Bab. 3

1634 Kata
"Lang Ayah pulang dulu ya! sekalian mau jemput Bunda di Rumah Sakit." Ujar Ayah pada Langit. Keduanya baru saja keluar dari gedung Aula setelah menyelesaikan acara pelepasan. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran. "Ayah nggak ke kantor lagi?" "Enggak Lang. Ayah sama ibu mau dinner malam ini. Sepertinya udah lama kita nggak dinner" Ujar Ayah tersenyum ke arah Langit. "Ya sudah...Ayah hati-hati dijalan ya! Salam buat Bunda" Setelah bersalaman, Ayah kemudian pamit dan meninggalkan kampus. menyisakan Langit yang masih berdiri mematung menatap mobil milik Ayah hingga menghilang dibalik pintu gerbang. Ketika hendak kembali ke ruangan, Langit tak sengaja menangkap sosok seorang gadis yang semalam benar-benar mengganggu tidurnya. Dari kejauhan, Langit bisa melihat si gadis pujaan hati sedang berbincang. Mungkin ke tiga gadis lainnya itu adalah sahabatnya. Hingga matanya menyipit menatap salah satu dari mereka. "Loh...itukan Sisi?" Melihat keberadaan Celsi, Langit pun memiliki ide cemerlang. Ia akan menggunakan sepupunya itu sebagai alasan untuk mendekat ke arah sang pujaan hati. Tap....Tap....Tap... "Sisi!" Keempat gadis cantik yang sedang asyik bercengkerama itu kompak berbalik mendengar seseorang memanggil nama Sisi. "Loh...Bang Langit?? Ngapain disini?" Tanya Celsi yang terkejut tiba-tiba melihat keberadaan sang Abang. "Dari anterin Ayah pulang!" Ujarnya tersenyum ramah namun tatapannya sesekali beralih pada sosok perempuan yang sedari tadi menunduk. Seakan paham kemana arah penglihatan sang Abang, Celsi berdehem cukup keras. "Ekhmmmmm...." "Loh, Si....Lo batuk?" Tanya Liliana si ceplas ceplos dengan begitu polosnya. "Minum dulu" Lanjutnya lagi sembari memberi air mineral pada Celsi. Sedangkan Malika mati-matian menahan tawanya agar tak menyembur. Bisa-bisa Ia malu tertawa lebar di hadapan seorang Langit gara- sikap polosnya si Liliput. "Udah mendingan Si?" Tanya Ara yang juga khawatir pada sang sahabat. "Udah kok! Tenang aja!" ujar Celsi memberi pengertian kepada Arabela dan yang lainnya. Lalu Ia kembali menatap sang Abang yang sejak tadi pandangannya tak lepas dari Arabela. "Awas tu mata copot!" Ketus Celsi pada Langit. Membuat si tersangka tersenyum kikuk. "Bwahahhahahaha...." Akhirnya tawa Malika keluar juga. Sungguh ya, Cinta itu bisa bikin orang sehat jadi bodoh. "Lho, Malika kok ketawa sih? emang ada yang lucu ya?" Tanya Lili dengan wajah polosnya. Sedangkan Arabela mati-matian menahan diri agar tak tersenyum. Memilih menunduk dan menyibukkan diri dengan gawai miliknya. Ia tahu jika pria di hadapannya ini ingin mengenalnya. Tapi Arabela tak mau gegabah. Bukannya so kepedean...tapi kenyataannya seperti itu. Langit beberapa kali ketangkap basah curi-curi pandang ke padanya. ' Ck..kenapa sih gue jadi bego kaya gini depan cewek??' Umpat Langit dalam hati " Ya sudah..kalau begitu Abang pamit ya Si...!! Abang tunggu di rumah.!!!" Pamit Langit menatap ke arah Celsi dengan tatapan berbeda. Langit pun memutuskan untuk kembali ke fakultas kedokteran. Sedangkan Celsi mengiyakan dalam hati. Kalimat 'tunggu' yang Langit sebutkan mempunyai makna terselubung dalam pikiran Celsi. Dan Ia paham. 'Dasar si jomblo akut!!! Baru jatuh cinta ya gini,... bego!! hihihihi. Mana berani Celsi mengumpat didepan sang Abang. Bisa-bisa Ia di jadikan samsak tinju oleh si Langit. "Ya ampuuuuunnn....Kak Langit kok udah pergi aja! Lili kan belum kenalan!!!" Ujar Liliana terlihat kecewa. "Ck... Ngapain Lo pengen kenal sama Kak Langit?" Tanya Malika "Ya biar Kak Langit bisa kenalin sama crush gue Malika!" Cibir Liliana yang sedikit kesal pada Malika. "Emang siapaa crush Lo Li?" Tanya Celsi yang juga penasaran. Begitupun yang lainnya. Liliana terlihat tersenyum malu-malu membuat ketiganya jengah. "Kak Nathan!!!" Ucap Lili dengan penuh semangat. "Whattttt!!! "Apa..??!! Seru Malika dan Celsi bersamaan. "Nggak boleh!!!" Ucap Arabela dengan wajah dingin dan datar. Ketiganya menoleh ke arah Arabela "Loh kok nggak boleh Ra?" Tanya Lili dengan nada protes "Pokonya nggak boleh Lili sayang...Nathan itu Si playboy kelas kakap di kampus ini. Bahkan diluar kampus pun ceweknya bejibun. Loh mau di labrak sama cewek-ceweknya??? emang Lo mau jadi yang ke berapa Liliana!!! Pokonya aku garis keras kamu ya Lili kalau Lo masih ngejar-ngejar si Buaya darat itu!!" Seru Arabela panjang kali lebar membuat ketiganya melongo. Selama mereka berteman baru kali ini sang sahabat berkata sepanjang jalan kereta api. Dan yang paling langka menurut mereka adalah , wajah Arabela yang biasanya datar justru benar-benar berekspresi. Merasa tak ada tanggapan dari ketiga sahabatnya, Arabela mengernyit. "Kalian kenapa?" Tanya Arabela kembali ke setelan awal. satu detik..... dua detik...... tiga detik...... "Bwahahahahahahahh........ Bukannya menjawab ketiganya justru tertawa terbahak-bahak lalu menghambur ke pelukan Arabela. Arabela hanya bisa mematung menerima perlakuan ketiga bestinya ini. "Kalian tu kenapa sih? pake peluk-peluk segala!!! gerah tau!!!" Omel Arabela pura-pura kesal. Namun matanya berkaca-kaca. Arabela begitu bahagia mendapat perlakuan seperti ini dari ketiga sahabatnya, Sebab mereka sama sekali tak memandang dirinya sebagai anak panti asuhan. Apalagi Malika, Liliana dan juga Celsi adalah anak-anak sultan. Ketiganya sama sekali tak memandang harta. Itu yang membuat Arabela begitu menyayangi mereka. Suka maupun fiks mereka selalu ada untuk Arabela. "Ya ampuuuuunnn si Jutek kok mewek?" Ledek Malika membuat Arabela cemberut. "Tau nggak Ra, Lo jauh lebih cantik kalau tersenyum dan cerewet kaya tadi. Kita malah senang loh Ra.." Ucap Celsi menggenggam tangan Arabela. "Bener Ra. Lo itu paket komplit. Udah mah cantik alami, cerdas, jago IT, apalagi coba!!! Tapi nggak de Ra, Lo kaya setelan awal aja deh!. Entar Crush gue suka lagi sama Lo!!" "Nggak!...Gue bakalan tersenyum seperti dulu jika gue berhasil bertemu dengannya.!!" Tegas Arabela. Ketiganya pun mengangguk. "Dan Lo Lilipuuuuut...jangan coba-coba deketin si buaya Nathan...Gue tendang Lo ya!!!!" Ancam Arabela. Liliana hanya bisa merenggut mendengar peringatan Arabela, sedangkan Celsi dan Malika tertawa terbahak-bahak. **** "Bokap udah pulang, Lang?" Bara yang baru saja selesai mengerjakan beberapa laporan akhir pun menoleh saat Langit baru saja tiba. " Iya baru saja! dimana si Nathan?" Tanya Langit setelah tak mendapati Nathan dimanapun. "Lagi di to..." Ucapan Bara terhenti saat mendengar seruan Nathan. "Ngapain cari gue? Kangen?" Sahut Nathan yang baru saja keluar dari toilet. "Ishh...nggak ya!" Seru Langit melempari Nathan dengan tutup bekal berwarna pastel. Nathan berhasil menghindar sedangkan Bara hanya menghela nafas panjang. "Kalian tu kaya Tom and Jerry! Nggak ada di cariin. Pas orangnya ada berantem aja kerjanya." Keluh Bara pada kedua sahabatnya itu. "Udah dari dulu setelannya kaya gitu Bar. Kan ada Lo yang selalu jadi penengah kita berdua?" Kata Nathan menanggapi ucapan Bara. "Oh ya Nath...kasih alamat Ara ke gue dong!! ada hal penting yang mau aku obrolin sama dia" Ujar Langit yang saat ini sedang menikmati nasi kotak yang disediakan oleh bagian konsumsi acara yang baru saja selesai. "Gue nggak punya Ege..! Nggak ada yang tahu alamatnya. kayanya sih Deket dari kampus. Lo ma bikin susah diri sendiri aja. Tinggal bilang Om David. Dia kan paling gercep tuh!" "Nggak. Om David tu banyak kerjaan. Gue nggak nambah kerjaan dia lagi Nath" "Loh kan emang kerjaannya seperti itu!!?" "Nggak!!! sepertinya gue tahu siapa yang harus gue hubungi!!" "Emang siapa?" "Kepo lu!!!" Nathan sebenarnya sudah tahu dimana alamat Arabela. Namun, Ia hanya ingin melihat usaha dari Langit. Sebab dirinya saja yang digilai banyak wanita di tolak mentah-mentah!! apalagi Langit yang tak mengenal yang namanya pacaran!! "Oh ya Bar! Kemarin Bang Jaya nelpon. Katanya bahan untuk produksi udah sampai. Lo cek dulu ya bareng Nathan. Soalnya weekend ini gue nggak bisa. Keluarga besar gue lagi pada kumpul di rumah.!" Ya! Ketiga sahabat ini membangun sebuah bisnis produksi khusus pakaian laki-laki. Bisnis itu dibangun bertiga atas saran dari seorang Langit yang ingin membangun bisnis di luar bisnis sang Ayah. Modal awal berasal dari tabungan Langit. sebagai sang pencetus. Butik yang di beri nama 'The Lucky Store' itu menyediakan pakaian khusus untuk para pemuda remaja hingga laki-laki dewasa. Tiga tahun sudah toko mereka berproduksi dan sudah banyak owner toko-toko besar yang saat ini bekerjasama. Bang Jaya yang Langit maksud adalah Orang kepercayaan mereka yang saat ini menghandle semuanya. Meskipun untuk rapat intern ketiganya diharuskan untuk tetap hadir. "Oke deh..tapi laporannya gue kirim ke email Lo aja ya Lang. Sekalian laporan pembelian bahan kain pesanan Klien sebulan yang lalu." Jelas Bara lalu kembali fokus pada layar monitor miliknya. "Oke...gue kunci. Ya udah...gue balik duluan ya! Bunda udah ngomel, dari tadi cat mulu. Katanya udah nunggu di butik Tante Hana." "Loh...emang Nyokap Lo pesan apa di butik Mami?" Tanya Nathan. Hana adalah Maminya Nathan. Semua Old money berlangganan di butik tersebut. Sebab selain ramah pada pelanggan tentunya kualitas pakaiannya sangat bagus. "Biasa baju persatuan...Mami kan sukanya gitu. Kalau ada acara, apa-apa harus kembar! Haahhhhh sampai satu lemari khusus gue siapin buat baju pesanan Bunda." Keluh Langit ketika mengingat betapa eksaitednya sang Bunda jika ada acara keluarga. "Ya sudah...berangkat gi! Hati-hati Lo!!" Seru Nathan. **** Tut...Tut....Tut.... "Halo... "Dek! kirim alamat Ara ya! aku tunggu!!" Tut Langit memutus panggilan sepihak. Tak lama kemudian bunyi notifikasi tanda pesan masuk pun terdengar. 'Ish....dasar Bang Langit menyebalkan! Alamatnya Deket kampus. Samping warung bakso langganan Abang kan ada gang tu. Nah Abang masuk aja ke gangnya. Kosnya cat warna Ungu!' Tak berniat membalas sekedar ucapan terimakasih. Langit memacu kuda besinya menuju alamat yang Celsi berikan. Mobil miliknya kini berhenti tepat di depan gang dimana kos Arabela berada. Menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Langit beberapa kali menghembuskan nafas panjang. Setelah merasa lebih baik Ia pun turun dan berjalan masuk ke arah gang. Tap..... tap... tap Tepat berdiri di hadapan kos-kosan sederhana dimana gadisnya tinggal. Hati Langit teriris. Ia yang terbiasa hidup dengan fasilitas lengkap merasa jika kosan ini tak layak huni. Tapi menurutnya setiap pandangan orang pasti berbeda. "Loh Den....cari siapa?" Tanya seorang pria paru baya membuyarkan lamunan Langit. "Oh maaf Pak'de...perkenalkan saya Langit. Saya pengen ketemu temen. Katanya ngekos disini." Jelas Langit memberi alasan selogis mungkin. "Ohhh..saya Anwar pemilik kos-kosan ini. Den Langit cari siap?" "Arabela Pak'de!!" "Ohhh Neng Ara ya..tunggu sebentar ta panggilin!!!. Den Langit duduk dulu aja di pos itu! soalnya disini teman laki-laki dilarang berkunjung. Kecuali keluarga atau saudara!" Jelas pria paru baya itu. Lalu pamit untuk memanggil Arabela. Langit pun mengangguk dan duduk di pos yang ditunjuk oleh pak Anwar. Tak lama kemudian Langit bisa mendengar langkah mendekat ke arahnya. Ia yang berdiri membelakangi kos-kosan pun menoleh dan mendapati gadisnya berdiri tepat di hadapannya "Hay.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN