CHAPTER 5 : Bujukan Alfa

1448 Kata
Di koridor kelas. Alfa dan Danu tengah menempel selebaran brosur pengumuman di mading sekolah. "Oh ya Fa. Soal pertandingan basket antar sekolah lusa gimana, gue denger salah satu pemain inti mereka cedera--dan sangat mustahil untuk mencari pengganti dalam waktu dekat," ujar Danu. "Apa mereka nggak ada pemain pengganti?" tanya Alfa. "Lo juga tahu sendiri. Kalau stamina dan kemampuan anak kelas satu yang jadi pemain pengganti masih biasa," jawabnya. "Gimana kalau lo bujuk Avelo. Diakan jago main basket?" usulnya. "Velo?" Alfa ragu. "Jangan dia. Tuh anak selalu main-main." "Tapi Fa, kemampuan Avelo bahkan lebih bagus dari Ryan yang saat ini cedera." "Tapi, dia nggak pernah serius. Lo juga tahu sendiri susahnya gue bujuk tuh anak," keluh Alfa. Sembari mereka mengobrol sambil berjalan, tak disangka keduanya berpapasan dengan Avelo yang tengah mengerjai seorang gadis satu kelasnya dengan mengambil buku diarynya. "AVELOOO!!" teriak Amira, gadis berkacamata yang saat ini berurusan dengannya. "Balikin buku gue!" Amira berusaha menggapai buku di tangan Avelo. Namun laki-laki itu justru berlari dan menggoda. "Untuk Alfano Aldian...cie surat cinta." "Sudah lama aku melihat kakak dari jauh, pertama kali kakak berkenalan di depan kelas untuk mengajukan ketua OSIS. Aku semakin kagum dengan sikap kakak... Dan sejak saat itulah aku mulai menyukai kakak sampai sekarang!!" Suara suitan dan juga tawa menyebar di depan kelas sembari tertawa. Amira begitu malu ditertawakan di depan umum saat ini. "Ehh... Gantengan gue. Ngapain lo suka sama Alfa." "Avelo balikin!!!" "Ingin sekali aku bisa berbicara berdua dengan..." SREET... "Nggak lucu Vel. Sikap lo keterlaluan!!" tiba-tiba saja Alfa datang dan langsung merampas surat dari tangannya. Avelo berdecak kesal. "Ckk. " "Membaca privasi orang dan bahkan mempermalukan di depan umum. Apa lo nggak ngerasa malu!" bentak Alfa marah. Ia lalu mengambil surat itu, sekilas ia membaca namanya yang ada di surat itu. Alfa menoleh pada pemilik surat yang saat ini terdiam malu. "Ini punya kamu kan?" Alfa memberikan surat itu kembali. "Ma-makasih kak." Amira benar-benar canggung. Sontak saja suasana tempat yang awalnya ramai menjadi saling bungkam dengan kedatangan Alfa dan juga perdebatan dengan Avelo—mungkin sebagian orang menyayangkan sikap kedua saudara yang tak pernah akur itu. "Nggak usah ikut campur masalah gue!" bantah Avelo terlihat marah dengan sikapnya. "Ikut campur? Lo sadar udah gangguin orang, gimana gue nggak bisa ikut campur," bentak balik Alfa. Dari sekian anak di sekolah yanh berani membentak Avelo hanya Alfa, saudaranya. "Memang lo siapa?" "Gue kakak lo" Avelo langsung bungkam seketika. "Nggak usah ikut campur masalah gue--dan nggak usah ngelarang gue buat berbuat sesuatu..." "Sesuatu hal yang membuat orang lain kesal. Itu yang lo inginkan? " "Denger ya Fa. Gue..." "Jangan bicara disini. Ikut gue!" Alfa menarik kerah seragam Avelo dari belakang menuju ke tempat belakang sekolah yang lebih sepi. .... Kini keduanya saling berhadapan satu sama lain di belakang sekolah yang sepi. Kedua mata mereka saling bertemu. "Lo mau cari masalah sama gue?" geram Avelo. "Lo yang cari masalah." timpal Alfa. "Hufft.." Avelo menghela napas panjang. " Gue lagi nggak moodbuat berdebat sama lo." Saat Avelo akan beranjak pergi, Alfa yang masih berdiri membelakangi kembali memanggilnya. "Avelo!!" "Apa lagi. Lo mau ngaduin gue sama Mama... Atau..." "Gue minta bantuan lo." "Bantuan gue?" Avelo berbalik menatap punggung Alfa dari jarak jauh. "Lusa depan, gue minta lo gabung di tim basket mewakili sekolah kita bertanding." ujar Alfa. Avelo menahan tawa. " Lo minta gue gabung?" Avelo kini kembali menghampiri Alfa sembari menepuk bahunya sekilas. "Apa imbalan lo, kalau gue gabung?" "Lo mau memeras gue?" Alfa mengernyit. "Eh. Zaman sekarang itu nggak ada yang gratis!" Alfa menghela napas panjang, meminta Avelo bergabung di tim basket—yang benar saja, kalau bukan karena keperluan yang mendesak, ia tak akan mau membujuk Avelo. "Ya udah gue cari yang lain." "Ehhh... Gue nggak bilang nolak..." Avelo mencegah kepergian Alfa yang akan cabut begitu saja. "10 komik kesukaan lo. Keluaran terbaru." "SETUJUU!!" ..... Alfa meletakkan kepala di atas meja ruang OSIS, sembari menghela napas panjang. "Lo kenapa Fa?" tanya Danu di sampingnya. "Urusan pertandingan basket udah beres. Gue udah nyuruh Velo gantiin Ryan besok." ujarnya. "Wahh, seriusan. Kesempatan sekolah kita menang bisa 90% kalau ada Avelo." Danu tampak antusias "Jangan berharap banyak sama dia." keluh Alfa. "Tapi lo juga tahu kemampuan basket Avelo memang keren. Iyakan?" "Entahlah! Males gue ngomongin tuh anak--jatah uang jajan gue??" gerutu Alfa. "Kenapa lo?" Alfa terpaksa menyepakati kerja sama dengan Avelo agar ia mau bergabung di tim basket, dengan syarat yang sudah ditentuin Avelo sebelumnya. Avelo adalah penggila komik jepang, terutama berbau cewek cantik berkacamata di dalam komik—jangan heran ia memiliki lemari khusus untuk komik kesukaannya. Kedua, Avelo meminta Alfa mentraktirnya selama seminggu di kantin sekolah—tidak apa-apa kalau hanya mentraktirnya, hanya saja dia membawa satu geng untuk makan gratis, gimana nggak bangkrut? "Hufft!!" *** Sepulang sekolah Avelo tak langsung pulang ke rumah, ia sengaja berbohong pada sopir kalau akan kerja kelompok dengan temannya—dan bodohnya sopirnya mempercayainya. Avelo kembali pergi ke panti asuhan di belakang bukit. Ia tak sabar bertemu dengan gadis bernama Lea itu. Suasana panti yang sedikit sepi, sangat berbeda dengan apa yang dilihat dulu, banyak anak-anak bermain riang di luar halaman panti—tapi kali ini kondisinya sedikit sepi, mungkin anak-anak sedang ada di dalam atau bermain di belakang. Berhubung Avelo datang dari depan, ia selalu diajarkan cara bertamu yang baik oleh kedua orang tuanya. "Permisi... Spada...apa ada orang di dalam??" teriak Avelo nyaring. Tak ada sahutan dari dalam. "Lea... Main yuk!!" kadang sikap Avelo sedikit bercanda dengan melontarkan kata-kata yang membuatnya seperti anak kecil. "Kak Velo!" panggil Rika anak kecil berkuncir dua itu sambil memeluk boneka beruang coklat miliknya. "Kak Lea mana?" "Kak Lea..." "Velo!" panggil dari belakang. Avelo menoleh, akhirnya ia kembali bertemu dengan gadis itu lagi. "Hai Le!" "Le??" "Lea maksud gue." "Kamu ngapain di sini?" tanya Alea. "Mau apa lagi. Yah, mau ketemu sama anak-anak lah," jawab Avelo dengan sedikit kedipan mata. (Modus lo bang?) "Oh anak-anak lagi di belakang. masuk aja!!" pinta Alea. Avelo langsung antusias mengekori Alea dari belakang. "Siang Om!!" sapa Avelo pada om Faris, selaku pemilik panti. "Kenalin Om, ini Avelo... Avelo ini om Faris, pemilik tempat ini." "Dia teman kamu Lea, o*******g akhirnya kamu memiliki seorang teman." om Faris nampak begitu senang dengan kedatangan Avelo di sana. "Itu...kami..." ucap Alea terbata. "Kami memang berteman Om, ya kan le!!"Avelo menggerakan kedua alis membuat Alea percaya. "I-iya Om." Alea terpaksa tersenyum. "Oh ya om. Boleh nggak Lea saya ajak pergi. Tenang aja Om. Kita pergi cuma di bukit kok nggak jauh dari sini." "He?!" Alea terkejut. "Boleh, silahkan. Lea juga baru disini, mungkin kamu bisa membawanya pergi dan memperkenalkan daerah tempat ini." om Faris menyetujuinya. "T-tapi Om, saya kan masih harus bantu Om di panti." elak Alea. "Nggak papa Lea, kamu juga harus mulai beradaptasi dan berteman dengan orang lain, dan Om yakin nak Avelo bisa Om percayai." sambungnya. "T-tapi Om!!" "Tenang aja Om, Lea sama saya pasti aman. Ya kan?" Avelo mengulas senyum . Terpaksa Alea menuruti keinginan Avelo—walau dalam hati memang Alea sah-sah saja pergi bersama Avelo. Ia juga tahu siapa Avelo dan apa yang pernah ia lakukan dulu. Keduanya berjalan bersama di bukit sembari mengobrol satu sama lain. "Kamu nggak pulang dulu tadi?" tanya Alea yang memperhatikan Avelo masih memakai seragam sekolah. "Iya, tenang aja. Orang tua gue itu super sibuk kecuali nyokap gue—tapi sekarang dia juga punya kesibukan dengan toko kuenya," jawab Avelo santai. "Enak ya, masih punya keluarga utuh kaya kamu." "Lho. Memangnya orang tua lo ke mana?" tanya Avelo. "Kedua orang tua aku udah lama bercerai sejak aku masih kecil, aku tinggal sama Mama di bandung." Keduanya memutuskan untuk duduk di bawah pohon besar sembari menyilangkan kaki di atas rerumputan hijau. "Nyokap lo di bandung sendirian?" tanya Avelo. Alea hanya menggelengkan kepala. "Mama udah lama meninggal saat aku berumur 12 tahun—dan baru sekarang aku memutuskan untuk pindah ke sini, karena satu-satunya keluarga yang aku punya cuma om Faris," jelas Alea tanpa ekspresi, bahkan saat Avelo menatap wajah gadis itu. Tak ada air mata yang menetes. "Lea!" lirih Avelo menatap wajah gadis itu lekat. "Kalau lo mau nangis, nangis aja!" Alea justru menahan tawa melihat Avelo yang terlihat sangat mencemaskannya—mungkin bagi orang seperti Avelo hidup Alea sangat menyedihkan. "Lo itu lebih cantik kalau tersenyum," ujar Avelo mengulas senyum tipis. "Hah?!" "Kamu masih kaya dulu ya, nggak berubah." ungkap Alea. "Gue yang dulu?" "Nggak papa kok." Alea mengalihkan pandangan menatap hamparan hijau di depan matanya. Sangat indah. Dari jauh Avelo melihat anak-anak bermain sepeda seperti yang pernah dilakukannya dulu. Avelo lalu berdiri. "Lea, mau ikut gue nggak?" "Ke mana?" "Bersenang- senang!" Avelo menarik tangan Alea dan pergi menuju anak-anak yang tengah adu sepeda. Alea hanya menurut, dalam hati ia kembali tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN