Chapter 4 : I Care

1655 Kata
"ALFA!" **** "Aduh...aduh...aduh, pelan-pelan Al," rintih kesakitan saat Alia mengobati luka di sudut bibir Alfa yang membiru dengan sedikit darah segar yang masih keluar. Bukan karena hasil pukulan tongkat baseball yang dilakukan Alia, ini jelas luka karena mendapat pukulan benda cukup keras. "Ternyata pukulan kamu tadi mantep juga ya, kepalaku kaya kena migrain," canda Alfa terkekeh geli sambil memegangi kepalanya yang masih merasakan sakit. Alia sejak tadi hanya diam, ia cukup telaten membasuh luka dan mengobatinya dengan obat merah, satu plester bergambar hello kitty melekat di sudut bibir dan juga pelipis mata Alfa saat ini. "Kamu ngapain sih, malam-malam masuk ke atas, pakai acara nutupin wajah segala, jadi aku pikir tadi penjahat," geramnya. "Iya maaf deh!" "Kamu berkelahi lagi?" tanya Alia resah dengan sikap Alfa yang selalu membuatnya kesal. Apalagi kalau bukan berkelahi, selalu saja Alfa akan datang kepadanya dengan luka di wajahnya, namun tak pernah ia memberitahu bagaimana luka ini di dapat. "Orang itu memukulku duluan, yaudah aku balas perbuatannya," ujar Alfa dengan santainya. "Kamu pikir kamu jagoan, kamu bisa mati kalau terus-terusan kaya gini," geram Alya. "Tapi aku masih hidupkan, nyatanya aku masih disini, bahkan menemui mu sekarang," sanggahnya dengan senyuman, seakan luka yang didapatnya tak berarti apa-apa. "Apa kamu akan bercanda terus, "  "Kamu mengkhawatirkan ku?" timpalnya tersenyum lebar. Alia langsung memalingkan wajahnya kesamping. "Enggak." Alia bergegas membereskan kotak obatnya dan kembali menaruhnya di lemari kecil. "Aku lelah," Alfa langsung merebahkan dirinya di kasur Alia yang empuk dengan d******i merah muda khas bau anak remaja. Kamar berumur sedang itu tampak sangat nyaman dan selalu memberi kehangatan. Jangan tanya, Rumah Alia dan Alfa bersebelahan, Alfa juga sering menyelinap diam-diam ke kamar Alia seperti saat ini. Apalah kalau bukan untuk melihat gadisnya. Tapi satu hal yang sampai sekarang tak pernah dimengerti Alia. Mereka berdua memang tetangga sebelah, mereka juga sudah akrab saat masih SD. Namun kehidupan seperti apa yang dijalani Alfa tak pernah tersentuh olehnya, seakan memang sengaja ditutupinya sedemikian rupa sehingga tak satupun orang yang berhak untuk ikut campur kedalamnya. Alfa selalu memperlihatkan sosok tegarnya, kasar dan juga pemaksa, namun diluar itu semua sebenarnya ia menyimpan sesuatu yang menyakitkan. Bahkan Alia sendiri tak tahu apa itu. "Lebih baik kamu pulang !" pinta Alia menyuruhnya untuk kembali pulang ke rumah. "Aku malas,"  "Alfa, nanti tante Mira pasti nyariin kamu," bujuknya. Tante Mira tak lain adalah ibu dari Alfa. Alfa sangat menyayangi ibunya melebihi apapun, kalau bisa dibilang siapa  perempuan yang berarti dalam hidupnya ia akan menjawab Mamanya dan yang kedua adalah Alia. Dua orang itu seperti malaikat dalam hidupnya. "Tenang saja, mama sudah tidur dari tadi," sahutnya santai. "Kamu nggak mungkin tidur disini Alfa, kalau mama tahu aku bisa dimarahi, " geramnya menatap kesal kearah Alfa yang keras kepala.  "Memangnya kenapa, dulu waktu kita masih kecil, sering tidur bersama," timpalnya tak mau kalah. "Ini beda Alfa, kita udah remaja, dan hal ini dilarang," jelasnya. "Seperti memberi ciuman, Seperti ini..." Cupp... Satu kecupan mendarat di bibir Alia tanpa diduga-duga. Alia sontak terkejut dengan aksi yang dilakukan Alfa padanya. Alia memejamkan matanya takut. Tanpa lumatan, Alfa hanya menempelkan bibirnya di bibir Alia saja lalu melepaskannya. Wajah Alia seketika memerah tanpa bisa berucap apa-apa. Beku dan juga gugup. "Alfa menciumnku" batinnya sambil masih memegang kedua bibirnya yang barusaja dicium olehnya. "Nggak usah di pegang-pegang bibirnya, nggak akan hilang kok," sahutnya santai kembali di posisi yang sama, terbaring dikasur Alia yang empuk. "ALFANOOOOO...." Langsung saja, teriakan Alia dibungkam olehnya. "Ssstt.... Jangan keras-keras, nanti tante Amel denger" bisik Alfa di depan wajahnya dengan tangan kanannya masih membungkam mulut perempuan itu. Tante Amel adalah ibu dari Alia. Keduanya sering bertemu karena memang Alfa sering menemui Alia langsung ke rumahnya. Dan bagi tante Amel, Alfa seperti anaknya sendiri. “Mmmpt….” Tangan Alfa masih membungkam mulut Alia dengan tangannya. “Aaakh….” Rintih Alfa melepas tangannya yang kembali digigit olehnya. “ Kamu suka banget sih gigit tangan aku?” “ALIA KAMU DI DALAM, TADI MAMA DENGAR ADA YANG TERIAK.” Panggil tante Amel yang yang baru saja lewat dari kamar Alia yang berada di atas. “ ENGGAK KOK MAH TADI ADA KUCING NYASAR KE KAMAR ALIA, TERUS ALIA TERIAK DEH,” jawabnya senormal mungkin, ia tak ingin mamanya tahu ada Alfa disini. “Alfa!” geramnya. “Itu bukan salah aku, kan kamu yang teriak.” elaknya tak bersalah. “Kamu pulang aja ya, nanti kalau mama tahu kamu ada disini malam-malam, bisa gawat!” Alia menarik tangan Alfa dari kasurnya dan mendorongnya keluar dari ketempat Alfa tadi masuk. “Sekarang kamu pulang, ini udah malam Alfa, besok kita ketemu lagi.” Usirnya dengan lembut. Dengan terpaksa Alfa keluar dengan memanjat tembok dengan hati-hati dan akhirnya sampailah ia kebawah dengan selamat. Tak lupa sebuah lambaian tangan diberikan olehnya pada Alia yang masih berada di atas memastikan Alfa turun dengan selamat. “Alfa…Alfa….kenapa sih kamu selalu nekat melakukan semua ini.”Batin Alia melihat kepergian Alfa yang semakin menjauh. *** Di sekolah, tepatnya di ruangan OSIS. Alfa dan kedua anggota yang lain tengah mengerjakan proposal untuk pengajuan kegiatan sekolah untuk mengisi akhir semester. Dani dan salah satu murid kelas X—Rino terlihat serius menyusun laporan, sebenarnya tugas itu sudah dibagi menjadi beberapa kelompok dan berhubung Dani, Alfa dan Rino harus menjadi satu kelompok untuk menyusun proposal kini keduanya harus berkutat dengan laptop masing-masing dan sangat serius. Sementara Alfa jangan Tanya, sejak tadi ia menguap tak jelas dan berkali-kali menyadarkan punggungnya di kursi sambil sesekali memainkan kursinya ke belakang dengan menyentakkan kakinya sebagai tumpuan. “Alfa!” sindir Dani memperingatkannya. “Masih lama ya?” tanyanya santai. “Lo dari tadi bukannya  bantuin kita malah main-main.”  Dani menatapnya kesal. “ Gue harus latihan basket.” Alfa sama sekali tak mendengaran perkataan Dani, justru dari tadi ia hanya main-main. “Dan, lo yang selesain ya, gue latihan dulu,” ia melepas jaket almamater OSIS berwarna merah maroonnya dan keluar dari ruang OSIS, namun belum sempat ia keluar, tangan Dani menarik kerah bajunya dari belakang menggiringnya seperti anak kucing yang kehilangan induknya. “Mau kemana lo?” “Dan…ini baju bisa sobek lo tarik-tarik, emang gue anak kucing apa ?” kesal Alfa menampik tangan Dani untuk melepas tangannya. “Ini belum selesai dan lo mau pergi, lo mau dimarahi sama Nana lagi?” ingatnya. “Ya lo bilang aja gue mau latihan, lagipula proposal buat acara Pensi sekolahkan masih 2 minggu lagi. Jadi kita masih punya banyak waktu buat memikirkannya, “elaknya mencari alasan. “Nggak usah banyak alasan, gue ngga terima alasan aneh lo.” Dani kembali menariknya untuk kembali duduk, kini ia menyodorkan berkas-berkas dan juga laptop di depannya. “Ketik itu, itu tugas lo.” Perintahnya. “ Iya iya, cerewet lo, setelah selesai gue pergi.” Ketusnya. “ Terserah lo.” Tiga orang yang berada di satu ruangan tak hayal membuat Rino yang selaku adik kelas mereka sedikit canggung apalagi saat ini disebelahnya adalah Alfa, kakak tingkatnya yang terkenal di hampir seluruh sekolah. “Eh…*Megane,” panggil Alfa pada Rino yang memakai kacamata. “Rino Fa namanya, lo kebanyakan nonton Anime sih,” ralat Dani membenarkan. “Serah gue, berisik aja lo,” Alfa mendekati Rino disebelahnya dan membisikkan sesuatu padanya tanpa sepengetahuan Dani di depannya yang jarak keduanya cukup jauh untuk membuat Dani mendengar pembicaraan mereka. “Eh mau bantuin gue nggak?” bisik Alfa pada telinga Rino diam-diam sambil sesekali melirik kearah Dani untuk memastikan ia tak mendengarnya. Rino membenarkan kacamata kotaknya tanpa menoleh kearah Alfa karena takut. “Ban-tuin a-pa kak?” ucapnya terbata-bata. “Lo tahu gue kan?” “Iya kak,” “Sebenarnya ini mudah, tapi jangan sampai Dani tahu, ini rahasia kita berdua,” Rino terlihat was-was dengan ucapan Alfa yang justru membuatnya merinding. “Lo pura-pura sakit perut, ntar gue antar lo ke UKS, dengan begitu gue bisa lepas dari pekerjaan ini. Lo setuju!” gumamnya tersenyum. Dani yang sejak tadi fokus dengan laptop tak menyadarinya. “Lo setuju nggak?”tawarnya lagi dengan lirih. “Iya kak,” jawabnya terpaksa, ia tak bisa menolak perintahnya kalau Alfa adalah kakak kelasnya dan kekuasannya di sekolah itu, berurusan dengannya sama saja menambah daftar masalah. “Bagus,” Tiba-tiba Rino melancarkan aksinya sesuai intruksi Alfa, ia memegangi perutnya dan berusaha semaksimal mungkin berakting sakit perut di hadapan Dani. “Aduh,” “Lo kenapa Rin?”Dani mulai terpengaruh dan menghentikan pekerjaanya sementara untuk melihat anggotanya merasa kesakitan. “Sakit kak,” rintihnya. “Wah… kayaknya si Megane ini harus di bawa ke UKS untuk mendapat perawatan lebih lanjut, lo tenang aja, gue sebagai Senior baik disini akan bantuin lo ke UKS,” Alfa mulai beraksi memapah tubuh Rino keluar. “Lo yakin nggak papa?” Dani kembali mencemaskannya. “Iya kak, kayaknya aku harus ke UKS sekarang,” mohonnya. “Yaudah, Alfa lo bawa dia ke UKS, biar ini gue selesain.” Perintah Dani yang langsung mendapat senyuman oleh Alfa. Rencana berjalan lancar dan Dani sama sekali tak mencurigainya kali ini. “Siap kapten,” *** Alia berdiri di depan mading sekolah dan memperhatikan sebuah artikel tulisan yang dipajang di sana. Raka yang barusaja selesai latihan dan tak sengaja melihat Alia sendirian akhirnya berjalan menghampirinya. Alia yang masih fokus dengan Artikel yang dibacanya sampai tak menyadari keberadaan Raka di sebelahnya. “ kayaknya serius banget bacanya,” “Iya, ini kayaknya seru.” Jawabnya singkat. Matanya membulat seketika melihat siapa yang ada disampingnya saat ini. Lebih tepatnya mengajaknya bicara. “Kak Raka?” kejutnya sampai tak mengedipkan matanya. Raka hanya tersenyum sekilas kearahnya. “Kamu suka nulis artikel ya?” tanyanya memulai pembicaraan. “I-iya kak,” “Boleh juga nih, coba aja kirim kali aja diterima.” Saran Raka yang langsung disetujuinya dengan anggukan kepalanya antusias. “Iya kak,” “Sial… beraninya dia deketin Alia di depan gue,” Alfa menatap dari jauh sambil mengepalkan tangan kanannya memukul tembok di sebelahnya dengan penuh amarah. *Megane : berkacamata
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN