Bab. 5

1568 Kata
Weekend pada umumnya digunakan sebagian orang untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, kerabat maupun teman dekat. Sebagian orang juga kadang berfokus untuk istirahat, refreshing, dan produktivitas ringan untuk sekedar menghilangkan penat. Ada yang ngedrakor, maraton film, membersihkan rumah, berolahraga, maupun menekuni hobi. Arabela salah satu dari ribuan orang yang memanfaatkan weekend dengan menekuni hobinya sebagai seorang hacker. Hobi ini tak ada yang tahu selain Celsi. Arabela menekuni profesi ini sejak mencari tahu tentang keberadaan seorang anak laki-laki yang saat itu pernah Ia tolong. Ada satu barang berharga milik anak itu yang tak sengaja terbawa dengannya saat kejadian naas itu. Dari sanalah Arabela dipertemukan dengan seorang hacker handal. Hingga mengajaknya bergabung dengan komunitas rahasia yang dipimpin oleh salah satu petinggi TNI AU. Hari ini Ia mendapat tugas dari sang pimpinan untuk menghentikan virus yang menyerang salah satu perusahaan besar di Jakarta. Berhubung hari ini sang pimpinan perusahaan sedang ada acara keluarga. Arabela akhirnya hanya bisa bertemu dengan asistennya saja. Seperti biasa, Arabela akan menutupi jati dirinya jika bertemu dengan seorang klien. "Selamat pagi Nona Bi! Silahkan duduk" Sapa Arjun mempersilahkan Arabela yang mereka kenal dalam dunia siber sebagai Nona Bi. "Hmmmm...Terimakasih!!" Ujar Arabela dengan wajah datar. "Terimakasih sudah mau menemui kam Nona Bi. Besar harapan kami bisa bekerjasama dengan anda!" Ujar Arjun sedikit berbasa-basi. "Saya hanya menjalankan perintah Pak!" Ujarnya dengan profesional. Begitulah Arabela dalam dunia Siber. Datar dan dingin. "Jadi apa yang harus saya lakukan untuk perusahaan anda Pak Arjun?" Tanya Arabela to the point. Arjun akhirnya menjelaskan permasalahan yang sedang mengganggu perusahaan mereka. Ada virus yang sengaja dikirim oleh saingan bisnis mereka untuk melumpuhkan beberapa alat teknologi di perusahaan. Hal itu akan mengakibatkan data-data penting perusahaan akan bocor. Jika hal itu terjadi maka perusahaan akan mengalami kerugian besar. Para ahli IT perusahaan sudah mencoba mencegah semaksimal mungkin. Namun virus itu semakin merambat dan mengganggu sistem operasi dalam perusahaan. "Baiklah...saya mengerti! Dan...." Arabela menjeda ucapannya. "Bisa kita mulai sekarang?"Tanyanya lagi pada Pak Arjun. "Baik Nona Bi..!!" Dengan langkah tegas dan penuh perhitungan Arabela, Pak Arjun dan salah seorang pengawal khusus yang di tugaskan untuk melindungi Arabela saat bertugas pun akhirnya berangkat ke perusahaan. Menempuh jarak selama dua puluh menit. Akhirnya mereka sampai di perusahaan besar yang bergerak dalam bidang produksi dan ekonomi itu. Disinilah mereka berada. Ruangan yang dipenuhi oleh komputer dan alat komunikasi lain. Ruang IT. Tampa bertanya dan meminta pendapat dari Pak Arjun. Arabela melangkah ke arah sebuah komputer yang Ia yakini merupakan induk dari seluruh pusat informasi di perusahaan besar ini. Seluruh tim IT hanya bisa melongo dengan mulut terbuka melihat ke arah wanita cantik yang saat ini sedang mengotak Atik komputer induk milik mereka. "Tuan Arjun Dia....?" Ucapan sala satu tim IT tertahan saat Pak Arjun memberi kode agar tak banyak bicara. Sedangkan yang di bicarakan sedang fokus mengotak atik keyboard dengan mengetik angka dan huruf secara bersamaan. Dengan lincah dan penuh perhitungan. Arabela menggerakkan jari-jarinya. Mencoba menuliskan beberapa deretan huruf dan angka yang hanya dirinya dan sebagian senior Tim IT perusahaan yang bisa memahami. Ketegangan itu mulai terjadi saat beberapa komputer berkedip dengan bunyi Bip. " Tuan Arjun! ini bahaya!!?" Seru salah satu pria yang menjadi pemimpin Tim IT perusahaan. "Tenang dan tunggu!!" Seru Pria tinggi yang merupakan pengawal Arabela. Melihat wajah dingin nan tegas seorang pria yang bertubuh tegap dan tinggi membuat para tim dan juga Arjun pun tak bisa berbuat apa-apa. "Tapi Tuan....kita aka bahaya jika seperti ini!!" Seru seorang pria yang saat ini maju dan ingin menghentikan Arabela. Namun langkahnya terhenti saat suara yang begitu mereka kenalin terdengar. Virus removed Completed "Finish!!!" Seru Arabela kemudian menekan tombol enter hingga semua monitor kembali ke setelan awal. "What!!!!" Seru seorang wanita yang juga merupakan sala satu tim IT. "Mas Di...kita pulang!!" Seru Arabela. Tanpa menunggu reaksi Pak Arjun. Arabela dan Pria yang Ia panggil Mas Di itu pergi dan berlalu meninggalkan perusahaan itu. ***** Celsi benar-benar gugup saat ini. Bagaimana Ia harus menjelaskan kepada pamannya tentang apa yang baru saja Ia bicarakan bersama sang Tante. "Ayah...se...se... jak kapan disitu?" Tanya Celsi terlihat gugup. Sungguh Ia merutuki dirinya yang terlalu gegabah menanyakan hal yang begitu sensitif di keluarga sang paman. Ayah memicingkan mata menatap sang ponakan yang terlihat begitu gugup. Ia yakin ada sesuatu yang ponakannya sembunyikan. "Sisi??" Sungguh pertanyaan itu bukanlah pertanyaan biasa. Namun pertanyaan itu adalah sebuah tuntutan penjelasan tentang apa yang baru saja Ia bicarakan bersama ibu. "Jelaskan semuanya Sisi.!!! Ayah.... Drrrrtt....Drrrttt....Drrrttt Ayah langsung mengangkat telpon genggam miliknya dan meninggalkan Celsi yang hanya bisa menghela nafas lega. Mengusap d*d* nya perlahan lalu berkata " Alhamdulillah...untung Ayah terima telpon!!" Dengan secepat kilat Celsi pergi meninggalkan dapur dan pergi menuju ruang tamu dimana semua keluarga berkumpul. Sedang Ayah Arkan saat ini sedang berada diruang kerjanya. "Halo Jun! Kau tahu jika hari ini saya tidak bisa diganggu!!! apa kau mau dipecat!" Seru Tuan Arkana mengomeli sang asisten. "Maaf Tuan! Ini menyangkut masalah virus yang sedang mengganggu sistem informasi perusahaan." Dekan takut-takut Arjun berusaha menjelaskan hal yang ingin Ia bicarakan pada san Bos besar. "Jika buka. hal penting maka aku akan memotong gajimu Arjun! Kau tahu ini weekend? dan jika weekend aku tidak akan menerima panggilan dari siapapun? Tapi karena ini tentang virus itu maka aku akan memaafkan mu !" Seru Tuan Arkana pada sang asisten. Arjun menghela nafas panjang. Ia yang sudah sering mendapat omelan sang Bos besar sudah tak berkecil hati ataupun tersinggung. Ia sudah tamat delapan semester saat menghadapi seorang Arkana Pradipta Himawan. "Tuan, Virusnya berhasil dilumpuhkan. Dan Nona Bi juga memberikan anti virus kuat yang tak bisa di tembus oleh perusahaan manapun Tuan!" "Bagus!!! Dan besok, jadwalkan pertemuanku dengan Nona Bi. Aku ingin berterima kasih langsung kepadanya." "Tapi Tuan.... "Tapi apa Arjun... "Nona Bi tidak akan bisa bertemu di hari-hari selanjutnya. Tuan hanya akan bertemu dengan asistennya saja!" "Kenapa? "Karena Itu sudah menjadi jalurnya pekerjaannya Tuan!!" "Ck!!! pokonya harus bisa!" Tut! Ayah Arkan langsung memutus sambungan secara sepihak tanpa menunggu komentar sang asisten. Ia pun meninggalkan ruang kerja dan bermaksud untuk ke ruang keluarga. Ia ingin mencari sang ponakan untuk meminta penjelasan dari apa yang baru saja Ia dengar. "Maaf semuanya!" Ucapnya dengan wajah tak enak dengan calon besan mereka. "Tidak Apa-apa Tuan Kana. Kami memaklumi.!" Ucap Sang calon besan. "Ya sudah...kaki ingin pamit. Insyaallah bulan depan kita akan bicarakan lagi persiapan pernikahan mereka" "Baiklah Pak.!" Setelah acara pamit pamitan, Ayah Kana pun mencari keberadaan Celsi yang sejak dirinya keluar dari ruang kerja tak menemukan keberadaan sang ponakan. "Langit! Sisi mana?" Tanya Ayah pada Langit yang sedang menikmati kudapan buatan ibu "sudah pulang Yah! Katanya ada tugas yang mau diselesaikan" Jawab Langit pada sang Ayah. "Anak itu!" "Ada apa Yah?" Tanya Langit lagi. Tumben ayahnya itu mencari keberadaan Celsi. Biasanya keduanya jika bertemu akan selalu adu mulut dan berakhir tak akur. "Enggak apa-apa Lang!" Ucapnya. Kemudian Ia beralih pada sang anak Sulung. "Oh ya Riga, Ancaman virus yang sebulan ini mengganggu sistem informasi perusahaan sudah teratasi.!" "Oh ya!!??" Seru Auriga yang begitu terkejut dengan kabar yang baru saja Ayah sampaikan. "Hmmmm...Kata Arjun seperti itu. Dan Ayah meminta Arjun untuk mempertemukan Ayah dengan si ahli IT itu." "Lalu? Tanya Auriga yang melihat raut wajah kecewa di wajah sang Ayah. "Wanita itu menolak untuk bertemu!" Ujar Ayah dengan nada kecewa. "Yah...biasanya para ahli Siber itu memang seperti itu. Tak mau terlalu kenal dengan banyak orang. Mereka hanya akan berinteraksi dengan klien hanya sekali pertemuan. Dan jika ingin bekerjasama kembali maka Ahli Sibermya akan digantikan oleh orang lain yang juga memiliki keahlian yang sama" Ujar Langit mencoba menjelaskan pada sang Ayah bagaimana sistem kerja seorang Siber yang Ia ketahui. "Ya sudahlah Yah...nanti Riga akan bicara sama Om Arjun. Biar Riga yang bicara pada pimpinannya." Ucap Auriga mencoba untuk. menenangkan sang Ayah yang terlihat kecewa. ***** Drrrrtt..... Drrrrtt... Drrrrtt... Arabela yang baru saja tiba di kos-kosan miliknya pun terkejut saat bendahara pipih miliknya bergetar. Merogoh kantong celana miliknya Arabela melihat nama sang sahabat tertera disana. Menggeser tombol hijau, Arabela kemudian mengarahkan ke arah telinga nya. "Halo...!!" "Halo Ara! Ya ampuuun Ara....gawat ini...gawat...pokonya gawat!!" Ucap Celsi diseberang sana terdengar khawatir. "Si...tenang dulu.! tarik nafas dan buang perlahan. bicara dengan baik!" "Nggak Ada! ini aku nggak bisa baik-baik bicaranya!!! Lo tahu Ara! ternyata kecurigaan Lo benar. Bang Langit itu adalah anak laki-laki yang Lo selamatkan belasan tahun lalu!" Arabela benar-benar terkejut saat mendengar ucapan Celsi. Hampir saja bendahara pipih miliknya terlepas dari genggamannya. Sungguh Ia tak menyangka jika kecurigaannya dengan seorang Langit ternyata benar. Cukup lama Ia terdiam hingga suara Celsi yang berteriak memanggil namanya membuyarkan lamunannya. "Ara...Ara...Lo masih di sana?" "I ..i...ya Si...gue masih di sini" "Tapi Ara... bukan itu yang buat aku nggak tenang?" Seru Celsi. Hal itu membuat kening Arabela mengkerut. "Emang apa yang buat kamu nggak tenang Si?" "Lo tau Kania kan? Si gadis model yang sok kecakapan itu?" "Iya" "Perempuan itu ternyata yang selama ini mengaku sebagai penolong Bang Langit. Ia dan Ayahnya yang mengaku kepada Om dan Tante aku jika merekalah penolongnya!" "Maksudnya???!" "Bang Langit hilang ingatan setelah kejadian itu. dan mereka memanfaatkan itu untuk menipu keluarga kami. Sebab kata Ibu. Hanya Bang Langit yang kenal dengan wajah anak yang menyelamatkan dirinya saat itu.! jadi harapan satu+satunya adalah kamu Ara!" "Tapi Si... "Dengar Arabela...aku tak akan tinggal diam. Mereka udah berani nipu Om sama Tante aku.bOm Kana udah tahu semuanya. Dan Aku yakin besok Om Kana akan ke kampus untuk menemui Si Kania itu." "Ya mau gimana lagi Si...Aku kan nggak bisa... "Pokonya besok Lo harus ketemu om gue!!! Titik!!! Tut
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN