"Alvin, Rifki! Apa yang kalian lakukan, hentikan, kalian membuat kami malu," ucap Ibu yang tergopoh-gopoh mendekat dan melerai mereka.
" ... kenapa ini bisa terjadi?" ibu masih bertanya, sementara kedua anak dan keponakannya masih saling memandang dengan sengit.
"Ini salah saya Tante, maafkan saya, saya akan pergi sekarang," ucap Mona sambil menangkupkan tangan dan membalikkan badan.
"Kamu ya, kenapa harus memukul sodara kamu? Memangnya dia salah apa?" tanya Tante Hani pada ponakannya, suamiku.
"Saya lagi ngobrol Tante, dan dia tiba tiba dia menunjukkan kecemburuan dan tidak suka. Kalau memang tidak setuju orang lain dekat dengan temannya, kenapa dia harus mengajaknya kemari?"
"Apa hubunganmu dengan wanita cantik itu, Alvin?" tanya Ibunya Rifki dengan tatapan selidik pada ponakannya. "Kenapa kamu sampai harus memukul Rifki? Apakah wanita itu adalah milikmu?"
"Tidak juga!"
"Iya," selaku, wanita itu adalah pacarnya Mas Alvin. Aku menjawab seperti itu dan melipat tanganku di d**a sambil menunggu drama apa yang akan terjadi.
"Tunggu, Indira, apa maksudmu?!" tanya Ibunya Rifki.
"Suamiku sudah berselingkuh, Tante," jawabku dengan senyum getir.
"Ya Allah ..." Semua orang di sana hanya bisa menutup mulut mereka dengan kedua tangan, terkejut dan kehilangan komentar. Mas Alvin menunduk sementara ibunya mempelototiku dengan garang.
"Kamu ya .... gak bisa banget ya, kamu nahan mulut sedikit!" ucap Ibu mertua.
"Maaf Mas Alvin, kalau semuanya harus terungkap begitu saja. Ibu ... Jangan menutup Mata, anakmu memang tukang selingkuh yang mengerikan."
"Tunggu dulu, hei! Aku mau tanya!" ucap Tante Hani pada Mona yang sudah berjalan menjauh. Tante Hani mengejarnya dan menarik tangan wanita itu mendekat.
"Tante, Maaf, saya harus pergi."
"Jika kau sudah putuskan di sini maka kau harus pertanggungjawabkan semua perbuatanmu. Kau tahu konsekuensinya menunjukkan diri kan?"
"Tapi, saya hanya teman. ..."
"Maukah kau tunjukkan video yang sudah disaksikan oleh ayah mertua hingga membuat beliau meregang nyawa?"
"Indira!" Dengan teriakan yang cukup kencang dan tatapan mata yang sangat melotot ibu mertua mencoba mengendalikanku."
" ... Kalau sampai aib ini terungkap hari ini, maka aku benar-benar akan memusuhimu."
"Maafkan saya Ibu, ini sudah kepalang tanggung. Karena wanita ini sudah menunjukkan keberaniannya dan Mas Albi juga tidak mengusirnya maka aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahu yang sebenarnya kepada seluruh anggota keluarga."
"Tidak, kau akan menghancurkan kami semua jadi sekarang tarik ucapanmu dan meminta maaflah kepada wanita itu!"
Aku, disuruh minta maaf pada Mona? Enak saja. Mereka berselingkuh dan memadu kasih dalam hubungan gelap lalu aku yang harus minta maaf, mengapa? Apakah dunia sudah terbalik ataukah ibu mertua sudah kehilangan kewarasannya.
"Aku tidak mau," jawabku sambil menggeleng.
"Jadi, Alvin berselingkuh dengan wanita cantik ini?" tanya Tante Hani.
"Menurut Tante kenapa ya? Mungkinkah, aku kurang cantik, kurang layanan, atau kurang baik?" Tante Hani yang kutanya hanya menggeleng dengan wajah syok. Dia memandang Mona dan Rifki, juga Mas Alvin bergantian.
"Aku tidak percaya ini ...."
"Tante, ibu ... Aku sudah lama menahan perbuatan Mas ALvin tapi entah kenapa, dia tidak kunjung sadar juga dengan semua kesabaran yang kuberikan. Sekarang ... Aku muak sekali."
"Tapi, bukan begini caranya. Ini acara tahlilan, rumah ini masih ramai dengan kerabat, teganya kalian membuat drama!"
"Merekalah yang membuat keonaran sementara aku hanya memberitahu apa yang terjadi agar kalian semua paham hubungan apa yang sudah dijalin Mas ALvin dan Mona sehingga dia terlihat sangat cemburu."
"Allahu akbar ... Gak ada yang punya adab ya ...."
"Sebaiknya saya pergi saja Tante," ucapku.
"Tidak, kau tidak seharunya diusir, wanita inilah yang harus dijauhkan dari kalian semua," jawab Tante Hani sambil melirik Mona.
"Kau, pergilah dari sini dan jangan coba coba mengganggu kehidupan Alvin lagi, tidak sadarkah kamu bahwa dia pria beristri?"
Mona tidak menjawab sedikitpun ucapan Tante Hani.
"Aku tidak percaya, dari sekian banyak lelaki yang ada di kota ini kau tidak menemukan satupun yang lajang? Astaga, kau sungguh rendahan," ujar Tante yang ternyata sangat mewakili perasaanku, aku puas dia mengatakan itu pada gundik suamiku.
"Tante, saya dan Mas Alvin saling mencintai, kan saya tolong jangan terlalu merendahkan saya, karena tante tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya. boleh jadi saya yang sangat dibenci sekarang akan menjadi bagian dari keluarga ini."
Hah, percaya diri sekali p*****r satu ini. Dia bilang akan jadi anggota keluarga? Wow, luar biasa.
"Lihat kan, p*****r sepertinya memang sangat percaya diri."
"Apa salahnya saling mencintai! Apakah saya terhina, kami memang tak mampu mengekspos hubungan ini karena Mas ALvin masih terikat dengan istrinya. Saya juga tidak pernah mau menunjukkan dengan gamblang hubungan kami, karena masih menjaga perasaan Indira. Kami saling menyayangi, apa yang salah dengan itu?"
Wow, berani sekali dia berteriak dengan air mata berurai di depan semua orang. Sekarang, tingkahnya seakan-akan dia adalah istri sah sementara aku adalah pelakornya. Dia menangis dan mencoba membenarkan hubungan gelapnya dengan Mas alvin di depan seluruh anggota keluarga, yang kini bahkan keluar dari rumah utama dan menyaksikan kami yang berdebat.
"Jadi, kalian berzina!" Tiba-tiba Om Rasyid suami Tante Hani keluar dan berteriak dengan mata melotot.
"Jadi kau dengan bangganya mendeklarasikan dirimu sebagai selingkuhan keponakan kami! Entah kau dari sini!"
"Om bisa mengusir saya, tapi Om belum tentu bisa mengusir saya dari hati Mas ALvin sekuat apapun hubungan cinta dihalangi maka perasaan itu akan semakin kuat!"
Aduh, kini si gundik itu yang menceramahi kami.
"Dasar tidak tahu malu, dengan percaya dirinya kau mengaku, kau pikir kami akan bersimpati, dasar tidak tahu malu, cacat logika dan .... Argggg!" Om Rasyid berteriak marah lalu mendekati Mona dan menarik tangannya dengan kasar.
"Om, jangan perlakukan saya begini!"
"Memangnya kenapa! Pergi kau!" Om Rasyid mendorong wanita itu hingga keluar dari gerbang.
"Tidak tahu diri, percuma kalau kecantikan itu hanya digunakan untuk merugikan orang lain," ujar Om Rasyid sambil melempar w***********g itu keluar. Mas Alvin terkesiap dan ingin membantu kekasihnya, sayang, ia tak berdaya. Perlahan dalam hati, aku menertawai suamiku.