PART 6

1237 Kata
    Diva menyalakan mesin setelah Raka selesai mengecek kondisi mobil. Malam ini cewek itu sudah berada di sebuah jalan yang dibuat untuk balapan. Balapan kali ini akan memutar seperempat bagian kota dan berhenti di garis finish yang juga merangkap sebagai garis start. "Oke, Div. The machine is good. Are you ready?" tanya Raka setelah mengecek ulang mesin mobil yang dinyalakan. Cewek itu mengacungkan jempolnya pertanda dia sudah siap. Lalu cewek itu mengalihkan pandangan ke kiri dimana Bayu sudah duduk angkuh dibalik kemudi mobilnya. Dia melihati Diva dengan datar sementara cewek itu mendengus lalu mengalihkan pandangan ke depan.     Diva memosisikan diri ketika seorang perempuan dengan pakaian minim di tengah garis start membawa dua bendera dengan posisi menyilang, pertanda sebentar lagi pertumpahan darah yang menyangkut hidup mati Diva akan dimulai. Cewek itu menarik napas lalu mengembuskannya pelan. Merapal do'a dalam hati semoga kali ini dia beruntung. Iya, walau keadaan apa pun juga kita jangan sampai lupa berdo'a untuk meminta perlindungan. Walau do'a tersebut entah akan didengar oleh Tuhan apa tidak bila Diva yang meminta. Yang pasti sekarang dia sangat berharap bahwa keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Sebab Bayu adalah rival yang tangguh dan dia tidak bisa meremehkan kemampuan cowok itu. Terbukti saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu bertanding dengan kakaknya yang notabene adalah pembalap nasional, cowok itu mampu mengalahkan kakaknya. Makanya pertandingan ini membuat Diva gugup setengah mati. Terbesit penyesalan kenapa dia tidak menolak saja tawaran itu, benar ternyata perasaan emosi, marah membuat manusia tidak bisa berpikir jernih. Namun semua sudah terjadi, cewek itu mau tidak mau harus menyongsong ke depan melawan badai dan bagaimanapun dia harus menang. Karena semua ini mempertaruhkan hidupnya. Ia ingin membuktikan pada cowok rese satu itu kalau Diva tidak bisa ditindas. Dan nantinya Diva berharap, dirinya bisa menaikkan dagu lebih tinggi dari cowok yang sok populer di sekolah.     Suara peluit dan bendera yang berkibar menandakan pertandingan di mulai. Diva menginjak pedal gas kuat lalu mobilnya melesat cepat meninggalkan keriuhan di belakangnya. Sementara kelima temannya menatap dengan pandangan harap-harap cemas. Mereka tahu pasti bagaimana 'kasarnya' Bayu bila berada di jalanan. Bila Diva tidak hati-hati sedikit saja dipastikan dia akan mengalami kekalahan telak. Diva masih memimpin saat balapan telah sampai di pertengahan jalan. Ia mengeluarkan tenaga penuh untuk tetap bertahan di posisi ini. Di belakangnya Bayu tersenyum tipis, cowok itu memang sengaja memperlambat laju mobilnya karena ia ingin membuat cewek itu merasa di atas angin, sebelum akhirnya akan terhempas jatuh dan menyakitkan.     Pertandingan itu masih berlangsung dengan sengit. Laju mobil dengan kecepatan diambang batas memacu adrenalin keduanya seiring dengan irama jantung yang berdebar keras. Tikungan tajam, jalanan berlubang yang membuat guncangan sehingga beberapa kali kepala Diva terantuk atap mobil, namun cewek itu tidak berniat menurunkan kecepatannya. Bila dia lalai sedikit saja maka namanya akan tercoreng. Dilihatnya garis finish tinggal beberapa ratus meter jauhnya dan posisi mobil masih sama. Diva yang unggul. Diam-diam cewek itu menghembuskan napas lega karena dia bisa bertahan. Dan kelegaan itu hanya sementara, karena tiba-tiba tanpa diduganya mobil yang menjadi rivalnya menabrak sisi kanan mobil Diva sehingga membuat mobil sedikit terguncang memperlambat kecepatannya. Dan Bayu melesat cepat ke arah garis finish dengan mulusnya. Cewek itu hanya bisa ternganga dengan semua yang terjadi.     Suara sorak, tepukan riuh menyambut sebagai tanda berakhirnya pertandingan dengan Bayu yang keluar sebagai pemenang. Memarkirkan mobilnya sembarang cewek itu keluar lalu berjalan ke arah Bayu yang sedang dikelilingi teman-temannya. Kelima temannya yang lain menyusulnya di belakang. "CURANG LO!" gertak Diva. Bayu mengangkat alis, senyum miring terhias dibibirnya. "Gue? Curang? Lo aja yang merasa di atas angin. Yakin banget bisa ngalahin gue." "Hey, lo emang curang! Kalo main tuh yang sportif, dong. Jangan pakai nabrak mobil gue!" Diva masih menjerit. "Itu bukan curang tapi strategi. Lagipula kalau gue nggak pake nabrak pun lo tetep kalah. Kalah mah kalah aja, nggak usah emosi segala. Anggap saja itu sebagai suatu ketidaksengajaan." Diva tercengang mendengar kalimat dari cowok ini. Bisa-bisanya dia harus berhadapan dengan nih cowok. Membuat darahnya semakin mendidih. "Lo? Pengecut! Bera..." "Beraninya cuma sama cewek?" Bayu mendengus. "Gue udah sering nantang cowok-cowok. Baru kali ini aja gue berhadapan sama cewek. Dan nantang cewek itu jauh lebih menyenangkan." Diva hanya diam melihati Bayu dengan sorot mata tajam. "Kita udah bikin perjanjian sebelumnya. Jadi, mana duit taruhan buat pertandingan. Gue mau ngerayain bareng temen-temen, nih." Cowok itu tidak peduli dengan tatapan tajam dari cewek di depannya. Toh, kemenangan sudah ada ditangannya. Diva tiba-tiba memucat, ia sama sekali tidak mempersiapkan uang dalam jumlah besar tersebut. Karena ia yakin bisa mengalahkan cowok tengik ini, mengingat dirinya menyandang status sebagai ratunya jalanan. "Gue..." cewek itu menelan ludahnya gugup. Bayu mengangkat alisnya melihat ekpresi ini, "Lo belum siapin tuh duit?" "Gue belum, eh.. Udah. Maksudnya..." "Yang jelas kalo ngomong!" Diva terperanjat mendengar sentakan Bayu. "Belum. Gue belum siapin tuh duit." jawabnya cepat. Bayu menyipitkan matanya, "Lo tau mau tanding gini, kenapa nggak siapin duit buat jaga-jaga?" "Gue... Emm... Gue nggak punya duit sebanyak itu." cewek itu menjawab pelan. "Masa anak direktur bank nggak punya duit? Jangan ngaco deh lo." decaknya. "Tapi serius, gue nggak punya sekarang. Setidaknya kasih gue waktu buat ngumpulin tuh duit." Bayu nampak berpikir sejenak sebelum menjawab, "Oke, 3 hari. Gue kasih tenggat waktu 3 hari. Kalau dalam waktu segitu lo nggak bisa bayar. Lo yang tanggung akibatnya." Diva akan protes karena baginya terlalu cepat, tapi ia sadar sekeras apa cowok ini hingga akhirnya ia hanya mengangguk lemah karena tidak tahu akan melakukan apa. Kelima temannya yang diam dari tadi melihatinya dengan pandangan sedih. Karena Diva sedang dipojokan saat ini dan mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Kalau saja Diva tidak dengan konyolnya menerima taruhan ini, pasti mereka masih hidup dengan tenang. Memang penyesalan tidak seperti pendaftaran. Datangnya di akhir bukan di awal. "Oke, karena lo yang kalah. Gue juga minta bonus dari lo?" Diva mendongak lagi ketika mendengar suara Bayu. "Bonus? Hey, itu tidak..." "Gue tau. Tapi gue udah baik hati ngasih lo waktu. Apa coba namanya kalo bukan bonus? Gue juga minta itu sebagai timbal balik." "Dasar lintah darat!" "Setidaknya gue nggak picik-picik amat." Cewek itu mendengus, "Apa mau lo?" tanyanya. Bayu tersenyum miring mendengar kalimat persetujuan itu."Mau gue..." Ia menggantungkan kalimatnya sambil mendekat ke arah cewek manis ini. Satu tangannya berada di salah satu saku celananya. Sementara tangan yang lain meraih belakang leher Diva untuk mendekat padanya. Ditundukan kepalanya lalu mencium bibir tipis cewek itu. Diva melotot diperlakukan seperti itu, ia akan melawan dengan kedua tangannya namun sebuah pukulan keras lebih dulu terjadi. Menghentikan perlawanannya. Cewek itu ternganga melihat orang yang telah memukul rahang Bayu dengan keras. Dibekapnya mulut tidak percaya. Farhan! "Jangan pernah lo berani nyentuh Diva. Kalau sampai gue liat lo nyentuh dia seujung kuku pun. Lo berhadapan dengan gue." Farhan mendesis tajam, lalu menarik Diva pergi. Cewek itu dan keempat temannya yang lain masih tercengang dengan apa yang dilihatnya barusan. Farhan mukul cowok. Dan dia gentle banget. Baru kali ini mereka melihat Farhan sejantan ini menghadapi cowok lain. Mereka nggak nyangka Farhan bisa nonjok juga! Mereka akhirnya pergi meninggalkan arena pertempuran itu, dan beberapa pasang mata yang menonton aksi itu bubar dengan suara riuh rendah. Pertunjukan yang menyegarkan mata.     Sementara Bayu menatap dengan sorot mata tak terbaca. Dirabanya pipi sebelah kiri bekas pukulan Farhan. Sakit, tentu saja. Namun tidak menjadi masalah. Karena ada yang jauh menyakitkan dari ini. Yakni hatinya. Dengan masalah seperti ini, ia tahu pasti akan sulit baginya untuk menggapai apa yang ingin diraihnya. Karena lagi-lagi perbuatannya itulah yang menjauhkannya dari gadis yang sejak dulu diinginkannya. Diva!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN