Seandainya aku punya keberanian untuk membantah Mama dan memaksa masuk ke dalam. Mungkin rasa penasaranku tidak akan setinggi ini. Tapi sayang, aku tidak punya keberanian untuk melawan, apalagi tempatnya di rumah Mama. Dengan sangat terpaksa, aku ke luar dari rumah Mama dengan perasaan yang masih diliputi banyak tanya. Sesampainya di kantor, seperti biasa aku akan sibuk dengan setumpuk pekerjaanku. Apalagi ada Kak Rasyid yang menemani serta membimbingku. Saat aku tengah fokus bekerja, suara denting ponsel membuyarkan konsentrasiku. Rupanya Niar yang memberi laporan dari rumah Mama. [Bu, Thalita nangis ketakutan, tadi dia bilang melihat tuyul.] Aku memicingkan mata membaca pesan dari Niar. Masa iya, ada tuyul di rumah Mama. Tidak mungkin juga Mama melakukan pesugihan. [Gimana Tha

