Kami jalan mengendap- endap menuju parkiran. Tak luput pula kami mengawasi sekitar. Akhirnya kami tiba di parkiran melalui pintu darurat yang tak jauh dari ruang tunggu. Parkiran tampak lebih sepi di sana.
“Kalian parkir mobil di sebelah mana?” tanya dokter Akar.
“Kami parkir di dekat ruangan dokter tadi, pintu masuk belakang itu dok,” jawab Rendra.
“Ya ampun, itu lebih jauh jadinya kalau dari sini. Kita harus mutar dulu, itu juga letaknya di parkiran atas kan?” tanya dokter Akar. Rendra diam sebentar dan mengangguk.
“Sepertinya begitu dok,” jawab Rendra. Dokter Akar menepuk jidatnya.
“Haduh, jauh banget sih itu. Ya udah, kita ke sana aja pelan- pelan. Semoga aja lift menuju ke atas gak mati,” gumam dokter Akar.
“Tenang dok, gak perlu. Kita tunggu di sini saja,” ujar Rendra menghalangi dokter Akar. Dokter Akar mengernyitkan alis.
“Maksudmu?” tanya dokter Akar bingung.
Rendra tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum simpul dan mengeluarkan kunci mobil dari kantung celananya. Ia menekan salah satu tombol di kunci mobil itu. Hening. Tak ada terjadi apa- apa.
“Apa sih, gak ada apa- apa kok. Kamu ngapain sih Ren?” tanya Kara.
“Mending kita langsung ke lift aja, kayak yang dokter Akar bilang,” timpalku. Kara mengangguk setuju. Rendra berdecik kesal.
“Tunggu saja, paling sebentar lagi kok,” jawab Rendra. Akhirnya kami memilih mengalah. Kami duduk di lantai sambil menunggu sesuatu yang di janjikan Rendra terjadi, meski kami tak tahu itu apa.
“Ini kita nungguin apa sih nak?” tanya dokter Rendra. Kami sudah menunggu selama 10 menit, tapi tidak ada apapun yang terjadi.
“Sabar dok, sebentar lagi juga datang kok,” jawab Rendra. Aku mengernyitkan alis. Apanya yang bakal datang?
“Maksud kamu apa? Apanya yang bakal datang?” tanyaku bingung. Rendra tak menjawabnya. Ia fokus melihat ke depan.
“Ah, itu dia datang,” ujar Rendra sambil menunjuk ke depan. Kami melihat ke arah yang di tunjuk Rendra. Kami memincingkan mata.
“Gak ada apa- apa ah Ren,” ujar Kara. Rendra menghela napas dan menekan kembali sebuah tombol di kunci mobilnya. Kami semua melongo saat melihat mobil Rendra melaju sendiri menuju ke arah kami. Mobil itu berhenti tepat di depan kami dan pintunya terbuka otomatis.
“Ayo naik,” ajak Rendra. Kami masih bergeming di tempat. “Hei buruan, nanti keburu di kejar sama zombie- zombie itu!” pinta Rendra. Kami langsung tersadar dan masuk ke dalam mobil. Aku duduk di depan, sedangkan Kara dan dokter Akar di belakang.
“Sudah semua? Pintunya aku tutup ya, kita berangkat sekarang,” ujar Rendra. Pintu tertutup otomatis dan mobil pun melaju meninggalkan parkiran.
****
Kami sudah keluar dari area rumah sakit. Kali ini Rendra sudah mematikan mode autopilot dan memegang kendali setir sendiri. Mobil melaju lebih pelan daripada tadi.
“Jadi dokter, kita kemana sekarang?” tanya Rendra pada dokter Akar yang duduk di belakang. Dokter Akar menompang dagu.
“Anu … jujur saja sebenarnya saya juga tidak tahu harus kemana sekarang …” jawab dokter Akar pelan. Rendra menarik pedal rem dan kami tersungkur pelan ke depan. Semua merintih kesakitan. Rendra membalikkan badannya.
“Dokter gimana sih? Aku kira dokter tau kita harus kemana. Sekarang jadi gak nentu arah begini kan! Ck!” protes Rendra. Rendra berdecak kesal dan memukul setirnya. Dokter Akar menelan ludah.
“Anu … maafkan saya. Saya hanya berpikir, lebih baik kita keluar dulu dari rumah sakit, karena rumah sakit area yang berbahaya buat saya …” gumam dokter Akar.
“Gak dok. Gak hanya rumah sakit yang jadi area berbahaya sekarang. Tapi hampir semua area,” ujar Rendra. “Bahkan aku sendiri gak yakin apa masih ada area aman di sini,” gumamnya lagi.
Suasana hening sesaat. Tidak ada yang berani untuk buka suara. Rendra masih saja memukul setir. Tiba- tiba mr. communicator berdenting, tanda ada sebuah pesan baru masuk. Aku mengeluarkan mr. communicator yang baru aku sadari ternyata sedari tadi ada di dalam dashboard dan mengecek notif yang ada.
“Masih ada sinyal ya, saya kira udah hilang,” gumam dokter Akar.
Aku mangut- mangut dan membuka notif yang ada. Tak ada banyak notif di sana, hanya ada notif spam dari Sheila dan sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal. Ini dari siapa ya? Aku membuka notif itu.
Ini adalah titik- titik tempat yang aman untuk saat ini. Semua tempat yang tertera di sini sudah di pastikan tidak ada zombie dan bisa di gunakan untuk menginap.
“Hei, lihat ini,” panggilku. Rendra mendongakkan kepalanya. Semua berkumpul mengerubungiku. Aku menunjukkan pesan itu kepada mereka.
“Aku dapat pesan misterius, gatau dari siapa. Tapi dia kasih tau info tempat yang aman,”lanjutku. Rendra mengambil alih mr. communicator dan membuka titik maps yang di tunjukkan.
“Ini valid gak?” tanya Rendra. Aku mengangkat bahuku.
“Masalah valid enggaknya nanti aja deh. Kita coba aja ke sana dulu pelan- pelan Ren. Aktifin aja mode invisible, biar lebih aman,” usul Kara. Aku dan dokter Akar mangut- mangut setuju.
“Yah daripada gak tahu arah begini, ada baiknya titik ini di coba dulu,” timpal dokter Akar. Rendra menatap dokter Akar tajam dan menghela napas.
“Gak ada salahnya sih memang,” gumam Rendra. Ia pun menghubungkan titik di maps mr. communicator ke maps yang ada di mobil.
“Kita pergi ke titik pertama dulu,” ujar Rendra memberitahu. Kami mengangguk. “Semuanya, pakai lagi seat belt nya. Ini perjalanan agak jauh, kalau mabuk bilang ya,” pinta Rendra. Rendra mengaktifkan kembali mode auto pilot dan mobil pun melaju menuju titik yang di tunjuk.
***
Ternyata benar, untuk menuju ke titik pertama, membutuhkan waktu yang lama. Kurang lebih kami sudah sejam di perjalanan, tapi mobil masih terus melaju.
“Ini masih jauh ya Ren?” tanya Kara. Rendra melihat kembali maps.
“Agaknya, sih. Kurang lebih sejam lagi baru sampai,” jawab Rendra. Kara menghela napas dan berselenjor kembali ke kursi mobil.
“Gila nih p****t gue udah panas, di tempelin mulu ama kursi mobil,” gerutu Kara.
“Sabar dong Kar,” ujarku. “Entar kalo udah sampai, kamu tidur aja deh sampek puas. Moga aja ada kasur sih, aku capek juga duduk daritadi,” lanjutku. Aku menepuk sedikit pundakku yang sudah kaku.
“Di maps ada di kasih tau gak kita bakal berhenti di tempat apa?” tanyaku pada Rendra. Ia mengeleng.
“Gak ada di kasih tau sih, bakal tiba di tempat kayak gimana. Cuma di kasih titik aja,” jawab Rendra.
“Semuanya begitu?” tanyaku lagi. Rendra mengecek kembali maps dan mengangguk. Aku melongo. Ini aneh.
“Aneh,” gumamku.
“Yah aneh memang, yang kirim juga sama anehnya. Anon begini,” timpal Rendra. “Kita cuma bisa berdoa semoga aja ini bukan jebakan. Nanti jangan ada yang keluar mobil dulu ya, kita cek situasi dulu,” pinta Rendra. Aku mengangguk.
“Dokter kenapa? Kok daritadi nengok keluar terus?”tanya Kara pada dokter Akar. Aku melirik ke belakang. Iya juga, daritadi dokter Akar hanya diam saja. Mungkin dokter Akar merasa bersalah karena sempat membuat kami hilang arah. Sedari tadi dokter Akar menatap keluar jendela.
Tak ada jawaban. Dokter Akar melamun menatap keluar jendela. Kara menepuk pundak dokter Akar pelan. Dokter Akar tersentak kaget dan membalikkan badannya. Ia menghela napas melihat Kara.
“Ya ampun, kamu bikin kaget aja nak,” gumam dokter Akar sambil mengelus- elus dadanya.
“Dokter kenapa daritadi lihat keluar aja?” tanya Kara.
“Ah, saya hanya gak nyangka aja. Benar ternyata kata Rendra, di luar sini lebih kacau daripada di rumah sakit. Saya kaget, padahal baru sehari, tapi sudah berubah drastis seperti kota yang di tinggalkan bertahun- tahun,” jawab dokter Akar.
“Yah, kami awalnya juga kaget kok dok, sama kayak dokter,” timpalku.
“Malah tadi kami sempet di kerumuni sama zombie itu. Mobil kami habis di datangi, sampai itu di belakang retak karena mereka.” Kara menunjuk ke jendela pintu bagasi yang sudah retak. Dokter Kara yang melihat retakan begitu besar pun terkaget.
“Ya ampun, saya gak nyangka zombie itu bar- bar seperti ini,” gumam dokter Akar. Aku dan Kara hanya nyengir. “Jadi kalian kok bisa kabur dari zombie itu? Hebat kalian!” puji dokter Akar.
“Anu … ini sebenarnya karena Rendra sih dok …” Kara menunjuk ke arah Rendra yang asik selonjoran di kursinya. “Dia yang bawa mobil kencang. Langsung terobos. Dia aktifin mode invisible jadi gak ada yang sadar,” jelas Kara. Dokter Akar menatap kagum.
“Wow! Jadi mobil ini itu mobil invisible yang baru aja keluar itu ya? Keren!” puji dokter Akar sambil mengelus pelan kursi mobil. “Jadi kita ini gak bisa kelihatan sama orang di luar sana ya? Gila keren banget!” puji dokter Akar begitu kagum.
“Iya, begitu memang dok. Tapi ini mobil invisible keluaran lama, bukan yang baru,” jawab Rendra.
“Tetap saja ini keren! Lalu, lalu, mobil ini bisa apalagi?” tanya dokter Akar kagum.
“Yah sebenarnya cuma bisa invisible aja, tapi saya modif sendiri jadi ada mode silent, yah jadi agak miriplah ya dengan keluaran baru,” jawab Rendra. Mata dokter Akar berbinar kagum.
“Ya ampun! Kamu keren banget gila! Wih! Mantep!” Dokter Akar mengacungkan kedua jempolnya. Rendra nyengir lebar.
“Tapi yang kayak begini kayaknya gak hebat deh dok, kek semua orang juga bisa,” ujar Rendra merendahkan diri. Dokter Akar mengeleng.
“Ya enggaklah. Mana bisa sembarang orang kayak gini. Ih keren banget deh kamu! Kagum saya,” puji dokter Akar sekali lagi. Pipi Rendra mulai memerah karena malu.
“Makasih dokter,” gumam Rendra pelan.
Dokter Akar menatap setiap sudut mobil dengan mata berbinar. Ia menyentuh hampir semua yang ada di mobil, bahkan memainkan lampu mobil. Rendra yang kesal karena suasananya sudah seperti lampu disko pun akhirnya memilih untuk mematikan lampu secara otomatis. Rendra menatap dokter Akar tajam. Dokter Akar nyengir lebar dan duduk kembali ke tempatnya.
Aku tertawa kecil melihat tingkah laku dokter Akar. Seperti anak kecil saja, gumamku dalam hati. Rendra berdecik kesal. Dokter Akar kembali melihat keluar. Keadaan di luar sangat sepi. Semuanya berantakan. Beberapa tong sampah yang ada isinya berhamburan keluar. Lampu jalanan yang sudah di pecahkan lampunya, tiang beberapa lampu yang bengkok, dan lampu lalu lintas yang entah bagaimana bisa jatuh berhamburan di aspal. Jalanan sunyi, tak ada tampak batang hidung seorang pun. Semua rumah tertutup rapat pintunya dan semua jendela di tutup dengan gorden.
“Saya gak bisa bayangin gimana rasanya kalau di kerumuni sama zombie- zombie itu. Saya yang tadi baru di datangi satu aja rasanya mau copot jantung,” gumam dokter Akar.
“Dok, boleh saya nanya sesuatu?” izinku. Dokter Akar mengangguk.
“Silakan nak. Mau nanya apa?” tanya dokter Akar.
“Anu … sebenarnya. Saya masih penasaran, kenapa tiba- tiba banyak orang yang berubah jadi zombie begini. Bagaimana kejadian sebenarnya? Firasat saya, semua ini berawal dari rumah sakit bukan?” tanyaku. Dokter Akar menghela napas panjang.
“Kau memang gak salah nak, semua ini sebenarnya berawal dari rumah sakit …” jawab dokter Akar pelan. “Semuanya terjadi sejak kemarin siang ..”
***
Pagi setelah acara kembang api Nyepian Mahkota, mulai banyak pasien yang datang ke rumah sakit. Gejala mereka hampir sama, sesak napas hingga pingsan. Rata- rata pasien yang datang adalah pengidap asma akut. Mungkin saja ini di sebabkan karena menghirup asap saat kembang api di nyalakan. Itu pikir kami, dan kami tidak menganggap itu situasi darurat.
Sampai kemarin, kami menemukan keganjaln dari seorang pasien. Gejalanya malah makin bertambah. Kami menemukan keganjalan saat ada seorang pasien yang muntah darah, padahal ia sendiru bukan pengidap TBC. Tidak hanya satu orang, tapi ada beberapa juga yang mengalami gejala yang sama.
Sorenya, kami para dokter mengadakan rapat mendadak membahas soal gejala misterius itu. Tapi saat itu semua seperti mimpi. Semua berubah seketika. Seorang pasien malah mengamuk. Wajahnya pucat pasi dengan bibir yang sudah bersimbah darah. Ia berlari dengan brutal dan menggigit siapa saja yang ada di dekatnya. Saat itulah suasana menjadi kacau. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi saya melihat hampir semua korban yang ia gigit berubah menjadi zombie. Saya tidak berani keluar dari ruangan saya akhirnya bersembunyi di bawah meja sampai kalian datang.
****