"Mbak Ara sakit ya?" Percakapan pagi ini dibuka dengan Gian yang menyendokkan bubur ayam ke dalam mulut, dengan mata berfokus ke arah meja Ara. Ketua timnya itu datang lebih pagi dari biasanya, dan sudah terduduk lemas di kursi. Melipat kedua tangan, dan merebahkan kepalanya di sana sementara wajahnya ia tutupi dengan tumpukan berkas. Mungkin kembali terlelap di sana. Dany ikut melirik, sebelum dirinya kembali pura-pura sibuk mengunyah roti isi yang sempat ia beli di minimarket yang ada di lantai bawah kantor. Enggan berkomentar apa-apa, walau ia tau betul apa yang sedang terjadi dengan ketua timnya itu. Mengetahui bahwa keguguran yang membuatmu terpaksa kehilangan rahim adalah sebuah rekaya, jelas bukan fakta yang bisa diterima dengan baik. Ara berhak bersikap sedemikian sedih, justru s

