Diva membalikkan lembaran novel yang dipegang tanpa minat. Mungkin jika orang lain yang melihat kegiatannya pasti akan mengira bahwa dia sedang membaca. Namun nyatanya tidak. Kepalanya memang tertumbuk pada deretan tulisan novel, tapi pikirannya tidak kesana. Pikirannya melayang sehingga dia tidak berkonsentrasi pada apa pun yang sedang di kerjakan.
Sudah empat hari ini Diva menjalani masa skorsing. Selama empat hari pula dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan membantu pekerjaan mama. Setelah semua pekerjaan yang ditugaskan mama selesai, dia akan duduk di kamar entah itu untuk belajar, membaca novel, atau melamun sampai malam beranjak. Tidak ada yang dilakukan, tidak keluar rumah atau kemana pun. Dia hanya keluar bila disuruh membeli sesuatu sama mama. Selebihnya dia hanya berdiam diri di rumah. Baru empat hari rasanya dia sudah bosan dengan rutinitas seperti ini. Biasanya jika tidak sekolah begini, dia akan menggunakan waktunya untuk bersenang-senang. Bermain dengan teman-teman sampai lupa waktu. Tapi sekarang, jangankan bermain. Mengharap kehadiran salah satu temannya datang berkunjung saja rasanya tidak mungkin. Mereka tidak akan datang, pasti.
Diva teringat ketika terakhir kali mendatangi mereka di kantin. Kelima temannya hanya diam tidak menanggapi saat dia mencoba bicara, meliriknya saja tidak. Diva terus berusaha membuat mereka mau memandangnya, sampai Nia berbicara dengan nada kasar membuat mulutnya bungkam dan akhirnya memilih mundur.
"Lo pergi aja, Div. Kita nggak butuh pecundang kayak elo!"
Perkataan Nia begitu menohok dan dia tidak akan lupa. Ternyata kehilangan teman itu lebih menyakitkan, terlebih merekalah yang kita percayai selama ini. Jadi, hanya sampai disinikah kisah persahabatannya ini? Miris sekali akhir masa SMA diisi dengan kenangan suram.
Gadis itu lalu menumpukan kepala diatas lengan. Menarik napas panjang, mencoba mengeluarkan sesak yang mendera. Dia ingin menangis, sungguh. Tapi anehnya dia tidak bisa mengeluarkan air mata. Sialan, dia memang tidak berbakat untuk menangis. Sesakit apa pun perasaan ini hanya bisa ditahannya dalam-dalam. Berharap akan hilang dengan sendirinya. Kenapa dia mendadak jadi melankolis begini?
"Diva." panggilan suara lembut di belakang membuatnya langsung menegakkan tubuh. Mama tersenyum kecil sebelum berkata,"Tolong kamu jemput adikmu di rumah temannya, ya. Udah sore begini adikmu belum pulang."
"Kenapa bukan Mama aja yang jemput, sih?" Diva berkata malas.
"Kamu ini disuruh orang tua kok ya jawabnya gitu. Daripada kamu diam di rumah mending keluar jemput adikmu. Jangan melamun terus di kamar nanti kesambet setan."
"Ma, setan tuh nggak ada yang mau ngerasuk Diva. Soalnya aku ‘kan emaknya setan. Jenis setan apa pun pasti nggak ada yang mau deket-deket Diva."
Mama hanya menggeleng, sudah terbiasa dengan ucapan ngaco dari anaknya.
"Kamu ini anaknya siapa, sih. Kok aneh? Spesiesnya langka pula. Dimana-mana orang tuh kebanyakan muji dirinya sendiri. Ngelebihi dirinya, kamu malah mencela diri sendiri."
"Ya, salah Mama ngelahirin anak kayak Diva. Lahirnya dulu juga aneh apalagi gedenya."
"Sudahlah, sana cepat jemput adik kamu. Perempuan nggak boleh males-malesan. Siapa tahu nanti di jalan kamu ketemu jodoh."
Mama menarik anaknya supaya berdiri.
"Astaga, Ma. Anak mama masih polos gini masa ketemu jodoh sebelum waktunya. Pengen banget punya besan, ya?"
"Iya, biar nih anak perempuan satu hidupnya bener nggak nyusahin orang tua. Sana cepet jemput adikmu." ujarnya sembari mendorong sang anak keluar kamar.
Diva mengerucutkan bibirnya, sedikit kesal dengan ucapan terakhir mama. Akhirnya dia menuruti perintahnya untuk menjemput Disa. Setelah menguncir rambut asal, dia bergegas mengayuh sepeda menuju kompleks perumahan dimana rumah teman Disa berada.
"Disa tuh turunannya siapa, sih? Main kok jauh banget."
Gadis itu mendumal sebal sepanjang perjalanan karena ternyata alamat rumah yang dituju jaraknya cukup jauh. Tahu begini tadi dia pinjam motornya Pak Rahmat saja, si satpam kompleks. Pakai sepeda begini menguras tenaga banget, belum lagi nanti pulangnya juga. Berat badannya pasti akan sukses turun 5 kilo bila seperti ini.
Sesampainya di gapura nama perumahan dan memasuki area tersebut. Matanya memindai sekeliling mencari nomor rumah teman Disa. Lama kemudian akhirnya dia menemukan nomor rumah yang dicari. Setelah memarkirkan sepeda tepat di samping gerbang. Dia lalu turun dan berjalan ke arah pintu gerbang yang terbuka sedikit. Sembari melihat nomor rumah yang terpampang, dia menekan bel yang tidak jauh dari situ. Tetapi tidak ada jawaban dari dalam rumah. Mencoba lagi sampai lebih dari 3 kali hasilnya tetap sama.
"Nih yang punya rumah kemana lagi? Masa dari tadi nggak dibukain juga. Terus ini security-nya juga nggak nongol-nongol. Ini bener rumah orang, ‘kan. Bukan rumah hantu? Atau jangan-jangan Disa nggak disini lagi. Tapi nomor rumahnya bener, kok."
Diva menggertakkan gigi pertanda senewen. Bila dia menekan bel sekali lagi tapi masih juga tidak ada tanggapan, dia akan menggedor rumah itu.
"Aahh, niat banget. Pengen banget gue dobrak pintu, ya? Oke. Akan gue lakukan."
Dia masuk ke area halaman lalu sampai di depan pintu kayu berwarna hitam. Tanpa pikir panjang ia mengetuk pintu itu sambil berteriak,
"PERMISI. ASSALAMU'ALAIKUM. HALOOO. ANYBODY HOME? SEPADAA!!"
Gadis itu terus mengetuk, tidak berhenti hingga tiba-tiba pintu itu terbuka menampilkan sosok penghuni asli rumah ini. Diva ternganga, sulit mempercayai, tanpa sadar ia menutup mulut yang terbuka. Dia adalah...
"Astaga!" pekiknya.
***
Danang memutar keran air lalu menaikkan suhunya menjadi lebih hangat. Seketika aliran air menyirami punggungnya yang kaku menjadi lebih rileks. Dipejamkannya mata meresapi kehangatan yang menjalari tubuhnya dan rasa nyaman setelah seharian berhadapan dengan pekerjaan yang membuatnya sakit kepala. Sesaat kemudian pikirannya mulai berkelana, menjelajahi hari-hari yang pernah dilewatinya dalam ingatan. Pria itu sudah terbuai dengan kenangan yang menyeruak memorinya hingga tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara bel yang ditekan berulang kali membuat segala lamunannya menjadi buyar. Ia berdecak, siapakah yang berani mengganggu ketenangannya?
Dia tidak mengacuhkan bel itu, biasanya bila dibiarkan tamu tak diundang tersebut akan pergi sendiri. Tapi pengecualian untuk tamu ini, karena tamu yang ini masih begitu gigih menekan-nekan bel. Semakin lama ia biarkan, suara bel itu semakin melengking. Danang memutuskan untuk menyelesaikan mandinya dengan cepat. Keluar dari kamar mandi, ia memakai bajunya. Baru saja memakai kaus lengan panjang, kini gedoran keras terdengar menggema. Menggantikan lengkingan bel yang mengganggunya. Pria itu menjadi sebal karenanya, tidak bisakah tamu itu menunggu dengan sabar?
Setelah berpakaian kilat, ia berjalan turun menuju pintu depan dengan langkah lebar bersiap memaki siapa pun yang telah mengacaukan kegiatannya. Ketika pintu terbuka Danang terkejut melihat orang yang datang ke rumahnya.
"Astaga!"
Pekik orang itu ketika melihat dirinya. Danang mengangkat alis, mendapati anak muridnya berada disini. Untuk apa bocah cilik ini kesini?
"Diva?" tanya Danang.
"Eh... P... Pak Danang."
Cewek itu meringis saat mengetahui siapa pemilik rumah ini. Masa Disa main ke rumah kepala sekolahnya? Nggak mungkin. Apa jangan-jangan Diva salah alamat?
"Ada apa? Dari mana kamu tahu rumah saya?"
"Eh. Itu. Aku. Tidak tahu, Pak." jawabnya.
"Alasan macam apa itu? Kamu berniat menganggu saya, ya?"
"Nggak. Nggak. Saya nggak niat gitu, kok. Saya juga tidak tahu kalau ini rumah Bapak." Diva mencoba menyangkal.
Menghela napasnya, pria itu berkata malas,
"Tidak tahu ini rumah siapa, tapi kamu mengetuk pintu kayak orang kesurupan. Tujuannya apalagi kalau bukan mengganggu atau..."
"Atau apa, Pak?"
"Kamu berniat mencuri lagi dengan rumah saya sebagai sasaran."
Diva melotot, bisa-bisanya dia dituduh seperti itu. Oke, waktu itu memang kesalahannya. Tapi bukan berarti dia mencuri di tempat lain. Dia masih cukup waras untuk tidak ditendang ayahnya dari rumah. Dan sekarang orang ini seenaknya saja menuduhnya, ini tidak bisa dibiarkan!
"Dengar, ya, Pak Danang yang terhormat. Saya memang salah. Tapi bukan berarti saya melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya." kecam cewek itu.
Danang sendiri tidak gentar dengan pelototan mata muridnya. Di depannya hanyalah seorang yang sedang mempertahankan harga dirinya yang jatuh, dampak dari perbuatannya.
"Lalu maksud kamu apa datang kesini? Mau minta sumbangan? Maaf, tapi saya tidak memberi sumbangan buat manusia nista seperti kamu." celanya.
Itu mulut! Pedes banget, ini orang ternyata punya mulut pedang. Sekali libas langsung menyayat hati. Kalau Diva tidak sadar diri bahwa orang ini kepala sekolahnya, dia sudah pasti mengacak-acak habis muka sang kepsek yang ganteng ini. Diva yang kepalang emosi tanpa sadar membalas perkataan Danang tak kalah pedasnya.
"Siapa juga yang mau minta sumbangan sama orang kayak Bapak. Kalaupun di dunia ini cuma tersisa satu dermawan kayak Pak Danang. Saya mending makan dari tong sampah daripada minta sama Anda. Huh."
"Saya juga tidak sudi kalau harus menyumbang ke orang seperti kamu. Pergi sana!" usir pria itu.
"Tanpa Bapak mengusir pun saya sudah berniat pergi."
Diva berbalik sambil mengentakan kakinya kesal. Apes banget dia ketemu orang sekejam ini. Bukannya dibaik-baiki malah diusir. Sial. Sedangkan Danang hanya melihati cewek itu dengan air muka jengkel.
"Dasar bocah cilik udik. Pengganggu." gumamnya.
Lalu Danang berbalik bersiap menutup pintu rumahnya saat akhirnya ia menyadari sesuatu. Tanpa pikir panjang ia melesat ke arah pintu gerbang dan menemukan Diva sudah duduk manis di atas sepedanya.
"Tunggu." kejar Pak Danang menghentikan Diva yang bersiap mengayuh sepedanya.
Cewek itu hanya menatap jengkel padanya,
"Apa lagi? Mau mengejek saya? Ogah, saya Pak. Tobat." desisnya.
"Bukan begitu. Saya mau tanya, kamu kesini mau mencari siapa sebenarnya?"
"Saya itu mau jemput adik saya yang main di rumah temannya. Di kompleks ini juga." Diva menjelaskan dengan malas. Cewek itu terdiam ketika sadar akan satu hal,
"Adik...? Astaga. Gue lupa mau jemput adik gue!"
Ia lalu menoleh pada laki-laki yang masih menatapnya dengan raut bingung.
"Pak, adik saya main ke rumah Bapak nggak?"
"Tentu saja tidak. Saya baru pulang. Dan tidak ada yang datang setelah kamu mengacaukan sore saya. Kamu salah rumah paling."
"Apa?"
Diva menyentuh mukanya, malu. Ampun malu-maluin banget, sih, dia sudah bikin keributan di depan rumah kepala sekolahnya. Dia merasa saat ini ingin tenggelam di palung lautan dan tak kembali lagi. Mukanya turun pasaran sudah akibat kebodohannya.
"Hehe. Ma... Maaf, Pak. Saya tidak..."
Cewek itu menelan ludahnya mendapati pelototan tajam dari pria yang rumahnya telah direcoki dirinya.
"SAYA PERGI DULU YA, PAK! MAU NYARI ADIK SAYA. BYEEE.. SAMPAI JUMPA LAGI!"
Diva melarikan sepedanya dengan kecepatan penuh menjauhi rumah kepseknya.
"DIVA! AWAS KAMU, YA!"
Setelah teriakan menggelegar tadi Danang masih melihati gadis yang kebingungan mencari rumah teman adiknya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman geli yang tidak disadarinya.
"Lucu."
Satu kata yang tiba-tiba tercetus dari mulutnya. Membuat pria itu sejenak tertegun. Menggelengkan kepala mengabaikan rasa aneh yang menghinggapinya, lalu ia masuk ke dalam rumahnya. Sebelumnya ia melihat ke arah Diva melarikan diri, dan dilihatnya cewek itu sudah di ujung kompleks bersama segerombolan anak-anak kecil.