Bab 5 Salah Menduga

1201 Kata
"Apa yang membuatmu yakin kalau Cantika adalah wanita selingkuhan, Mirza?" Kak Melati bertanya dengan nada sedikit sinis. Apa mungkin Kak melati juga punya pengalaman buruk dengan Cantika, atau mungkin ada hal lain yang membuat Kak Melati begitu tidak suka saat aku menyebut nama itu. "Aku menghubungkan waktu resign Cantika dengan waktu perginya Mas Mirza. Aku juga dengar, kalau bulan lalu Cantika menggelar pernikahan di luar kota dengan kekasihnya. Aku yakin, pria yang dimaksud kekasihnya Cantika, pasti Mas Mirza," ucapku tertunduk. "Kamu punya bukti?" Kak Rasyid kembali bertanya. Aku menggeleng. "Jangan menduga-duga, apalagi kamu tidak punya bukti, nanti jatuhnya fitnah, Dek." "Benar kata, Kak Mel. Jangan mengambil kesimpulan dengan hanya karena mendengar kabar yang belum tentu kebenarannya," timpal Kak Rasyid. Kak Rasyid mengambil gelas dan meneguk air di dalamnya. "Letta, bukan Cantika perempuan yang jadi pelakor dalam rumah tanggamu." Kak Rasyid meletakkan kembali gelas di atas meja. Aku mengerutkan kening. Seyakin itu Kakakku dengan ucapannya. Kalau bukan Cantika, lalu siapa? "Maksud Kakak? Kenapa Kakak yakin kalau Cantika bukan wanita simpanan Mas Mirza?" "Karena Kakak tahu, siapa suami Cantika. Dan dia, masih kerabat dari Kakak iparmu, Kak Mel." Pandanganku beralih melihat wanita berkaca mata itu. Kak Melati mengangguk pasti. Dia juga mengeluarkan ponsel miliknya. Memperlihatkan gambar satu pasang pengantin. "Itu Cantika?" Aku bertanya saat mata tertuju pada ponsel Kak Melati. "Iya, Dek. Ini Cantika sama suaminya. Kakak sama Kak Rasyid memang tidak bisa hadir di pernikahannya. Kakak dapat foto ini dari postingan keluarganya di media sosial." Lantas siapa yang menjadi selingkuhan Mas Mirza? Mataku tidak mungkin salah, itu memang foto Cantika. Aku masih sangat mengenal jelas wajahnya. "Suami Cantika memang bekerja di perusahan cabang milikmu. Dia menduduki jabatan yang sangat penting di sana. Manager keuangan. Kinerja dia bagus, Dirga namanya. Jarak perusahaan Kakak dan perusahaanmu memang jauh, tapi dunia bisnis selalu mengabarkan berita tentang perusahaan yang sedang merangkak naik, termasuk perusahaanmu yang selalu mengalami peningkatan." Tidak aku pungkiri, kinerja Mas Mirza dalam memajukan perusahaan memang patut diapresiasi. Setiap tahunnya, perusahaan Papa semakin maju ditangannya. Laba semakin naik, karyawan yang semakin sejahtera. Aku menyandarkan punggungku pada kursi. Menghirup udara sebanyak mungkin. Otakku kembali bekerja mencari-cari siapa sekiranya yang menjadi duri dalam rumah tanggaku. "Jadi, Mirza sudah tidak pernah datang lagi ke kantor, selama satu bulan ini?" Setelah saling diam, Kak Rasyid kembali bertanya. "Iya, bahkan dia sudah mengundurkan diri dari perusahaan." "Mengundurkan diri? Kau tahu dia mengundurkan diri, tapi tidak bertanya alasannya? Lalu, kenapa kamu mengira dia pergi bekerja ke luar kota kalau dia mengundurkan diri, Aletta?" Kak Rasyid memajukan tubuhnya sedikit. Matanya kembali menatapku tajam. Aku semakin pusing dengan rentetan pertanyaannya. Aku memejamkan mata sejenak, lalu kembali membenarkan letak dudukku. "Aku tidak tahu dia mengundurkan diri, Kak. Aku juga baru tahu tadi dari Dion." "Apa katamu? Tidak tahu?" Kak Rasyid mengusap wajahnya dengan kasar. "Aletta, kamu itu ownernya. Pemilik perusahaan, mana mungkin kamu tidak tahu kalau ada salah satu direksi yang mengundurkan diri," ujar Kak Rasyid. Wajahnya kembali menegang. "Aku memang tidak tahu, karena Mas Mirza memang tidak pernah memberi tahu, Kak." "Bodoh. Kalau ada direktur yang resign itu harus atas persetujuanmu, ada tanda tanganmu. Tidak akan dia bisa keluar dari perusahaan tanpa adanya persetujuan darimu, Aletta Azzahra!" geram Kak Rasyid. "Kak, tenang," ujar Kak Melati. Aku menyerap ucapan Kakakku. Apa iya begitu, lantas kenapa Mas Mirza bisa dengan mudah keluar tanpa persetujuanku. "Apa Mirza ada meminta tanda tanganmu sebelum dia pergi?" Kak Melati yang bertanya. "Emm, iya ada. Dia bilang untuk surat ijin saja." "Nah, bisa jadi memang saat itu dia mendapatkan persetujuan dari Aletta, Kak." Lagi, Kak Melati berucap. "Tapi, apa Mirza tidak menyalahgunakan tanda tangan Aletta ya, Kak. Misalkan, mengalihkan perusahaan menjadi atas namanya gitu?" tambah Kak Melati. Parnyataan Kak Melati membuatku dan Kak Rasyid tersentak. Kami saling pandang satu sama lain. Rasanya jantungku berdetak semakin cepat. Aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Kalau Mas Mirza selingkuh, bisa saja dia juga melakukan hal itu untuk membiayai hidupnya dengan istri barunya. "Iya, itu bisa juga terjadi. Tidak mungkin dia pergi dengan hanya tangan kosong. Apalagi dia yang bermain gila dengan wanita. Pastinya akan membutuhkan hartanya Aletta." Aku semakin khawatir dengan ucapan Kakakku. Bagaimana jika itu memang terjadi? Aku akan kehilangan semuanya. "Terus aku harus apa, Kak?" tanyaku khawatir. "Diamlah! Ini juga karena kebodohanmu, dan kebucinanmu. Segalanya kau percayakan pada suamimu. Lihat, kau akan kehilangan semuanya!" Kak Rasyid bangkit dari duduknya. Dia menyambar kunci mobil dan pergi ke luar rumah. Kak Melati mengikuti suaminya dengan sedikit berlari. Aku hanya duduk diam, mengacak rambut dengan kasar. Sungguh, ini di luar pemikiranku. Suami yang aku sangkakan baik dan jujur, dia begitu tega melakukan banyak kebohongan untuk mendapatkan hartaku. Kak Melati kembali dan duduk di dekatku. "Kakak mau kemana, Kak Mel?" "Tenanglah, Al. Kak Rasyid akan pergi ke kantormu. Biarkan dia membantu menyelesaikan masalahmu ini," ujar Kak Melati. "Kak, aku bodoh ya, Kak?" tanyaku dengan wajah sendu. "Tidak, Aletta. Kamu hanya terlalu percaya sama suamimu. Emh, di mana kamu menyimpan surat-surat berharga? Kita lihat, apa masih utuh semuanya atau ada barang berhargamu yang berkurang." Tanpa berpikir lagi, aku langsung mengajak Kak Melati ke kamarku. Memeriksa barang berhargaku yang aku simpan di dalam brankas. "Periksa semuanya dengan benar, Letta. Apa surat kepemilikan perusahaan ada di sana atau tidak." Kak Melati mengingatkan. Aku memeriksa semua surat-surat berharga milikku. Ada. Semuanya masih lengkap dan tidak pernah berubah dari tempatnya. Perhiasan milikku dan warisan dari almarhum Mama pun masih utuh semua. "Gimana, Al?" Aku melihat Kak Melati dengan mata yang mengembun. Aku benar-benar tidak mengerti dengan semuanya. Tidak ada yang Mas Mirza ambil dariku. Di pergi tanpa membawa sedikit pun hartaku. "Kenapa, Al. Ada yang hilangkah?" Kak Melati kembali bertanya. Aku menggeleng, dengan mata menatap kosong. Kak Melati menghampiriku. Dia mengambil berkas satu persatu dan membacanya. Lalu menyimpannya kembali. "Ini aneh, dia mengkhianatimu tapi tidak membawa hartamu." Kami sama-sama terdiam. Sibuk dengan pemikiran kita masing-masing. Hingga dering ponsek Kak Melati berbunyi membuyarkan lamunanku. "Assalamualaikum, Kak." "...." "Oh, syukurlah. Di sini juga aman, tidak ada yang hilang." "...." "Baiklah, waalaikumsalam." Panggilan berakhir, Kak Melati menyimpan kembali ponselnya. "Apa yang dikatakan Kak Rasyid, Kak?" tanyaku. "Tidak ada kejanggalan yang mengarah pada kecurangan Mirza pada perusahaan. Semuanya sangat terkendali." Hening. Tidak ada lagi percakapan antara aku dan Kak Melati. Melihatku yang hanya diam, Kak Melati membereskan kembali surat-surat berhargaku dan menyimpannya di sisi ranjang. Lalu dia keluar untuk melihat putrinya yang sedang bermain dengan Thalita dan Niar. Seperginya Kak Melati, bayanganku kembali pada sosok Mas Mirza. Setelah dia pergi, menalakku karena wanita lain, kenapa tidak membuatku jadi membencinya. Kenapa justru aku malah semakin merindukannya. Apalagi, saat aku tahu dia pergi tanpa membawa sedikit pun barang berhargaku. Itu membuatku jadi teringat akan ucapannya waktu itu. "Mas, kerja mulu, ih. Mentang-mentang sudah jadi direktur, kayaknya perusahaan lebih penting sekarang, yah?" kataku dengan cemberut. Seketika dia menyimpan laptop yang sedari tadi berada di pangkuannya. Menggantinya dengan tubuhku yang dia tarik hingga terduduk di pangkuannya. "Tidak ada yang lebih berharga bagiku, selain kamu. Aku tidak butuh semua hartamu, aku hanya menginginkanmu selalu ada untuk aku dalam keadaan apapun." Mas Mirza memeluk pinggang rampingku. Mencium perutku yang mulai membuncit, karena pada saat itu aku tengah hamil muda. Dekapan hangatnya selalu mampu membuatku enggan beranjak. Seperti saat ini, aku sangat merindukan pelukan hangatnya. "Mas, Mirza ...." Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN