Kudengar derap langkah Hendra yang berlari terburu-buru hanya untuk memastikan keadaanku yang baru saja berteriak memanggil namanya. Aku sangat yakin, jika saat ini pasti wajahnya pasti sudah tak karu-karuan, perpadua antara orang baru bangun tidur dan cemas. "Ada apa, Di?" tanya Hendra dengan wajah yang begitu cemas, khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi padaku. "Lantai kamar mandinya licin, aku terjatuh," kataku sambil berusaha untuk berdiri, dan dengan sigap Hendra membantuku serta menopang tubuhku agar tak terjatuh lagi. Setelah aku berdiri, Hendra sedikit membungkukkan badannya siap untuk menggendongku dan membawaku ke tempat tidur tanpa menghiraukan luka di tangannya. Tapi aku segera memundurkan tubuhku dan menolak sikap manisnya itu. "Aku tak mau lukamu semakin para

