***
Walau aku tahu pergimu hanya untuk sementara waktu, suaramu masih bisa aku dengar di segala waktu dan wajahmu masih bisa aku lihat jika aku mau namun perpisahan selalu menjadi hal paling sesak dan menyakitkan untukku ah bukan aku yakin untuk semua orang.
***
“Bhanu aku mau ngeliat kamu ngelukis, sore-sore gini kayaknya bagus banget deh,” ucap Rindu saat mereka sampai di apartemen Bhanu, Rindu meletakkan beberapa paper bag hasil belanjaan mereka di sofa berserta tas miliknya.
Rindu memilih membuka pintu balkon dan menyibak semua tirai, membuat sinar senja menerobos masuk dengan begitu indah ke dalam aparetmen. Bhanu yang sedang mengambil air minum dan mengambil sisa banana cake buatan Rindu menoleh dan bergabung dengan Rindu di sofa yang menghadap langsung ke arah senja yang mulai terbenam.
“Mau di lukis apa?” tanya Bhanu sembari duduk di samping Rindu, meletakkan nampan yang berisi dua gelas air putih dingin dan juga satu piring banana cake yang sudah di potong kecil-kecil.
“Lukisan dari foto kita waktu di Glamping itu loh yang waktu sunrise, cantik banget pasti kalau di jadikan lukisan,” ucap Rindu, dia membuka galeri ponselnya lalu melihatkannya pada Bhanu.
Bhanu mengambil ponsel Rindu lalu mengamati foto itu dengan lekat, setiap detailnya tidak ada yang terlewat sama sekali tapi yang menjadi fokus Bhanu adalah senyum Rindu, gadis itu benar-benar seorang pemilik senyum paling cantik sedunia. Bhanu tidak pernah tidak terpesona ketika melihat senyum Rindu.
“Kamu cantik banget sih, Sayang, kalau udah senyum gini. Coba kasih saya senyum dulu, nanti kita bikin lukisan yang kamu mau,” ucap Bhanu, dia mengembalikan ponsel Rindu lalu menatap gadis yang terlihat mendung seharian ini. Walau Rindu masih tersenyum hari ini tapi Bhanu tahu betul mana senyum yang benar-benar menggambarkan Rindu sedang berbahagia dan mana senyum yang hanya terpaksa untuk membuat keadaan di sekitarnya baik-baik saja.
Rindu terdiam ketika di tatap begitu lekat oleh Bhanu, dia berdehem pelan, “aku udah banyak senyum hari ini, masih kurang memangnya?” tanya Rindu berusaha senormal mungkin, berusaha menyingkirkan rasa sesak yang sedari tadi menghimpit dadanya. Jika hari ini berganti menjadi malam kemudian pagi akan datang, berarti kebersamaanya yang seperti ini bersama dengan Bhanu hanya tinggal satu hari saja kemudian akan menjadi kenangan.
“Belum ada senyum yang ingin saya lihat sedari tadi, senyum yang lebar sampai giginya kelihatan, senyumnya harus sampai ke mata,” ucap Bhanu, Rindu kemudian melakukan apa yang Bhanu inginkan. Tersenyum lebar yang sampai kematanya. Bhanu membalas senyum Rindu, menepuk kepala gadis itu beberapa kali membuat mata Rindu jadi memanas.
Rindu mengalihkan perhatiannya dengan meneguk air mineral yang gelasnya sudah mengembun, “ayok mulai ngelukis, kalau senjanya nanti hilang, nggak akan estetik lagi, Bhanu,” ucap Rindu dengan sedikit merajuk, Bhanu terkekeh dan langsung melangkah ke arah kanvas dan jejeran peralatan lukisnya yang ada di balik kaca besar yang menjadi pembatas dengan balkon.
Rindu mengamati Bhanu dari sofa yang dia duduki, biasan cahaya yang menerobos masuk membuat Bhanu menjadi seperti siluet yang sangat indah dan rupawan, Rindu membuka layar ponselnya lalu mulai memotret Bhanu. Sesekali dia berdecak kagum melihat hasil foto yang dia ambil. Puas mengamati Bhanu dari arah samping, Rindu melangkah mendekat ke arah Bhanu, berdiri di samping Bhanu dan melihat coretan yang ada di kanvas itu dengan lekat. Melukis sepertinya adalah hal yang sangat mudah di lakukan oleh seorang Bhanu Winata.
“Sejak kapan kamu bisa melukis?” tanya Rindu, dia duduk di samping Bhanu, melihat Bhanu sedang melukis, mengolah banyak warna menjadi suatu hal yang sangat memukau adalah satu bentuk rileksasi untuk menenangkan pikiran bagi Rindu. Rasanya sangat menyenangkan ketika melihat Bhanu melakukannya, apalagi ketika aroma cat menusuk indra penciumannya dan mendengar suara kuas beradu dengan kanvas, itu benar-benar hal yang Rindu sukai. Kuas, kanvas dan cat adalah perpaduan yang sempurna, mereka tidak akan pernah sempurna jika salah satu di antara mereka memilih pergi dan menghilang.
“Sejak umur tiga tahun, saya yakin kamu juga bisa melukis saat umur segitu,” jawab Bhanu dengan santai, dia sedikit menoleh pada Rindu sebelum kembali fokus pada kavasnya, lukisan itu sudah setengah jadi. The powe of Bhanu Winata sekali.
“Aku nggak bisa tuh,” jawab Rindu dengan santai. Rindu memang tidak bisa melukis seperti Bhanu tapi Rindu sangat suka membuat desain baju dan lainnya. Dua hal itu sangat berbeda.
“Yakin nggak bisa?” tanya Bhanu dengan satu alis terangkat. Rindu langsung mengangguk, Rindu yakin dia benar-benar tidak bisa melakukannya sejak dulu, melukis adalah satu hal yang tidak Rindu sukai.
“Kamu bisa, Sayang, waktu umur segitu kita lagi semangat-semangatnya gambar gunung kayak segitiga, matahari di tengah, jalan sama sawah, masa iya kamu nggak bisa?” tanya Bhanu dengan senyum jahil, Rindu mendengus.
“Kalau itu mah aku bisa,” jawab Rindu.
“Ya, sama, saya awalnya juga belajarnya dari sana setelah itu mulai belajar tekniknya dengan serius, beli alat-alatnya sampai akhirnya bisa ngelukis wajah cantik kamu dan saya pajang hampir di seluruh dinding apartemen,” jawab Bhanu. Rindu mengulum bibirnya, berusaha keras untuk tidak tersenyum.
“Apapun bahasannya ujung-ujungnya tetap aja ngegombal receh ya, Bapak, heran aku!” seru Rindu, dia kemudian melangkah mengambil piring yang berisi banana cake di atas meja dan mulai menyuapkannya untuk Bhanu.
“Kamu sama aja, sereceh apapun gombalannya tetap aja salah tingkah, heran,” ucap Bhanu membuat Rindu memilih pura-pura sibuk mengunyah banana cake nya dan mengamati lukisan yang hampir jadi.
Hening kemudian menemani mereka, sibuk dengan pikiran masing-masing, Rindu sesekali menyuapkan potongan banana cake ke mulut Bhanu. Lukisan itu jadi tepat saat adzan maghrib berkumandang. Rindu dan Bhanu kompak saling tatap sambil mengucapkan rasa syukur.
“Siapa yang shalat duluan?” tanya Bhanu, dia membereskan alat lukisnya.
“Masing-masing aja, aku di kamar tamu dan kamu di kamar kamu sendiri.” Rindu menyarankan, Bhanu langsung mengangguk, jika Rindu sedang ingin menginap di apartemen Bhanu, gadis itu memang selalu menempati kamar tamu.
“Oke, buat makan malam kamu mau makan apa? Cemilan? Minuman?” tanya Bhanu sebelum mereka berpisah di balik pintu kamar masing-masing.
“Samain kayak kamu. Kopi yang paling penting, ada keripik juga ya, thank you, mas Bhanu.” Setelah mengucapkan kalimat itu Rindu langsung menutup pintu kamar meninggalkan Bhanu yang tersenyum salah tingkah dengan kuping yang memerah tentu saja. Thank you mas Bhanu! hahaha.
***
Setelah menikmati makan malam, kini keduanya sedang fokus pada layar plasma yang sedang menyala, menampilkan salah satu film yang di rekomendasikan oleh Karlita, tentu saja Rindu sudah mengecek sinopsis dan spoiler-spoiler terlebih dahulu, bisa bahaya jika dia mengajak Bhanu menonton film vanas walau Rindu tahu Bhanu tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya tapi menonton film seperti itu bersama Bhanu sekarang bukanlah pilihan yang baik dan waktunya tidak tepat, yang ada Rindu akan jadi malu sendiri, suasana di antaranya dan Bhanu pasti berubah menjadi sangat canggung. Dan Rindu sangat tidak suka jika itu terjadi.
“Setelah nonton film ini, kamu mau ngapain lagi?” tanya Bhanu sambil menyeruput kopi hangatnya.
“Mau main piano bareng kamu sambil nyanyi, udah lama loh nggak main piano,” ucap Rindu. Bhanu langsung saja mengangguk. Seharian ini permintaan Rindu itu memang sangat banyak sekali, gadis itu meminta semua hal yang pernah mereka lakukan di ulang hari ini.
“Oke, Sayang,” jawab Bhanu dengan cepat. Lagian tidak masalah juga jika menuruti keinginan Rindu. Gadis ini bisa bersamanya sepanjang waktu jika sedang seperti sekarang.
Film itu selesai bertepatan dengan habisnya kopi Bhanu dan Rindu. Mereka beranjak ke arah piano yang ada di dalam kamar Bhanu. Membiarkan pintu kamar terbuka dan membuka tirai yang menutupi kaca lebar-lebar yang mengelilingi kamar itu. Langit malam Yogyakarta terpampang dengan nyata di depan mereka. Rindu dan Bhanu kompak duduk di balik piano.
“Mau di nyayiin lagu apa mbak Rindu?” tanya Bhanu dengan senyum jahilnya. Rindu memukul lengan Bhanu sebelum akhirnya memeluk lengan Bhanu, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di sana, cara Rindu untuk menikmati dentingan piano dan suara merdu Bhanu.
“Sempurna,” jawab Rindu dengan cepat. Bhanu menoleh.
“Lagu punya-nya Andra and The Backbone?” tanya Bhanu, Rindu langsung mengangguk tanpa ragu. Bhanu mengangguk pelan, dia tahu sekali apa makna lagu sempurna milik Andra and The Backbone itu, lagu romantis tentang seorang yang sedang jatuh cinta dan tidak ingin orang yang dia cintai pergi. Saat Bhanu mulai menekan satu tuts, dia kembali menatap Rindu. Perlahan tapi pasti, suara dentingan piano itu menyatu dengan suara Bhanu. Rindu semakin memeluk lengan Bhanu dengan erat. Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan s'lalu memujamu
Bhanu menoleh dan menatap Rindu dengan lekat, senyum tipis terukir begitu saja di bibirnya, Rindu menatap Bhanu tidak kalah lekat, tatapan keduanya sangat memuja.
Disetiap langkahku
Kukan s'lalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Rindu dan Bhanu sangat tahu, langkah mereka memang akan lebih berat tapi di setiap langkah itu akan terselip nama mereka, tidak ada orang lain. Hanya ada Bhanu dan Rindu.
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Mata Rindu mendadak berkaca-kaca, bayangan Bhanu akan pergi dari sisinya membuat rasa sesak yang sedari tadi memenuhi rongga dadanya tidak bisa lagi Rindu sembunyikan. Awalnya memang baik-baik saja namun ketika hari keberangkatan itu begitu dekat, Rindu mulai merasa kehilangan.
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna, Sempurna...
Bhanu tiba-tiba berhenti ketika merasakan bahunya basah, dia menoleh, wajah Rindu sudah penuh dengan air mata. Bhanu merubah posisinya menjadi menatap Rindu, menangkup kedua pipi Rindu dengan kedua tangannya.
“Kenapa, Sayang?” tanya Bhanu, Rindu tidak menjawab sama sekali, dia malah berhampur ke dalam pelukan Bhanu, memeluk Bhanu dengan erat dan menumpahkan rasa sedihnya di sana.
Bhanu terdiam, membiarkan Rindu menangis sepuasnya dulu. Bhanu yakin ini adalah puncak dari mood buruk Rindu selama beberapa hari terakhir. Semuanya akhirnya tumpah juga malam ini. Diam-diam Bhanu merasa lega, kebanyakan perempuan akan merasa lega ketika mereka selesai menangis. Bhanu berharap Rindu juga merasakan hal yang sama setelah ini.
Saat tangis Rindu mulai reda, Bhanu mengurai pelukan mereka, dia mengusap sisa air mata di pipi Rindu dengan lembut tidak kalah lembut dari tatapan Bhanu pada Rindu.
“Kenapa, Sayang?” tanya Bhanu dengan lembut, Rindu menggeleng dan kembali memeluk Bhanu. Setelah sekian lama berlalu, kini Rindu merasakan lagi kesedihan karena perpisahan, walau Rindu tahu pergi-nya Bhanu hanya untuk sementara waktu, suara Bhanu masih bisa dia dengar di segala waktu dan wajah Bhanu masih bisa dia lihat jika Rindu mau namun perpisahan selalu menjadi hal paling sesak dan menyakitkan bagi Rindu ah bukan Rindu yakin untuk semua orang.
“Saya tahu ada yang sedang mengganggu kamu akhir-akhir ini. Kamu seharusnya tidak menyimpannya sendirian, seharusnya kamu mengatakan semua rasa yang menganggu kamu pada saya. Perpisahaan itu tidak ada yang menyenangkan Rindu, saya juga sama sedihnya dan malam ini saya bahagia, saya merasa menjadi seseorang yang sangat berarti. Saya bahagia sekali, nyatanya saya tidak sedih sendirian yang artinya perasaan saya dan kamu saling berhubungan.” Bhanu mengecup puncak kepala Rindu.
“Jangan menangis dan berhenti bersikap seolah kamu baik-baik saja atas segala hal yang sedang terjadi. Kamu punya saya, Rindu. Kamu bebas mau bercerita apapun sama saya,” ucap Bhanu.
“Aku takut, sedih aku nanti malah jadi beban buat kamu, aku takut kamu malah jadi ragu. Aku nggak mau jadi alasan kamu menggagalkan mimpi kamu,” ucap Rindu dengan suara serak, wajahnya masih dia sembunyikan di bahu Bhanu.
Senyum tipis Bhanu terkembang begitu saja, dia mengusap rambut Rindu dengan lembut.
“Saya tidak akan menyalakhkan kamu karena merasa sedih, itu tanda kamu takut kehilangan saya, namun itu juga bukan alasan untuk saya menyerah karena tahu kamu sedih karena kamu sayang saya bukan karena kamu ingin saya berhenti akan mimpi-mimpi saya. Lagian Rindu, jika saya menyerah sekarang, saya juga akan kehilangan kamu, karena kamu adalah mimpi terbesar dari seluruh mimpi yang saya miliki,” ucap Bhanu dengan tulus, dia mengeratkan pelukannya pada Rindu, berharap gadis ini merasa jauh lebih tenang.
***