"Mas, ini seriusan?" Dany mengernyitkan dahi menatap gelang berwarna kemerahan yang melingkar di lengannya. Subuh tadi, Fandi baru kembali dari kantor. Alih-alih beristirahat ia langsung memberikan ide agar mereka pergi saja ke dufan bersama Dany dan ketiga adiknya. Awalnya Dany kira laki-laki itu sedang melantur saking lelah akan pekerjaan, namun Fandi tidak main-main. Laki-laki itu menelpon asisten pribadinya minta disiapkan tiket dufan dan seorang supir untuk mengantarkan mereka ke taman bermain itu. Tak butuh waktu lama hingga semua persiapan siap. Bahkan tiket yang disiapkan Fandi bukan tiket biasa, melainkan fast track yang memungkinkan mereka untuk tidak mengantri panjang untuk bermain wahana. "Hitung-hitung rasa terimakasih saya buat adik-adik kamu." Fandi tersenyum kecil, meliri

