Enam

1899 Kata

Ini malam ketiga tanpa Meisya di rumah, kemana kamu Mei, apa kamu pindah,  tapi ke mana, di butik tidak ada, sampai orang terakhir ke luar pun kamu tidak muncul, pikiran Edwin mencari dan mencari. Ia rebahkan badannya di kasur Mei, entah mengapa sejak Mei menghilang ia punya kebiasaan baru, merebahkan badannya di kasur Mei, saat  mama dan bik Sum sudah tidur. Dan kembali membaca, berulang kali buku harian kecil di meja Mei. Kadang Edwin berkaca,  segagah itukah aku dalam pikiran Meisya, setampan itukah wajahku dalam gambaran Meisya, anak kecil yang bodoh meski mengagumi tetap menatapku dengan pandangan penuh kebencian saat sedang bertengkar, Edwin kembali melamun. Dilihatnya jam sudah menunjuk ke angka satu, ah sudah semakin larut. Ia langkahkan kakinya menuju kamarnya. *** Sore sekit

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN