelar di salah satu GOR Sekolah SMA Serin. Raka dan peserta yang lain sudah siap dengan pemanasan terlebih dahulu. Sekitar pukul 10.30. perlombaan akan dimulai. Masih ada waktu 30 menit lagi, Raka melirik jam tangannya, sesekali melirik ke arah penonton berharap ia menemukan Alia di sana. Sorakan dan dukungan dari sekolah Serin terus bermunculan. “Raka, sudah waktunya, bersiaplah keg arsis start!” seru pelatih. Alfa melengos meninggalkan tempatnya duduk, ia sudah siap seragam dan kacamata renangnya. Sesekali ia memulai pemanasan sebelum memasuki kolam. “Besok lusa, ada pertandingan renang antar sekolah, aku mau ngundang kamu buat datang besok!”  “Aku mau kak, aku pasti datang buat dukung Kak Raka.” Ah, mengharapkan Alia datang sepertinya mustahil. Raka sudah berharap gaids itu datang untuk melihatnya. Namun apa kenyataannya, ia bahkan tak melihat Alia dari sisi manapun. Apa mungkin Alia lupa degan janjinya? Menepis pemikirannya tentang Alia, kini ia harus fokus dengan perlombaannya. Ia harus mendapatkan medali itu. Raka kini berdiri di belakang garis start dengan posisi membungkuk, kacamata sudah terpasang dengan benar. Sesekali raka melirik ke arah penonton berharap Alia bisa melihatnya. Priiit… Byur…tubuh Raka meluncur ke kolam setelah peluit panjang dibunyikan nyaring. Raka dan peserta lain mulai melakukan gaya bebas. Satu putaran berhasil dilalui Raka dan peserta lain. Saat ini posisi Raka berada di depan sebagai pemimpin. Priiit. Raka mendapatkan waktu tercepat setelah berhasil menyentuh ujung kolam lintasan. Ia menang sebagai juara pertama dengan waktu 13.03 detik, diikuti lawannya yang memperoleh waktu 14 detik. Raka bersorak senang atas kemenangannya. Suara teriakan dari arah penonton juga membuat Raka semakin semangat. “Kak Raka huoooo!” Raka mengalihkan pandangan ke arah penonton, di sana telah duduk sesosok gadis yang dicarinya—Alia. “Alia!” Dia menepati janjinya, Raka tersenyum senang. Raka memulai pertandingan yang kedua, kini tertinggal tiga peserta yang akan masuk final. Raka telah siap berdiri di belakang garis start, ia mulai ancang-ancang dengan membungkukkan tubuhnya, menatap lurus ke arah kolam. Sesekali ia mengatur nafasnya. Alia terus menyemangatinya dari jauh. Byuuur… …. “Selamat Kak Raka, berhasil mendapatkan juara!” setelah perlombaan tadi selesai, Alia masuk ke tengah lapangan untuk menghampiri Raka. Saat ini Raka sudah berganti pakaian dengan celana dan kaos training. Raka tersenyum senang, “makasih ya Alia, kamu udah datang!” “Aku kan sudah janji!” “Tadi penampilan Kak Raka keren banget, aku suka. Coba aku bisa berenang kaya Kak Raka.” “Aku bisa mengajarimu!” “Benarkah?” Alia mendadak senang, “tapi aku orangnya susah buat diajarin, kemarin aja waktu Alfa mengajari basket, nggak bisa-bisa!” Alia manyun. Raka terkekeh, “karena kamu belum maksimal buat belajar, aku yakin kamu pasti bisa!” Raka tanpa sadar menyentuh kepala Alia dan mengacak-acak rambutnya—gemas. “Oh ya aku punya sesuatu buat kamu!” “Apa?” “Berikan tanganmu!” pinta Raka. Alia dengan polosnya menurut, ia lalu menengadah tangannya di depan Raka dengan penasaran. Kemudian, tangan Raka yang sejak tadi tersembunyi di belakang mulai membuka, memberikan sesuatu dari balik genggaman tangannya. “Apa ini?” Alia terkejut ketika mengetahui ada medali yang diterima dari tangannya. Ia menatap heran ke arah Raka. “Kak Raka!” “Buat kamu!” ucapnya “Aku?” Alia benar-benar tak mengerti kenapa Raka memberikan medali kemenangan untuknya, seharunya medali itu ia simpan bukan? “Kenapa memberikan padaku?” “Karena aku sudah janji. Kalau aku mendapat juara pertama, medali ini untuk kamu!” Alia masih tak percaya, Raka memberikan medali berharganya—untuknya? “Tolong dijaga ya!” pinta Raka. “T-tapi Kak… ini???” Raka paham dengan sikap keterkejutan Alia, ia kembali mengelus puncak kepala Alia lembut. “Terima kasih sudah datang mendukungku Alia!” Raka tersenyum simpul. Alia mengedipkan mata tak percaya, barusan ia melihat Kak Raka tersenyum padanya, bahkan tatapannya tadi sungguh membuat jantungnya berdebar cukup kencang. Perasaan apa ini??? Dibalik kebahagian keduanya, dari kejauhan tampak kilatan mata memandang mereka dengan kebencian. Ck, ia mengupat sambil mengeratkan kedua tangannya—kesal. “Raka!” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN