Sania berjalan melewati lorong sepi menuju unit yang terletak di sudut ruangan. Seperti biasa, tidak ada kegiatan apa-apa yang bisa dilihat karena tinggal di apartemen jauh tidak sama dengan saat tinggal di cluster–tempat tinggal orang tuanya. Kalau di cluster, beragam kegiatan bisa ia lihat di sepanjang jalan apalagi menjelang sore hari. Akan banyak pedagang berkeliling di sana berserta orang-orang yang mengajak anaknya bermain ke taman.
Langkah kaki itu berhenti, tepat di ujung koridor. Ia mengeluarkan kartu akses dari dalam clutch kemudian menempelkan benda itu untuk disensor.
Mengapa ia memilih tinggal di sana sementara banyak preferensi lain yang bisa dipilih sebagai tempat tinggal? Misal unit yang berada dekat pintu lift. Alasannya adalah ia lebih nyaman saja, jarang dijangkau oleh orang-orang dan tidak berisik.
Ia kembali menutup rapat pintu kemudian melepas sepatu, tidak lupa menyimpan sepasang sepatu itu di rak agar Tika berantakan, setelahnya menanggalkan blouse yang dikenakan sehingga menyisakan hanya tank top saja, ia.benar-nenar gerah, di luar sana cuaca sangat panas sehingga membuat tubuhnya seperti banyak keringat. Selepas menyimpan blouse bekas pakai tadi di keranjang baju kotor, ia menuju lemari pendingin, mengambil sebotol air mineral. Sungguh, tenaganya terkuras habis hari ini, sangat lelah dan mengantuk. Wacana yang hanya beristirahat di rumah setelah berkutat dengan dapur tadi rupanya tidak terealisasi dengan baik ketika imannya goyah dengan ajakan Shaka pergi menonton. Siapa yang bisa menolaknya?
Setelah menghabiskan separuh isi botol, ia menyimpan kembali botol itu dan melangkah pergi ke kamar.
"Kenapa nggak diangkat, Sania?" Bobby mengerang frustasi. Pria itu baru saja sampai di kota ini beberapa jam lalu dan berinisiatif menghubungi kekasihnya, tetapi sayangnya Sania justru tidak memberi respon terhadap panggilannya.
Ia kembali melakukan panggilan untuk ketiga kali, karena hasilnya masih sama, akhirnya Bobby menyerah, melempar benda pintarnya itu ke atas ranjang lalu di susul oleh tubuh besarnya berbaring terlentang.
Hari ini, ia memiliki gagasan untuk mengatakan semuanya pada Sania tanpa terkecuali, mengakui seluruh dosa besar yang dilakukan di belakang pada kekasihnya dan meminta mengakhiri hubungan mereka. Dia tahu, mungkin ini akan menjadi hal terberat dalam hidup Sania pun dirinya tetapi Bobby tidak ada pilihan lain.
Ia menghela napas lalu menaikkan kedua tangan untuk diletakkan di belakang kepala.
Seputar percakapan dengan Resti kembali mengapung dalam pikirannya, ia memang tidak boleh bersikap egois, dengan meninggalkan begitu saja Resti bersama kandungan yang masih berusia beberapa Minggu, bukan hanya tentang tanggung jawab pada janin itu, tetapi tentang perasaan mereka yang masih berkaitan satu sama lain.
Berdosa kah ia melakukan hal ini? Merenggut Resti dari suaminya dan meninggalkan kekasihnya yang menemani di saat dia terpuruk dulu hanya karena buta dengan cinta pertama. Akhir-akhir ini pikiran Bobby selalu berserabut, tidak pernah tenang sebab memikirkannya segala kemungkinan yang belum terjadi.
***
Sania baru saja selesai mandi, tubuhnya yang semula berkeringat dan terasa lengket karena beraktivitas di luar rumah tadi, kini kembali segar. Handuk kecil tergulung, membungkus kepala basah sehabis keramas. Kemudian berjalan menuju meja rias. Saat baru saja menarik kursi dan mendudukinya, disaat itu pula ia baru ingat kalau belum memeriksa ponselnya sama sekali sejak pergi dengan Shaka sampai sekarang. Disambarnya clutch berdiri di sisi meja dan merogoh benda pipih di dalam sana. Benar saja! Ada tiga panggilan tidak terjawab dan sepuluh pesan dari kekasihnya, juga dari Shaka. Lebih dulu Sania membuka pesan dari Shaka, meski pesan itu berada di bawah pesan Bobby, bibirnya tersungging senyum merekah setelah membaca pesan itu, persis sekali seperti orang sedang kasmaran. Padahal isi pesannya hanya sekadar mempertanyakan apakah Sania sudah sampai di rumah apa belum, tetapi pertanyaan seperti itu membuat Sania menjadi salah tingkah.
Ibu jarinya bergerak dengan lincah menyentuh keyboard di layar guna membalas pesan dan mengirim sederet tulisan yang baru saja diketiknya itu pada Shaka, lalu menggeser layar dan beralih pada ruang obrolannya dengan Bobby. Di sana tertulis jika Bobby sudah pulang dan ingin bertemu untuk bicara serius dengannya. Entah hal serius seperti apa yang dimaksud tetapi, Sania tidak keberatan untuk bertemu.
Me: Oke, besok jam berapa? Pesan itu terkirim dan langsung dibaca oleh Bobby. Lalu tidak lama, pesan balasan itu muncul untuknya.
Hunny: Besok jam 2 siang, gimana? Sania tidak lagi membalas pesan itu. Memilih menyimpannya di atas nakas dan melanjutkan aktivitas berkutat dengan per skincare an.
Hatinya benar-benar sudah hambar, bukan sepertinya lagi, tetapi memang sudah mati sejak saat itu. Menepati sumpah yang pernah diikrarkan–apabila Bobby berani membohonginya sebesar apa pun itu– maka Sania tidak segan melupakannya detik itu juga.
Ia menggosok pelan permukaan pipi yang sudah rata oleh moisturizer.
Namun, kegiatannya berhenti sebentar, menoleh pada benda pipih yang kini menyala dan bergetar lantaran ada panggilan masuk.
Sania menghela napas ketika tertera nama Bobby yang menghiasi layar ponsel, kepalanya menggeleng pelan sembari tersenyum mencemooh. Tanpa berminat mengangkatnya, ia memutuskan membiarkan saja benda itu bergetar sebanyak apa pun itu. Sungguh, Sania tidak berminat sama sekali mengobrol, memang kemana saja Bobby selama beberapa hari belakangan? Apa karena sedang bersama Resti jadi Bobby melupakannya, lalu sekarang ingat untuk menghubungi setelah mereka kembali pada rumah masing-masing?
Yang benar saja!
Sedangkan di tempat lain.
"Mas ..." Shaka yang semula bermain ponsel menengadah pada wanita yang baru saja tiba dengan menyeret koper mendekat.
"Kamu udah pulang? Kok tumben cepet?" Pertanyaan Shaka cenderung sarkas, membuat Resti merasa ada yang berbeda dengan sikap suaminya.
"Kamu ... nggak suka aku pulang cepet?" Wanita itu bertanya dengan nada diplomasi.
"Nggak juga, biasa aja. Kita nggak sedekat itu untuk saling peduli bukan? Aku dan kamu, kita ada dalam porsi kita masing-masing." Usai mengatakan hal itu, Shaka bangkit dari posisinya, meninggalkan Resti yang masih berdiri mematung.
"Aku mau cerai, Mas!" sepenggal kalimat singkat itu berhasil membuat langkah Shaka berhenti dan memutar tubuh, kemudian memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
"Kenapa?"
"Aku ... aku nggak bisa hidup sama orang kayak kamu, aku capek."
Shaka terkekeh kecil, menertawai ucapan Resti yang malah menyalahkannya di sini.
"Kamu terlalu acuh, aku nggak bisa terus-terusan kayak gini."
"Oke, nggak masalah kalau kamu emang mau kita cerai, kamu hubungi orang tuamu, sampaikan keinginan kamu itu!"
Shaka bergerak membawa langkahnya menjauh, benar-benar menjauh tanpa menoleh lagi ke arah Resti.
"Kamu kenapa Mas? Aku benci sama sikapmu yang semakin menjadi-jadi gini."