"Aku tak sangka kau akan seberani ini," ucapku pada wanita itu ketika dia sedang mengantri makanan di meja prasmanan, dia memang mengantri di saat saat terakhir hingga aku bisa menghampirinya. Wanita berbaju mint itu tersenyum, bibirnya yang diber gincu pink merekah dengan lengkungan lebar.
"Apakah kau merasa takut bahwa aku akan berkenalan dan semakin akrab dengan ibu mertuamu?"
"Tidak sama sekali, aku justru ingin mempertontonkan kebusukan kamu berdua di hadapan semua orang. Sayangnya, ini momen yang kurang tepat," jawabku sambil meneguk minuman di tangan. Aku ingin sekali memukulnya, tapi sikap itu akan mengacaukan acara kematian yang penuh belas sungkawa. Aku tidak suka jadi pusat perhatian di momen yang salah.
"Jika kau tidak punya kepentingan, tolong tinggalkan aku dan biarkan aku menikmati hidangan ini," ucapnya dengan sombong.
"Tentu saja, bukannya kau begitu rakus hingga tanpa rasa malu pun kau telah menjadi tamu yang tak diundang."
"Siapa bilang tak diundang, aku diajak kemari oleh Mas Alvin," jawabnya santai.
"Kalau begitu, nikmati acaranya," jawabku sambil tetap memasang senyum ramah karena tamu mulai memperhatikan dan melihat gelagat kami.
Meski aku sibuk menjamu tamu, tapi aku tetap mengawasi Mona dari tempat aku berdiri, membaur dengan banyak tamu, berkenalan dan bicara. Aku melihat tak lama kemudian aku melihat suamiku menghampirinya lalu mengajaknya bicara ke sudut ruangan yang memang sangat luas. Mas Alvin numpak gelisah didatangi di momen keluarga oleh selingkuhannya, bayangkan, ada banyak kerabat sepupu dan handai taulan, mereka semua memperhatikan wanita cantik yang tidak seorang pun mengenalnya kecuali Mas Alvin.
Perlahan kualihkan perhatian tamu yang sedang bicara padaku, lalu sedikit demi sedikit kuhampiri mereka untuk memperhatikan apa yang sedang mereka bicarakan.
" .... Tapi aku ke sini untuk memberikan doa kepada mendiang ayahmu Mas,"ucap wanita itu dengan tatapan manja dan minta perhatian.
"Iya, aku menghargainya, tapi ini momennya tidak tepat, ada istri dan anakku," desis pria itu dengan wajah tegang, mereka tidak menyadari bahwa aku sedang berdiri di belakang mereka dan melipat tanganku di d**a sambil memperhatikan apa yang mereka ucapkan.
"Emangnya kenapa, istrimu tidak mungkin menyerangku, aku ke sini adalah tamu yang datang memberikan doa yang tulus jadi dia pasti akan menahan dirinya."
"Tolong jangan manfaatkan keadaan ini untuk mencari gara-gara posisiku sedang sangat sulit," ucap Mas Alvin seraya menyeret wanita itu pergi, setengah terpaksa wanita itu melepas piring makannya lalu mengikuti langkah Mas Alvin.
"Alvin itu siapa?" tanya ibu mertua yang ternyata memperhatikan gelagat dua sejoli itu.
"Ah, i-ibu ... Ini ... anu ...."
"Aku teman Alvin, Bu."
"Teman kerja atau teman apa? karena baru pertama kali Ibu melihatmu ...?"
"Kami berkenalan saat main tenis dan kami berteman dekat sekarang."
"Oh ya, kalau begitu kau harus sering-sering mampir kemari karena ibu senang sekali bergaul dengan teman dekat Alvin," jawab ibu sambil melirik padaku,nampaknya dia terlihat sangat dendam sekali karena akulah yang telah mengirimkan video aib anaknya hingga membuat suaminya meninggal.
Tadinya kedua mertuaku adalah orang yang baik tapi ... Seiring berjalannya waktu semuanya berubah. Mereka lebih cenderung membela kesalahan Mas Alvin tanpa menyadari sisi buruknya, mereka selalu memberikan permisi dan maklum padahal itu adalah hal yang kurang aku setujui sebagai istri. Alhasil, kami sering berselisih pendapat, meski pada akhirnya akulah yang selalu mengalah dan menelan pil pahit. Puncaknya, aku yang sudah tidak tahan akhirnya mengirimkan bukti kesalahan yang selalu mereka anggap kebohongan tanpa alasan. Aku tahu ayah mertua akan Rumah sakit jantung tapi aku tidak menyangka dia akan meninggal. Mungkin secara tidak langsung aku telah membunuhnya tapi sungguh, aku tidak bermaksud untuk itu.
"Ibu ... Mengapa Ibu pura-pura tidak mengenal wanita itu padahal dia jelas-jelas terpampang di video m***m yang aku kirimkan?" bisikku pelan. Air muka ibu berubah, dia terbelalak dan melotot padaku dengan geram.
"Jaga mulutmu, rumah kita sedang ramai!" ucapnya tegang.
"Mengapa tidak? Bukankah ibu menawarkan keramahan, kenapa tidak lanjutkan saja. Ataukah ... perlu aku yang umumkan!"
"Pergi kau dari sini!" ujar ibu dengan marah.
Mengapa sekarang, posisi menantu yang disudutkan sementara si selingkuhan jalang Itu tersenyum-senyum saja di samping Mas Alvin.
"Kenapa Ibu menawarkan keramahan kepada orang lain sementara aku yang merupakan menantumu Ibu usir, ini tidak adil!"
"Kalau begitu masuklah ke dalam dan kendalikan ucapanmu. Aku tidak akan mentoleransi jika kau memberiku rasa malu," ucapnya dengan wajah makin tegang.
"Siapa sih yang cantik itu, Alvin?" tanya seorang sepupu pria Mas Alvin yang berprofesi sebagai guru.
"Dia temanku."
"Cantik sekali temanmu, kenapa tidak perkenalkan padaku," ucap Pria itu dengan ramah sambil mengulurkan tangan.
"Namaku Mona, senang berjumpa kamu," ucapnya dengan tatapan nakal.
"Nona cantik, kau menarik perhatianku." Pria itu tersenyum lalu mengecup uluran tangan si Jalang. Bukannya malah merasa tidak enak dengan Mas ALvin, dia malah tersenyum bangga dan mengangkat alisnya sebelah padaku. Nampaknya ia ingin sekali menunjukkan bahwa ia yang tercantik di dunia ini.
Selagi mereka bertutur sapa dengan gembira Mas ALvin mulai merasa tidak nyaman dan menggaruk-garuk tengkuknya. Nampaknya dia mulai merasa cemburu karena kekasihnya bercengkerama dengan sepupunya sendiri.
"Lihat si jalang itu, dia menebar pesona pada semua laki-laki dan tidak segan-segan ketika seorang pria mencium tangannya, itulah kandidat calon mantu ideal untuk ibu 'kan? Benar benar tak punya malu," ucapku sambil tertawa sinis dan mengejek ibu yang selalu sombong padaku